Kenapa KRL 12 SF Belum Bisa Diterapkan Penuh di Rute Tanah Abang–Rangkasbitung?

Bukan Sekadar Tambah Kereta, Tapi Soal Sistem yang Belum Sepenuhnya Siap

Wacana KRL 12 SF (12 kereta) kembali ramai dibicarakan. Logikanya sederhana: kalau penumpang makin padat, maka kapasitas kereta harus ditambah. Di atas kertas, ide ini memang masuk akal.

Namun untuk lintas Tanah Abang–Rangkasbitung, penerapan 12 SF belum bisa dilakukan penuh begitu saja. Masalahnya bukan hanya soal menambah gerbong, tetapi soal kesiapan sistem secara keseluruhan—mulai dari daya listrik, panjang peron, pola operasi, hingga kemampuan lintas menanggung beban yang lebih besar.

Lintas Tanah Abang–Rangkasbitung hari ini bukan lagi jalur pinggiran. Ia sudah menjadi urat nadi komuter bagi warga dari Serpong, Rawabuntu, Cisauk, Parung Panjang, Cilejit, Tigaraksa, Maja, hingga Rangkasbitung. Bahkan, KAI Commuter pernah menyebut koridor ini sebagai salah satu penggerak mobilitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di jalur barat Jabodetabek.

Masalahnya, pertumbuhan penumpang berjalan jauh lebih cepat daripada kesiapan infrastrukturnya.

Salah satu hambatan utama adalah daya listrik. Rangkaian 12 kereta membutuhkan suplai tenaga yang lebih besar dibanding 8 atau 10 kereta, terutama saat kereta mulai bergerak, berhenti, lalu berakselerasi kembali di lintas padat. Di jalur ini, gangguan Listrik Aliran Atas (LAA) dan gardu pernah beberapa kali mengganggu operasional. Salah satunya pernah terjadi di kawasan Parung Panjang, yang sempat membuat perjalanan KRL lintas Rangkasbitung–Tanah Abang terganggu.

Selain itu, persoalan juga ada pada prasarana stasiun dan peron. Kereta yang lebih panjang menuntut kesiapan peron agar seluruh pintu bisa melayani naik-turun penumpang secara aman dan efisien. Jika tidak, waktu berhenti kereta akan lebih lama, penumpang menumpuk, dan keterlambatan bisa merembet ke seluruh lintas. Dalam sistem komuter, beberapa detik tambahan di satu stasiun saja bisa berdampak besar.

Masalah berikutnya adalah bahwa lintas ini tumbuh di atas sistem lama. Kawasan seperti Parung Panjang, Cisauk, Tigaraksa, Maja, bahkan hingga koridor Daru, berkembang pesat karena ekspansi perumahan. Banyak warga tinggal lebih jauh dari Jakarta demi harga rumah yang lebih terjangkau. Akibatnya, wilayah-wilayah ini berubah menjadi kantong komuter besar.

Tetapi pertanyaannya sederhana:

Apakah pertumbuhan perumahan itu diikuti kesiapan transportasi publik yang setara?

Sayangnya, belum sepenuhnya.

Bagaimana dengan Daru?

Dalam pembahasan soal KRL, Daru sering luput dari sorotan. Padahal, kawasan ini ikut merasakan dampak kepadatan lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.

Daru bukan lagi sekadar stasiun kecil yang dilewati kereta. Ia berada di jalur pertumbuhan baru, di tengah wilayah yang makin ramai oleh hunian dan mobilitas warga. Masalahnya, seperti banyak titik di pinggiran Jabodetabek, jumlah penduduk tumbuh lebih cepat daripada peningkatan layanan transportasi.

Akibatnya, warga Daru dan sekitarnya sering merasakan:

  • kereta yang sudah penuh sebelum tiba,
  • tekanan naik di jam sibuk,
  • dan kualitas perjalanan yang melelahkan.

Artinya, keterlambatan penerapan 12 SF bukan cuma soal teknis, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup komuter. Karena bagi warga seperti di Daru, transportasi bukan sekadar urusan pindah tempat. Ia menyangkut waktu hidup, tenaga, biaya harian, dan waktu bersama keluarga.

Pandangan Darustation

Dari sudut pandang Darustation, persoalan KRL 12 SF tidak boleh hanya dilihat sebagai urusan operator atau teknis perkeretaapian. Ini adalah persoalan yang lebih besar: bagaimana kita memandang kehidupan warga pinggiran yang setiap hari menopang kota besar.

Bagi warga di koridor Daru, Tenjo, Cilejit, Maja, hingga Rangkasbitung, KRL bukan gaya hidup. KRL adalah urat nadi hidup. Ia menentukan jam berangkat kerja, waktu pulang, tingkat kelelahan, bahkan kualitas hidup keluarga.

Karena itu, ada beberapa hal yang menurut Darustation penting didorong.

Pertama, jangan hanya fokus pada 12 kereta, tapi percepat pembenahan infrastruktur pendukung seperti gardu listrik, LAA, peron, dan sistem operasional.

Kedua, wilayah seperti Daru harus mulai dipandang sebagai kawasan prioritas pertumbuhan, bukan sekadar stasiun antara yang dilewati.

Ketiga, pemerintah daerah jangan hanya sibuk memberi izin perumahan, tetapi juga wajib memikirkan beban mobilitas warganya. Jangan sampai rumah dijual dengan iming-iming “dekat KRL”, tetapi kenyataannya warganya tetap harus berjuang dalam sistem yang belum naik kelas.

Kesimpulan

Jadi, KRL 12 SF belum bisa diterapkan penuh di rute Tanah Abang–Rangkasbitung bukan karena sekadar kurang kereta, tetapi karena masalahnya memang sistemik.

Masalah utamanya meliputi:

  • daya listrik yang belum sepenuhnya siap,
  • peron dan prasarana yang belum seragam,
  • lintas yang tumbuh cepat di atas sistem lama,
  • serta wilayah seperti Daru yang ikut menanggung beban pertumbuhan tanpa dukungan layanan yang seimbang.

Maka kalau ada yang bertanya, “Kenapa KRL 12 SF belum jalan penuh?” jawabannya sederhana:

Karena keretanya bisa ditambah, tapi sistemnya belum seluruhnya siap.

Dan mungkin inilah pesan paling pentingnya:

Jangan hanya sibuk memperpanjang kereta, tapi mulailah memperpanjang cara pandang terhadap kehidupan warga pinggiran yang setiap hari menopang kota besar. (ds)


Sumber Referensi

  1. Kompas.comKAI Commuter: Perjalanan Commuter Line Rangkasbitung-Tanah Abang Picu Pertumbuhan Ekonomi Lokal (Megapolitan)
  2. Kompas.comAda Gangguan Listrik di Parung Panjang, Operasional KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Sempat Terhambat (Megapolitan)
  3. Kompas.comKRL Relasi Tanah Abang-Rangkasbitung Alami Gangguan di Parung Panjang (Megapolitan)
  4. Kompas.comSempat Alami Gangguan, Kecepatan KRL Relasi Rangkasbitung-Tanah Abang Dibatasi (Megapolitan)
  5. Kompas.comSempat Gangguan Sinyal di Parung Panjang-Cisauk, Perjalanan KRL Rangkasbitung Kembali Normal (Megapolitan)
  6. Kompas.idAda Gangguan Sinyal, Enam Perjalanan KRL Lintas Tanah Abang-Rangkasbitung Terganggu (Kompas)
  7. Diskusi Publik / Komunitas Online – Respons dan pengalaman pengguna KRL di jalur barat Jabodetabek (Reddit) (Reddit)

Add a Comment