Oleh: Mohamad Sobari
“Perubahan besar untuk lingkungan sering kali tidak dimulai dari tempat yang besar. Ia tumbuh dari kepedulian kecil, dari komunitas, dan dari orang-orang yang mau bergerak bersama.”
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata—mulai dari sampah yang terus menumpuk, berkurangnya ruang hijau, hingga dampak perubahan iklim yang mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari—sering kali kita bertanya, siapa yang harus memulai perubahan?
Sebagian orang mungkin berharap solusi datang dari pemerintah, lembaga besar, atau teknologi canggih. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa banyak perubahan justru lahir dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan oleh masyarakat.
Saya percaya, menjaga lingkungan bukan hanya soal program. Ia adalah soal kebiasaan, kepedulian, dan keteladanan.
Dan itulah yang saya lihat dari sosok Agung Prakoso.
Melalui keterlibatannya bersama AKMC (Alumni Keluarga Muslim Citibank) dan Eco Enzyme Nusantara (EEN), Agung menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi dapat tumbuh dari komunitas yang saling menguatkan. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh terkenal atau memiliki sumber daya besar. Cukup memulai dari rumah, mengajak tetangga, dan terus bergerak secara konsisten.
Komunitas Sebagai Tempat Bertumbuh
Setiap gerakan besar selalu memiliki titik awal.
Bagi Agung Prakoso, titik awal itu bernama komunitas.
AKMC bukan sekadar wadah silaturahmi para alumni Citibank. Di dalamnya tumbuh semangat berbagi, kepedulian sosial, kegiatan kemanusiaan, hingga berbagai program yang menyentuh isu lingkungan.
Di komunitas inilah muncul keyakinan bahwa masalah sosial tidak bisa diselesaikan sendirian. Kolaborasi menjadi kunci.
Berbagi pengetahuan, saling menguatkan, lalu bergerak bersama.
Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi berbagai kegiatan lingkungan yang terus berkembang hingga hari ini.
Ketika Sampah Tidak Lagi Menjadi Musuh
Masalah sampah masih menjadi pekerjaan rumah hampir di setiap daerah.
Setiap hari rumah tangga menghasilkan limbah organik berupa sisa makanan, kulit buah, maupun sayuran. Sayangnya, sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir.
Padahal, bila dikelola dengan baik, sampah organik justru dapat menjadi sumber manfaat.
Melalui gerakan Eco Enzyme Nusantara, cara pandang masyarakat perlahan mulai berubah.
Sampah bukan lagi sesuatu yang harus segera dibuang.
Sampah adalah bahan baku pembelajaran.
Ia mengajarkan kesabaran melalui proses fermentasi. Ia mengajarkan tanggung jawab untuk mengurangi limbah sejak dari rumah. Dan yang paling penting, ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga bumi.
Bagi Agung Prakoso, eco enzyme bukan sekadar cairan hasil fermentasi.
Ia adalah media edukasi.
Eco Enzyme Nusantara: Mengubah Kebiasaan, Bukan Sekadar Mengolah Sampah
Banyak orang mengira gerakan lingkungan hanya berbicara mengenai teknologi pengolahan sampah.
Padahal yang paling sulit justru mengubah perilaku.
Melalui Eco Enzyme Nusantara (EEN), masyarakat diajak memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Mulai dari memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi limbah rumah tangga, memanfaatkan kembali sisa dapur, hingga membangun pola hidup yang lebih ramah lingkungan.
Pesannya sederhana.
Lingkungan yang sehat dimulai dari rumah kita sendiri.
Karena sehebat apa pun sebuah program lingkungan, tanpa perubahan perilaku masyarakat, dampaknya tidak akan bertahan lama.
Menebarkan Edukasi ke Berbagai Penjuru
Yang menarik dari perjalanan Agung Prakoso adalah konsistensinya dalam memperluas edukasi.
Gerakan tidak berhenti di satu tempat.
Ia hadir di berbagai ruang kehidupan masyarakat.
Penghijauan dalam UMKM AKMC 2025
Pada kegiatan UMKM AKMC 2025, isu lingkungan dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi.
Pesannya jelas, pertumbuhan ekonomi seharusnya berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Usaha yang baik bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menjaga keberlanjutan alam.
Rumah Quran Meruya
Di lingkungan pendidikan keagamaan seperti Rumah Quran Meruya, eco enzyme diperkenalkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia menjaga ciptaan Allah.
Nilai-nilai spiritual berpadu dengan kepedulian terhadap lingkungan.
MAI PKBM Jagakarsa
Melalui kegiatan edukasi di MAI PKBM Jagakarsa, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar bagaimana limbah organik dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Pengetahuan berubah menjadi keterampilan.
Dan keterampilan menjadi kebiasaan.
Bersama Komunitas Pecinta Lingkungan Jagakarsa
Gerakan lingkungan membutuhkan jejaring.
Diskusi bersama para pegiat lingkungan di Jagakarsa menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai persoalan sampah perkotaan, sekaligus memperkuat kolaborasi antar komunitas.
Karena menjaga bumi tidak bisa dilakukan sendirian.
Masjid Tasikmalaya
Masjid bukan hanya tempat beribadah.
Masjid juga dapat menjadi pusat edukasi masyarakat.
Melalui sosialisasi eco enzyme di Tasikmalaya, masyarakat diajak memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari nilai-nilai keagamaan.
Taman Aseli
Di ruang terbuka seperti Taman Aseli, edukasi dilakukan dengan pendekatan yang lebih santai dan dekat dengan masyarakat.
Pengunjung diajak mengenal eco enzyme sekaligus memahami pentingnya pengelolaan sampah organik sejak dari rumah.
Belajar Membuat Eco Enzyme Bersama AKMC
Salah satu metode edukasi yang paling efektif adalah praktik langsung.
Peserta belajar memilih bahan, mencampur komposisi, memahami proses fermentasi, hingga mengetahui berbagai manfaat eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar sambil praktik membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus lebih mudah diterapkan.
Menghubungkan Lingkungan dengan Nilai-Nilai Keagamaan
Hal menarik lainnya adalah bagaimana eco enzyme juga diperkenalkan kepada panitia qurban di berbagai masjid dan mushala.
Momentum Hari Raya Iduladha menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah juga dapat disertai dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa nilai agama dan pelestarian lingkungan bukan dua hal yang terpisah.
Justru keduanya saling menguatkan.
Menjangkau Generasi Muda di Kampus UI Depok
Perubahan jangka panjang membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Karena itu, dunia kampus menjadi ruang penting dalam penyebaran edukasi lingkungan.
Melalui kegiatan di lingkungan Universitas Indonesia (UI) Depok, mahasiswa diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah organik dan penerapan eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari.
Kampus adalah tempat lahirnya gagasan.
Dari sinilah berbagai inovasi untuk lingkungan dapat berkembang.
Bersama Menjaga Situ Rawa Besar
Salah satu kegiatan yang cukup menarik perhatian adalah penuangan eco enzyme di Situ Rawa Besar, Kota Depok.
Kegiatan tersebut bukan sekadar simbolis.
Ia menjadi pesan bahwa menjaga ekosistem membutuhkan kolaborasi banyak pihak.
Komunitas, masyarakat, relawan, pegiat lingkungan, hingga berbagai organisasi dapat bergerak bersama demi tujuan yang sama.
Menjaga bumi.

Catatan Darustation
Dari perjalanan Agung Prakoso bersama AKMC dan Eco Enzyme Nusantara, saya kembali diingatkan pada satu hal sederhana.
Perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Ia bisa lahir dari sebuah komunitas kecil.
Dari pertemuan sederhana.
Dari pelatihan singkat.
Dari ember berisi kulit buah dan sayuran yang difermentasi.
Dari kebiasaan memilah sampah di rumah.
Semua itu tampak kecil.
Namun jika dilakukan oleh banyak orang secara konsisten, dampaknya akan menjadi sangat besar.
Agung Prakoso memperlihatkan bahwa menjadi pegiat lingkungan bukan berarti harus selalu tampil di depan.
Cukup menjadi orang yang mau mengajak, memberi contoh, dan terus berjalan bersama masyarakat.
AKMC menjadi ruang tumbuhnya kepedulian sosial.
Eco Enzyme Nusantara menjadi wadah pembelajaran lingkungan.
Sementara komunitas menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya menjadi gerakan yang berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya tentang menyelamatkan alam.
Tetapi tentang menjaga kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Dari komunitas tumbuh kepedulian. Dari kepedulian lahirlah perubahan. Dan dari perubahan, bumi memiliki harapan. 🌱
Referensi
- Dokumentasi kegiatan AKMC (Alumni Keluarga Muslim Citibank).
- Dokumentasi kegiatan Eco Enzyme Nusantara (EEN).
- Dokumentasi sosialisasi dan edukasi lingkungan bersama berbagai komunitas.
- Pengamatan dan catatan penulis.
Tentang Penulis
Mohamad Sobari adalah blogger dan pegiat literasi yang aktif menulis mengenai isu sosial, lingkungan, transportasi publik, pemberdayaan masyarakat, serta aktivitas komunitas. Melalui tulisan-tulisannya, ia berupaya menghadirkan sudut pandang yang inspiratif sekaligus mendorong lahirnya perubahan positif dari lingkungan sekitar.
