Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Ada kalanya yang membuat hati seseorang lelah bukan karena kehilangan harta semata.
Tetapi karena harta yang dikumpulkan dengan susah payah justru dimanfaatkan oleh orang lain tanpa sepengetahuan, tanpa persetujuan, atau bahkan tanpa rasa bersalah.
Yang lebih berat adalah ketika hal itu terjadi bukan sekali.
Berkali-kali.
Pada titik tertentu, seseorang mungkin bertanya dalam hati:
“Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya hanya diam? Apakah saya harus marah? Atau saya serahkan semuanya kepada Allah?”
Di sinilah agama mengajarkan sebuah keseimbangan.
Berdoa kepada Allah, sekaligus berusaha menjaga hak yang Allah titipkan kepada kita.
Ketika Kehilangan Harta Menjadi Ujian Kesabaran
Harta dalam Islam bukan sekadar benda.
Ia adalah amanah.
Karena itu, ketika seseorang kehilangan harta akibat perbuatan orang lain, rasa kecewa, marah, sedih, bahkan merasa dikhianati adalah sesuatu yang manusiawi.
Namun jangan sampai rasa sakit itu membuat kita melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Allah mengajarkan kita untuk tetap berada di jalan yang benar.
Bukan berarti kita harus pasrah terhadap ketidakadilan.
Sabar bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dizalimi.
Sabar juga bisa berarti mampu menahan emosi sambil mengambil langkah yang benar.
Shalat Hajat, Saat Kita Tidak Tahu Harus Mengadu Kepada Siapa
Ketika masalah terasa berat, salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan adalah shalat hajat dua rakaat.
Setelah shalat, sampaikan kepada Allah apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.
Berbicaralah kepada Allah dengan jujur.
“Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang terjadi. Jika harta ini adalah hakku, jagalah dan kembalikanlah hakku. Jika ada orang yang mengambilnya tanpa hak, hentikanlah kezalimannya. Berikan aku kekuatan untuk bersikap tegas, tetapi jangan biarkan aku menjadi zalim.”
Doa seperti ini bukan sekadar meminta harta kembali.
Lebih jauh, kita sedang meminta perlindungan, keadilan, dan ketenangan hati.
Tahajud: Mengadu Ketika Dunia Sedang Terlelap
Ada satu waktu yang sering menjadi tempat orang-orang yang sedang memiliki beban berat untuk mengadu kepada Allah.
Sepertiga malam terakhir.
Ketika rumah sunyi.
Ketika sebagian besar manusia sedang tidur.
Bangunlah jika mampu, kemudian lakukan shalat tahajud.
Tidak harus banyak.
Dua rakaat pun dapat menjadi awal.
Setelah itu, ceritakan semuanya kepada Allah.
Tentang harta yang hilang.
Tentang rasa kecewa.
Tentang orang yang mungkin telah menyalahgunakan kepercayaan.
Tentang ketakutan akan kehilangan harta yang lain.
Dan tentang hati yang sudah mulai lelah.
Terkadang kita tidak langsung mendapatkan apa yang kita minta.
Tetapi melalui tahajud, kita mendapatkan sesuatu yang tidak kalah penting:
kekuatan untuk menghadapi masalah.
“Hasbunallahu wa Ni’mal Wakil”
Ketika merasa tidak berdaya, salah satu dzikir yang dapat diamalkan adalah:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbunallahu wa ni’mal wakil.
Artinya:
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Kalimat ini bukan berarti kita berhenti berusaha.
Justru sebaliknya.
Kita berusaha semaksimal mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Karena manusia mempunyai keterbatasan.
Kita tidak selalu mampu mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan orang lain.
Kita tidak selalu mampu mengendalikan keputusan orang lain.
Tetapi kita masih bisa mengendalikan sikap kita sendiri.
Jangan Membalas Kezaliman dengan Kezaliman
Ketika harta kita diambil atau dimanfaatkan tanpa hak, godaan terbesar adalah membalas.
“Kalau dia mengambil milikku, aku juga akan mengambil miliknya.”
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Jangan sampai kita yang awalnya menjadi korban justru berubah menjadi orang yang melakukan kezaliman.
Mintalah kepada Allah agar diberikan jalan keluar.
Jika perlu, tegurlah.
Jika perlu, buat batas yang jelas.
Jika perlu, amankan harta dan dokumen penting.
Dan jika persoalannya sudah menyangkut hak kepemilikan yang serius, jangan takut menggunakan jalur keluarga, mediasi, atau jalur hukum yang sesuai.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menyerahkan seluruh urusan kepada doa tanpa ikhtiar.
Doa dan ikhtiar harus berjalan bersama.
Ada Saatnya Kita Harus Belajar Berkata “Tidak”
Mungkin ini bagian yang paling sulit.
Orang yang memiliki hati baik terkadang merasa tidak enak untuk menolak.
Takut dianggap pelit.
Takut hubungan menjadi rusak.
Takut disebut tidak percaya.
Akhirnya batas-batas kepemilikan menjadi kabur.
Padahal mengatakan:
“Itu milik saya dan saya tidak mengizinkan untuk digunakan.”
bukanlah sebuah kejahatan.
Itu adalah bentuk menjaga amanah.
Kepercayaan juga memiliki batas.
Kebaikan juga membutuhkan batas.
Dan membantu orang lain tidak berarti kita harus membiarkan diri sendiri kehilangan hak.
Jika Kejadian Terjadi Berkali-kali
Jika seseorang sudah berulang kali memanfaatkan harta kita, mungkin masalahnya bukan lagi sekadar kehilangan barang.
Masalahnya adalah batas yang tidak pernah dibuat.
Maka selain shalat dan doa, lakukan beberapa hal sederhana:
- Simpan dokumen dan bukti kepemilikan dengan baik.
- Pisahkan harta pribadi dan harta bersama secara jelas.
- Jangan memberikan akses kepada orang lain tanpa persetujuan.
- Catat transaksi atau perpindahan barang yang penting.
- Bicarakan masalah secara terbuka.
- Jangan mengambil keputusan ketika sedang sangat marah.
- Jika diperlukan, libatkan orang yang dipercaya sebagai mediator.
- Untuk persoalan serius, pertimbangkan bantuan profesional atau jalur hukum.
Ini bukan berarti kita tidak percaya kepada orang lain.
Tetapi kepercayaan tanpa batas terkadang justru membuka ruang bagi penyalahgunaan.
Pada Akhirnya, Harta Boleh Hilang, Tetapi Jangan Sampai Ketenangan Ikut Hilang
Ada harta yang bisa dicari kembali.
Ada yang tidak.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada harta:
ketenangan hati.
Jangan biarkan perbuatan seseorang membuat kita kehilangan hubungan dengan Allah.
Jangan biarkan rasa kecewa membuat kita menjadi pendendam.
Dan jangan pula menjadikan kata “sabar” sebagai alasan untuk terus membiarkan ketidakadilan terjadi.
Berdoalah.
Bersujudlah.
Mintalah pertolongan Allah.
Kemudian berdirilah dan lakukan apa yang memang harus dilakukan.
Karena terkadang jawaban dari doa bukan berupa harta yang tiba-tiba kembali.
Bisa jadi jawabannya adalah Allah memberikan keberanian untuk berkata cukup.
Cukup dimanfaatkan.
Cukup dibohongi.
Cukup kehilangan.
Cukup memberikan kesempatan kepada orang yang tidak menghargai kepercayaan.
Dan kemudian kita belajar mengatakan:
“Ya Allah, aku serahkan urusan ini kepada-Mu. Tunjukkan kepadaku jalan yang benar, lindungi hartaku, jaga keluargaku, dan berikan aku kekuatan untuk memperjuangkan hak tanpa menzalimi siapa pun.”
Karena pada akhirnya, harta hanyalah titipan.
Tetapi bagaimana kita menjaga amanah, menghadapi kezaliman, dan tetap menjadi manusia yang baik ketika sedang disakiti—itulah ujian yang sebenarnya.
Catatan kecil tentang kehidupan, manusia, dan perjalanan untuk belajar menjadi lebih bijaksana.

