Kajian Islam

Menikah Bukan Sekadar Sehidup Semati: Bersama Keluarga, Menjaga Doa, Berjuang Menuju Surga

Refleksi Kajian Tauhid Ustaz Salim A. Fillah dan Aa Gym di Masjid Istiqlal

Tema: Bersama Keluarga Meraih Surga, Jangan Sia-siakan Kekuatan Doa

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation.com

Ada yang menikah dengan harapan hidup bahagia. Ada yang bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Ada pula yang menghabiskan sebagian besar hidup untuk membangun rumah, mengumpulkan harta, dan memastikan keluarga memperoleh kehidupan yang layak.

Semua itu baik dan penting.

Namun, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan di tengah kesibukan menjalani kehidupan: setelah semua itu tercapai, ke mana keluarga kita akan melangkah?

Apakah keberhasilan rumah tangga cukup diukur dari rumah yang nyaman, kebutuhan yang terpenuhi, pendidikan anak yang baik, dan hubungan yang terlihat harmonis? Ataukah ada tujuan yang jauh lebih besar, yaitu bagaimana suami, istri, dan anak-anak bersama-sama menjaga keimanan hingga akhir hayat, serta berharap dipertemukan kembali di surga Allah SWT?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu renungan penting dari kajian tauhid bersama Ustaz Salim A. Fillah dan K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Ahad, 11 Oktober 2026.

Dua pembahasan tersebut bertemu pada satu pelajaran mendasar:

keluarga membutuhkan tujuan yang benar, hati yang bergantung kepada Allah, doa yang tidak putus, serta ikhtiar yang terus berjalan.

Sebab, membangun keluarga bukan hanya tentang bertahan bersama selama hidup di dunia. Lebih dari itu, keluarga adalah amanah untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

  1. Pernikahan Bukan Garis Akhir, Melainkan Awal Perjuangan

Menikah bukan berarti menemukan seseorang yang sempurna. Pernikahan justru mempertemukan dua manusia yang masing-masing memiliki kelebihan, kekurangan, kebiasaan, dan cara berpikir yang tidak selalu sama.

Di dalamnya ada cinta, tetapi juga tanggung jawab. Ada kebahagiaan, tetapi juga ujian. Ada harapan, tetapi terkadang muncul kekecewaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Karena itu, pernikahan tidak cukup hanya bermodalkan perasaan cinta.

Allah SWT menyebut ikatan pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha, yaitu perjanjian yang kuat, sebagaimana dijelaskan dalam Surah An-Nisa ayat 21.

Ikatan ini mengandung amanah yang besar. Suami dan istri bukan hanya berjanji untuk hidup bersama, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan, memenuhi hak masing-masing, membangun rumah tangga yang baik, dan saling membantu dalam ketaatan kepada Allah.

Suami bukan sekadar pencari nafkah yang merasa tugasnya selesai setelah membawa pulang penghasilan. Istri juga bukan sekadar pendamping yang harus menanggung seluruh pekerjaan rumah tangga tanpa penghargaan.

Keduanya adalah pasangan yang memiliki hak, kewajiban, dan perjuangan masing-masing.

Rumah tangga yang sehat dibangun dengan komunikasi, kasih sayang, tanggung jawab, dan kesediaan untuk memperbaiki diri.

Jangan hanya menuntut pasangan berubah menjadi lebih baik, sementara diri sendiri tidak mau berbenah.

Pernikahan yang kuat bukan pernikahan tanpa masalah, melainkan pernikahan yang menjadikan iman sebagai pegangan ketika masalah datang.

  1. Mencintai Keluarga Berarti Ikut Menjaga Akhiratnya

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6 agar orang-orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

Ayat ini memberikan pengingat bahwa tanggung jawab keluarga tidak berhenti pada urusan dunia.

Orang tua memang perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Anak-anak perlu memperoleh pendidikan. Rumah tangga membutuhkan tempat tinggal, makanan, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Namun, jangan sampai seluruh tenaga hanya diarahkan untuk memastikan keluarga berhasil di dunia, sementara pendidikan iman dan akhlaknya justru terabaikan.

Kita ingin anak memperoleh pendidikan tinggi. Kita ingin mereka mendapatkan pekerjaan yang baik. Kita berharap mereka memiliki masa depan yang lebih cerah daripada orang tuanya.

Semua itu wajar.

Tetapi, apakah kita juga sudah berusaha membimbing mereka agar jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, menjaga ibadah, dan tidak melupakan Allah ketika memperoleh keberhasilan?

Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang disampaikan orang tua. Mereka juga belajar dari apa yang dilihat setiap hari.

Mereka memperhatikan bagaimana ayah memperlakukan ibu. Mereka mendengar bagaimana orang tua berbicara ketika sedang marah. Mereka menyaksikan bagaimana keluarga menyelesaikan perbedaan pendapat.

Karena itu, pendidikan keluarga tidak cukup hanya dengan menyuruh anak berbuat baik. Orang tua pun harus berusaha menjadi teladan.

Menjaga keluarga bukan berarti merasa paling benar atau memaksakan kehendak. Tanggung jawab tersebut harus dijalankan dengan kasih sayang, keteladanan, kesabaran, dan komunikasi yang baik.

Kita tidak dapat menjamin pilihan setiap anggota keluarga. Namun, kita dapat berusaha menghadirkan lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mencintai kebaikan.

  1. Jangan Hanya Mengandalkan Kemampuan Diri, Ingatlah Allah

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa bahwa keberhasilan sepenuhnya bergantung pada kemampuan dirinya.

Ketika pekerjaan berjalan lancar, kita merasa telah menyusun strategi dengan baik. Ketika usaha berkembang, kita bangga terhadap kerja keras yang telah dilakukan. Ketika anak berhasil, kita merasa pendidikan yang diberikan telah membuahkan hasil.

Padahal, kemampuan berpikir, kesehatan, kesempatan, pertemuan dengan orang-orang baik, dan berbagai jalan keluar yang kita temukan juga merupakan karunia Allah.

Inilah salah satu pelajaran penting dari kajian tauhid yang mengingatkan kita agar tidak menjadikan ikhtiar sebagai satu-satunya sandaran hati.

Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 16 bahwa Dia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati manusia dan lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Artinya, Allah mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, apa yang kita khawatirkan, dan apa yang belum mampu kita ungkapkan kepada siapa pun.

Terkadang, pasangan sendiri belum sepenuhnya memahami kegelisahan kita. Anak-anak tidak mengetahui beratnya perjuangan orang tua. Bahkan, orang yang selama ini dekat dengan kita belum tentu memahami seluruh persoalan yang sedang dihadapi.

Namun, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih tenang.

Bukan berarti semua masalah langsung selesai. Bukan pula berarti kita tidak perlu mencari jalan keluar. Akan tetapi, kita belajar memahami bahwa persoalan yang sedang dihadapi tidak berada di luar pengetahuan dan kekuasaan Allah.

Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa mampu mengendalikan seluruh hasilnya.

Kita boleh berharap kepada manusia, tetapi jangan menggantungkan seluruh kebahagiaan kepadanya.

Dan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, jangan buru-buru menganggap bahwa hidup telah kehilangan arah.

  1. Jangan Sia-siakan Kekuatan Doa

Ada satu kebiasaan yang perlu terus dirawat dalam keluarga: berdoa.

Bukan hanya ketika sakit, mengalami kesulitan ekonomi, menghadapi masalah rumah tangga, atau ketika anak sedang berada dalam persoalan.

Doa seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, doa disebut sebagai ibadah. Melalui doa, manusia mengakui keterbatasannya dan menyatakan kebutuhan kepada Allah.

Kita berdoa karena menyadari bahwa kemampuan manusia tidak tidak terbatas.

Ketika sakit, kita pergi ke dokter dan menggunakan obat yang sesuai. Ketika menghadapi masalah ekonomi, kita bekerja, mengatur pengeluaran, dan mencari solusi. Ketika hubungan keluarga memburuk, kita berusaha memperbaiki komunikasi.

Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar.

Namun, di balik ikhtiar tersebut, jangan lupakan doa.

Dokter dapat memberikan pengobatan, tetapi manusia tidak menguasai seluruh proses kesembuhan. Kita dapat bekerja keras, tetapi tidak semua hasil berada dalam kendali kita. Kita dapat mendidik anak sebaik mungkin, tetapi mereka tetap memiliki perjalanan hidup yang harus dijalani.

Karena itu, doa dan ikhtiar tidak boleh dipertentangkan.

Doa bukan pengganti usaha, sedangkan usaha bukan alasan untuk melupakan Allah.

Keduanya berjalan bersama.

Berdoalah ketika memulai pekerjaan. Doakan pasangan ketika menjalani kesibukannya. Doakan anak ketika mereka belajar dan menempuh kehidupan. Doakan orang tua yang telah membesarkan kita.

Jangan menunggu keluarga menghadapi masalah besar untuk mulai mendekat kepada Allah.

Sebab, doa bukan hanya permohonan agar sesuatu yang sulit menjadi mudah. Doa juga merupakan cara menjaga hati agar tetap berada di jalan yang benar.

  1. Belajar dari Nabi Zakaria: Jangan Menutup Pintu Harapan

Al-Qur’an memberikan teladan melalui kisah Nabi Zakaria AS.

Dalam Surah Al-Anbiya ayat 89–90, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah agar tidak dibiarkan seorang diri tanpa keturunan, sementara Allah adalah sebaik-baik pemberi waris.

Dalam keadaan yang secara manusiawi sulit, Nabi Zakaria tetap memohon kepada Allah.

Allah kemudian mengabulkan doanya dan menganugerahkan Nabi Yahya AS.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak mengetahui seluruh kemungkinan yang berada dalam kekuasaan Allah.

Dalam kehidupan keluarga, terkadang kita menghadapi keadaan yang terasa buntu. Orang tua mengkhawatirkan masa depan anak. Suami dan istri menghadapi ujian yang tidak mudah. Sebuah keluarga berusaha bangkit dari kesulitan ekonomi, penyakit, atau persoalan yang berkepanjangan.

Ketika keadaan belum berubah, kita bisa merasa bahwa harapan semakin kecil.

Namun, jangan tergesa-gesa menutup pintu harapan.

Teruslah berdoa dan lakukan ikhtiar yang benar. Evaluasi langkah yang telah ditempuh. Carilah bantuan yang diperlukan. Mintalah nasihat kepada orang yang dapat dipercaya.

Kisah Nabi Zakaria bukan jaminan bahwa setiap permintaan akan terkabul persis seperti yang kita inginkan. Akan tetapi, kisah itu mengajarkan keteguhan seorang hamba dalam berharap kepada Allah.

Kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana pertolongan datang. Karena itu, jangan biarkan keterbatasan pengetahuan kita membuat doa berhenti.

  1. Ketika Ujian Datang, Belajarlah dari Doa Nabi Yunus

Keluarga yang baik bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi ujian.

Ada masa ketika kesehatan terganggu. Ada saat ketika penghasilan berkurang. Ada anak yang membuat orang tua khawatir. Ada pula perbedaan pendapat antara suami dan istri yang membutuhkan kesabaran dan kedewasaan.

Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah menyalahkan keadaan atau orang lain.

Kita bertanya mengapa persoalan ini terjadi, mengapa orang lain tidak memahami kita, atau mengapa kehidupan terasa lebih berat daripada yang dibayangkan.

Namun, ada baiknya kita juga menyediakan waktu untuk bermuhasabah.

Salah satu doa yang dapat menjadi pelajaran adalah doa Nabi Yunus AS dalam Surah Al-Anbiya ayat 87:

Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Artinya:

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Doa ini mengandung tiga pelajaran penting.

Pertama, tauhid. Kita mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Harta, jabatan, dan kedudukan manusia bukanlah sandaran mutlak.

Kedua, tasbih. Kita mengagungkan Allah dan mengakui kesempurnaan-Nya, meskipun sedang menghadapi keadaan yang tidak mudah.

Ketiga, taubat. Kita berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Dalam rumah tangga, pelajaran ini sangat relevan.

Suami perlu berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Istri juga memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri. Orang tua perlu mengakui jika pernah berlaku tidak adil kepada anak.

Mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan wibawa. Justru, keberanian untuk bertobat dan memperbaiki diri merupakan bagian dari kedewasaan.

Namun, muhasabah juga tidak berarti menyalahkan diri sendiri atas semua kesulitan. Tidak semua musibah dapat langsung disimpulkan sebagai hukuman atas dosa tertentu.

Yang terpenting, ketika ujian datang, jangan hanya sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Carilah juga apa yang bisa diperbaiki, pertolongan apa yang dibutuhkan, dan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.

  1. Jangan Tergesa-gesa Menilai Doa Tidak Dikabulkan

Salah satu ujian terbesar dalam berdoa adalah menunggu.

Kita ingin persoalan selesai secepat mungkin. Kita ingin pasangan segera memahami keadaan kita. Kita ingin anak segera berubah. Kita ingin usaha kembali berjalan dan masalah keuangan cepat teratasi.

Ketika hasilnya tidak kunjung terlihat, muncul pertanyaan: mengapa doa kita belum dikabulkan?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 186 bahwa Dia dekat dan mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Nya.

Ayat ini menguatkan keyakinan bahwa Allah mendengar doa hamba-Nya.

Namun, berdoa bukan berarti kita menentukan bagaimana Allah harus menjawab permintaan tersebut.

Kita mengetahui apa yang sedang kita inginkan, tetapi tidak mengetahui seluruh akibat dari keinginan itu. Kita melihat keadaan hari ini, sedangkan masa depan belum sepenuhnya kita pahami.

Karena itu, jangan menjadikan doa seperti transaksi: kita meminta sesuatu, lalu merasa kecewa ketika hasilnya tidak segera datang.

Tetaplah berdoa dengan sungguh-sungguh. Perbaiki diri. Lakukan usaha yang diperlukan. Dan serahkan hasilnya kepada Allah.

Dalam kehidupan keluarga, kesabaran semacam ini sangat diperlukan.

Perubahan perilaku tidak selalu terjadi dalam semalam. Persoalan rumah tangga terkadang membutuhkan komunikasi berulang kali. Anak-anak membutuhkan waktu untuk belajar. Kesulitan ekonomi mungkin menuntut pengorbanan dan pengaturan ulang kehidupan.

Doa memberi kekuatan untuk menjalani proses tersebut tanpa kehilangan harapan.

  1. Tawakal Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Keyakinan kepada takdir Allah harus berjalan bersama tanggung jawab manusia.

Allah SWT menjelaskan dalam Surah At-Taghabun ayat 11 bahwa tidak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin-Nya.

Sementara itu, Surah Yunus ayat 107 mengingatkan bahwa jika Allah menimpakan kemudaratan, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.

Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan Allah meliputi seluruh kehidupan.

Namun, memahami takdir tidak berarti kita harus pasif menghadapi persoalan.

Jika sakit, berdoalah sekaligus berobat. Jika mengalami kesulitan ekonomi, berdoalah sekaligus bekerja dan memperbaiki pengelolaan keuangan. Jika terjadi konflik dalam keluarga, berdoalah sekaligus berusaha menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik.

Jangan hanya mengatakan bahwa semua sudah ditakdirkan, lalu berhenti melakukan usaha yang sebenarnya masih dapat dilakukan.

Sebaliknya, jangan pula merasa bahwa seluruh keberhasilan berasal dari kecerdasan dan kekuatan diri sendiri.

Tawakal menempatkan keduanya secara seimbang: manusia bersungguh-sungguh menjalankan tanggung jawab, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Inilah sikap yang perlu dibangun dalam keluarga.

Orang tua mendidik anak dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak merasa memiliki kuasa mutlak atas masa depan mereka. Suami dan istri memperbaiki hubungan, tetapi tidak menganggap pasangan sebagai manusia yang harus selalu memenuhi seluruh keinginannya.

Kita berusaha sebaik mungkin, tanpa kehilangan kerendahan hati di hadapan Allah.

  1. Doa untuk Keluarga yang Menyejukkan Hati

Ada doa yang sangat relevan dengan cita-cita membangun keluarga yang beriman.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 74:

Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Perhatikan bahwa doa ini bukan hanya permohonan agar pasangan dan anak-anak menyenangkan hati.

Ada harapan agar keluarga menjadi sumber ketenangan melalui iman dan akhlak. Ada pula permohonan agar diri sendiri mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Artinya, kita tidak cukup hanya berharap mendapatkan pasangan yang baik. Kita juga perlu berusaha menjadi pasangan yang baik.

Jangan hanya meminta agar anak menghormati orang tua. Tunjukkan pula bagaimana anggota keluarga saling menghormati.

Jangan hanya menginginkan rumah yang dipenuhi ketenangan. Periksalah bagaimana kita berbicara, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita menyelesaikan perselisihan.

Doa tersebut perlu disertai langkah nyata: menjaga salat, mencari rezeki yang halal, mendidik anak, memenuhi tanggung jawab, menjaga amanah, dan membangun komunikasi yang sehat.

Keluarga yang menyejukkan hati bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat. Keluarga seperti itu adalah keluarga yang berusaha menyelesaikan perbedaan tanpa kehilangan adab dan kasih sayang.

  1. Jangan Lupakan Orang Tua dan Doakan Akhir Kehidupan yang Baik

Perjuangan menuju surga tidak hanya berkaitan dengan pasangan dan anak-anak. Ada orang tua yang telah membesarkan kita, berkorban untuk pendidikan kita, dan mengantarkan kita sampai pada kehidupan hari ini.

Dalam Surah Al-Isra ayat 24, Allah mengajarkan doa:

Rabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.

Artinya:

“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Doa ini mengingatkan kita agar tidak melupakan jasa orang tua.

Ketika masih kecil, kita membutuhkan pertolongan mereka. Ketika dewasa, kita mungkin sibuk bekerja, membangun rumah tangga, dan mengurus anak-anak sendiri.

Namun, kesibukan tidak seharusnya membuat kita melupakan orang tua.

Jika mereka masih hidup, sempatkan untuk memberi perhatian, membantu sesuai kemampuan, dan menjaga komunikasi. Jika mereka telah meninggal dunia, doakan agar Allah mengampuni dan merahmati mereka.

Selain itu, jangan lupa memohon akhir kehidupan yang baik.

Dalam Surah Yusuf ayat 101, Nabi Yusuf AS berdoa agar diwafatkan dalam keadaan Muslim dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh.

Doa ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan dunia bukanlah tujuan terakhir.

Kita boleh berharap anak-anak berhasil, keluarga berkecukupan, dan kehidupan semakin baik. Namun, jangan sampai kesibukan mengejar keberhasilan membuat kita lupa memohon agar tetap berada dalam iman hingga akhir hayat.

Harta dapat diwariskan. Jabatan dapat berakhir. Rumah yang dibangun dengan susah payah pada akhirnya akan ditinggalkan.

Karena itu, selain mempersiapkan masa depan keluarga di dunia, persiapkan pula bekal untuk kehidupan akhirat.

  1. Sisa Umur Adalah Kesempatan untuk Memperbaiki Diri

Pada akhirnya, seluruh pelajaran tentang keluarga, tauhid, doa, ikhtiar, dan tawakal membawa kita kepada satu pertanyaan: apa yang sudah kita lakukan dengan sisa umur yang diberikan Allah?

Apakah kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengeluhkan keadaan atau memperbaiki diri?

Apakah kita sibuk menilai kekurangan pasangan, tetapi jarang memeriksa kekurangan sendiri?

Apakah kita menuntut anak-anak menjadi baik, tetapi belum cukup memberikan teladan?

Apakah kita rajin meminta pertolongan Allah, tetapi masih sering mengabaikan amanah kepada sesama?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa paling bersalah. Justru, muhasabah adalah kesempatan untuk kembali menata kehidupan.

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua memiliki kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah.

Karena itu, jangan menunggu sampai semua keadaan ideal untuk mulai memperbaiki diri.

Mulailah dari hal sederhana: memperbaiki salat, membiasakan doa, memperbanyak istigfar, menjaga lisan, meminta maaf ketika bersalah, menunaikan tanggung jawab, dan memperlakukan keluarga dengan lebih baik.

Jika selama ini terlalu sibuk bekerja, luangkan waktu untuk keluarga. Jika komunikasi mulai renggang, cobalah membuka percakapan dengan baik. Jika hubungan dengan orang tua kurang terjaga, mulailah menghubungi mereka.

Jika pernah menyakiti orang lain, berusahalah memperbaiki kesalahan.

Sebab, sisa umur bukan sekadar tentang berapa lama kita hidup. Lebih penting lagi, bagaimana kesempatan itu digunakan untuk mendekat kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Penutup: Jangan Hanya Sehidup Semati, Berjuanglah Menuju Surga

Dua kajian dengan penekanan yang saling melengkapi ini membawa kita pada sebuah pemahaman: keluarga membutuhkan cinta, tetapi cinta saja tidak cukup. Keluarga membutuhkan tanggung jawab, keteladanan, doa, ikhtiar, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah.

Pelajaran tentang keluarga mengingatkan kita bahwa pernikahan merupakan amanah untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Pelajaran tentang tauhid mengingatkan kita agar tidak menjadikan manusia dan kemampuan diri sebagai sandaran mutlak.

Doa Nabi Zakaria mengajarkan keteguhan berharap kepada Allah. Doa Nabi Yunus mengajarkan tauhid, tasbih, dan pengakuan atas kesalahan. Doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74 mengajarkan cita-cita membangun keluarga yang menyejukkan hati dan menjadi teladan dalam ketakwaan.

Sementara itu, doa Nabi Yusuf AS mengingatkan kita agar tidak hanya mengejar keberhasilan dunia, tetapi juga memohon akhir kehidupan yang baik.

Semua itu perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Jangan hanya berdoa agar keluarga bahagia tanpa berusaha menjaga hubungan. Jangan hanya berharap anak menjadi saleh dan salehah tanpa memberikan keteladanan. Jangan hanya meminta pertolongan Allah tanpa menjalankan ikhtiar yang menjadi tanggung jawab kita.

Dan jangan pula merasa seluruh hasil bergantung pada kemampuan sendiri, sebab manusia memiliki keterbatasan.

Menikah bukan sekadar sehidup semati. Menikah adalah kesempatan untuk saling menjaga, saling menguatkan, saling mengingatkan, dan bersama-sama berjuang menuju rida Allah.

Kita tidak pernah mengetahui berapa lama waktu yang tersisa. Kita juga tidak mengetahui seluruh ujian yang akan datang.

Namun, selama Allah masih memberikan kesempatan, kita masih dapat memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, memperbanyak doa, dan memperkuat ikhtiar.

Semoga Allah menjaga iman kita dan keluarga, melimpahkan ilmu yang bermanfaat, mengampuni dosa-dosa kita dan kedua orang tua, serta menjadikan pasangan dan keturunan kita sebagai penyejuk hati.

Semoga Allah membimbing kita agar tidak hanya hidup bersama di dunia, tetapi juga dikumpulkan bersama orang-orang saleh di surga-Nya.

Ya Allah, ajarkan kami untuk mencintai keluarga tanpa melupakan-Mu, berusaha tanpa menyombongkan diri, berdoa tanpa berputus asa, dan menerima ketetapan-Mu tanpa berhenti memperbaiki diri.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Darustation.com — Catatan refleksi, keluarga, dan kehidupan masyarakat

Instagram/Fanpage: @darustation

Website: darustation.com

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan