Kajian Khutbah Idul Adha,
Masjid Jami Al-Barkah, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan
10 Dzulhijjah 1447 | 17 Mei 2016
Mukadimah & Doa Pembuka Khutbah
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du.
Jamaah Idul Adha Rahimakumullah,
Hari ini gema takbir berkumandang di seluruh penjuru negeri.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar… Allahu Akbar walillaahil hamd.
Takbir bukan hanya suara kemenangan, tetapi panggilan untuk membersihkan hati, menundukkan ego, dan mengingat bahwa sebesar apa pun manusia, semuanya akan kembali kepada Allah SWT.
Keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail
Idul Adha mengajarkan tentang kepatuhan dan pengorbanan.
Nabi Ibrahim AS menunjukkan ketaatan total kepada Allah SWT.
Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya.
Nabi Ismail AS pun rela menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan.
Dari kisah itu kita belajar:
- Keimanan membutuhkan pengorbanan.
- Kesabaran membutuhkan perjuangan.
- Dan cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada dunia.
Idul Adha bukan sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi menyembelih:
- ego,
- kesombongan,
- kerakusan,
- dan kepentingan pribadi.
Kondisi Bangsa dan Kehidupan Rakyat
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini banyak masyarakat sedang menghadapi kesulitan hidup.
Nilai rupiah melemah.
Harga kebutuhan semakin tinggi.
Pedagang kecil menunggu pembeli yang sepi.
Banyak orang tua berjuang memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Ada rakyat kecil yang menangis dalam diam.
Bukan berarti bangsa ini kekurangan orang pintar.
Pidato ada di mana-mana.
Tulisan dan janji bertebaran.
Tetapi rakyat membutuhkan kehadiran hati dan amanah.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
Amanah bukan sekadar jabatan.
Amanah adalah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.
Pemimpin dan Amanah
Idul Adha mengingatkan bahwa pemimpin bukan hanya menjaga kekuasaan, tetapi menjaga hati rakyatnya.
Rakyat tidak membutuhkan janji yang tinggi.
Rakyat membutuhkan:
- kejujuran,
- kepedulian,
- keberanian,
- dan keteladanan.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani mendengar tangisan rakyatnya.
Karena sebesar apa pun jabatan manusia, suatu saat semuanya akan hilang.
Yang tersisa hanyalah:
- amal,
- kejujuran,
- dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Menyembelih Ego di Hari Raya
Semangat Idul Adha adalah semangat pengorbanan.
Mari kita sembelih:
- ego pribadi,
- kesombongan,
- kebencian,
- dan kerakusan dunia.
Jangan sampai jabatan membuat hati keras.
Jangan sampai kekuasaan membuat lupa kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.”
Keberkahan lahir dari ketakwaan, bukan hanya dari kekuatan ekonomi.

Penutup & Doa
Jamaah Rahimakumullah,
Semoga Idul Adha tahun ini melembutkan hati kita.
Menguatkan kepedulian sosial kita.
Dan menjadikan kita manusia yang lebih tunduk kepada Allah SWT.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillaahil hamd.
Doa
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.
اللهم أصلح ولاة أمورنا، وارزقهم العدل والأمانة والخوف منك يا رب العالمين.
اللهم فرّج هم المهمومين من المسلمين، ونفّس كرب المكروبين، واقض الدين عن المدينين، واشف مرضانا ومرضى المسلمين.
Ya Allah…
Lembutkan hati kami.
Jauhkan kami dari kesombongan.
Jadikan negeri kami negeri yang aman, adil, dan penuh keberkahan.
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.
والحمد لله رب العالمين.
