Dikutip oleh Mohamad Sobari
Refleksi Kajian Tauhid: Habib Novel Alaydrus dan Dr. dr. Asep Hermana di Masjid Istiqlal
Suasana pagi di Masjid Istiqlal pada Ahad, 10 Mei 2026 terasa begitu teduh. Ribuan jamaah hadir dalam rangkaian Kajian Tauhid yang menghadirkan pesan-pesan mendalam tentang kehidupan, keikhlasan, dan hubungan manusia dengan Allah SWT.
Dalam kajian tersebut, Dr. dr. Asep Hermana mengangkat tema tentang “Menjaga Amanah Tubuh dengan Cara yang Dicintai Allah”, sementara Habib Novel Alaydrus membawakan tema “Belajar Ikhlas dari Qurban: Melepaskan Bukan Kehilangan.”
Dua tema ini ternyata saling terhubung erat.
Tubuh adalah amanah dari Allah, dan kehidupan ini pun sejatinya hanyalah titipan Allah.
Tubuh Bukan Milik Kita, tetapi Amanah dari Allah
Dalam kajian pertama, jamaah diajak merenungi bahwa tubuh manusia bukanlah milik pribadi yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Mata, telinga, hati, pikiran, kesehatan, bahkan napas yang setiap hari kita hirup adalah pemberian Allah SWT.
Karena itu manusia tidak boleh sombong dengan kesehatan, kecantikan, kekuatan, ataupun usia muda. Semua bisa berubah kapan saja jika Allah menghendaki.
Tubuh yang sehat seharusnya digunakan untuk:
- ibadah,
- membantu sesama,
- mencari rezeki halal,
- menjaga akhlak,
- dan mendekatkan diri kepada Allah.
Banyak manusia baru menyadari pentingnya kesehatan ketika sakit datang. Padahal sejak awal tubuh adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh rasa syukur.
Ikhlas Berawal dari Kesadaran Bahwa Kita Tidak Memiliki Apa-Apa
Tema ini kemudian terasa menyambung ketika Habib Novel Alaydrus menjelaskan tentang makna ikhlas dalam qurban.
Beliau menegaskan bahwa akar banyak kegelisahan manusia adalah karena terlalu merasa memiliki.
Rumah saya.
Anak saya.
Pasangan saya.
Harta saya.
Nama baik saya.
Padahal semuanya hanyalah titipan Allah.
Kalimat:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
menjadi pengingat besar bahwa:
kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Bukan sekadar ucapan ketika ada musibah, tetapi sebuah konsep kehidupan.
Ketika seseorang kehilangan sesuatu, sebenarnya ia hanya sedang menghadapi kenyataan bahwa apa yang diambil Allah memang sejak awal bukan miliknya.

Melepaskan Bukan Kehilangan
Habib Novel menjelaskan bahwa qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan.
Qurban adalah latihan hati.
Latihan untuk melepaskan rasa memiliki.
Karena itu beliau menyampaikan kalimat yang sangat menyentuh:
“Kehilangan kekasih tidak apa-apa, tetapi jangan sampai kehilangan Yang Maha Mengasihi.”
Manusia sering terlalu berat melepaskan dunia, karena hatinya terlalu menempel kepada dunia.
Padahal kalau hati yakin semuanya milik Allah, maka hidup akan terasa lebih ringan dan damai.
Belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Kajian kemudian membawa jamaah pada kisah besar Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Setelah lama tidak memiliki anak, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai Nabi Ismail. Namun ketika cinta kepada anak begitu besar, Allah justru menguji beliau dengan perintah untuk menyembelih putranya sendiri.
Ini bukan sekadar ujian fisik.
Ini adalah ujian tentang cinta dan kepemilikan.
Apakah Nabi Ibrahim lebih mencintai Allah atau lebih merasa memiliki anaknya?
Dengan penuh ketundukan beliau menyampaikan wahyu itu kepada Nabi Ismail:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu.”
Dan Nabi Ismail menjawab dengan luar biasa:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Di situlah tampak makna ikhlas yang sesungguhnya.
Bukan kehilangan.
Tetapi mengembalikan kepada pemilik sejati: Allah SWT.
Siti Hajar: Simbol Tawakal dan Kesabaran
Habib Novel juga mengingatkan perjuangan Siti Hajar ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang tandus Makkah.
Tanpa air.
Tanpa makanan.
Tanpa kehidupan.
Namun beliau tidak mengeluh.
Ketika tahu bahwa semua itu adalah perintah Allah, Siti Hajar yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan dirinya dan Nabi Ismail kecil.
Beliau berlari antara bukit Shafa dan Marwah mencari air hingga akhirnya Allah memunculkan air zamzam.
Dari keluarga Nabi Ibrahim inilah umat Islam belajar:
- tawakal,
- kesabaran,
- pengorbanan,
- dan keikhlasan total kepada Allah.
Ketenangan Hadir Saat Hati Tidak Merasa Memiliki
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mudah marah, kecewa, dan tersinggung karena merasa semuanya adalah miliknya.
Nama baik disentuh sedikit marah.
Harta berkurang sedikit panik.
Dipisahkan dengan sesuatu yang dicintai langsung merasa hancur.
Padahal semuanya milik Allah.
Kalau hati memahami konsep ini, maka hidup akan jauh lebih tenang.
Bahkan ketika kehilangan sekalipun, hati tetap mampu berkata:
“Allah yang memberi, Allah pula yang mengambil.”
Ikhlas Harus Dilatih
Habib Novel mengingatkan bahwa ikhlas tidak muncul secara tiba-tiba.
Ia harus dilatih sedikit demi sedikit:
- belajar berbagi,
- belajar tidak terlalu melekat pada benda,
- belajar menerima kehilangan kecil,
- dan belajar ridha terhadap ketentuan Allah.
Seperti otot yang harus dilatih, hati juga harus dibiasakan untuk kuat menghadapi ujian.

Menjaga Amanah, Menjaga Hati
Dua kajian ini memberikan satu benang merah yang sangat kuat:
Tubuh adalah amanah.
Keluarga adalah amanah.
Harta adalah amanah.
Hidup ini pun amanah.
Dan semua amanah itu berasal dari Allah SWT.
Karena itu manusia diajarkan untuk:
- menjaga tubuh dengan cara yang dicintai Allah,
- menggunakan nikmat sesuai syariat,
- serta memiliki hati yang ikhlas ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya.
Sebab sejatinya hidup bukan tentang memiliki dunia, tetapi tentang bagaimana kembali kepada Allah dengan hati yang tenang.
Dan dari qurban, umat Islam belajar satu pelajaran besar:
Ikhlas bukan berarti tidak mencintai.
Tetapi mencintai semuanya karena Allah, dan siap mengembalikannya kepada Allah kapan pun diminta. (ds)
