Bus TransJakarta Blok M – Bandara Soetta Resmi Beroperasi, Apakah Akan Menjadi Pesaing Kereta Bandara?
Transportasi menuju bandara selalu menjadi topik menarik di kota besar seperti Jakarta. Baru-baru ini pemerintah meresmikan layanan bus TransJakarta rute Blok M – Bandara Soekarno-Hatta dengan tarif promosi yang sangat murah, yaitu Rp3.500 selama tiga bulan pertama.
Kehadiran rute ini langsung memunculkan pertanyaan publik:
Apakah bus ini akan menjadi pesaing serius bagi kereta bandara yang selama ini
melayani rute dari **Stasiun Manggarai menuju Bandar Udara Internasional
Soekarno-Hatta?
Pertanyaan ini menarik karena kedua moda transportasi tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempermudah akses masyarakat menuju bandara. Namun keduanya memiliki karakter layanan yang berbeda.

Dua Moda Transportasi dengan Segmen Berbeda
Selama ini akses menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta didominasi oleh kendaraan pribadi, taksi, travel, dan kereta bandara.
Kereta bandara yang berangkat dari Stasiun Manggarai dikenal sebagai moda transportasi yang cepat dan relatif nyaman. Waktu perjalanan sekitar 50–60 menit, dengan tarif sekitar Rp70.000 per penumpang.
Sementara itu, kehadiran bus TransJakarta dari Blok M menawarkan pendekatan yang berbeda: transportasi bandara dengan harga sangat terjangkau.
Dengan tarif hanya Rp3.500 pada masa promosi, selisih harga antara bus dan kereta bandara bisa mencapai hampir 20 kali lipat.
Kelebihan Bus TransJakarta ke Bandara
Kelebihan utama bus bandara tentu saja terletak pada biaya perjalanan yang sangat murah.
Tarif Rp3.500 membuat perjalanan ke bandara menjadi jauh lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
Moda ini juga memiliki keunggulan dalam hal akses jaringan transportasi. Kawasan Blok M merupakan salah satu pusat transportasi di Jakarta yang terhubung dengan berbagai moda lain seperti MRT, TransJakarta koridor lain, dan jaringan JakLingko.
Artinya, seseorang dari Depok, Bekasi, atau Tangerang bisa menggunakan berbagai moda transportasi menuju Blok M terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan dengan bus menuju bandara.
Selain itu, frekuensi bus yang cukup sering membuat penumpang tidak perlu menunggu lama seperti pada beberapa layanan transportasi lainnya.
Kekurangan Bus Bandara
Namun bus juga memiliki keterbatasan.
Moda transportasi berbasis jalan raya tetap sangat bergantung pada kondisi lalu lintas. Kemacetan di tol bandara atau di jalur menuju bandara dapat membuat waktu perjalanan menjadi tidak menentu.
Selain itu, kapasitas bagasi bus juga lebih terbatas dibandingkan kereta bandara. Penumpang dengan koper besar mungkin akan merasa kurang nyaman jika harus membawa barang besar di dalam kabin bus.
Karena itu, bus bandara kemungkinan lebih cocok bagi penumpang dengan barang yang tidak terlalu banyak atau bagi mereka yang tidak terlalu dikejar waktu penerbangan.
Keunggulan Kereta Bandara
Di sisi lain, kereta bandara memiliki keunggulan utama pada kepastian waktu perjalanan.
Kereta yang berangkat dari Stasiun Manggarai menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tidak terpengaruh oleh kemacetan jalan raya. Hal ini menjadi faktor penting bagi penumpang pesawat yang harus mengejar jadwal penerbangan.
Selain itu, fasilitas di kereta bandara juga dirancang lebih nyaman, termasuk ruang bagasi khusus untuk koper penumpang.
Karena itu, kereta bandara tetap menjadi pilihan bagi penumpang yang mengutamakan kecepatan dan kenyamanan perjalanan.
Apakah Bus Akan Menjadi Pesaing Kereta Bandara?
Secara langsung, kehadiran bus bandara memang berpotensi menarik sebagian penumpang yang sebelumnya menggunakan kereta bandara.
Namun dalam perspektif yang lebih luas, kedua moda ini sebenarnya melayani segmen pengguna yang berbeda.
Bus bandara lebih cocok bagi:
- penumpang dengan anggaran terbatas
- pekerja bandara
- backpacker
- masyarakat yang tidak terlalu mengejar waktu
Sementara kereta bandara lebih diminati oleh:
- pelaku perjalanan bisnis
- wisatawan dengan koper besar
- penumpang yang membutuhkan kepastian waktu perjalanan
Dengan demikian, kedua moda transportasi ini tidak sepenuhnya saling menggantikan.
Tanggapan dan Saran dari Darustation
Menurut pandangan Darustation, kehadiran bus TransJakarta rute bandara merupakan langkah positif dalam memperluas akses transportasi publik bagi masyarakat.
Transportasi menuju bandara tidak seharusnya dipandang sebagai persaingan antar moda, tetapi sebagai bagian dari sistem transportasi kota yang saling melengkapi.
Bus bandara dapat menjadi transportasi rakyat yang terjangkau, sementara kereta bandara tetap berfungsi sebagai layanan transportasi cepat dan nyaman.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa seluruh moda transportasi tersebut dapat terintegrasi dengan baik.
Idealnya perjalanan menuju bandara dapat dilakukan dengan skema multimoda seperti:
KRL → MRT → Bus Bandara
atau
MRT → Kereta Bandara
Integrasi ini akan membuat masyarakat memiliki banyak pilihan perjalanan tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Evaluasi Tarif dan Masa Depan Transportasi Bandara
Darustation juga melihat bahwa tarif Rp3.500 kemungkinan merupakan tarif promosi awal yang akan dievaluasi setelah beberapa bulan operasional.
Jika nantinya dilakukan penyesuaian tarif, pemerintah tetap perlu menjaga prinsip bahwa transportasi publik harus tetap terjangkau bagi masyarakat luas.
Tujuan utama transportasi publik bukan sekadar bisnis, tetapi juga untuk:
- mengurangi kemacetan
- menekan penggunaan kendaraan pribadi
- meningkatkan akses mobilitas masyarakat.

Penutup
Kehadiran bus TransJakarta rute Blok M – Bandara Soekarno-Hatta membuka babak baru dalam akses transportasi menuju bandara di Jakarta.
Alih-alih menjadi pesaing, bus dan kereta bandara justru dapat menjadi dua pilihan layanan yang saling melengkapi.
Bus memberikan solusi transportasi murah bagi masyarakat, sementara kereta bandara menawarkan perjalanan cepat dan nyaman.
Jika integrasi transportasi terus diperbaiki, maka akses menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta akan semakin mudah, efisien, dan inklusif bagi seluruh warga Jakarta dan sekitarnya. (ds)