Sosial

Jangan Terkecoh! Orang Zalim Boleh Jadi Tertawa Hari Ini, Tetapi Allah Tidak Pernah Lalai

“Jangan mengira diamnya Allah adalah tanda Allah merestui kezaliman. Bisa jadi itu adalah waktu yang diberikan agar seseorang kembali kepada-Nya sebelum penyesalan tidak lagi berguna.”

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika kita menyaksikan berbagai peristiwa di sekitar kita.

Mengapa orang yang suka menipu justru semakin kaya?

Mengapa orang yang memfitnah masih mendapat banyak pengikut?

Mengapa orang yang menyalahgunakan jabatan tampak hidup nyaman?

Mengapa orang yang mengambil hak orang lain terlihat baik-baik saja?

Bahkan terkadang, orang yang jujur justru mengalami kesulitan, sedangkan pelaku kezaliman menikmati kekuasaan dan kemewahan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan hanya muncul pada zaman media sosial, tetapi juga sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Al-Qur’an sendiri telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas.

Allah Tidak Pernah Lalai

Allah SWT berfirman:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa ukuran keadilan Allah tidak selalu diukur dengan kecepatan hukuman.

Dalam kehidupan manusia, kita terbiasa melihat proses yang cepat. Pelanggaran hari ini, kita berharap hukuman hari ini juga. Namun Allah memiliki hikmah yang jauh lebih luas.

Penangguhan bukan berarti pembiaran.

Diam bukan berarti ridha.

Tidak segera dihukum bukan berarti bebas.

Allah sedang memberi kesempatan.

Kesempatan untuk bertobat.

Kesempatan memperbaiki diri.

Kesempatan mengembalikan hak orang lain.

Tetapi ketika kesempatan itu disia-siakan, balasan Allah tidak pernah meleset.

Kezaliman Adalah Dosa yang Diharamkan Allah

Dalam hadis qudsi, Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.”

(HR. Muslim No. 2577)

Hadis ini memiliki makna yang sangat dalam.

Allah Yang Maha Kuasa saja mengharamkan kezaliman atas diri-Nya. Lalu bagaimana mungkin manusia yang penuh kelemahan merasa memiliki hak untuk menzalimi sesamanya?

Kezaliman bukan hanya berupa kekerasan fisik.

Ia bisa hadir dalam berbagai bentuk yang sering kali dianggap sepele, seperti:

  • Mengambil hak orang lain.
  • Mengingkari janji.
  • Memotong gaji pekerja.
  • Menyebarkan fitnah.
  • Menyalahgunakan jabatan.
  • Korupsi.
  • Memanipulasi data.
  • Menghina kehormatan seseorang.
  • Menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Semua itu termasuk bentuk kezaliman yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Doa Orang yang Dizalimi Menembus Langit

Inilah bagian yang paling ditakuti oleh para ulama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena antara doa tersebut dengan Allah tidak ada penghalang.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan, Rasulullah tidak mengatakan doa itu pasti diucapkan dengan suara keras.

Bisa jadi seseorang hanya menangis dalam sujud.

Bisa jadi hanya mengusap air mata.

Bisa jadi hanya berkata, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui.”

Namun doa itu menembus langit.

Tidak ada satupun pengawal, jabatan, kekuasaan, ataupun kekayaan yang mampu menghalangi doa tersebut sampai kepada Allah SWT.

Karena itu, para salaf sangat berhati-hati agar tidak menjadi penyebab air mata orang lain.

Allah Memberi Waktu, Tetapi Tidak Akan Membiarkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada orang zalim. Namun apabila Allah telah menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian Rasulullah membaca firman Allah:

“Demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab suatu negeri yang penduduknya berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya sangat pedih lagi keras.”

(QS. Hud: 102)

Betapa banyak kisah dalam sejarah yang menunjukkan hal tersebut.

Ada pemimpin yang sangat kuat, tetapi akhirnya jatuh dengan cara yang tidak pernah dibayangkan.

Ada pengusaha yang tampak berjaya, namun hartanya habis dalam waktu singkat.

Ada orang yang merasa mampu membeli segalanya, tetapi tidak mampu membeli ketenangan hati.

Semua itu menjadi pelajaran bahwa kekuatan manusia hanyalah sementara.

Keadilan Adalah Fondasi Peradaban

Ibnu Taimiyah pernah mengatakan:

“Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun dipimpin orang kafir, dan tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun dipimpin oleh kaum muslimin.”

Kalimat ini sering dikutip karena mengandung pesan universal.

Suatu bangsa bisa bertahan bukan hanya karena kekayaan alam atau kekuatan militernya, tetapi karena adanya keadilan.

Sebaliknya, ketika kezaliman menjadi budaya, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa keadilan adalah sebab kemakmuran, sedangkan kezaliman merupakan pintu kehancuran suatu negeri.

Orang Zalim Mungkin Lolos di Dunia, Tetapi Tidak di Akhirat

Pada Hari Kiamat nanti tidak ada rupiah.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada koneksi.

Tidak ada pengacara.

Yang berlaku hanyalah pahala dan dosa.

Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadis tentang orang yang bangkrut, bahwa seseorang datang membawa banyak amal ibadah. Namun karena ia pernah mencaci, memfitnah, memukul, mengambil hak orang lain, serta menzalimi sesama, maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Jika pahalanya habis sementara masih ada hak yang belum terselesaikan, dosa orang-orang tersebut dipindahkan kepadanya. Itulah hakikat kebangkrutan di akhirat (HR. Muslim).

Bayangkan seseorang rajin salat, rajin puasa, rajin sedekah, tetapi seluruh amalnya habis karena tidak menjaga hak manusia.

Inilah yang disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai orang yang benar-benar bangkrut.

Lalu Bagaimana Sikap Orang yang Dizalimi?

Islam memberikan pilihan yang sangat indah.

Allah SWT berfirman:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”

(QS. Asy-Syura: 40)

Artinya, seseorang berhak menuntut keadilan sesuai kadar kezaliman yang dialaminya.

Namun apabila ia mampu memaafkan demi kemaslahatan yang lebih besar, Allah menjanjikan pahala yang tidak terbatas.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman.

Memaafkan adalah membebaskan hati dari dendam, sementara urusan keadilan tetap diserahkan kepada Allah dan dapat ditempuh melalui jalan yang benar.

Refleksi Darustation

Di zaman ketika informasi menyebar begitu cepat, kita sering melihat orang berlomba mengejar popularitas, jabatan, dan keuntungan. Sayangnya, tidak sedikit yang menghalalkan segala cara: menyebarkan fitnah, memelintir fakta, memanfaatkan kekuasaan, atau mengorbankan hak orang lain demi kepentingan pribadi.

Padahal, dalam pandangan Islam, keberhasilan sejati bukanlah seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa bersih tangan kita dari hak orang lain.

Jangan iri kepada orang yang tampak sukses melalui jalan kezaliman. Bisa jadi yang terlihat sebagai kenikmatan hanyalah penangguhan sebelum datangnya hisab yang lebih berat.

Sebaliknya, jika hari ini kita menjadi pihak yang dizalimi, jangan kehilangan harapan. Allah melihat setiap tetes air mata, mendengar setiap doa yang terucap, dan mengetahui setiap hak yang dirampas. Tidak ada satu pun kezaliman yang luput dari catatan-Nya.

Mari kita bermuhasabah. Sebelum menuntut keadilan dari orang lain, pastikan kita tidak sedang menzalimi pasangan, anak, orang tua, tetangga, rekan kerja, atau siapa pun di sekitar kita. Sebab, kezaliman sering kali bermula dari hal-hal yang kita anggap kecil, tetapi di sisi Allah memiliki konsekuensi yang besar.

Karena pada akhirnya, bukan cepat atau lambatnya balasan yang menjadi ukuran, melainkan kepastian bahwa Allah adalah Al-‘Adl, Dzat Yang Maha Adil. Tidak ada satu pun hak yang hilang, dan tidak ada satu pun kezaliman yang akan luput dari pembalasan-Nya.

“Maka jangan pernah takut ketika berada di pihak yang benar, dan jangan pernah merasa aman ketika berbuat zalim. Sebab, keadilan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat.”

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan