Kajian Islam

Menebar Maslahat, Menguatkan Umat di Tahun Baru Islam

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation

Catatan Kajian Ustadz Maulana di Masjid Istiqlal

Tahun Baru Islam selalu menjadi momentum istimewa untuk melakukan refleksi diri. Bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah, tetapi sebuah ajakan untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.

Dalam rangka menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah, Masjid Istiqlal Jakarta kembali dipenuhi jamaah yang ingin menambah ilmu dan memperkuat keimanan. Salah satu tausiyah yang menarik perhatian disampaikan oleh Ustadz Maulana, dai yang dikenal dengan gaya ceramahnya yang ringan, penuh humor, namun sarat makna.

Tema besar yang disampaikan beliau sangat relevan dengan kondisi umat saat ini, yaitu tentang bagaimana menjadi pribadi yang mampu menebar maslahat dan menguatkan umat.

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, Ustadz Maulana mengingatkan bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi orang baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga harus menjadi sumber manfaat bagi orang lain.

Menjadi Umat Nabi Muhammad Bukan Sekadar Pengakuan

Salah satu kalimat yang cukup mengena dalam kajian tersebut adalah ketika Ustadz Maulana mengajak jamaah untuk merenung:

“Apakah kita benar-benar layak diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW?”

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendalam.

Banyak orang mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi belum tentu meneladani akhlak dan perjuangan beliau. Menjadi umat Nabi Muhammad bukan hanya soal identitas, melainkan bagaimana menghadirkan rahmat, kasih sayang, dan manfaat bagi sesama.

Menurut Ustadz Maulana, untuk menjadi pribadi yang membawa maslahat, ada lima hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Prinsip hidup
  • Pilar kehidupan
  • Landasan kebaikan
  • Cara berbuat baik
  • Hikmah menebar maslahat

Kelima hal inilah yang menjadi fondasi kehidupan seorang muslim.

Empat Prinsip Hidup yang Harus Ditanamkan

  1. Hilangkan Kebencian dari Dalam Hati

Ustadz Maulana mengingatkan bahwa kebencian sering kali lebih menyiksa orang yang membenci dibandingkan orang yang dibenci.

Orang yang menyimpan dendam biasanya sulit tidur, sulit tenang, dan selalu gelisah. Sementara orang yang dibencinya justru bisa hidup dengan nyaman.

Karena itu, jangan memelihara kebencian kepada siapa pun.

Kepada pasangan, anak, orang tua, tetangga, bahkan kepada pemimpin sekalipun.

Kebencian tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ia akan menggerogoti kesehatan jiwa dan menghilangkan keberkahan hidup.

  1. Jangan Sombong

Kesombongan adalah penyakit hati yang sering tidak disadari.

Orang sombong merasa dirinya paling benar, paling hebat, dan tidak membutuhkan nasihat dari orang lain.

Padahal setiap manusia pasti memiliki kekurangan.

Menariknya, Ustadz Maulana mengatakan bahwa orang yang hadir di majelis ilmu sejatinya sedang belajar untuk tidak sombong. Mereka datang karena menyadari masih banyak yang harus diperbaiki dalam dirinya.

Momentum Tahun Baru Islam menjadi waktu yang tepat untuk mengoreksi diri dan meninggalkan sifat merasa paling benar.

  1. Jadilah Rahmat Bagi Orang Lain

Salah satu indikator keberhasilan hidup adalah kebermanfaatan.

Beliau mengajak jamaah untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah orang merasa kehilangan ketika kita tidak hadir?”

Jika kehadiran kita membawa manfaat, membantu pekerjaan orang lain, menenangkan hati keluarga, atau menginspirasi lingkungan sekitar, maka kita telah menjadi rahmat bagi sesama.

Inilah warisan terbesar yang diajarkan Rasulullah SAW.

  1. Jadilah Orang Baik Menurut Orang Terdekat

Kadang seseorang terlihat baik di luar rumah, tetapi justru menyakiti keluarganya sendiri.

Karena itu ukuran kebaikan yang paling jujur adalah penilaian orang-orang terdekat.

Bagaimana pendapat istri atau suami kita?

Bagaimana pendapat anak-anak kita?

Bagaimana pendapat orang tua kita?

Jika mereka mengakui kita sebagai orang baik, maka itulah salah satu tanda keberhasilan dalam membangun akhlak.

Lima Pilar Kehidupan yang Harus Dijaga

Ustadz Maulana kemudian menjelaskan lima hal penting yang harus dijaga dalam kehidupan.

Menjaga Agama

Agama adalah fondasi utama.

Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita jauh dari salat, Al-Qur’an, majelis ilmu, dan ibadah lainnya.

Karena kualitas kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas agamanya.

Menjaga Jiwa

Tubuh manusia terdiri dari raga dan jiwa.

Jika raga membutuhkan olahraga, maka jiwa membutuhkan pengajian.

Kalimat ini disambut senyum para jamaah.

Banyak orang rajin menjaga kesehatan fisik, tetapi lupa merawat kesehatan batinnya.

Padahal hati yang sehat akan melahirkan ketenangan, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan.

Menjaga Akal

Islam sangat memuliakan akal manusia.

Karena itulah segala sesuatu yang merusak akal diharamkan.

Judi, minuman keras, narkoba, dan berbagai bentuk ketergantungan yang membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir sehat harus dijauhi.

Ustadz Maulana juga mengingatkan agar hidup sederhana dan tidak memaksakan diri dengan utang yang berlebihan.

Menjaga Keturunan

Anak-anak adalah amanah.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga pendidikan, pergaulan, akhlak, dan masa depan mereka.

Keluarga yang baik akan melahirkan generasi yang baik pula.

Menjaga Harta

Mengutip pendapat Imam Al-Ghazali, Ustadz Maulana menjelaskan bahwa harta juga harus dijaga.

Bukan hanya jumlahnya, tetapi juga sumber dan penggunaannya.

Dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan.

Karena setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Landasan Kebaikan adalah Tolong-Menolong dan Kasih Sayang

Setelah memahami prinsip dan pilar kehidupan, Ustadz Maulana menjelaskan bahwa landasan utama dalam membangun maslahat adalah tolong-menolong.

Jangan terlalu banyak bertanya siapa yang dibantu.

Jika mampu membantu, bantulah.

Jika mampu meringankan beban orang lain, lakukanlah.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menanamkan kasih sayang dalam kehidupan.

Kasih sayang adalah bahasa universal yang mampu menyatukan keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.

Tidak ada manusia yang rugi karena berbuat baik.

Sebaliknya, setiap kebaikan akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk yang mungkin tidak pernah diduga.

Sedekah dan Wakaf: Investasi yang Tidak Pernah Rugi

Salah satu bagian yang cukup panjang dibahas Ustadz Maulana adalah tentang sedekah dan wakaf.

Beliau menjelaskan bahwa banyak orang ingin masuk surga, tetapi belum tentu mau berinvestasi untuk kehidupan akhiratnya.

Salat adalah jalan menuju surga.

Namun sedekah, zakat, infak, dan wakaf adalah amalan yang membangun “rumah” di surga.

Beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya gemar bersedekah, tetapi juga mulai berpikir tentang wakaf.

Karena pahala wakaf akan terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.

Masjid, sumur, mushaf Al-Qur’an, pohon yang berbuah, saluran air, dan fasilitas umum yang bermanfaat merupakan contoh wakaf yang pahalanya terus mengalir.

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Nasihat yang terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini adalah pentingnya menjaga ucapan.

Rasulullah SAW mengajarkan:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Di era media sosial, menjaga lisan bukan hanya soal ucapan, tetapi juga tulisan, komentar, unggahan, dan berbagai bentuk komunikasi digital.

Banyak perselisihan terjadi bukan karena perbedaan pendapat, tetapi karena cara penyampaiannya yang tidak baik.

Karena itu, sebelum berbicara atau menulis, tanyakan pada diri sendiri:

Apakah ini benar?

Apakah ini bermanfaat?

Apakah ini akan menyakiti orang lain?

Jika tidak membawa kebaikan, lebih baik diam.

Keutamaan 10 Hari Pertama Muharram

Menjelang akhir kajian, Ustadz Maulana mengingatkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Menurut beliau, ada tiga momentum yang sangat istimewa dalam Islam:

  • Sepuluh malam terakhir Ramadan
  • Sepuluh hari pertama Dzulhijjah
  • Sepuluh hari pertama Muharram

Beliau menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah, sedekah, silaturahim, dan puasa sunnah pada tanggal 9 dan 10 Muharram, yaitu Puasa Tasu’a dan Asyura.

Selain itu, beliau juga mengajak jamaah untuk memperbanyak berbagi makanan kepada keluarga dan tetangga sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Hijrah yang Sesungguhnya

Dari keseluruhan kajian tersebut, ada satu pesan yang sangat kuat.

Hijrah bukan sekadar berpindah waktu dari tahun lama ke tahun baru.

Hijrah adalah perubahan sikap.

Dari membenci menjadi memaafkan.

Dari sombong menjadi rendah hati.

Dari sibuk dengan diri sendiri menjadi peduli kepada sesama.

Dari hanya mencari manfaat untuk diri sendiri menjadi pribadi yang menebar maslahat bagi banyak orang.

Karena pada akhirnya, manusia terbaik bukanlah yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa.

Melainkan mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Semoga Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat ibadah, memperbanyak sedekah, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi keluarga, masyarakat, dan umat.

“Hijrah untuk Berubah, Bersinergi untuk Berbagi, dan Menginspirasi untuk Negeri.”

Wallahu a’lam bishawab.

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan