Sosial

Idul Adha dan Krisis Keterbukaan di Tingkat Bawah: Ketika Amanah Berubah Menjadi Sekat Sosial

Setiap datangnya Idul Adha, umat Islam kembali diingatkan tentang makna pengorbanan, keikhlasan, dan kerendahan hati. Namun di tengah gema takbir dan pembagian daging kurban, ada realitas sosial yang perlahan tumbuh di lingkungan masyarakat bawah: hilangnya keterbukaan dan rusaknya budaya kebersamaan akibat mental kekuasaan kecil.

Masalah ini sering dianggap sepele.
Padahal dampaknya besar.

Karena kehancuran sosial tidak selalu dimulai dari pusat negara.
Kadang justru dimulai dari lingkungan paling kecil:

  • RT,
  • RW,
  • aparat desa,
  • pengurus lingkungan,
  • BPD,
  • pengurus koperasi,
  • hingga tokoh masyarakat.

Ketika Warga Bertanya, Nomornya Malah Diblokir

Fenomena ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya serius.

Ada warga yang bertanya soal kegiatan lingkungan…
lalu nomor WhatsApp-nya diblokir.

Ada warga yang ingin meminta penjelasan…
tetapi dianggap mengganggu.

Ada masyarakat yang ingin mengetahui informasi…
tetapi dipersulit akses komunikasi.

Bahkan ada pengurus lingkungan yang takut memberikan nomor WhatsApp kepada warga yang bertanya.

Akhirnya komunikasi sosial menjadi tertutup.

Padahal pemimpin lingkungan seharusnya hadir untuk mendengar warga, bukan justru menghindari warga.

Kalau rakyat kecil saja sulit berkomunikasi dengan pengurus lingkungannya sendiri, lalu di mana letak semangat pelayanan masyarakat?

Budaya Takut dan Diam Mulai Tumbuh

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika masyarakat mulai merasa:

“Sudahlah… nanti malah dipersulit.”

Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa budaya takut mulai tumbuh.

Warga akhirnya memilih diam.
Bukan karena setuju,
tetapi karena lelah menghadapi tembok komunikasi.

Padahal dalam masyarakat sehat, pertanyaan bukan ancaman.

Kritik bukan musuh.

Dan komunikasi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Kekuasaan Kecil yang Menjadi Tembok Sosial

Hari ini kita menyaksikan fenomena aneh:
jabatan sosial kecil kadang berubah menjadi tembok sosial.

Nomor WhatsApp dijaga seperti akses kekuasaan.
Informasi dibatasi.
Komunikasi dipilih-pilih.
Warga yang kritis dianggap merepotkan.

Padahal jabatan RT, RW, atau pengurus lingkungan bukan kerajaan kecil.

Itu amanah sosial.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini sederhana tetapi dalam.

Artinya, ukuran kepemimpinan bukan seberapa dihormati seseorang, tetapi seberapa terbuka dan bermanfaat dirinya bagi masyarakat.

Ketika Amanah Menjadi Lingkaran Tertutup

Masalahnya tidak berhenti di komunikasi.

Sering kali kekuasaan di tingkat bawah hanya berputar di lingkaran tertentu:

  • orang yang sama,
  • kelompok yang sama,
  • jaringan yang sama.

Masyarakat biasa sulit masuk.
Pendapat baru sulit diterima.
Kritik dianggap mengganggu kenyamanan kelompok.

Akhirnya muncul budaya:

  • saling melindungi,
  • saling menutupi,
  • dan menjaga pengaruh tetap berada di lingkungan mereka sendiri.

Di sinilah amanah mulai berubah menjadi alat mempertahankan posisi sosial.

Idul Adha Mengajarkan Mengorbankan Ego Jabatan

Padahal Idul Adha hadir untuk menghancurkan ego manusia.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.”
(QS. Luqman: 18)

Ayat ini tidak hanya berlaku untuk pejabat besar.

Ia juga berlaku bagi siapa pun yang mulai merasa:

  • paling berkuasa,
  • paling menentukan,
  • paling harus dihormati,
  • dan paling tidak boleh dikritik.

Karena kesombongan tidak selalu muncul dari istana.
Kadang ia tumbuh dari pos ronda.

Tidak selalu lahir dari gedung besar.
Kadang muncul dari grup WhatsApp lingkungan.

Ketika Musyawarah Tinggal Formalitas

Budaya keterbukaan perlahan hilang ketika:

  • rapat hanya simbol,
  • keputusan sudah ditentukan sebelumnya,
  • warga hanya dijadikan pendengar,
  • dan kritik dianggap gangguan.

Padahal Al-Qur’an mengajarkan:

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Musyawarah bukan formalitas.
Ia adalah ruang mendengar masyarakat.

Kalau masyarakat takut bicara,
maka musyawarah sebenarnya sudah mati meski rapat tetap berjalan.

Apa Masih Mau Diam?

Pertanyaannya sekarang:
ketika komunikasi mulai ditutup,
ketika warga diblokir karena bertanya,
ketika nomor kontak dijaga karena takut dikritik,
ketika kekuasaan hanya berputar di lingkaran tertentu,
apa masih mau diam saja?

Diam terhadap budaya tertutup akan melahirkan masyarakat yang apatis.

Dan masyarakat yang apatis adalah lahan subur bagi tumbuhnya kesombongan kekuasaan kecil.

Darustation Memandang: Kurban Terbesar Hari Ini adalah Membuka Diri

Hari ini mungkin mudah menyembelih hewan kurban.

Tetapi belum tentu mudah:

  • menerima kritik,
  • membuka ruang dialog,
  • mendengar suara warga,
  • dan menghilangkan rasa ingin selalu dihormati.

Padahal jabatan RT, RW, pengurus desa, direktur BUMDes, ketua koperasi, maupun tokoh masyarakat hanyalah sementara.

Yang akan dikenang bukan seberapa lama seseorang berkuasa,
tetapi apakah selama memegang amanah ia membuka pintu komunikasi…
atau justru membangun sekat sosial di tengah masyarakatnya sendiri. (MS)

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan