Ketika berbicara tentang kota yang layak huni, sering kali perhatian kita tertuju pada kemacetan, transportasi publik, atau pembangunan jalan. Namun ada satu aspek mendasar yang justru kerap terabaikan: berjalan kaki. Padahal, berjalan kaki adalah moda transportasi paling sederhana, paling inklusif, dan menjadi penghubung utama antar moda lainnya.
Di sinilah konsep Walkability Index menjadi penting. Lebih dari sekadar istilah teknis, Walkability Index adalah alat untuk mengukur sejauh mana suatu kawasan benar-benar ramah bagi pejalan kaki—tidak hanya dari segi infrastruktur, tetapi juga dari pengalaman nyata di lapangan.
Apa Itu Pedoman Walkability Index?
Pedoman Pengumpulan Data dan Penghitungan Nilai Indeks Kelayakan Berjalan (Walkability Index) merupakan acuan teknis yang digunakan untuk menilai kualitas fasilitas pedestrian secara sistematis dan terukur. Pedoman ini mencakup dua komponen utama: pengumpulan data dan penghitungan nilai indeks.
Dalam proses pengumpulan data, dilakukan observasi langsung terhadap kondisi trotoar, seperti:
- Lebar dan kualitas permukaan
- Ketersediaan jalur penyeberangan
- Konektivitas antar segmen
- Tingkat keamanan dan kenyamanan
Selain itu, juga dilakukan survei persepsi pengguna untuk menangkap pengalaman nyata pejalan kaki.
Data tersebut kemudian diolah melalui sistem skoring dan pembobotan. Setiap indikator—seperti keselamatan, aksesibilitas, kenyamanan, dan inklusivitas—diberikan nilai tertentu yang kemudian diakumulasi menjadi skor akhir. Hasilnya menggambarkan tingkat kelayakan berjalan kaki di suatu kawasan, mulai dari tidak layak hingga sangat layak.
Pendekatan ini penting karena walkability bukan hanya soal “ada trotoar atau tidak”, tetapi tentang seberapa layak trotoar tersebut digunakan oleh semua orang.
Studi Kasus: Koridor Lenteng Agung
Untuk memahami bagaimana konsep ini bekerja di lapangan, kita bisa melihat kondisi di koridor Jalan Raya Lenteng Agung, yang menghubungkan Tanjung Barat hingga perbatasan Depok.
Sekilas, kawasan ini menunjukkan potensi yang baik. Di beberapa titik—terutama sekitar kawasan pendidikan—trotoar terlihat rapi, lebar, dan cukup nyaman. Namun, kondisi tersebut tidak konsisten di sepanjang koridor.
Di banyak segmen lainnya, pejalan kaki justru menghadapi berbagai persoalan serius.
Masalah Nyata di Lapangan
1. Infrastruktur yang Tidak Merata
Sebagian trotoar dalam kondisi baik, namun banyak juga yang rusak, berlubang, atau bahkan tidak bisa digunakan. Hal ini membuat perjalanan пешjalan kaki menjadi tidak nyaman dan berisiko.
2. Jalur yang Terputus-putus
Trotoar sering kali tidak terhubung antar segmen. Pejalan kaki harus berpindah dari trotoar ke badan jalan, lalu kembali lagi ke trotoar di titik lain.
3. Okupasi oleh Pedagang dan Usaha
Trotoar juga banyak dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku usaha. Lapak, kursi, hingga etalase sering menutup jalur pedestrian, sehingga fungsi utama trotoar hilang.
4. Ekspansi Bangunan Formal
Beberapa bangunan usaha memperluas area hingga ke badan trotoar. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap pemanfaatan ruang publik.
5. Bengkel Motor Menguasai Trotoar
Salah satu temuan paling mencolok adalah penggunaan trotoar oleh bengkel motor. Trotoar dijadikan:
- Area parkir pelanggan
- Tempat servis kendaraan
- Ruang penyimpanan alat
Akibatnya, jalur pedestrian bisa tertutup sepenuhnya. Pejalan kaki tidak memiliki pilihan selain turun ke jalan, yang tentu saja berbahaya.

Analisis: Apa Kata Walkability Index?
Jika kondisi ini dinilai menggunakan Walkability Index, hasilnya cukup jelas:
- Aksesibilitas: rendah
- Keselamatan: rendah
- Kenyamanan: rendah hingga sedang
- Konektivitas: tidak konsisten
- Inklusivitas: terbatas
Artinya, kualitas walkability di koridor ini masih jauh dari ideal. Bahkan dalam satu ruas jalan yang sama, bisa ditemukan perbedaan kualitas yang sangat kontras.
Pandangan Darustation: Konflik Ruang Kota
Menurut pandangan Darustation, kondisi ini mencerminkan konflik ruang yang kompleks antara kebutuhan ekonomi dan hak pejalan kaki.
Namun ada beberapa prinsip penting yang perlu ditegaskan:
Pertama, trotoar adalah hak pejalan kaki.
Fungsi utama trotoar tidak boleh dikorbankan, terutama jika menyangkut
keselamatan.
Kedua, penataan lebih penting daripada sekadar
penertiban.
PKL tidak cukup hanya digusur, tetapi perlu ditata melalui penyediaan ruang
khusus yang terorganisir.
Ketiga, pelanggaran oleh usaha formal harus ditindak
tegas.
Ekspansi bangunan ke trotoar menunjukkan lemahnya kontrol tata ruang dan perlu
penegakan hukum yang konsisten.
Keempat, bengkel motor adalah kasus yang lebih serius.
Berbeda dengan PKL, aktivitas bengkel bersifat lebih invasif karena melibatkan
kendaraan, alat berat, dan limbah. Oleh karena itu, penggunaan trotoar oleh
bengkel tidak bisa ditoleransi dan harus segera ditertibkan.
Kelima, perlu solusi jangka panjang.
Pemerintah perlu menyediakan zona usaha yang legal dan tidak mengganggu
pedestrian, serta melibatkan semua pihak dalam perencanaan.
Kenapa Pedoman Ini Penting?
Tanpa pedoman seperti Walkability Index:
- Masalah di lapangan sulit dipetakan secara sistematis
- Prioritas perbaikan menjadi tidak jelas
- Kebijakan sering tidak berbasis data
Dengan adanya pedoman ini, setiap segmen jalan bisa dinilai secara objektif dan dijadikan dasar intervensi yang tepat.

Penutup: Mengembalikan Fungsi Trotoar
Kasus Lenteng Agung menunjukkan bahwa membangun trotoar saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan ruang yang konsisten dan berkelanjutan.
Trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan ruang publik yang mencerminkan kualitas sebuah kota. Ketika trotoar dipenuhi hambatan—baik oleh kerusakan, PKL, bangunan, maupun bengkel—maka yang hilang bukan hanya ruang berjalan, tetapi juga rasa aman dan hak dasar warga kota.
Walkability Index memberikan kita alat untuk melihat masalah ini dengan lebih jernih. Tinggal bagaimana kita menggunakan data tersebut untuk benar-benar menghadirkan kota yang ramah bagi semua. (ds)
Jadi, apakah trotoar di kotamu masih bisa digunakan dengan nyaman?
📚 Sumber:
- Hasil observasi lapangan koridor Lenteng Agung
- Pedoman Walkability Index (Koalisi Pejalan Kaki)
- Pemberitaan media terkait kondisi trotoar Lenteng Agung
- Analisis & pandangan Darustation
