Oleh: Mohamad Sobari – Darustation
Kajian Tauhid Masjid Istiqlal
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, banyak orang mengira bahwa solusi dari berbagai masalah adalah uang yang lebih banyak, jabatan yang lebih tinggi, atau relasi yang lebih luas. Namun dalam Kajian Tauhid yang digelar di Masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad, 14 Juni 2026, dua narasumber mengajak jamaah melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda: memperbaiki hati dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Kajian yang menghadirkan Coach Sonny Abi Kim dengan tema “Melembutkan Hati Mengubah Hidup” dan K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan tema “Hidup Menjadi Serba Baik dengan Selalu Berbaik Sangka Kepada Allah” ini seakan menjadi jawaban atas berbagai kegelisahan yang sedang dihadapi masyarakat saat ini.
Mulai dari tekanan ekonomi, mahalnya kebutuhan hidup, sulitnya mencari pekerjaan, konflik keluarga, hingga fenomena masyarakat yang semakin mudah marah dan saling menyalahkan.
Ketika Hati Menjadi Keras
Coach Sonny Abi Kim mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia sering kali bukan kurangnya ilmu, melainkan kerasnya hati.
Tidak sedikit orang yang sebenarnya mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mereka paham pentingnya kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial. Namun pengetahuan itu tidak mampu mengubah perilaku karena hati sudah tertutup oleh ego, kesombongan, kepentingan pribadi, dan kecintaan terhadap dunia.
Akibatnya, kritik dianggap serangan.
Nasihat dianggap ancaman.
Kebenaran dianggap musuh.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga bisa terjadi dalam organisasi, komunitas, bahkan lingkungan masyarakat.
Ketika seseorang terlalu menikmati pujian dan penghormatan, ia dapat terjebak dalam kondisi yang sering disebut “mabuk hormat”. Semua orang di sekelilingnya dipaksa setuju. Orang yang menyampaikan kebenaran justru dijauhi. Akhirnya lingkungan kehilangan keberanian untuk mengingatkan.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kehancuran sering kali diawali ketika seseorang tidak lagi mau menerima nasihat.
Kadang Allah Mengizinkan Kita Patah Hati
Menariknya, Coach Sonny menjelaskan bahwa tidak semua kesulitan merupakan tanda keburukan.
Kadang Allah mengizinkan seseorang mengalami kegagalan, kehilangan, atau kekecewaan agar hatinya kembali lembut.
Banyak orang yang baru rajin shalat setelah sakit.
Baru rajin berdoa setelah kehilangan pekerjaan.
Baru dekat dengan Al-Qur’an setelah menghadapi masalah besar.
Ketika dunia membuat seseorang terlena, terkadang Allah menghadirkan ujian agar ia kembali mengingat tujuan hidup yang sebenarnya.
Karena itu tidak semua yang menyenangkan adalah kebaikan, dan tidak semua yang menyakitkan adalah keburukan.
Allah Tidak Pernah Jauh
Pesan tersebut kemudian diperkuat oleh Aa Gym yang mengajak jamaah untuk memperbaiki cara pandang kepada Allah.
Banyak orang merasa sendirian ketika menghadapi masalah ekonomi, hutang, atau persoalan keluarga.
Padahal Allah sendiri berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Allah mengetahui air mata yang tidak terlihat manusia.
Allah mengetahui doa yang hanya terucap dalam hati.
Allah mengetahui kegelisahan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Karena itu seorang mukmin tidak boleh berputus asa meskipun keadaan sedang sulit.
Mengapa Doa Belum Dikabulkan?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam kehidupan adalah:
“Mengapa saya sudah lama berdoa, tetapi belum juga terkabul?”
Aa Gym mengingatkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia.
Allah bisa mengabulkan sesuai permintaan.
Allah bisa menyimpannya sebagai pahala.
Atau Allah menggantinya dengan perlindungan dari musibah yang lebih besar.
Yang sering menjadi masalah adalah manusia ingin Allah mengikuti waktunya, padahal manusia tidak mengetahui seluruh rencana Allah.
Tugas seorang hamba adalah berdoa, berusaha, dan tetap yakin.
Rezeki Bukan dari Manusia
Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, Aa Gym mengingatkan agar umat Islam tidak salah menempatkan sumber harapan.
Suami bukan pemberi rezeki.
Bos bukan pemberi rezeki.
Perusahaan bukan pemberi rezeki.
Pelanggan bukan pemberi rezeki.
Mereka hanyalah jalan.
Pemberi rezeki yang sebenarnya adalah Allah.
Keyakinan inilah yang membuat seorang mukmin tetap optimis meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Karena jika Allah berkehendak memberi, tidak ada yang dapat menghalangi.
Dan jika Allah menahan sesuatu, tidak ada makhluk yang mampu memaksanya.
Solusi Terbaik adalah Taqwa
Di tengah berbagai krisis yang terjadi, baik krisis ekonomi, moral, maupun sosial, Al-Qur’an memberikan solusi yang sangat sederhana namun sering dilupakan:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Banyak orang sibuk mencari jalan keluar ke mana-mana tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Padahal ketakwaan bukan hanya ibadah ritual.
Taqwa juga terlihat dari kejujuran, amanah, kepedulian sosial, menjaga lisan, menahan amarah, dan memperbaiki akhlak.
Masyarakat yang Peduli Berawal dari Hati yang Baik
Ada satu pelajaran penting yang terasa sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Banyak lingkungan mengalami penurunan kepedulian sosial.
Musyawarah sepi.
Pos ronda kosong.
Kegiatan warga kurang diminati.
Orang lebih sibuk dengan urusannya masing-masing.
Padahal masyarakat yang kuat lahir dari individu yang memiliki hati yang hidup.
Ketika hati menjadi lembut, seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia mulai peduli terhadap tetangga.
Peduli terhadap lingkungan.
Peduli terhadap kemaslahatan bersama.
Inilah salah satu bentuk nyata dari ketakwaan yang diajarkan Islam.
Perbanyak Istighfar dan Sedekah
Di akhir kajian, Aa Gym mengingatkan pentingnya memperbanyak istighfar dan sedekah.
Istighfar membersihkan hati.
Sedekah membersihkan harta.
Sedekah tidak selalu berupa uang.
Menahan marah adalah sedekah.
Memaafkan orang lain adalah sedekah.
Membantu tetangga adalah sedekah.
Menyampaikan informasi yang bermanfaat adalah sedekah.
Bahkan senyuman yang tulus juga termasuk sedekah.

Refleksi Darustation
Kajian Tauhid Masjid Istiqlal kali ini mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari dalam diri.
Jika hati sudah baik, maka cara berpikir akan baik.
Jika cara berpikir baik, maka tindakan akan baik.
Jika tindakan baik, maka lingkungan akan menjadi baik.
Dan jika masyarakat dipenuhi orang-orang yang bertakwa, peduli, serta selalu berbaik sangka kepada Allah, maka berbagai persoalan sosial yang kita hadapi hari ini akan lebih mudah diatasi bersama.
Melembutkan hati bukan sekadar urusan perasaan.
Melembutkan hati adalah langkah awal untuk mengubah hidup.
Dan berbaik sangka kepada Allah adalah kunci agar kita tetap kuat menjalani setiap ujian kehidupan.
Wallahu a’lam bish shawab.

