Kajian Islam

Meninggalkan Jejak Kebaikan dengan Istiqamah: Bekal Terbaik Menuju Allah SWT

Ulasan Kajian Qiyamul Lail Masjid Istiqlal

Jumat, 17 Juli 2026

Bersama KH. Mas’ud Halimin, M.A.

Wakil Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillāhilladzī ahyānā ba’da mā amātanā wa ilaihin nusyūr. Allahumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muhammad.

Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan sehingga kita kembali dipertemukan dengan waktu yang penuh keberkahan dalam Kajian Qiyamul Lail Masjid Istiqlal pada Jumat, 17 Juli 2026. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, kajian disampaikan oleh KH. Mas’ud Halimin, M.A., Wakil Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI). Dengan penyampaian yang lugas, ilmiah, dan menyentuh hati, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan kembali hakikat kehidupan melalui tema besar “Meninggalkan Jejak Kebaikan dengan Istiqamah.”

Kajian ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia sangatlah singkat. Yang akan terus dikenang bukanlah harta, jabatan, maupun popularitas, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Amal yang dilakukan dengan ikhlas dan dijaga secara istiqamah akan terus mengalir pahalanya selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain.

  1. Jejak Amal yang Dicatat Allah SWT

Kajian diawali dengan firman Allah SWT dalam QS. Yasin ayat 12:

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan serta bekas-bekas (jejak) yang mereka tinggalkan.”

Ayat ini menjadi fondasi utama kajian. Allah SWT bukan hanya mencatat amal yang kita kerjakan, tetapi juga atsar atau jejak dari amal tersebut.

Jejak itu bisa berupa ilmu yang terus diajarkan, sedekah yang terus dimanfaatkan, masjid yang terus digunakan untuk beribadah, tulisan yang memberi manfaat, ataupun anak-anak yang tumbuh menjadi generasi saleh karena didikan orang tuanya.

Artinya, seorang muslim hendaknya berpikir jauh ke depan. Jangan hanya bertanya, “Apa yang saya kerjakan hari ini?”, tetapi juga “Manfaat apa yang akan terus hidup setelah saya tiada?”

  1. Amal Jariyah: Investasi Akhirat yang Tidak Pernah Putus
  2. Mas’ud Halimin kemudian menghubungkan ayat tersebut dengan hadis Rasulullah SAW tentang amal yang tidak terputus setelah seseorang meninggal dunia, yaitu:
  • Sedekah jariyah.
  • Ilmu yang bermanfaat.
  • Anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.

Kajian ini mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir dari pahala apabila selama hidup seseorang telah meninggalkan amal yang terus memberikan manfaat.

  1. Islam Mendorong Umatnya untuk Berkarya

Melalui QS. At-Taubah ayat 105, Allah SWT berfirman:

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

Ayat ini mengandung pesan agar setiap muslim menjadi pribadi yang produktif.

Bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi menghadirkan manfaat bagi lingkungan.

Seorang guru mengajar.

Petani menghasilkan pangan.

Dokter menyembuhkan pasien.

Pedagang melayani masyarakat dengan jujur.

Penulis menyebarkan ilmu.

Semuanya adalah bentuk ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT.

  1. Takwa adalah Proses Peningkatan Diri

Pemateri menjelaskan dua ayat yang saling melengkapi.

  1. Ali Imran ayat 102

“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.”

Kemudian Allah memberikan kemudahan melalui QS. At-Taghabun ayat 16

“Maka bertakwalah kepada Allah menurut kemampuanmu.”

Pesannya sangat indah.

Allah menghendaki kesungguhan, bukan kesempurnaan.

Setiap muslim memiliki jalan yang berbeda untuk mendekat kepada Allah sesuai kemampuan dan profesinya.

  1. Wasilah Menuju Ridha Allah

Dalam QS. Al-Ma’idah ayat 35, Allah memerintahkan agar orang-orang beriman mencari wasilah menuju-Nya.

  1. Mas’ud Halimin menjelaskan bahwa wasilah bukan sekadar doa, tetapi segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Ilmu.

Profesi.

Pelayanan kepada masyarakat.

Teknologi.

Dakwah.

Semua dapat menjadi jalan menuju ridha Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

  1. Menjadi Muslim yang Berkualitas

Kajian kemudian menjelaskan tahapan peningkatan kualitas seorang muslim.

Dimulai dari:

  • Muslim
  • Mukmin
  • Muhsin
  • Mukhlis

Muslim berarti berserah diri kepada Allah.

Mukmin memiliki keyakinan yang kokoh.

Muhsin beribadah seakan-akan melihat Allah.

Sedangkan Mukhlis adalah orang yang memurnikan seluruh amalnya hanya untuk Allah SWT.

Inilah tangga menuju kesempurnaan akhlak.

  1. Takwa Tidak Hanya di Masjid

Salah satu materi yang sangat menarik adalah penjelasan mengenai tiga dimensi takwa.

Hubungan dengan Allah

Melaksanakan ibadah dengan ikhlas.

Menjaga tauhid.

Memperbanyak zikir dan doa.

Hubungan dengan sesama manusia

Menjaga amanah.

Menghormati orang lain.

Tidak menyakiti.

Tidak menggunjing.

Tidak mengungkit pemberian.

Hubungan dengan alam

Menjaga kebersihan.

Menghemat sumber daya.

Tidak merusak lingkungan.

Karena seorang muslim yang bertakwa akan menjaga seluruh ciptaan Allah.

  1. Sedekah adalah Bentuk Kemuliaan, Bukan Kesombongan

Dalam kajian ini disampaikan bahwa penerima sedekah bukanlah objek yang lebih rendah.

Justru melalui mereka Allah membuka kesempatan bagi orang yang mampu untuk memperoleh pahala.

Karena itu seorang muslim tidak boleh:

  • merasa paling berjasa,
  • mengungkit pemberian,
  • menyakiti hati penerima bantuan.

Sedekah adalah bentuk kasih sayang, bukan sarana mencari pujian.

  1. Istiqamah: Kunci Menjaga Amal Tetap Hidup

Pada penutup kajian ditampilkan pembahasan mengenai Istiqamah berdasarkan QS. Fussilat ayat 30–31 dan 35.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'”

Istiqamah bukan berarti melakukan amal yang luar biasa setiap hari.

Istiqamah adalah konsisten berada di jalan Allah, meskipun amal yang dilakukan sederhana.

Pada slide penutup juga terdapat pesan yang sangat menyentuh:

“Janganlah meremehkan satu kebaikan, walaupun terlihat kecil. Bisa jadi karena kebaikan itulah Allah memasukkanmu ke dalam surga.”

Kalimat ini menjadi penutup yang sangat kuat.

Karena sesungguhnya tidak ada amal yang sia-sia di sisi Allah.

Refleksi

Kajian Qiyamul Lail Masjid Istiqlal bersama KH. Mas’ud Halimin, M.A. mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang berapa lama kita hidup, tetapi seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan.

Jejak kebaikan adalah warisan terbaik seorang muslim. Ia tidak selalu berupa bangunan megah atau harta yang melimpah, tetapi dapat berupa ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, keluarga yang dididik dengan baik, kepedulian kepada sesama, dan amal-amal kecil yang dilakukan secara istiqamah.

Di tengah kehidupan modern yang sering diukur dengan pencapaian materi, kajian ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekayaan atau popularitas, melainkan ketakwaan, keikhlasan, dan manfaat yang terus mengalir bagi orang lain.

Semoga setiap langkah kita menuju masjid, setiap ilmu yang kita pelajari, setiap kebaikan yang kita lakukan, serta setiap manfaat yang kita berikan kepada sesama menjadi jejak amal saleh yang terus dicatat oleh Allah SWT hingga hari kiamat.

“Bekerjalah, berbuatlah yang terbaik, jagalah keikhlasan, dan istiqamahlah dalam kebaikan. Sebab yang dicatat Allah bukan hanya amal yang kita lakukan hari ini, tetapi juga jejak manfaat yang terus hidup setelah kita tiada.”

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan