Dua Pesan Besar untuk Menata Hati, Menguatkan Iman, dan Memperbaiki Akhlak
JAKARTA — Ada kalanya manusia merasa sudah memiliki banyak hal, tetapi tetap mencari sesuatu yang sulit ditemukan: ketenangan hati.
Rumah ada. Kendaraan ada. Pekerjaan atau usaha ada. Keluarga ada. Bahkan mungkin secara materi tidak kekurangan. Namun hati masih gelisah, pikiran tidak tenang, dan kehidupan terasa kehilangan arah.
Di titik seperti inilah kajian Islam menjadi penting. Bukan sekadar menambah pengetahuan agama, tetapi menjadi ruang untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, lalu bertanya: sudah sejauh mana kita berjalan menuju Allah?
Pesan tersebut terasa kuat dalam Kajian Tauhid Daarut Tauhiid yang terbuka untuk umum di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Ahad, 9 Agustus 2026, bertepatan dengan 25 Safar 1448 H.
Kajian berlangsung pukul 08.00–11.30 WIB dengan menghadirkan dua ulama dan dua tema yang berbeda, tetapi saling melengkapi: K.H. Dr. Amir Faisol Fath, M.A. membawakan tema “Menjadi Pemenang dengan Al-Qur’an”, kemudian K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyampaikan tema “Jaga Lisan Membuat Hidup Bahagia dan Iman Terjaga.”
Dua kajian tersebut seolah membawa jamaah melewati dua pintu penting dalam kehidupan seorang Muslim: Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dan lisan sebagai cermin hati.
📖 Bagian Pertama: Menjadi Pemenang dengan Al-Qur’an
Kajian bersama K.H. Dr. Amir Faisol Fath, M.A. mengangkat tema yang sangat mendasar:
“Menjadi Pemenang dengan Al-Qur’an.”
Kata pemenang sering kali kita pahami dalam ukuran dunia.
Pemenang adalah orang yang memiliki harta.
Pemenang adalah orang yang sukses dalam bisnis.
Pemenang adalah orang yang memiliki jabatan.
Pemenang adalah orang yang terkenal.
Pemenang adalah orang yang berhasil mencapai target.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi Islam mengajarkan bahwa kemenangan dunia bukanlah tujuan akhir perjalanan manusia.
Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seorang manusia mendapatkan keselamatan di akhirat.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Apa yang sudah saya dapatkan dalam hidup?”
Tetapi:
“Untuk apa semua yang saya dapatkan itu?”
Dan lebih jauh lagi:
“Apakah semua itu membuat saya semakin dekat kepada Allah?”
Al-Qur’an Bukan Sekadar Bacaan
Di sinilah Al-Qur’an memiliki posisi yang sangat penting.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang diletakkan di rak rumah.
Bukan pula hanya bacaan yang diperbanyak ketika Ramadan.
Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan.
Ketika hati kehilangan arah, Al-Qur’an menjadi petunjuk.
Ketika kehidupan terasa gelap, Al-Qur’an menjadi cahaya.
Ketika menghadapi persoalan, Al-Qur’an memberikan prinsip bagaimana seorang Muslim harus bersikap.
Maka hubungan dengan Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada membaca.
Baca. Pahami. Renungkan. Amalkan.
Inilah yang membuat Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri seorang Muslim.
Jangan Mengukur Hidup Hanya dari Keadaan Hari Ini
Salah satu pesan penting dari kajian ini adalah tentang menghadapi ujian.
Menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an bukan berarti kehidupan akan bebas dari masalah.
Para nabi pun mendapatkan ujian.
Nabi Yusuf ‘alaihissalam, misalnya, mengalami perjalanan kehidupan yang tidak mudah. Ia menghadapi pengkhianatan, dibuang ke dalam sumur, dijual, menghadapi fitnah, hingga harus merasakan kehidupan di penjara.
Tetapi kisah Nabi Yusuf tidak berhenti di penjara.
Allah kemudian mengangkat derajatnya.
Dari keadaan yang tampak sebagai kehancuran, Allah membuka jalan menuju kemuliaan.
Maka ada satu pelajaran penting:
Jangan menilai seluruh kehidupan hanya berdasarkan keadaan hari ini.
Hari ini mungkin kita sedang menghadapi masalah.
Hari ini mungkin usaha sedang sepi.
Hari ini mungkin keluarga sedang diuji.
Hari ini mungkin kita sedang berada di titik terendah.
Tetapi cerita kita belum selesai.
Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
🌱 Jangan Menyerah Ketika Ujian Datang
Ada orang yang bertanya:
“Mengapa setelah saya mulai mendekat kepada Allah, masalah justru semakin banyak?”
Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi.
Namun ujian tidak selalu berarti Allah sedang menjauh.
Ujian bisa menjadi jalan untuk menguatkan iman, melatih kesabaran, membersihkan kesalahan, dan membuat manusia semakin sadar bahwa dirinya membutuhkan Allah.
Karena itu, ketika ujian datang:
Jangan tinggalkan shalat.
Jangan tinggalkan Al-Qur’an.
Jangan berhenti berdoa.
Jangan berhenti beristighfar.
Jangan putus asa.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Maka orang yang hidup bersama Al-Qur’an bukan berarti orang yang tidak pernah mendapatkan masalah.
Ia adalah orang yang mempunyai pegangan ketika masalah datang.
🕌 Bagian Kedua: Jaga Lisan Membuat Hidup Bahagia dan Iman Terjaga
Setelah berbicara tentang bagaimana menjadi pemenang bersama Al-Qur’an, kajian berlanjut bersama K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan tema:
“Jaga Lisan Membuat Hidup Bahagia dan Iman Terjaga.”
Tema ini sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam.
Sebab banyak persoalan manusia bermula dari sesuatu yang kecil:
kata-kata.
Satu kalimat bisa membuat seseorang tersenyum.
Namun satu kalimat juga bisa membuat seseorang terluka.
Satu ucapan bisa mempererat persaudaraan.
Tetapi satu ucapan pula bisa menghancurkan hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Karena itu, menjaga lisan bukan perkara sepele.
Menjaga lisan adalah bagian dari menjaga iman.
📱 Di Era Digital, Jari Kita Juga Bisa Menjadi “Lisan”
Pesan menjaga lisan semakin relevan di zaman media sosial.
Dahulu, lisan identik dengan perkataan yang keluar dari mulut.
Sekarang, jari juga dapat menjadi lisan.
Komentar di media sosial adalah perkataan.
Unggahan adalah perkataan.
Pesan WhatsApp adalah perkataan.
Video yang kita sebarkan membawa pesan.
Bahkan tombol share pun dapat menjadi bagian dari penyebaran sebuah perkataan.
Karena itu, sebelum menulis sesuatu, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah ini benar?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ini akan menyakiti orang lain?
Dan yang paling penting:
Apakah Allah ridha dengan apa yang saya tulis atau ucapkan?
Kalau tidak ada manfaatnya, terkadang diam justru lebih menyelamatkan.
🚫 Jangan Merendahkan Orang Lain
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak saling mengolok-olok.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah sekali menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan.
Fisiknya.
Pekerjaannya.
Kondisi ekonominya.
Masa lalunya.
Keluarganya.
Kesalahannya.
Padahal kita tidak pernah tahu bagaimana kedudukan seseorang di hadapan Allah.
Boleh jadi orang yang kita anggap rendah justru lebih mulia di sisi Allah.
Karena itu, jangan merasa tinggi hanya karena melihat kekurangan orang lain.
🤐 Waspadai Prasangka, Mencari Kesalahan dan Ghibah
Menjaga lisan juga berarti menjaga diri dari prasangka buruk, mencari-cari kesalahan dan ghibah.
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan digital.
Hari ini kita dapat mengetahui banyak hal tentang orang lain hanya melalui media sosial.
Tetapi yang kita lihat sebenarnya hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka.
Kita tidak mengetahui seluruh ceritanya.
Maka jangan mudah menyimpulkan.
Jangan mudah menghakimi.
Jangan mudah menyebarkan.
Dan jangan merasa harus mengetahui seluruh urusan orang lain.
Tidak semua yang kita tahu harus kita ceritakan.
Tidak semua yang kita lihat harus dikomentari.
Tidak semua kesalahan harus diumumkan.
Dan tidak semua informasi harus diteruskan.
❤️ Lisan Bisa Menjadi Jalan Pahala
Lisan adalah nikmat Allah yang luar biasa.
Dengan lisan kita bisa membaca Al-Qur’an.
Dengan lisan kita bisa berdzikir.
Dengan lisan kita bisa berdoa.
Dengan lisan kita bisa mengajarkan ilmu.
Dengan lisan kita bisa meminta maaf.
Dengan lisan kita bisa menghibur orang yang sedang bersedih.
Tetapi lisan juga bisa menjadi sumber dosa ketika digunakan untuk berbohong, memfitnah, mencela, menghina, menggunjing dan menyebarkan kebencian.
Maka persoalannya bukan apakah kita berbicara atau tidak.
Persoalannya adalah:
Untuk apa lisan kita digunakan?
Kalau perkataan membawa manfaat, sampaikan dengan cara yang baik.
Kalau perkataan hanya akan memperkeruh keadaan, diam bisa menjadi ibadah.
📜 Pesan Besar: Jangan Mengikuti Sesuatu yang Tidak Kita Ketahui
Ada satu ayat yang menjadi pesan utama pada flyer Kajian Tauhid tersebut:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”
QS. Al-Isra [17]: 36
Ayat ini terasa semakin relevan dengan kehidupan sekarang.
Kita menerima begitu banyak informasi setiap hari.
Dari WhatsApp.
Dari Facebook.
Dari Instagram.
Dari TikTok.
Dari YouTube.
Dari berbagai grup percakapan.
Masalahnya, tidak semua informasi benar.
Maka seorang Muslim harus belajar berhati-hati.
Jangan langsung percaya.
Jangan langsung menyebarkan.
Jangan langsung menghakimi.
Periksa terlebih dahulu sebelum berbicara dan bertindak.
Sebab pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.
🌿 Al-Qur’an dan Lisan: Dua Hal yang Saling Berkaitan
Jika dua materi kajian ini kita satukan, sebenarnya terdapat sebuah hubungan yang sangat indah.
K.H. Dr. Amir Faisol Fath, M.A. mengajak kita menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan menuju kemenangan.
Sementara Aa Gym mengingatkan agar kehidupan yang dibangun bersama Allah tercermin melalui akhlak, terutama kemampuan menjaga lisan.
Artinya, Al-Qur’an tidak boleh hanya berada di tangan.
Al-Qur’an harus masuk ke hati dan terlihat dalam perilaku.
Kalau Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri kita, seharusnya:
Hati menjadi lebih tenang.
Lisan menjadi lebih terjaga.
Nafsu lebih mudah dikendalikan.
Kita tidak mudah merendahkan orang lain.
Kita tidak mudah marah.
Kita lebih mudah meminta maaf.
Kita lebih berhati-hati menerima informasi.
Dan kita semakin sadar bahwa setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan.
🕊️ Dari Kajian Menuju Muhasabah
Di sinilah kajian Islam seharusnya tidak berhenti sebagai acara.
Bukan hanya datang.
Duduk.
Mendengarkan.
Kemudian pulang.
Kajian seharusnya menjadi momentum perubahan diri.
Setelah mendengarkan kajian, kita perlu bertanya:
Apa yang harus saya ubah?
Apakah selama ini saya terlalu jauh dari Al-Qur’an?
Apakah saya masih mudah mengeluh?
Apakah saya terlalu mengejar dunia?
Apakah saya terlalu bergantung kepada penilaian manusia?
Apakah saya masih sulit mengendalikan hawa nafsu?
Apakah lisan saya sering menyakiti orang?
Apakah jari saya terlalu mudah mengetik komentar?
Apakah saya terlalu cepat membagikan informasi yang belum tentu benar?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang membuat kajian menjadi muhasabah, bukan sekadar pengetahuan.
🌙 Kemenangan Bukan Hanya Tentang Dunia
Pada akhirnya, manusia akan meninggalkan apa yang selama ini dikejarnya.
Rumah akan ditinggalkan.
Kendaraan akan ditinggalkan.
Harta akan ditinggalkan.
Jabatan akan ditinggalkan.
Popularitas akan ditinggalkan.
Yang dibawa adalah iman dan amal.
Karena itu, jangan sampai kita sibuk mengejar kemenangan dunia tetapi lupa mempersiapkan kemenangan akhirat.
Jangan sampai kita ingin dikenal manusia tetapi lupa untuk dikenal sebagai hamba yang taat kepada Allah.
Dan jangan sampai kita memiliki banyak hal tetapi kehilangan ketenangan hati.
🤲 Dari Masjid Istiqlal untuk Kehidupan Sehari-hari
Kajian Tauhid di Masjid Istiqlal pada Ahad, 9 Agustus 2026, memberikan dua pesan yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Pertama, jadikan Al-Qur’an sebagai jalan menuju kemenangan.
Kedua, jaga lisan agar hidup bahagia dan iman tetap terjaga.
Keduanya sebenarnya bermuara pada satu hal:
Membangun manusia yang dekat dengan Allah.
Manusia yang membaca Al-Qur’an.
Manusia yang memahami Al-Qur’an.
Manusia yang mengamalkan Al-Qur’an.
Manusia yang mampu mengendalikan dirinya.
Manusia yang tidak mudah dikuasai hawa nafsu.
Manusia yang tidak bergantung kepada pujian manusia.
Dan manusia yang berhati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulut maupun dari jarinya.

🌱 Penutup: Pulang Membawa Perubahan
Kajian yang baik bukan hanya membuat kita berkata:
“Materinya bagus.”
Tetapi membuat kita berani berkata:
“Ada sesuatu dalam diri saya yang harus diperbaiki.”
Mulailah dari yang sederhana.
Buka kembali Al-Qur’an.
Jaga shalat.
Perbanyak istighfar.
Belajar memahami ayat-ayat Allah.
Jaga hati.
Kendalikan hawa nafsu.
Jaga lisan.
Dan sebelum membagikan sesuatu di media sosial, pastikan kita tahu apa yang kita bagikan.
Sebab kehidupan ini bukan sekadar tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT.
Menjadi pemenang dengan Al-Qur’an.
Menjaga lisan agar hidup bahagia dan iman tetap terjaga.
Dua pesan dari Kajian Tauhid ini layak dibawa pulang dari Masjid Istiqlal—bukan hanya sebagai catatan, tetapi sebagai bekal untuk menjalani kehidupan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga Al-Qur’an menjadi cahaya hati, lisan kita menjadi sumber kebaikan, dan seluruh langkah kehidupan kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
