Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Ada banyak cara untuk belajar bisnis. Tidak selalu harus melalui seminar, buku, atau pendidikan formal. Kadang, pelajaran bisnis justru bisa kita dapatkan dari sebuah obrolan sederhana dengan seorang teman yang telah menjalani usahanya selama puluhan tahun.
Itulah yang saya rasakan ketika ngobrol dengan Kang Ajat secara live dari Purwakarta.
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan sehat selalu untuk Kang Ajat yang baru saja menjalani operasi hernia. Semoga proses pemulihannya berjalan lancar, diberikan kesehatan, kekuatan, dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
Dari obrolan tersebut, kami berbicara tentang perjalanan hidup dan usaha. Kang Ajat menekuni bisnis alat listrik selama lebih dari 20 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tentu tidak selalu mudah. Ada proses belajar, menghadapi persaingan, menjaga pelanggan, mencari barang, membangun hubungan dengan supplier, mengatur karyawan, hingga menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Kini, perjalanan panjang tersebut telah menghasilkan 3 toko alat listrik dengan 3 karyawan.
Lebih menarik lagi, kegiatan usaha tersebut sudah mulai dapat dikelola dengan sistem sehingga Kang Ajat tidak harus selalu berada di toko.
Memulai Bisnis dengan Modal Kesabaran
Pelajaran pertama yang saya tangkap dari Kang Ajat adalah bahwa membangun bisnis membutuhkan kesabaran.
Tidak semua usaha langsung menghasilkan keuntungan besar. Tidak semua toko langsung memiliki banyak pelanggan. Dan tidak semua pengusaha langsung mampu mempunyai karyawan atau beberapa cabang.
Karena itu, modal bisnis bukan hanya uang.
Ada modal ilmu, pengalaman, relasi, kepercayaan, keberanian, dan yang tidak kalah penting adalah kesabaran dan konsistensi.
Kang Ajat memilih bidang alat listrik dan terus menekuninya selama lebih dari 20 tahun. Waktu yang panjang tersebut menjadi modal pengalaman yang sangat berharga.
Dari pengalaman itu, seorang pengusaha akan semakin memahami karakter pelanggan, produk yang dibutuhkan pasar, harga, supplier, hingga bagaimana menghadapi berbagai masalah dalam bisnis.
Konsistensi dan Business Sustainability
Dalam teori bisnis, ada konsep business sustainability, yaitu kemampuan usaha untuk bertahan dan terus berkembang dalam jangka panjang.
Perjalanan Kang Ajat selama lebih dari dua dekade merupakan contoh nyata pentingnya keberlanjutan.
Konsisten bukan berarti melakukan sesuatu dengan cara yang sama selama 20 tahun. Konsistensi justru berarti tetap menjaga tujuan usaha sambil mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dahulu aktivitas bisnis lebih banyak dilakukan secara langsung. Sekarang teknologi dapat membantu proses pengawasan dan komunikasi.
Inilah yang membuat pengalaman menjadi penting. Pengusaha yang telah lama berada di pasar biasanya memiliki kemampuan membaca perubahan dan menyesuaikan cara kerja.
Membangun Jaringan dengan 30 Supplier
Salah satu hal menarik lainnya adalah Kang Ajat memiliki komunikasi dengan sekitar 30 supplier.
Dalam teori bisnis, hal ini berkaitan dengan supply chain management atau manajemen rantai pasok.
Bisnis perdagangan tidak hanya bergantung kepada pelanggan. Ketersediaan barang juga sangat penting.
Pengusaha membutuhkan supplier yang dapat memberikan berbagai kebutuhan alat listrik dengan harga, kualitas, dan waktu pengiriman yang sesuai.
Hubungan dengan supplier juga bukan sekadar transaksi.
Ada kepercayaan, komunikasi, negosiasi, informasi produk, ketersediaan stok, hingga hubungan jangka panjang.
Karena itu, jaringan 30 supplier dapat dilihat sebagai salah satu aset relasi bisnis yang dibangun melalui pengalaman dan kepercayaan selama bertahun-tahun.
Berkembang Menjadi Tiga Toko Alat Listrik
Saat ini Kang Ajat sudah memiliki tiga toko alat listrik.
Memiliki lebih dari satu toko merupakan bentuk business expansion atau ekspansi usaha.
Namun ekspansi bukan hanya soal membuka tempat baru. Ada tantangan untuk memastikan setiap toko dapat berjalan dengan baik.
Diperlukan karyawan, stok barang, pelayanan, pengawasan, komunikasi, dan pengelolaan keuangan.
Di sinilah bisnis mulai membutuhkan sistem.
Jika semua aktivitas masih harus dilakukan sendiri oleh pemilik, maka semakin banyak toko justru semakin berat.
Karena itu, perkembangan dari satu toko menjadi tiga toko menunjukkan bahwa Kang Ajat mulai membangun struktur usaha yang lebih terorganisasi.
Delegasi: Dari Pemilik Menjadi Pengelola
Ketiga toko tersebut kini dibantu oleh tiga karyawan.
Ini merupakan bagian penting dalam proses delegasi.
Pada tahap awal usaha, pemilik biasanya mengerjakan hampir semuanya sendiri. Tetapi ketika bisnis berkembang, pekerjaan harus mulai dibagi.
Karyawan menjalankan aktivitas operasional, sedangkan pemilik melakukan pengawasan dan mengambil keputusan.
Inilah perubahan dari self-employment menjadi business owner.
Pemilik tidak lagi hanya bekerja di dalam bisnis, tetapi mulai bekerja untuk mengembangkan bisnis.
Teknologi sebagai Sistem Kontrol
Hal yang sangat menarik dari sistem Kang Ajat adalah pemanfaatan CCTV.
Dengan CCTV, ketiga toko alat listrik dapat dipantau dari rumah.
Bahkan ketika sedang berada di Yogyakarta, kampung halaman istrinya, aktivitas ketiga toko tetap dapat dipantau.
Ini merupakan contoh sederhana dari remote monitoring atau pengawasan jarak jauh.
Teknologi tidak harus selalu mahal dan rumit. Teknologi yang sederhana tetapi tepat guna sudah dapat membantu meningkatkan efisiensi pengawasan.
CCTV membantu pemilik mengetahui kondisi toko, sementara komunikasi digital membantu koordinasi dengan karyawan dan supplier.
Dengan demikian, teknologi menjadi alat untuk memperkuat sistem usaha.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Bekerja
Di sinilah saya melihat perubahan penting dalam perjalanan Kang Ajat.
Ada perbedaan antara:
“Saya bekerja untuk bisnis.”
dan
“Saya membangun sistem agar bisnis dapat berjalan.”
Bisnis yang seluruh kegiatannya bergantung kepada pemilik akan sulit berkembang.
Sebaliknya, bisnis yang memiliki karyawan, prosedur, kontrol, supplier, dan sistem komunikasi dapat berjalan lebih fleksibel.
Pemilik tetap penting.
Tetapi pemilik tidak harus hadir secara fisik setiap saat.
Itulah salah satu tujuan membangun sistem bisnis.
Passive Income atau Pendapatan Berbasis Sistem?
Usaha Kang Ajat saat ini sudah mulai dapat dinikmati sebagai passive income.
Namun istilah tersebut perlu dipahami dengan tepat.
Passive income bukan berarti usaha sama sekali tidak membutuhkan pengelolaan.
Tiga toko tetap membutuhkan pengawasan. Karyawan tetap membutuhkan arahan. Supplier tetap perlu dijaga hubungannya. Keuangan tetap harus dikontrol.
Karena itu, lebih tepat disebut sebagai pendapatan yang didukung oleh sistem usaha.
Pemilik tetap berperan, tetapi tidak harus terlibat langsung dalam setiap aktivitas operasional.
Ini merupakan salah satu tanda bahwa sebuah bisnis mulai memiliki kemandirian operasional.
Bisnis yang Bisa Ditinggal Sementara
Rencana Kang Ajat dan keluarga untuk melaksanakan ibadah haji tahun depan menjadi sebuah gambaran menarik mengenai sistem usaha tersebut.
Perjalanan haji berarti pemilik akan berada jauh dari Indonesia.
Namun bisnis tetap harus berjalan.
Karyawan tetap bekerja. Supplier tetap berkomunikasi. Ketiga toko tetap beroperasi. Pemilik tetap dapat melakukan pemantauan dari jarak jauh.
Di sinilah sistem bisnis benar-benar diuji.
Bisnis yang sehat bukan bisnis yang tidak membutuhkan pemilik, tetapi bisnis yang tidak berhenti hanya karena pemilik sedang tidak berada di tempat.
Pelajaran bagi Pelaku UMKM
Jika perjalanan Kang Ajat disederhanakan, kita dapat melihat tahapan:
Mulai → Jalani → Belajar → Bertahan → Perbaiki → Bangun Sistem → Kembangkan.
UMKM dapat berkembang dari pemilik bekerja sendiri, kemudian memiliki pelanggan dan supplier tetap, mempekerjakan karyawan, membuka beberapa titik usaha, membangun sistem kontrol, hingga akhirnya pemilik tidak harus selalu berada di lokasi.
Dalam konteks UMKM Indonesia, digitalisasi juga semakin penting. Bank Indonesia menempatkan transformasi digital sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, akses pasar, dan daya saing UMKM.
Dengan demikian, apa yang dilakukan Kang Ajat sebenarnya sangat relevan dengan perkembangan UMKM modern.
Dari Teman Kursus Akuntansi Menjadi Teman Perjalanan
Ada satu hal lain yang membuat obrolan ini terasa istimewa.
Saya, Kang Ajat, dan istrinya, Mbak Dian, adalah teman semasa mengikuti kursus akuntansi di YAI, Salemba, Jakarta Pusat.
Itu berarti sudah lebih dari 30 tahun yang lalu.
Tiga puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang.
Kehidupan berubah. Pekerjaan berubah. Tempat tinggal berubah. Kesibukan masing-masing juga berubah.
Namun silaturahmi tetap dapat dijaga.
Dari teman semasa belajar akuntansi, kini kami kembali bertemu dalam sebuah obrolan tentang kehidupan dan perjalanan bisnis.
Ini menjadi pengingat bahwa relasi yang dibangun dengan baik dapat bertahan melampaui perubahan zaman.
Modal Bisnis Bukan Hanya Uang
Dari kisah Kang Ajat, kita dapat belajar bahwa modal bisnis sebenarnya memiliki banyak bentuk.
Ada modal uang, ilmu, pengalaman, relasi, kepercayaan, kesabaran, keberanian, dan konsistensi.
Kang Ajat telah mengumpulkan berbagai modal tersebut selama lebih dari dua dekade.
Hasilnya bukan hanya tiga toko alat listrik.
Lebih dari itu, ia telah membangun sistem usaha yang memungkinkan dirinya memiliki waktu lebih luas untuk keluarga, perjalanan, dan kegiatan lainnya.
Bahkan insyaallah, tahun depan dapat mempersiapkan perjalanan ibadah haji bersama keluarga.

Penutup: Bisnis yang Tumbuh Bersama Waktu
Pada akhirnya, kisah Kang Ajat dari Purwakarta bukan hanya cerita tentang bisnis toko alat listrik.
Ini adalah cerita tentang kesabaran, konsistensi, pengalaman, relasi, delegasi, teknologi, dan pembangunan sistem.
Lebih dari 20 tahun menekuni usaha, membangun tiga toko alat listrik, mempercayakan operasional kepada karyawan, menjaga hubungan dengan sekitar 30 supplier, serta memanfaatkan teknologi untuk melakukan pengawasan adalah perjalanan yang layak menjadi pembelajaran bagi pelaku UMKM.
Bisnis bukan perlombaan siapa yang paling cepat besar.
Bisnis adalah perjalanan tentang siapa yang mampu bertahan, belajar, beradaptasi, menjaga kepercayaan, dan terus berkembang.
Dan mungkin inilah pesan paling sederhana dari perjalanan Kang Ajat:
Jangan hanya membangun usaha untuk mendapatkan penghasilan. Bangunlah usaha yang suatu hari dapat berjalan dengan sistem yang kita bangun sendiri.
Dua puluh tahun lebih mengajarkan satu hal:
Bisnis yang besar tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Kadang ia tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan dengan sabar, konsisten, dan terus diperbaiki.
Sehat selalu, Kang Ajat. Semoga pemulihan pascaoperasi hernia berjalan lancar, usaha semakin maju, tiga toko alat listrik semakin berkembang, karyawan semakin sejahtera, hubungan dengan para supplier semakin kuat, dan rencana ibadah haji bersama keluarga tahun depan diberikan kemudahan serta keberkahan.
Dan semoga silaturahmi yang telah terjalin lebih dari 30 tahun tetap terjaga.
Karena bisnis bisa menghasilkan uang, tetapi silaturahmi menghasilkan nilai yang jauh lebih panjang daripada sekadar angka.
Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Sumber dan Referensi
- Bank Indonesia — Karya Kreatif Indonesia 2026, mengenai inovasi dan transformasi digital untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, akses pasar, dan daya saing UMKM.
- Bank Indonesia — Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, mengenai penguatan kewirausahaan dan UMKM.
- Bank Indonesia — Kajian Model Bisnis Multichannel Financing, mengenai penguatan kapasitas kewirausahaan, perluasan pasar, kemitraan, pembiayaan, dan digitalisasi keuangan.
- Kementerian UMKM RI — Empat Kunci Sukses Wirausaha agar Bisnis Berkelanjutan, mengenai loyalitas, integritas, disiplin, dan inovasi sebagai bagian dari keberlanjutan usaha.
Catatan: bagian mengenai perjalanan hidup, jumlah toko, jumlah karyawan, sekitar 30 supplier, penggunaan CCTV, rencana ibadah haji, serta hubungan pertemanan lebih dari 30 tahun merupakan informasi berdasarkan hasil obrolan dan cerita Kang Ajat, bukan klaim dari sumber pemerintah.
