Perkebunan

Belajar Tabulampot di FLONA 2026: Bukan Sekadar Menanam, tetapi Mengelola

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation

Menanam tanaman buah di dalam pot terlihat sederhana.

Masukkan media ke pot, tanam bibit, siram, lalu menunggu buah muncul.

Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

Tanaman buah yang hidup di dalam pot memiliki ruang tumbuh yang terbatas. Akar tidak bisa bebas mencari air dan nutrisi seperti tanaman yang ditanam langsung di tanah. Karena itu, keberhasilan tabulampot bukan hanya ditentukan oleh bibit yang bagus, tetapi juga bagaimana tanaman tersebut dikelola sejak awal hingga menghasilkan buah.

Hal inilah yang menarik dari pelatihan “Tabulampot – Bongkar Rahasia Sukses Budidaya Tabulampot Hasilkan Buah Premium” yang digelar di Booth Trubus Blok A3 dalam rangkaian FLONA 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta.

FLONA 2026 sendiri mengusung tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta” dan tidak hanya menghadirkan pameran flora dan fauna, tetapi juga berbagai kegiatan edukasi, workshop urban farming, komunitas hijau, dan aktivitas lingkungan. (FLONA Jakarta) 

Tabulampot untuk Menjawab Keterbatasan Lahan

Keterbatasan lahan menjadi persoalan yang semakin nyata di kawasan perkotaan.

Tidak semua orang memiliki halaman luas untuk menanam mangga, jeruk, jambu, atau tanaman buah lainnya.

Di sinilah tabulampot menjadi menarik.

Tanaman buah dalam pot memungkinkan aktivitas berkebun dilakukan di ruang yang lebih terbatas, seperti halaman rumah, teras, atau area kecil yang masih mendapatkan cahaya matahari.

Namun, tabulampot bukan sekadar memindahkan tanaman dari tanah ke dalam pot.

Ada sistem yang harus diperhatikan.

Mulai dari pemilihan bibit, ukuran pot, media tanam, drainase, pencahayaan, penyiraman, nutrisi, pembentukan tajuk hingga pengaturan jumlah buah.

Dengan kata lain, pot memang kecil, tetapi perhatian terhadap tanamannya tidak boleh asal-asalan.

Bibit Menjadi Titik Awal

Materi pelatihan menempatkan pemilihan bibit sebagai salah satu tahap penting.

Ini masuk akal.

Tanaman yang sejak awal sudah lemah, terserang penyakit, atau memiliki pertumbuhan kurang baik akan membutuhkan perhatian lebih besar ketika dipelihara dalam pot.

Karena itu, bibit perlu diperhatikan dari sisi:

  • kesehatan tanaman;
  • jenis dan varietas;
  • kondisi perakaran;
  • karakter buah yang diinginkan.

Pemilihan varietas juga harus disesuaikan dengan kondisi tempat dan tujuan budidaya.

Sebab, menanam bukan hanya soal “tanaman apa yang saya suka?”, tetapi juga “apakah tanaman tersebut cocok dengan kondisi yang saya miliki?”

Pertanyaan sederhana ini sering kali justru menentukan keberhasilan di kemudian hari.

Pot Bukan Sekadar Wadah

Setelah bibit dipilih, perhatian berpindah kepada pot dan media.

Pot harus memiliki ukuran yang sesuai dengan tanaman dan mempunyai lubang drainase yang baik.

Ini bagian yang sering dianggap sepele.

Padahal, air yang menggenang terlalu lama dapat mengganggu kondisi perakaran. Sebaliknya, media yang terlalu cepat kering juga dapat membuat tanaman mengalami tekanan.

Karena itu, media tanam idealnya cukup gembur dan tidak mudah tergenang.

Bibit kemudian dipindahkan dengan hati-hati agar akar tidak mengalami kerusakan berlebihan.

Setelah tanaman berdiri tegak, media ditutup dan disiram secukupnya.

Sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian.

Tabulampot yang baik dimulai dari kombinasi bibit sehat, pot sesuai, media yang baik, cahaya cukup, dan drainase yang benar.

Tanaman Jangan Hanya Dibiarkan Tumbuh

Salah satu bagian yang menurut saya penting adalah pembentukan tajuk.

Tanaman yang sehat memang akan terus tumbuh.

Tetapi pertumbuhan yang dibiarkan begitu saja belum tentu menghasilkan tanaman yang produktif.

Cabang bisa tumbuh tidak beraturan. Daun terlalu rimbun. Cahaya tidak merata. Energi tanaman juga harus dibagi ke banyak bagian.

Karena itu, pemangkasan dan pembentukan tajuk diperlukan untuk membantu mengatur pertumbuhan.

Tujuannya bukan membuat tanaman menjadi kecil semata.

Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara daun, cabang, cahaya, dan buah.

Di sinilah tabulampot mengajarkan satu hal penting:

Menanam adalah memulai. Mengelola adalah menentukan hasil.

Menuju Pembungaan Tidak Bisa Instan

Keinginan terbesar pemilik tabulampot biasanya sama:

Kapan berbuah?

Tetapi sebelum berbicara tentang buah, tanaman harus terlebih dahulu berada dalam kondisi sehat.

Air harus dikelola.

Nutrisi harus diperhatikan.

Cahaya harus cukup.

Tajuk perlu dibentuk.

Pertumbuhan harus diamati.

Barulah tanaman diarahkan menuju pembungaan dan pembentukan buah.

Materi pelatihan menggambarkan alurnya secara sederhana:

Bibit sehat → tanaman tumbuh → pembentukan tajuk → perawatan konsisten → pembungaan → pembentukan buah.

Alur tersebut menunjukkan bahwa buah bukanlah hasil dari satu tindakan.

Buah adalah hasil dari rangkaian pengelolaan.

Buah Banyak Belum Tentu Lebih Baik

Bagian menarik lainnya adalah pembahasan mengenai buah premium.

Istilah premium sering membuat orang berpikir tentang buah yang berukuran besar dan jumlahnya banyak.

Padahal tidak selalu demikian.

Tanaman memiliki kemampuan terbatas untuk menopang buah.

Jika terlalu banyak buah dipertahankan, tanaman bisa kesulitan memenuhi kebutuhan masing-masing buah.

Karena itu, seleksi bunga dan buah menjadi penting.

Buah yang sehat dan berkembang baik dapat dipertahankan, sementara jumlah buah disesuaikan dengan kemampuan tanaman.

Artinya, produktivitas bukan semata-mata soal jumlah.

Kualitas juga menjadi bagian penting.

Buah yang dituju idealnya memiliki ukuran dan bentuk sesuai karakter varietas, sehat, tidak rusak, penampilannya baik, relatif seragam, serta memiliki rasa dan karakter yang sesuai.

Bahkan waktu panen pun perlu diperhatikan.

Air, Nutrisi, Cahaya dan Kebersihan

Ketika buah mulai membesar, pekerjaan belum selesai.

Justru pada tahap ini perhatian harus semakin konsisten.

Penyiraman harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Nutrisi harus tersedia sesuai fase pertumbuhan.

Cahaya harus tetap mencukupi.

Daun, batang dan buah perlu diperiksa secara rutin untuk melihat kemungkinan adanya hama, penyakit atau kerusakan.

Tajuk pun tetap perlu diperhatikan.

Jadi, tabulampot bukan model “tanam lalu tinggal.”

Ia membutuhkan pengamatan.

Dan pengamatan inilah yang sering membedakan antara tanaman yang sekadar hidup dengan tanaman yang benar-benar produktif.

Ada Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi

Materi pelatihan juga mengingatkan beberapa kesalahan yang perlu dihindari.

Di antaranya:

  • ukuran pot tidak sesuai;
  • drainase buruk;
  • air menggenang;
  • media terlalu padat;
  • tanaman kekurangan cahaya;
  • pemupukan tidak sesuai kebutuhan;
  • tidak melakukan pembentukan atau pemangkasan;
  • membiarkan buah terlalu banyak;
  • penyiraman tidak teratur.

Jika diperhatikan, sebagian besar masalah tersebut sebenarnya bukan karena tanaman tidak bisa tumbuh.

Masalahnya justru karena manusia kurang tepat dalam mengelola kebutuhan tanaman.

Pelatihan Bagus, Tetapi Masih Bisa Dibuat Lebih Teknis

Sebagai materi pengantar, pelatihan ini cukup sistematis.

Peserta diajak mengikuti tahapan dari:

memilih bibit → menyiapkan pot dan media → menanam → membentuk tanaman → merawat → mengamati pembungaan → menyeleksi buah → panen.

Alur tersebut mudah dipahami, terutama bagi pemula.

Namun, jika ingin dijadikan panduan praktik yang benar-benar siap diterapkan di rumah, masih ada beberapa hal yang menurut saya dapat diperjelas.

Misalnya:

Berapa ukuran pot untuk masing-masing jenis tanaman?

Apa komposisi media tanam yang direkomendasikan?

Jenis pupuk apa yang digunakan dan berapa dosisnya?

Kapan pemupukan dilakukan?

Bagaimana teknik pemangkasan untuk tanaman tertentu?

Apa tanda tanaman kekurangan atau kelebihan air?

Bagaimana menghadapi hama dan penyakit yang umum menyerang tabulampot?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kebutuhan mangga tentu tidak selalu sama dengan jeruk, jambu, atau tanaman buah lainnya.

Jadi, materi pelatihan ini sangat baik sebagai fondasi pemahaman, tetapi untuk praktik lanjutan diperlukan panduan yang lebih spesifik berdasarkan jenis tanaman.

FLONA Seharusnya Tidak Berhenti pada Pameran

Di sinilah saya melihat nilai penting FLONA 2026.

FLONA bukan hanya tempat melihat tanaman.

Pemerintah DKI menempatkan FLONA sebagai ruang edukasi, rekreasi, pameran, komunitas, serta kegiatan lingkungan. Tahun ini FLONA menghadirkan ratusan stan dan konsep enam zona ekoregion Nusantara. (Jakarta)

Maka workshop seperti tabulampot menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.

Masyarakat tidak hanya melihat tanaman yang sudah jadi.

Masyarakat juga mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana tanaman itu dipelihara.

Bagi warga kota, pengetahuan semacam ini sebenarnya sangat relevan.

Tidak semua orang dapat membuat kebun besar.

Tetapi hampir setiap rumah masih mungkin memiliki satu atau dua pot.

Dari satu pot, bisa muncul kebiasaan baru.

Dari kebiasaan menanam, bisa tumbuh kepedulian terhadap lingkungan.

Dan dari lingkungan rumah, gerakan kecil urban farming bisa berkembang menjadi budaya bersama.

Dari Satu Pot, Dimulai dari Rumah

Tabulampot pada akhirnya bukan hanya tentang buah.

Ia juga berbicara tentang cara manusia memperlakukan ruang yang terbatas.

Ketika lahan semakin sempit, kita tidak harus menyerah untuk menanam.

Kita bisa beradaptasi.

Satu pot mangga.

Satu pot jeruk.

Satu pot jambu.

Atau tanaman buah lainnya.

Tidak harus langsung banyak.

Yang penting adalah memahami prosesnya.

Karena tanaman tidak membutuhkan manusia yang hanya rajin menanam.

Tanaman membutuhkan manusia yang mau memperhatikan, memahami dan mengelola.

Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting dari tabulampot di FLONA 2026:

bukan sekadar bagaimana membuat tanaman hidup di dalam pot, tetapi bagaimana mengelola kehidupan tanaman agar tumbuh sehat, produktif, dan menghasilkan buah yang berkualitas.

Sebab, dalam berkebun, menanam adalah awal.
Merawat adalah proses.
Dan hasil adalah buah dari konsistensi.

Sumber

  1. FLONA Jakarta 2026 – Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta — informasi FLONA 2026, konsep kegiatan, workshop urban farming dan lokasi Lapangan Banteng. 
  2. Pemprov DKI Jakarta – FLONA 2026 Digelar di Taman Lapangan Banteng — tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta” dan tujuan edukasi lingkungan. 
  3. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat – FLONA 2026 Dorong Masyarakat Menjaga Keanekaragaman Hayati — informasi kegiatan edukasi, komunitas, lokakarya dan ekoregion Nusantara. 
  4. Materi pelatihan “TABULAMPOT: Budidaya Tanaman Buah dalam Pot” dan poster pelatihan Tabulampot – Bongkar Rahasia Sukses Budidaya Tabulampot Hasilkan Buah Premium, Booth Trubus Blok A3, FLONA 2026.

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan