Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Ada satu anggapan yang masih sering kita dengar ketika berbicara tentang berkebun di kota:
“Mau menanam di mana? Lahannya saja tidak punya.”
Padahal, mungkin persoalannya bukan benar-benar tidak punya lahan. Bisa jadi kita belum melihat bahwa teras, halaman kecil, balkon, dinding, rak, bahkan sudut kosong di rumah dapat menjadi ruang untuk menanam.
Itulah gagasan sederhana yang ditawarkan dalam Pelatihan Gratis Urban Farming – “Cara Berkebun di Tengah Perkotaan” yang digelar di Booth Trubus Blok A3, Pameran FLONA 2026, Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Materi pelatihannya pun dibuat sederhana: mulai dari mengenal urban farming, memilih tempat, menyemai benih, memindahkan bibit, merawat tanaman hingga menikmati hasil panen.
Dan bagi Darustation, justru di situlah menariknya.
Urban farming tidak harus dimulai dengan teknologi mahal. Ia bisa dimulai dari satu pot.
🌿 FLONA 2026 dan Pesan tentang Kota yang Tetap Bisa Menanam
FLONA 2026 berlangsung di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 28 Agustus–27 September 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusung tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta” dan menempatkannya bukan hanya sebagai pameran flora dan fauna, tetapi juga ruang edukasi lingkungan serta keanekaragaman hayati. (Jakarta Official Website)
Di tengah kegiatan tersebut, hadir pula berbagai aktivitas edukasi, termasuk urban farming.
Secara resmi, situs FLONA Jakarta menyebut festival ini menghadirkan urban farming, komunitas hijau, workshop, pameran tanaman dan kegiatan edukatif. (Flona Jakarta)
Maka, pelatihan urban farming sebenarnya mempunyai konteks yang cukup kuat.
Jakarta adalah kota yang padat.
Ruang terbuka terbatas.
Tetapi kebutuhan pangan dan kebutuhan akan lingkungan hijau tetap ada.
Pertanyaannya kemudian sederhana:
Bisakah sebagian ruang kota kembali menjadi ruang untuk menanam?
Jawabannya: bisa.
🏙️ Urban Farming Bukan Sekadar Tren
Urban farming atau pertanian perkotaan bukan sekadar kegiatan menanam untuk mempercantik rumah.
Kementerian Pertanian mencatat berbagai bentuk pertanian perkotaan dapat diterapkan berdasarkan kondisi ruang, antara lain pot, polybag, vertikultur, tanaman gantung, kebun komunitas, kebun atap, hidroponik hingga akuaponik. (Pustaka BPP SDMP Pertanian)
Artinya, seseorang tidak harus mempunyai kebun konvensional untuk mulai bertani.
Lahan sempit justru membutuhkan kreativitas.
Pot disusun.
Rak dibuat bertingkat.
Dinding dimanfaatkan.
Ruang vertikal digunakan.
Konsep vertikultur bahkan secara khusus dikembangkan sebagai solusi untuk keterbatasan lahan dengan memanfaatkan ruang secara vertikal. (Repository Pertanian)
Jadi, jangan selalu melihat kota sebagai tempat yang hanya dipenuhi beton.
Di antara beton itu masih ada ruang untuk hijau.
🪴 Lahan Terbatas? Manfaatkan!
Materi pelatihan memberikan pesan yang menurut saya sangat sederhana tetapi kuat:
“Kunci urban farming bukan luas lahannya, tetapi bagaimana ruang yang ada dimanfaatkan dengan tepat.”
Ini mungkin menjadi kalimat paling penting dari seluruh materi.
Sebab urban farming seharusnya tidak membuat masyarakat merasa harus memiliki lahan luas terlebih dahulu.
Mulailah dari ruang yang ada.
Jika memiliki halaman, manfaatkan halaman.
Jika hanya memiliki teras, gunakan teras.
Jika hanya tersedia ruang vertikal, gunakan rak bertingkat.
Jika tidak memiliki pekarangan, pot, polybag atau tanaman gantung bisa menjadi alternatif. Kementerian Pertanian juga menyebut pot, polybag dan vertikultur sebagai pilihan untuk pekarangan sempit. (Pustaka BPP SDMP Pertanian)
☀️ Jangan Asal Meletakkan Pot
Tetapi ada satu hal yang harus dipahami.
Urban farming bukan sekadar menaruh pot di sembarang tempat.
Tanaman tetap membutuhkan lingkungan tumbuh yang sesuai.
Materi pelatihan mengenalkan empat hal dasar:
☀️ 1. Cahaya
Usahakan tanaman memperoleh cahaya matahari sekitar 4–6 jam per hari, sesuai kebutuhan tanaman.
💨 2. Sirkulasi
Tempat tanam sebaiknya mempunyai sirkulasi udara yang baik dan tidak terlalu tertutup.
💧 3. Air
Sumber air sebaiknya mudah dijangkau sehingga kegiatan penyiraman tidak menjadi beban.
🌧️ 4. Drainase
Pot atau polybag harus mempunyai lubang drainase agar air tidak menggenang.
Empat hal ini terlihat sederhana.
Tetapi sering kali justru menjadi penyebab tanaman gagal tumbuh ketika diabaikan.
🌱 Perjalanan Tanaman Dimulai dari Benih
Setelah lokasi tersedia, tahap berikutnya adalah penyemaian.
Materi pelatihan memberikan formula media semai:
Tanah/kompos matang : sekam bakar : cocopeat = 1 : 1 : 1
Kemudian prosesnya dilakukan secara bertahap:
Isi wadah → buat lubang → masukkan benih → tutup tipis → siram dengan sprayer → tempatkan pada lokasi dengan cahaya cukup.
Tidak rumit.
Tidak membutuhkan peralatan canggih.
Tetapi membutuhkan ketelitian.
Karena benih adalah awal dari seluruh proses.
Dari sesuatu yang ukurannya mungkin hanya beberapa milimeter, kita berharap tumbuh tanaman yang nantinya bisa dipanen.
🌿 Bibit Jangan Dipaksa Cepat Besar
Salah satu kesalahan pemula adalah terlalu terburu-buru.
Begitu benih tumbuh, ingin segera dipindahkan.
Padahal bibit perlu dilihat kondisinya.
Dalam materi pelatihan, bibit dinilai siap dipindahkan ketika:
- memiliki sekitar 3–4 daun sejati;
- batang cukup kokoh;
- akar berkembang dengan baik;
- sehat;
- tidak menunjukkan tanda penyakit.
Materi juga menyebutkan bahwa bibit umumnya dapat dipindahkan sekitar 2–4 minggu setelah semai, tergantung jenis tanaman dan kondisi pertumbuhannya.
Pesannya jelas:
Jangan hanya melihat umur. Lihat kondisi tanaman.
🥬 Pilih Tanaman yang Tidak Membuat Pemula Menyerah
Untuk pemula, materi memberikan beberapa pilihan:
Kangkung • Bayam • Sawi • Pakcoy • Selada • Cabai • Tomat
Pilihan tanaman sederhana seperti ini justru penting.
Sebab tujuan awal urban farming bukan membuat seseorang langsung menjadi petani profesional.
Tujuannya adalah membuat seseorang berani memulai.
Satu pot kangkung yang berhasil tumbuh mungkin lebih berarti bagi seorang pemula daripada sepuluh teori pertanian yang tidak pernah dipraktikkan.
💧 Menanam Itu Mudah, Merawat yang Menentukan
Ada fase ketika semua orang bersemangat.
Hari pertama menanam.
Hari kedua melihat tanaman.
Hari ketiga memotret.
Hari keempat…
Lupa menyiram.
Di sinilah urban farming membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli:
konsistensi.
Materi pelatihan membagi perawatan rutin menjadi beberapa bagian:
Penyiraman
Berikan air sesuai kebutuhan tanaman. Jangan berlebihan.
Nutrisi
Gunakan kompos atau pupuk sesuai kebutuhan dan petunjuk penggunaannya.
Cahaya
Pastikan tanaman mendapatkan cahaya yang sesuai.
Kebersihan
Buang daun yang rusak dan jaga area tanam tetap bersih.
Rotasi
Pergantian jenis tanaman secara berkala dapat membantu mengurangi risiko hama dan penyakit.
Pada akhirnya, tanaman yang sehat bukan hanya hasil dari benih yang bagus, tetapi juga dari perawatan yang konsisten.
⚠️ Lima Kesalahan yang Sering Terjadi
Materi pelatihan juga mengingatkan beberapa kesalahan dasar.
Media terlalu padat.
Akar sulit berkembang dan air lebih sulit mengalir.
Penyiraman berlebihan.
Media terlalu basah dapat menimbulkan masalah pada akar.
Pupuk kandang mentah.
Bahan yang belum matang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Wadah tanpa drainase.
Air menggenang dan akar mudah rusak.
Bibit langsung terkena matahari terik.
Bibit muda perlu beradaptasi secara bertahap.
Menariknya, hampir semua kesalahan tersebut sebenarnya dapat dicegah.
Artinya, kegagalan urban farming bukan selalu karena kita tidak mempunyai lahan.
Kadang-kadang karena kita belum memahami kebutuhan tanaman.
♻️ Dari Sampah Organik Menjadi Tanaman
Di sinilah urban farming dapat dikembangkan lebih jauh.
Bagaimana jika kegiatan menanam dikaitkan dengan pengelolaan sampah organik?
Sisa sayuran rumah tangga dapat menjadi bahan untuk pengolahan kompos. Kompos kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan berkebun.
Maka tercipta sebuah siklus:
Sampah organik
↓
Kompos
↓
Media tanam
↓
Tanaman
↓
Panen
↓
Sisa tanaman
↓
Kembali menjadi bahan organik
Tentu pengolahan kompos membutuhkan metode yang benar. Tetapi secara konsep, hubungan antara pengurangan sampah dan produksi pangan ini sangat menarik untuk dikembangkan di tingkat rumah tangga maupun komunitas.
Apalagi pemerintah juga melihat urban farming sebagai salah satu pendekatan yang dapat mendukung pangan, ruang hijau dan ketahanan iklim perkotaan. Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pada Juni 2026 mendorong pemanfaatan pekarangan, gang permukiman dan ruang sempit untuk urban farming. (Ministry of Environment)
🏘️ Dari Satu Pot ke Gerakan Kampung
Bayangkan jika konsep ini tidak berhenti di rumah.
Satu rumah mempunyai lima polybag.
Sepuluh rumah mempunyai lima puluh polybag.
Satu RT mulai memiliki kebun bersama.
Kemudian sampah organik warga mulai dipilah dan diolah.
Kompos digunakan untuk kebun.
Anak-anak belajar menyemai.
Ibu-ibu belajar mengolah hasil panen.
Bapak-bapak membantu membuat rak tanaman.
Urban farming akhirnya berubah menjadi kegiatan sosial.
Bukan lagi sekadar hobi.
Kementerian Pertanian bahkan memasukkan kebun komunitas sebagai salah satu bentuk pertanian perkotaan, termasuk pemanfaatan fasilitas umum/sosial, lahan tidur dan halaman sekolah. (Pustaka BPP SDMP Pertanian)
Inilah bagian yang menurut Darustation paling menarik untuk dikembangkan.
🌏 Urban Farming dan Ketahanan Pangan
Tentu kita tidak boleh berlebihan.
Beberapa pot sayuran di rumah tidak akan menggantikan pertanian skala besar.
Tetapi jangan pula meremehkannya.
Urban farming dapat membantu menyediakan sebagian pangan rumah tangga, memperkenalkan kembali proses produksi pangan, memperluas ruang hijau dan memberikan aktivitas produktif di lingkungan perkotaan. Kementerian Pertanian menyebut berkebun di rumah juga berpotensi membantu menghemat pengeluaran keluarga, sementara pemerintah menempatkan urban farming dalam konteks ketahanan pangan perkotaan. (Pustaka BPP SDMP Pertanian)
Dengan kata lain:
urban farming bukan solusi tunggal.
Tetapi bisa menjadi salah satu bagian dari solusi.
🔎 Catatan Darustation: Yang Penting Bukan Banyaknya Tanaman
Setelah membaca materi pelatihan ini, ada satu kesimpulan yang menurut saya penting.
Jangan memulai urban farming dengan target terlalu besar.
Tidak perlu langsung membuat puluhan polybag.
Tidak perlu langsung membeli peralatan mahal.
Tidak perlu langsung membangun hidroponik.
Mulailah dengan tanaman yang mudah.
Pelajari bagaimana air bekerja.
Perhatikan cahaya.
Amati pertumbuhan akar.
Rasakan sendiri bagaimana tanaman membutuhkan perhatian.
Setelah berhasil, barulah naik tingkat.
Dari pot ke rak.
Dari rak ke kebun.
Dari rumah ke kampung.
🚀 Peluang Pengembangan: Urban Farming Berbasis Kampung
Kalau pelatihan seperti ini ingin dibuat lebih berdampak, menurut Darustation ada satu tahap yang perlu ditambahkan:
Urban Farming Berbasis Komunitas
Bukan hanya mengajarkan:
“Bagaimana cara menanam?”
Tetapi juga:
“Bagaimana satu lingkungan bisa menanam bersama?”
Materinya bisa dikembangkan menjadi:
- pemetaan lahan kosong;
- desain kebun RT;
- kebun pangan keluarga;
- rak tanaman bersama;
- pengolahan sampah organik;
- produksi kompos;
- pembibitan bersama;
- jadwal perawatan;
- pembagian hasil panen;
- edukasi anak dan remaja;
- hingga pengembangan produk hasil urban farming.
Jika hal tersebut dilakukan, urban farming tidak lagi berhenti sebagai pelatihan satu hari.
Ia menjadi gerakan yang terus hidup setelah pelatihan selesai.
🌱 Kesimpulan: Jangan Menunggu Punya Lahan Luas
Pada akhirnya, urban farming mengajarkan sesuatu yang sederhana:
Keterbatasan ruang bukan berarti keterbatasan kesempatan.
Kita mungkin tidak mempunyai kebun.
Tetapi punya teras.
Tidak punya halaman.
Mungkin punya balkon.
Tidak punya tanah.
Mungkin punya pot.
Dan dari satu pot itulah semuanya bisa dimulai.
Sebab yang paling penting bukan berapa banyak tanaman yang kita miliki.
Tetapi apakah kita mau mulai mengenal kembali dari mana pangan kita berasal.
Benih → tanaman → perawatan → panen.
Sebuah proses sederhana yang mungkin selama ini terlalu jauh dari kehidupan masyarakat perkotaan.
Maka, ketika FLONA 2026 mengajak masyarakat mengenal flora, fauna dan lingkungan, pelatihan urban farming memberikan pesan yang lebih praktis:
Tidak cukup hanya mengagumi hijaunya kota. Kita juga perlu ikut menumbuhkannya.
Dan mungkin, langkah itu tidak perlu dimulai dari taman besar.
Cukup dari satu pot di depan rumah. 🌱

📌 Informasi Pelatihan
Pelatihan Gratis Urban Farming
Tema: Cara Berkebun di Tengah Perkotaan
📅 Kamis, 3 September 2026
⏰ 14.00 WIB – selesai
📍 Booth Trubus Blok A3 – Pameran FLONA, Lapangan Banteng
📞 Informasi & Pendaftaran: 0812-8947-3525
Informasi waktu, lokasi, tema dan nomor kontak di atas mengacu pada poster kegiatan yang dikirimkan.
📚 Sumber
- Materi Pelatihan Urban Farming – Booth Trubus
Sumber utama artikel: materi Urban Farming di Lahan Terbatas, Dari Benih Menjadi Tanaman, dan Rawat Tanaman, Nikmati Hasilnya yang dikirimkan untuk penulisan artikel. - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta – FLONA Jakarta 2026
Informasi mengenai FLONA 2026, lokasi di Taman Lapangan Banteng, periode penyelenggaraan dan tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta.” (Jakarta Official Website)
- Kementerian Pertanian RI – Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian
Referensi mengenai urban farming, pemanfaatan pekarangan, pot, polybag, vertikultur dan kebun komunitas. (Pustaka BPP SDMP Pertanian)
Urban Farming: Strategi Pemanfaatan Lahan Perkotaan
- Kementerian Pertanian RI – Repository Pertanian
Referensi mengenai vertikultur sebagai solusi pemanfaatan lahan terbatas di kawasan perkotaan. (Repository Pertanian)
Vertikultur Solusi Bertanam di Lahan Sempit
- Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH
Referensi mengenai pemanfaatan pekarangan, gang permukiman dan ruang sempit melalui urban farming untuk mendukung pangan, ruang hijau, ketahanan pangan dan ketahanan iklim. (Ministry of Environment)
Urban Farming Jadi Solusi Pangan Kota – KLH/BPLH
📢 Yuk, dukung Instagram AKMC!
Silakan Follow, Like, dan Comment akun Instagram @akmc_org.
Dukungan Anda sangat berarti untuk membantu memperluas informasi dan kegiatan Yayasan Alumni Keluarga Muslim Citibank (AKMC). 🤝
Jangan lupa Follow, Like & Comment ya. Terima kasih atas dukungannya! 🙏
