Kajian Islam

Qiyamul Lail: Saat Kita Berhenti Meminta dan Mulai Menyerahkan Diri kepada Allah

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation

Malam itu suasana Masjid Istiqlal terasa berbeda.

Di tengah momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, ribuan jamaah memadati masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Sebagian datang membawa harapan, sebagian membawa kegelisahan, dan tidak sedikit yang datang membawa beban hidup yang selama ini dipikul sendirian.

Di hadapan jamaah, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menyampaikan kajian yang bukan sekadar membahas qiyamul lail atau shalat malam, tetapi mengajak setiap orang untuk memahami makna terdalam dari sebuah doa.

Saya menangkap satu pesan yang sangat kuat dari kajian tersebut:

Jangan hanya datang kepada Allah untuk meminta, tetapi datanglah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya inilah inti dari perjalanan seorang hamba menuju Tuhannya.

Ketika Dunia Terdiam dan Langit Terbuka

Ada sesuatu yang berbeda pada sepertiga malam terakhir.

Ketika jalanan sepi.

Ketika televisi dimatikan.

Ketika media sosial mulai ditinggalkan.

Ketika keluarga sudah terlelap.

Saat itulah seorang hamba berdiri sendirian menghadap Allah.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang memuji.

Tidak ada yang memberi tepuk tangan.

Yang ada hanyalah seorang hamba dengan segala kelemahan dan Tuhannya yang Maha Mendengar.

Barangkali inilah sebabnya mengapa para ulama mengatakan bahwa qiyamul lail adalah waktu paling jujur dalam kehidupan manusia.

Pada siang hari kita bisa memakai berbagai topeng.

Kita bisa terlihat kuat.

Kita bisa terlihat bahagia.

Kita bisa terlihat sukses.

Namun di hadapan Allah pada tengah malam, semua topeng itu runtuh.

Yang tersisa hanyalah diri kita yang sebenarnya.

Tangisan Rasulullah untuk Umat yang Tidak Pernah Beliau Temui

Salah satu bagian kajian yang paling menyentuh adalah kisah tentang Rasulullah SAW yang menangis.

Para sahabat bertanya mengapa beliau menangis.

Apakah karena sakit?

Bukan.

Apakah karena kesedihan?

Bukan.

Ternyata Rasulullah diperlihatkan oleh Allah tentang umat yang hidup jauh setelah beliau wafat.

Umat yang tidak pernah bertemu beliau.

Umat yang hidup lebih dari 1.400 tahun sesudahnya.

Umat yang berada jauh dari Makkah dan Madinah.

Namun mereka tetap mencintai Rasulullah dan berusaha mendekat kepada Allah.

Bayangkan.

Rasulullah merindukan umat yang bahkan belum lahir pada zamannya.

Mungkin kita termasuk di antara umat yang beliau rindukan itu.

Mungkin juga belum.

Karena itu qiyamul lail menjadi salah satu cara membuktikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Jangan Jadikan Allah Hanya Tempat Mengadu Saat Susah

Kalau direnungkan, sebagian besar doa kita hampir selalu berisi permintaan.

Meminta rezeki.

Meminta kesehatan.

Meminta pekerjaan.

Meminta jodoh.

Meminta kemudahan.

Meminta solusi.

Meminta jalan keluar.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Allah memang memerintahkan kita untuk berdoa.

Namun malam itu Prof. Nasaruddin Umar mengajak jamaah naik satu tingkat lebih tinggi.

Bagaimana jika selama ini kita terlalu sibuk mengatur Allah melalui doa-doa kita?

Bagaimana jika kita terlalu fokus pada apa yang kita inginkan, sementara Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik?

Bukankah sering kali kita meminta sesuatu yang ternyata tidak baik untuk diri kita sendiri?

Dan bukankah banyak nikmat yang kita peroleh justru berasal dari sesuatu yang tidak pernah kita minta?

Malam itu saya seperti diingatkan kembali bahwa tugas seorang hamba bukan memaksa Allah mengikuti keinginannya.

Tugas seorang hamba adalah percaya kepada keputusan Allah.

Ternyata Ada Tingkatan dalam Berdoa

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa tidak semua doa berada pada level yang sama.

Tingkat pertama adalah doa dengan lisan.

Kita menyebutkan satu demi satu kebutuhan kita kepada Allah.

Ini adalah bentuk doa yang paling umum.

Tingkat kedua adalah doa dengan hati.

Pada tahap ini kata-kata mulai tidak mampu mewakili perasaan.

Air mata lebih banyak berbicara daripada ucapan.

Kadang hanya terdengar satu kalimat:

“Ya Allah…”

Selebihnya hanya isak tangis dan pengakuan atas kelemahan diri.

Namun ada tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi sibuk menyebutkan daftar keinginannya.

Ia hanya berkata:

“Ya Allah, Engkau lebih tahu daripada aku.”

“Aku serahkan semuanya kepada-Mu.”

“Pilihkan yang terbaik untukku.”

Di sinilah doa berubah menjadi kepasrahan.

Al-Haibah: Saat Hati Gemetar karena Keagungan Allah

Dalam slide kajian yang ditampilkan malam itu terdapat pembahasan menarik tentang Al-Haibah.

Al-Haibah adalah rasa takut yang lahir dari kesadaran akan kebesaran dan keagungan Allah.

Bukan takut karena Allah ingin menyiksa.

Tetapi takut karena menyadari betapa kecilnya diri kita di hadapan-Nya.

Bayangkan ketika kita berdiri dalam tahajud.

Kita menyadari bahwa seluruh hidup kita berada dalam genggaman Allah.

Napas yang kita hirup adalah pemberian-Nya.

Jantung yang berdetak adalah kehendak-Nya.

Rezeki yang kita nikmati adalah karunia-Nya.

Saat itulah muncul rasa kagum yang begitu besar.

Hati menjadi gemetar.

Mata menjadi basah.

Jiwa menjadi tunduk.

Inilah yang disebut Al-Haibah.

Al-Anasu: Ketika Allah Menjadi Tempat Paling Nyaman

Namun perjalanan spiritual tidak berhenti pada rasa takut.

Ada maqam berikutnya yang disebut Al-Anasu.

Al-Anasu adalah rasa akrab, dekat, dan nyaman bersama Allah.

Jika Al-Haibah membuat hati bergetar, maka Al-Anasu membuat hati tenang.

Pada tahap ini seseorang tidak lagi merasa ibadah sebagai beban.

Ia justru merindukan waktu-waktu bersama Allah.

Ia menikmati zikir.

Ia menikmati sujud yang panjang.

Ia menikmati munajat yang sunyi.

Yang dicari bukan lagi dunia.

Yang dicari adalah kedekatan dengan Allah.

Para ulama mengatakan bahwa hakikat Al-Anasu adalah pencerahan jiwa.

Hati menjadi terang.

Pikiran menjadi jernih.

Kehidupan terasa lebih ringan.

Masalah mungkin masih ada, tetapi tidak lagi menghancurkan ketenangan jiwa.

Dari Meminta Menjadi Pasrah

Mungkin inilah inti dari seluruh kajian malam itu.

Qiyamul lail bukan sekadar bangun malam.

Bukan sekadar membaca doa panjang.

Bukan sekadar meminta kebutuhan dunia.

Tetapi proses mengubah diri.

Dari hati yang penuh kecemasan menjadi hati yang penuh ketenangan.

Dari keinginan mengendalikan takdir menjadi kerelaan menerima keputusan Allah.

Dari meminta menjadi pasrah.

Dari Al-Haibah menuju Al-Anasu.

Muharram dan Hijrah Hati

Tahun Baru Islam seharusnya tidak hanya dirayakan dengan ucapan dan spanduk.

Muharram adalah momentum hijrah.

Bukan hanya berpindah tahun.

Tetapi berpindah kualitas iman.

Barangkali selama ini kita terlalu sering mengejar dunia.

Terlalu sibuk menghitung kekurangan.

Terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak.

Bangun pada sepertiga malam.

Menyendiri bersama Allah.

Lalu berkata dengan tulus:

“Ya Allah, jika selama ini aku terlalu banyak meminta, malam ini aku hanya ingin dekat dengan-Mu.”

Karena pada akhirnya, ketenangan yang dicari manusia bukan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau panjangnya daftar keinginan yang terkabul.

Ketenangan sejati hadir ketika hati merasa cukup bersama Allah.

Dan mungkin, itulah makna hijrah yang paling dalam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan