Bergerak bersama PMI untuk kemanusiaan, berbakti tanpa henti untuk Indonesia.
Oleh: Mohamad Sobari | Darustation.com
Kalimat tersebut terasa sederhana. Tetapi ketika ditempelkan pada perjalanan panjang seseorang yang telah berada di lingkungan Palang Merah Indonesia (PMI) sejak 1982, maknanya menjadi jauh lebih dalam.
Nama Edwar “Edo” Bachtiar tercatat sebagai salah satu sosok yang menghabiskan sebagian besar perjalanan hidupnya di dunia kemanusiaan, khususnya melalui PMI. Dari menjadi anggota KSR, bekerja di Markas PMI, terlibat dalam penanggulangan bencana, hingga menjalankan berbagai tugas kemanusiaan di lapangan.
Bukan sekadar jabatan.
Yang menarik dari perjalanan Edo justru adalah panjangnya proses di balik sebuah pengabdian.
Dari KSR hingga Penanggulangan Bencana
Dalam profil yang ditampilkan, Edwar “Edo” Bachtiar disebut aktif di PMI sejak 1982.
Perjalanan itu dimulai sebagai anggota Korps Sukarela (KSR) PMI Kota Jakarta Pusat. Ia juga tercatat pernah menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) pada periode 1991–1992.
Dari pengalaman tersebut, perjalanan organisasinya berkembang.
Ia kemudian menjalani berbagai peran, antara lain sebagai Staf Markas PMI Kota Jakarta Pusat, Kepala Markas PMI Kota Jakarta Pusat, hingga Kepala Markas PMI Provinsi DKI Jakarta.
Pada periode 2020–2025, ia juga tercatat sebagai Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta.
Sementara pada 2026, namanya tercantum sebagai Anggota Pengurus (PAW) PMI Kota Jakarta Pusat.
Rangkaian posisi tersebut menunjukkan satu hal penting: pengalaman dalam organisasi kemanusiaan tidak lahir secara instan.
Ada proses panjang, pembelajaran, pengalaman lapangan, dan tentu saja tanggung jawab yang terus berkembang.
Kemanusiaan Tidak Selalu Berada di Ruang Nyaman
Ketika berbicara tentang PMI, masyarakat mungkin lebih sering mengenalnya melalui kegiatan donor darah.
Padahal pekerjaan kemanusiaan PMI jauh lebih luas.
Bencana alam, kecelakaan, konflik sosial, pelayanan kesehatan, evakuasi, hingga kebutuhan logistik kemanusiaan membutuhkan orang-orang yang siap bergerak ketika sebagian besar masyarakat justru berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
Dalam profil Edo, tercatat sejumlah pengalaman penanganan berbagai situasi darurat.
Mulai dari kecelakaan kereta api di Citayam dan Bintaro, kerusuhan Mei 1998, bom Marriot 2003, tsunami Aceh, gempa Flores, hingga berbagai kejadian banjir dan kondisi darurat lainnya.
Ada satu sisi kemanusiaan yang sering tidak terlihat dari berita.
Ketika sebuah bencana terjadi, kamera mungkin datang untuk meliput. Berita kemudian muncul. Masyarakat membicarakannya.
Tetapi bagi relawan dan petugas kemanusiaan, pekerjaan justru baru dimulai.
Mereka harus datang ke lokasi, melakukan asesmen, membantu korban, mengatur kebutuhan dasar, berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan memastikan pelayanan terus berjalan.
Di titik inilah pengalaman menjadi sangat penting.
Puluhan Tahun, Bukan Sekadar Satu Periode Kepengurusan
Menarik melihat perjalanan Edo karena aktivitasnya tidak berhenti pada satu jabatan atau satu periode kepengurusan.
Ia tercatat bekerja di Markas PMI Kota Jakarta Pusat selama puluhan tahun, dari 1986 hingga 2017.
Kemudian melanjutkan pengalaman sebagai Kepala Markas PMI Kota Jakarta Pusat pada 2017–2020 dan Kepala Markas PMI Provinsi DKI Jakarta pada 2020–2021.
Pengalaman tersebut memperlihatkan sebuah pola yang sering terlupakan dalam organisasi sosial:
organisasi yang kuat membutuhkan orang yang mau bertahan dalam proses.
Hari ini seseorang mungkin menjadi anggota. Besok menjadi pengurus. Beberapa tahun kemudian dipercaya memimpin bidang tertentu.
Tetapi semua itu tidak akan berarti banyak tanpa pengalaman nyata.
Dalam dunia kemanusiaan, kemampuan membaca situasi, mengambil keputusan, bekerja dalam tim, dan memahami kebutuhan korban sering kali tidak cukup dipelajari dari buku.
Pengalaman lapanganlah yang mengajarkan.
Donor Darah: Kebaikan yang Sederhana tetapi Berdampak
Salah satu bagian yang cukup menarik dari profil Edo adalah penghargaan terkait donor darah.
Ia tercatat memperoleh Piagam Donor Darah 75 Kali, dengan keterangan terakhir tercatat sebanyak 109 kali donor darah.
Angka tersebut bukan sekadar statistik.
Setiap donor darah berarti ada waktu yang diberikan, ada kesediaan membantu, dan ada kepedulian kepada orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah dikenal.
Donor darah memiliki karakter unik.
Kita tidak pernah tahu siapa yang nantinya menerima darah yang kita donorkan.
Tidak ada hubungan keluarga.
Tidak ada kewajiban pribadi.
Namun darah tersebut bisa menjadi bagian penting dalam menyelamatkan kehidupan seseorang.
Mungkin inilah bentuk paling sederhana dari kemanusiaan:
membantu orang lain tanpa harus mengenal siapa orang yang dibantu.
Pengabdian yang Tidak Selalu Mendapat Sorotan
Ada kecenderungan masyarakat lebih mudah mengenali tokoh dari jabatan terakhirnya.
Padahal, perjalanan panjang seseorang sering justru lebih bermakna daripada posisi yang sedang didudukinya.
Profil Edwar “Edo” Bachtiar menunjukkan perjalanan dari bawah: anggota KSR, staf markas, berbagai penugasan lapangan, hingga dipercaya memegang posisi kepemimpinan.
Di dalamnya terdapat berbagai pengalaman yang tidak selalu terlihat publik.
Termasuk penugasan dalam kegiatan penanganan bencana dan kedaruratan.
Dalam profil tersebut tercatat sejumlah pengalaman seperti relief pascatsunami Aceh, penanganan gempa Flores, relief letusan Gunung Kelud, penanganan longsor, relief gempa Liwa, serta berbagai operasi kemanusiaan lainnya.
Bagi masyarakat yang melihat dari luar, semuanya mungkin hanya berupa daftar kegiatan.
Tetapi bagi orang yang menjalankannya, setiap lokasi tentu memiliki cerita sendiri.
Ada korban.
Ada keluarga yang kehilangan rumah.
Ada orang yang kehilangan anggota keluarga.
Ada kepanikan.
Ada kebutuhan mendesak.
Dan di tengah situasi seperti itu, relawan maupun petugas kemanusiaan harus tetap bekerja dengan kepala dingin.
Pendidikan Penting, Tetapi Pengalaman Lapangan Juga Menentukan
Profil Edo juga mencantumkan latar belakang pendidikan, mulai dari STM Negeri 6 Jakarta, pendidikan manajemen, hingga Magister Manajemen.
Ini menarik karena dunia kemanusiaan ternyata tidak hanya membutuhkan keberanian untuk turun ke lapangan.
Diperlukan pula kemampuan mengelola organisasi, manusia, logistik, informasi, dan sumber daya.
Dalam sebuah operasi kemanusiaan, persoalan bisa datang bersamaan.
Siapa yang harus diberangkatkan?
Apa kebutuhan korban?
Bagaimana distribusi bantuan?
Bagaimana koordinasi dengan pemerintah?
Bagaimana memastikan relawan tetap aman?
Bagaimana laporan dibuat?
Semua membutuhkan manajemen.
Karena itu, pendidikan dan pengalaman lapangan seharusnya tidak dipertentangkan.
Keduanya justru saling melengkapi.
Dari Kemanusiaan Menuju Warisan Nilai
Ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada daftar jabatan dan penghargaan.
Apa yang diwariskan dari perjalanan tersebut?
Bukan hanya piagam.
Bukan hanya posisi.
Bukan pula sekadar nama yang tercantum dalam struktur organisasi.
Warisan terbesar dari pengabdian kemanusiaan adalah nilai yang ditularkan kepada generasi berikutnya.
Bahwa membantu sesama tidak harus menunggu menjadi orang besar.
Bahwa menjadi relawan bukan berarti harus memiliki banyak uang.
Bahwa kepedulian bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: memberikan waktu, tenaga, pengetahuan, atau bahkan setetes darah.
Dan bahwa organisasi kemanusiaan akan selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia hadir ketika masyarakat membutuhkan.

PMI dan Tantangan Generasi Berikutnya
Perjalanan panjang para aktivis dan relawan PMI juga menjadi pengingat bahwa organisasi kemanusiaan harus terus beradaptasi.
Bencana hari ini semakin kompleks.
Kota semakin padat.
Perubahan iklim memunculkan risiko baru.
Informasi bergerak sangat cepat melalui media sosial.
Masyarakat juga menuntut pelayanan yang semakin transparan dan profesional.
Karena itu, pengalaman generasi lama perlu bertemu dengan energi generasi muda.
KSR, PMR, relawan, tenaga profesional, pengurus, dan masyarakat umum harus ditempatkan dalam satu ekosistem kemanusiaan.
Pengalaman seperti yang dimiliki Edo menjadi modal penting.
Tetapi pengalaman tersebut akan semakin bernilai apabila dapat ditransfer menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Bukan Tentang Seberapa Lama Kita Hidup, Tetapi Seberapa Banyak Manfaat yang Kita Tinggalkan
Jika melihat perjalanan Edwar “Edo” Bachtiar sejak 1982 hingga sekarang, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan:
Apa yang kita lakukan selama hidup untuk orang lain?
Tidak semua orang harus menjadi relawan bencana.
Tidak semua orang harus bekerja di PMI.
Tidak semua orang harus berada di garis depan ketika bencana terjadi.
Namun setiap orang sebenarnya memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu.
Mendonorkan darah.
Membantu tetangga.
Mengajarkan ilmu.
Menjadi relawan.
Membantu korban bencana.
Menguatkan orang yang sedang kesulitan.
Atau sekadar hadir ketika orang lain membutuhkan.
Karena pada akhirnya, kemanusiaan tidak diukur dari seberapa besar jabatan yang kita miliki.
Kemanusiaan diukur dari seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan kepada sesama.
Perjalanan Edwar “Edo” Bachtiar bersama PMI sejak 1982 menjadi salah satu gambaran bahwa pengabdian memang membutuhkan waktu.
Bertahun-tahun.
Bahkan puluhan tahun.
Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari motto yang tercantum dalam profilnya:
“Bergerak bersama PMI untuk kemanusiaan, berbakti tanpa henti untuk Indonesia.”
Sebuah kalimat yang bukan sekadar slogan, tetapi ideal yang membutuhkan pembuktian melalui tindakan.
Karena kemanusiaan tidak membutuhkan banyak kata.
Ia membutuhkan orang yang mau bergerak.
Catatan DaruStation
Profil dalam artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tercantum pada infografis profil Edwar “Edo” Bachtiar yang diberikan untuk publikasi. Beberapa data berupa riwayat organisasi, pendidikan, penghargaan, pengalaman penugasan, dan aktivitas PMI mengikuti informasi pada materi tersebut.
DaruStation | Catatan Kemanusiaan, Lingkungan & Masyarakat
#PMI #PalangMerahIndonesia #Kemanusiaan #Relawan #DonorDarah #PenanggulanganBencana #EdwarEdoBachtiar #PMIDKIJakarta #PMIJakartaPusat #DaruStation
