Kajian Qiyamul Lail Masjid Istiqlal
Jumat, 12 Agustus 2026
Bersama KH. Mas’ud Halimin, M.A.
Wakil Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI)
Alhamdulillah, Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan membuka jalan bagi hamba-Nya untuk melakukan kebaikan. Salah satu jalan kebaikan itu adalah qiyamul lail, ibadah malam yang mengajarkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membangun kesadaran bahwa kehidupan di dunia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Dalam kajian Qiyamul Lail di Masjid Istiqlal, KH. Mas’ud Halimin, M.A. mengajak jamaah merenungkan satu persoalan penting dalam kehidupan manusia, yaitu pertarungan antara kebaikan dan keburukan serta tanggung jawab manusia atas setiap pilihan yang dibuatnya.
Pertarungan Panjang Manusia dengan Godaan Setan
Sejak awal penciptaan manusia, telah terjadi pertarungan antara manusia dan iblis. Ketika Nabi Adam AS diciptakan, iblis menyatakan permusuhannya terhadap keturunan Adam.
Iblis bertekad untuk menyesatkan manusia dan mengajak mereka menjauh dari jalan Allah. Namun, Al-Qur’an memberikan penjelasan penting bahwa iblis tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk memaksa manusia melakukan keburukan.
Godaan memang ada. Bisikan ada. Ajakan kepada keburukan juga ada. Tetapi manusia diberikan akal, kehendak, dan kemampuan untuk menentukan pilihan.
Di sinilah letak tanggung jawab manusia.
Setan menggoda, tetapi manusia memilih.
- Ibrahim Ayat 22: Iblis Berlepas Diri
Salah satu ayat yang menjadi pengingat kuat dalam kajian ini adalah QS. Ibrahim ayat 22.
Allah SWT berfirman:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemahannya:
“Dan setan berkata ketika perkara telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan aku hanya menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencelaku, tetapi celalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku dengan Allah sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim mendapat azab yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22)
Ayat ini menjadi salah satu pesan paling kuat dalam kajian tersebut.
Iblis sendiri pada akhirnya mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksa manusia. Ia hanya menyeru, membujuk dan menggoda. Manusia kemudian menerima seruan tersebut dan memilih untuk mengikutinya.
Karena itu, manusia tidak dapat selamanya menjadikan setan sebagai alasan atas kesalahan yang dilakukan.
Setan menggoda, tetapi manusia yang menentukan pilihan.
Ketika Semua Alasan Gugur di Padang Mahsyar
- Mas’ud Halimin mengajak jamaah membayangkan keadaan manusia ketika berada di Padang Mahsyar.
Pada hari itu, manusia akan berhadapan dengan Allah SWT. Tidak ada lagi kekuasaan manusia, jabatan, harta, status sosial maupun orang lain yang dapat dijadikan tempat berlindung.
Allah adalah Penguasa Yang Maha Tunggal.
Setiap amal akan diperhitungkan. Apa yang dilakukan manusia selama hidup di dunia akan menjadi bagian dari pertanggungjawabannya.
Pada saat itu, berbagai alasan yang dahulu digunakan di dunia tidak lagi dapat menyelamatkan seseorang.
Tidak bisa mengatakan bahwa kesalahan dilakukan karena teman.
Tidak bisa menyalahkan lingkungan.
Tidak bisa menyalahkan keadaan.
Bahkan tidak bisa mengatakan, “Saya melakukan ini karena setan.”
Sebab setan sendiri akan berlepas diri.
- Al-Baqarah Ayat 166: Ketika Orang yang Diikuti Berlepas Diri
Pesan tentang pertanggungjawaban pribadi juga diperkuat oleh QS. Al-Baqarah ayat 166.
Allah SWT berfirman:
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ
Terjemahannya:
“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti dan mereka melihat azab, dan segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)
Ayat ini menggambarkan keadaan yang sangat berbeda dengan kehidupan dunia.
Di dunia, seseorang mungkin memiliki tokoh yang dikagumi, teman yang sangat dipercaya, pemimpin yang diikuti, atau orang lain yang menjadi panutan.
Namun di akhirat, hubungan tersebut tidak otomatis menjadi jalan keselamatan.
Ketika azab telah diperlihatkan, orang-orang yang dahulu diikuti akan berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti mereka.
Hubungan yang dahulu begitu kuat dapat terputus.
Pengaruh tidak lagi berarti.
Kekuasaan tidak lagi berarti.
Status sosial tidak lagi berarti.
Yang tersisa adalah amal dan pertanggungjawaban masing-masing.
Jangan Menjadikan Orang Lain sebagai Alasan
Dari kedua ayat tersebut, terlihat sebuah pesan yang sangat kuat: manusia tidak boleh melepaskan tanggung jawab pribadi atas pilihannya.
Teman mungkin mengajak.
Lingkungan mungkin memengaruhi.
Kolega mungkin membujuk.
Tokoh tertentu mungkin menjadi panutan.
Bahkan seseorang mungkin terus-menerus mendapatkan godaan untuk melakukan keburukan.
Tetapi keputusan akhir tetap berada pada dirinya.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih siapa yang kita ikuti dan lingkungan seperti apa yang kita masuki.
Mengikuti orang lain bukan berarti kehilangan tanggung jawab.
Justru semakin besar pengaruh seseorang terhadap diri kita, semakin penting bagi kita untuk memastikan bahwa yang diikuti adalah jalan yang benar.
Setan Hanya Mengajak, Manusia yang Memilih
- Ibrahim ayat 22 memberikan penjelasan yang sangat jelas tentang hubungan antara godaan setan dan pilihan manusia.
Setan tidak mengatakan bahwa dirinya memaksa manusia.
Sebaliknya, ia mengakui bahwa dirinya hanya mengajak dan manusia menyambut ajakan tersebut.
Maka ketika seseorang diajak melakukan keburukan, sebenarnya masih ada pilihan untuk mengatakan tidak.
Inilah pentingnya kesadaran pribadi.
Godaan bukan paksaan.
Ajakan bukan keputusan.
Pengaruh bukan alasan untuk menghilangkan tanggung jawab.
Pilihan sadar membawa konsekuensi.
Setan dari Kalangan Jin dan Manusia
Dalam kajian juga disampaikan bahwa istilah setan tidak semata-mata dipahami sebagai sosok dari kalangan jin.
Al-Qur’an mengenal adanya setan dari kalangan jin dan manusia.
Seseorang yang mengajak orang lain kepada kemaksiatan, menormalisasi keburukan, atau terus-menerus mendorong orang lain melakukan perbuatan yang merusak dapat menjadi bagian dari bentuk godaan tersebut.
Karena itu, keburukan bisa datang melalui lingkungan yang dekat dengan kita.
Ia bisa muncul melalui ajakan teman, candaan yang melewati batas, kebiasaan yang dianggap biasa, tekanan kelompok, atau lingkungan yang perlahan membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap dosa.
Namun, orang yang menerima ajakan tersebut tetap memiliki tanggung jawab atas pilihannya.
Kesempatan Kedua yang Tidak Akan Terulang
Dalam kehidupan akhirat, manusia akan menyadari betapa berharganya kesempatan yang dahulu dimiliki ketika masih hidup di dunia.
Manusia mungkin berharap dapat kembali untuk memperbaiki amal, meninggalkan keburukan, dan memilih jalan yang benar.
Tetapi kesempatan itu telah berakhir.
Karena itu, selama kita masih hidup, masih memiliki waktu dan masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, jangan menundanya.
Kesempatan terbaik untuk berubah adalah ketika kesempatan itu masih ada.
Jangan menunggu sampai penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat.
Qiyamul Lail: Latihan Mengendalikan Diri
Di sinilah qiyamul lail memiliki makna yang sangat penting.
Qiyamul lail bukan sekadar bangun pada malam hari untuk melaksanakan salat.
Lebih jauh dari itu, qiyamul lail dapat menjadi latihan spiritual untuk membangun kesadaran, kedisiplinan dan kemampuan mengendalikan diri.
Ketika sebagian besar manusia sedang terlelap, seorang mukmin memilih untuk bangun.
Ia meninggalkan kenyamanan tidur.
Ia mengambil wudu.
Ia berdiri menghadap Allah.
Ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Ia berzikir dan berdoa.
Semua itu menjadi latihan untuk mengendalikan hawa nafsu dan belajar memilih sesuatu yang lebih baik daripada mengikuti keinginan sesaat.
Qiyamul lail mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus dituruti.
Tidak semua ajakan harus diterima.
Tidak semua kesenangan membawa kebaikan.
Dan tidak semua yang mudah dilakukan merupakan pilihan yang benar.
Pertarungan Sesungguhnya Ada di Dalam Diri
Jika direnungkan lebih dalam, pertarungan manusia dengan setan bukan hanya tentang sesuatu yang berada di luar diri.
Pertarungan itu juga terjadi di dalam diri manusia.
Ada keinginan untuk melakukan kebaikan, tetapi ada pula dorongan untuk mengikuti hawa nafsu.
Ada suara hati yang mengingatkan, tetapi ada pula bisikan yang membuat keburukan terasa ringan.
Di sinilah manusia harus menentukan sikap.
Allah telah memberikan petunjuk.
Allah telah menunjukkan jalan.
Allah juga telah memberikan akal dan kehendak.
Maka manusia harus belajar mengambil keputusan dengan kesadaran bahwa setiap keputusan akan membawa konsekuensi.
Jangan Menyalahkan Setan, Evaluasi Diri
Pesan terbesar dari kajian KH. Mas’ud Halimin dapat dirangkum dalam satu kalimat:
“Setan memang menggoda, tetapi manusia yang memilih.”
Ketika manusia berada di dunia, setan mungkin membujuk, memperindah keburukan dan membuat dosa terlihat ringan.
Namun ketika semua perkara telah diputuskan, setan akan berlepas diri.
- Ibrahim ayat 22 mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menggantungkan kesalahan kepada setan.
- Al-Baqarah ayat 166 juga mengingatkan bahwa orang-orang yang dahulu diikuti dapat berlepas diri dari para pengikutnya.
Maka jangan sampai kita menjalani kehidupan dengan terus mencari siapa yang harus disalahkan.
Sebaliknya, mari belajar bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang saya pilih?
Mengapa saya memilihnya?
Apakah pilihan ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan saya dari-Nya?
Menjadikan Qiyamul Lail sebagai Momentum Perubahan
Kajian Qiyamul Lail di Masjid Istiqlal pada akhirnya bukan hanya mengajak jamaah untuk bangun dan beribadah pada malam hari.
Lebih dari itu, qiyamul lail mengajarkan manusia untuk berani mengevaluasi dirinya sendiri.
Ketika malam menjadi sunyi, manusia memiliki kesempatan untuk melihat dirinya tanpa kepentingan duniawi.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada popularitas.
Tidak ada penilaian manusia.
Yang ada hanyalah seorang hamba yang berdiri di hadapan Allah SWT.
Pada saat itulah kita dapat bertanya:
Sudah benar jalan yang selama ini saya pilih?
Sudah cukupkah amal yang saya persiapkan?
Jika malam ini menjadi kesempatan terakhir, apakah saya siap menghadap Allah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadikan qiyamul lail bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana muhasabah dan perubahan diri.

Penutup: Setiap Pilihan Akan Dipertanggungjawabkan
Kajian KH. Mas’ud Halimin memberikan pesan yang sederhana tetapi sangat mendalam.
Kita hidup di dunia dengan berbagai pilihan.
Ada jalan kebaikan dan ada jalan keburukan.
Ada ajakan yang membawa kepada Allah dan ada ajakan yang menjauhkan kita dari-Nya.
Setan akan selalu menggoda.
Manusia lain mungkin memengaruhi.
Lingkungan mungkin memberikan tekanan.
Namun pada akhirnya, manusia tetap diberikan kesempatan untuk memilih.
Dan ketika kehidupan dunia berakhir, tidak semua orang yang dahulu kita ikuti akan mampu menyelamatkan kita.
Tidak pula setan akan bertanggung jawab menggantikan kita.
Yang tersisa adalah diri kita sendiri, amal kita, dan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.
Karena itu, selagi kesempatan masih diberikan, mari memperbanyak amal kebaikan, memperkuat iman, menjaga pergaulan, memperbaiki pilihan, dan menjadikan qiyamul lail sebagai salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jangan menunggu hari ketika semua alasan tidak lagi berguna.
Jangan menunggu penyesalan ketika kesempatan telah berakhir.
Dan jangan menyalahkan setan atas pilihan yang sebenarnya kita buat dengan sadar.
Setan menggoda. Kita memilih. Dan setiap pilihan akan kembali kepada kita untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Ulasan berdasarkan materi Kajian Qiyamul Lail Masjid Istiqlal bersama KH. Mas’ud Halimin, M.A., Wakil Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI).
