Oleh: Mohamad Sobari | DaruStation
“Usia bukan batas. Menjadi tua adalah kepastian, tetapi tetap sehat, aktif, produktif, dan bermartabat adalah pilihan yang harus dipersiapkan sejak dini.”
Kalimat tersebut terasa sangat relevan sepanjang pelaksanaan Indonesia Active Ageing Summit 2026, sebuah forum nasional yang diselenggarakan dalam rangka Puncak Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 pada 12 Juni 2026 di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Cawang, Jakarta.
Kegiatan yang mengusung tema “Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya” ini mempertemukan para pengambil kebijakan, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi profesi, pelaku industri, komunitas lansia, dan masyarakat umum untuk membahas masa depan Indonesia yang sedang memasuki era Aging Population.
Melalui berbagai sesi diskusi, seminar, dan pemaparan ilmiah, peserta diajak memahami bahwa meningkatnya jumlah lansia bukanlah ancaman, melainkan peluang besar yang harus dipersiapkan secara serius.
Indonesia Sedang Menuju Era Populasi Menua
Salah satu materi utama disampaikan oleh Maliki, ST, MSIE, Ph.D, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas.
Dalam paparannya yang berjudul “Populasi Lansia Indonesia: Apakah Kita Siap Menghadapi 2045?”, beliau menjelaskan bahwa Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah penduduk lanjut usia secara signifikan dalam dua dekade mendatang.
Keberhasilan pembangunan kesehatan telah meningkatkan angka harapan hidup masyarakat. Namun, keberhasilan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, perlindungan sosial, serta sistem pendukung bagi lansia.
Menurutnya, Indonesia harus mulai mempersiapkan berbagai sektor pembangunan agar mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang semakin menua. Jika dikelola dengan baik, lansia dapat menjadi aset pembangunan yang berharga dan tetap berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Apakah Sistem Layanan Lansia Kita Sudah Optimal?
Pertanyaan penting tersebut menjadi fokus pembahasan Prof. Irene Blackberry dari La Trobe University, Melbourne.
Dalam sesi “Sistem Layanan untuk Pasien Lansia: Apakah Kita Sudah Optimal?”, beliau menjelaskan bahwa kebutuhan lansia jauh lebih kompleks dibanding kelompok usia lainnya.
Lansia sering menghadapi berbagai kondisi kesehatan secara bersamaan, seperti penyakit kronis, gangguan mobilitas, penurunan fungsi kognitif, masalah nutrisi, hingga kesehatan mental.
Karena itu, sistem pelayanan kesehatan tidak cukup hanya berorientasi pada pengobatan penyakit. Yang dibutuhkan adalah pelayanan yang bersifat komprehensif, terintegrasi, dan berpusat pada pasien (person-centered care).
Beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara layanan kesehatan primer, rumah sakit, rehabilitasi, layanan sosial, dan dukungan keluarga agar lansia memperoleh pelayanan yang berkesinambungan dan berkualitas.
Menurut Prof. Irene, keberhasilan pelayanan lansia tidak hanya diukur dari usia harapan hidup yang lebih panjang, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk tetap mandiri, aktif, dan menikmati kualitas hidup yang baik.
Otak Sehat untuk Lansia Produktif
Salah satu sesi yang paling menarik disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Melalui materi “Otak Sehat dan Produktif untuk Indonesia Berdaya”, beliau menjelaskan bahwa kesehatan otak merupakan fondasi utama dalam menjaga kualitas hidup lansia.
Banyak masalah yang dialami lansia berawal dari menurunnya fungsi kognitif, termasuk gangguan memori dan demensia. Oleh karena itu, menjaga kesehatan otak harus dilakukan sejak usia produktif.
Langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Aktif bergerak dan berolahraga.
- Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
- Mengendalikan hipertensi, diabetes, dan kolesterol.
- Tetap aktif bersosialisasi.
- Terus belajar dan melatih kemampuan berpikir.
- Menjaga kualitas tidur dan kesehatan mental.
Menurut Prof. Yuda, lansia yang memiliki kesehatan otak yang baik akan lebih mampu mempertahankan kemandirian, produktivitas, serta peran sosialnya di masyarakat.

Care Economy: Peluang Besar yang Mulai Terbuka
Salah satu pembahasan yang cukup menarik dalam summit ini adalah sesi “Care Economy Lansia Indonesia: Ukuran Pasar dan Peluang.”
Diskusi ini menghadirkan sejumlah pakar dari berbagai bidang yang membahas bagaimana peningkatan jumlah lansia dapat menciptakan peluang ekonomi baru.
Selama ini, banyak orang memandang pertambahan populasi lansia sebagai beban pembangunan. Padahal, di balik perubahan demografi tersebut terdapat pasar yang sangat besar untuk berbagai sektor, antara lain:
- Layanan kesehatan lansia.
- Perawatan jangka panjang (long-term care).
- Teknologi kesehatan dan alat bantu lansia.
- Industri farmasi dan nutrisi.
- Wisata ramah lansia.
- Hunian dan lingkungan ramah lansia.
- Pelatihan caregiver profesional.
- Inovasi digital untuk pemantauan kesehatan lansia.
Konsep Care Economy menempatkan kebutuhan perawatan dan kesejahteraan manusia sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi.
Bukan hanya meningkatkan kualitas hidup lansia, sektor ini juga mampu membuka lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Lansia Adalah Aset Bangsa
Benang merah dari seluruh sesi yang berlangsung adalah perlunya mengubah cara pandang terhadap lansia.
Lansia bukanlah kelompok yang harus dikasihani atau dianggap tidak produktif. Mereka adalah sumber pengalaman, pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, serta modal sosial yang sangat berharga.
Dengan dukungan sistem kesehatan yang baik, lingkungan yang ramah, dan kesempatan untuk tetap berkarya, lansia dapat terus memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan negara.
Paradigma baru inilah yang menjadi semangat utama Indonesia Active Ageing Summit 2026.
Peran Keluarga Tetap Menjadi Kunci
Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi sistem pelayanan kesehatan, seluruh narasumber sepakat bahwa keluarga tetap menjadi fondasi utama kesejahteraan lansia.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan dukungan emosional, sosial, dan spiritual.
Ketika keluarga mampu menciptakan suasana yang mendukung, lansia akan lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih mampu mempertahankan kemandiriannya.
Karena itu, pembangunan masyarakat ramah lansia tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah atau fasilitas kesehatan semata, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Menuju Indonesia Emas 2045 yang Ramah Lansia
Indonesia Emas 2045 sering dibayangkan sebagai negara maju dengan ekonomi yang kuat dan sumber daya manusia yang unggul. Namun, keberhasilan tersebut tidak akan lengkap tanpa hadirnya masyarakat yang menghormati dan memberdayakan para lansianya.
Indonesia Active Ageing Summit 2026 menjadi pengingat bahwa penuaan adalah bagian alami dari kehidupan yang harus dipersiapkan bersama.
Kesehatan, kemandirian, produktivitas, dan martabat lansia harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.
Karena pada akhirnya, keberhasilan suatu bangsa tidak hanya diukur dari bagaimana ia mempersiapkan generasi muda, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan generasi yang telah lebih dahulu membangun negeri ini.
Catatan DaruStation
“Lansia bukan beban pembangunan. Mereka adalah saksi sejarah, penjaga nilai, dan sumber kebijaksanaan bangsa. Ketika kesehatan, pelayanan, dan pemberdayaan berjalan beriringan, maka usia tidak lagi menjadi batas untuk tetap berkarya. Indonesia yang hebat adalah Indonesia yang mampu membuat warganya menua dengan sehat, bahagia, mandiri, dan bermartabat.”
HLUN ke-30 Tahun 2026
Indonesia Active Ageing Summit 2026
Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya 🇮🇩👴👵✨

