Kajian Qiyamul Lail Masjid Istiqlal
Jumat, 22 Mei 2026
Kajian Qiyamul Lail di Masjid Istiqlal disampaikan oleh Kabid Penyelenggara Peribadatan BPMI, KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA. Dalam kajian tersebut beliau mengangkat tema tentang bahaya ghibah yang sering terjadi tanpa disadari, baik melalui ucapan, isyarat, tulisan, maupun media sosial.
Kajian diawali dengan pengingat bahwa Islam sangat menjaga kehormatan sesama manusia. Karena itu, menjaga lisan dan perilaku menjadi bagian penting dari akhlak seorang Muslim.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menjadi peringatan keras tentang bahayanya ghibah. Dalam kajian dijelaskan bahwa banyak orang mengira ghibah hanya berupa ucapan langsung, padahal bentuknya bisa melalui sindiran, isyarat, tulisan, bahkan perilaku tertentu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tahukah kalian apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”
(HR. Muslim)
Bukhori Sail Attahiri juga menjelaskan kisah Sayyidah Aisyah RA yang pernah memberi isyarat tentang seorang wanita dengan menunjukkan bahwa tubuh wanita itu pendek. Rasulullah SAW menegur bahwa tindakan tersebut termasuk ghibah.
Dari hadis ini dipahami bahwa ghibah tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan gerakan tubuh, mimik wajah, atau menirukan kekurangan orang lain. Misalnya menirukan cara berjalan seseorang yang pincang, meniru gaya bicara orang lain untuk ditertawakan, atau memberi kode tertentu tentang kekurangan seseorang di depan orang lain.
Beliau menegaskan bahwa ghibah dengan praktik atau peragaan terkadang lebih berat daripada ucapan biasa, karena lebih jelas menggambarkan kekurangan seseorang.
Kajian kemudian menyoroti kondisi media sosial saat ini. Jika dahulu ghibah terbatas pada percakapan langsung, kini seseorang bisa dengan mudah menyebarkan aib melalui status, komentar, unggahan, maupun pesan singkat di telepon genggam.
Karena itu umat Islam diminta berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak terjebak dalam kebiasaan menyebarkan keburukan orang lain.
Dalam bagian penting kajian, beliau juga menjelaskan tentang dosa yang lebih berbahaya, yaitu ketika ghibah digabungkan dengan riya.
Riya adalah memperlihatkan amal atau sikap baik agar dipuji manusia. Ketika seseorang melakukan ghibah sambil menampilkan dirinya lebih suci atau lebih baik daripada orang lain, maka ia telah menggabungkan dua dosa sekaligus: ghibah dan riya.
Contohnya ketika seseorang berkata:
“Alhamdulillah saya tidak seperti dia.”
Atau:
“Saya hanya mengingatkan supaya jangan seperti orang itu.”
Kalimat semacam ini terlihat seperti nasihat atau ungkapan syukur, padahal sebenarnya sedang menjatuhkan orang lain sekaligus memperlihatkan dirinya lebih baik.
Beliau menjelaskan bahwa terkadang seseorang tampak seperti sedang menasihati, tetapi sebenarnya sedang mencari pujian atas kesalehan dirinya. Inilah yang disebut ghibah bercampur riya.
Ada pula bentuk lain yang lebih halus, misalnya:
“Dia sebenarnya baik dan rajin ibadah, tetapi sayang masih kurang sabar.”
Ucapan seperti ini tampak seperti pujian, namun di dalamnya tetap membuka kekurangan orang lain di hadapan manusia.
Allah SWT mengingatkan:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam penutup kajian, jamaah diajak melakukan muhasabah diri karena penyakit ghibah sering hadir tanpa disadari dalam obrolan ringan, candaan, sindiran, maupun aktivitas media sosial sehari-hari.
Pesan utama kajian ini adalah pentingnya menjaga lisan, tulisan, isyarat, dan hati. Jangan sampai seseorang merasa dirinya paling baik dan paling suci, padahal tanpa sadar sedang menggabungkan dosa ghibah dan riya sekaligus dalam kehidupan sehari-hari. (ds)

