Mohamad Sobari | Darustation
Kalau mendengar nama Beji, Pancoran Mas, Cipayung, Sukmajaya, Cilodong, Cimanggis, Tapos, Sawangan, Limo, Bojongsari atau Cinere, bagi warga Depok nama-nama tersebut tentu sudah tidak asing lagi.
Nama-nama itu kita jumpai setiap hari.
Ada yang menjadi alamat rumah. Ada yang menjadi nama jalan. Ada yang kita dengar ketika naik angkot, KRL, ojek online, atau ketika mencari sebuah lokasi di Google Maps.
Tetapi pernahkah kita bertanya:
Mengapa wilayah itu bernama Beji? Mengapa disebut Pancoran Mas? Dari mana nama Sawangan, Cimanggis, Tapos, Limo atau Cinere berasal?
Ternyata, nama sebuah wilayah tidak selalu muncul begitu saja.
Di baliknya bisa tersimpan cerita tentang tokoh, sungai, tumbuhan, kondisi alam, bahasa Sunda dan Betawi, bahkan perjalanan sejarah masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Dari Tiga Kecamatan Menjadi Sebelas Kecamatan
Depok yang sekarang kita kenal sebagai salah satu kota penyangga Jakarta ternyata memiliki perjalanan administratif yang cukup panjang.
Ketika Kota Administratif Depok dibentuk pada 1982, wilayahnya belum seperti sekarang. Saat itu hanya terdapat tiga kecamatan, yaitu Pancoran Mas, Beji dan Sukmajaya, dengan 17 desa.
Depok kemudian berkembang pesat.
Setelah Depok ditetapkan menjadi kota berdasarkan UU No. 15 Tahun 1999, perkembangan wilayah dan kebutuhan pelayanan masyarakat juga semakin besar.
Sejumlah kecamatan kemudian dimekarkan.
Bojongsari dimekarkan dari Sawangan, Cipayung dari Pancoran Mas, Cilodong dari Sukmajaya, Tapos dari Cimanggis, dan Cinere dari Limo.
Kini Kota Depok memiliki 11 kecamatan dan 63 kelurahan.
Namun yang menarik bukan hanya perubahan batas administrasinya.
Nama-nama wilayah lama tetap hidup.
Dan dari sanalah kita bisa membaca sebagian kecil sejarah Depok.
- Beji: Benarkah Berasal dari Buyut Beji?
Beji merupakan salah satu nama wilayah yang cukup tua dalam perjalanan Depok.
Salah satu versi toponimi menyebutkan nama Beji berkaitan dengan Buyut Beji, seorang ulama yang disebut berasal dari Banten.
Tentu saja, cerita semacam ini perlu ditempatkan sebagai versi sejarah lokal, karena tidak semua kisah asal-usul nama daerah memiliki dokumentasi sejarah yang sama kuat.
Yang jelas, nama Beji telah lama dikenal sebagai sebuah wilayah.
Dahulu Beji merupakan desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Depok ketika kawasan tersebut masih menjadi bagian dari Kabupaten Bogor.
Kini Beji menjadi nama sebuah kecamatan yang terdiri atas:
- Beji
- Beji Timur
- Kemiri Muka
- Pondok Cina
- Kukusan
- Tanah Baru
Beji juga berkembang menjadi salah satu kawasan pendidikan penting di Depok.
Nama Beji akhirnya bukan hanya nama kampung lama, tetapi berubah menjadi bagian dari wajah Depok modern.
- Pancoran Mas: Ada Kisah Pancuran Berkepala Emas
Kalau mendengar Pancoran Mas, yang langsung terbayang mungkin adalah pusat Kota Depok.
Tetapi nama tersebut menyimpan cerita yang menarik.
Salah satu versi sejarah lokal mengaitkan nama Pancoran Mas dengan sebuah pancuran atau pancoran yang memiliki kepala emas.
Konon, keberadaan pancuran tersebut menjadi bagian dari cerita yang kemudian melahirkan nama Pancoran Mas.
Situs pancuran yang disebut dalam cerita tersebut kini sudah tidak ada.
Pancoran Mas termasuk wilayah paling awal dalam pembentukan Kota Administratif Depok.
Saat ini Kecamatan Pancoran Mas terdiri atas:
- Pancoran Mas
- Depok
- Depok Jaya
- Rangkapan Jaya
- Rangkapan Jaya Baru
- Mampang
Dari wilayah Pancoran Mas pula kemudian lahir Kecamatan Cipayung melalui pemekaran.
Jadi, ketika kita menyebut Pancoran Mas, sesungguhnya kita sedang menyebut salah satu kawasan yang memiliki posisi penting dalam sejarah administratif Kota Depok.
- Cipayung: Ada Hubungannya dengan Sungai?
Nama Cipayung menarik karena memiliki unsur “Ci”.
Dalam banyak nama tempat di wilayah Jawa Barat dan kawasan Sunda, “ci” sering berhubungan dengan air atau sungai.
Salah satu kajian toponimi Depok mengaitkan Cipayung dengan nama sungai.
Namun, untuk unsur “payung”, asal-usul dan maknanya belum memiliki penjelasan yang benar-benar tunggal dan pasti.
Cipayung sendiri merupakan kecamatan hasil pemekaran dari Pancoran Mas.
Wilayahnya meliputi:
- Cipayung
- Cipayung Jaya
- Ratu Jaya
- Bojong Pondok Terong
- Pondok Jaya
Dari nama Cipayung kita dapat melihat bagaimana air dan lingkungan alam kemungkinan ikut memberikan identitas kepada suatu wilayah.
- Sukmajaya: Nama yang Berkaitan dengan Raden Sukma Jaya?
Berbeda dengan nama yang diduga berasal dari sungai atau tumbuhan, Sukmajaya disebut-sebut berkaitan dengan nama seseorang.
Salah satu versi menyebut nama tersebut berasal dari Raden Sukma Jaya.
Sukmajaya juga termasuk tiga kecamatan awal Kota Administratif Depok bersama Beji dan Pancoran Mas.
Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Sukmajaya mengalami pemekaran dan sebagian wilayahnya menjadi Kecamatan Cilodong.
Kini Kecamatan Sukmajaya terdiri atas:
- Sukmajaya
- Mekarjaya
- Baktijaya
- Abadijaya
- Tirtajaya
- Cisalak
Nama Sukmajaya dengan demikian bukan sekadar nama administratif.
Ia menjadi salah satu nama yang membawa kita kepada cerita mengenai tokoh dan masyarakat masa lalu.
- Cilodong: Ci dan Lodong, Ada Hubungannya dengan Bambu?
Cilodong juga menarik untuk dibaca dari unsur bahasanya.
“Ci” merupakan unsur yang banyak dijumpai dalam penamaan geografis di wilayah Sunda dan sering berkaitan dengan air atau sungai.
Sementara “lodong” dalam bahasa Sunda dikenal sebagai bambu, terutama bambu yang digunakan sebagai wadah atau tabung.
Ada pula kajian yang menghubungkan nama Cilodong dengan nama sungai.
Cilodong merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Sukmajaya.
Wilayahnya terdiri atas:
- Sukamaju
- Cilodong
- Kalibaru
- Kalimulya
- Jatimulya
Menariknya, nama Cilodong memperlihatkan bagaimana bahasa, lingkungan alam dan kehidupan masyarakat dapat bertemu dalam sebuah nama tempat.
- Cimanggis: Sungai dan Buah Manggis
Nama Cimanggis mungkin menjadi salah satu nama wilayah yang paling mudah ditebak.
Ada kata “manggis” di dalamnya.
Salah satu kajian toponimi mengaitkan Cimanggis dengan nama sungai serta keberadaan pohon atau buah manggis.
Sekali lagi, unsur “Ci” muncul.
Ini menunjukkan betapa kuatnya unsur air dalam penamaan wilayah di kawasan yang secara budaya dan geografis memiliki pengaruh Sunda.
Cimanggis merupakan salah satu wilayah lama Depok.
Dalam perkembangannya, sebagian wilayah Cimanggis kemudian dimekarkan menjadi Kecamatan Tapos.
Kini Kecamatan Cimanggis terdiri atas:
- Cisalak Pasar
- Mekarsari
- Tugu
- Pasir Gunung Selatan
- Harjamukti
- Curug
Kalau benar nama tersebut berkaitan dengan sungai dan pohon manggis, maka nama Cimanggis seakan menjadi rekaman kondisi alam masa lalu yang diwariskan hingga sekarang.
- Tapos: Nama Pohon yang Menjadi Nama Wilayah
Tapos mempunyai cerita yang tidak kalah menarik.
Salah satu kajian toponimi menyebut Tapos berkaitan dengan nama sebuah pohon.
Artinya, jauh sebelum Tapos menjadi kawasan permukiman dan jalan raya yang padat seperti sekarang, lingkungan alamnya kemungkinan memiliki vegetasi yang kemudian dikenal masyarakat dan menjadi identitas wilayah.
Kecamatan Tapos merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Cimanggis.
Kini terdiri atas:
- Tapos
- Leuwinanggung
- Sukatani
- Sukamaju Baru
- Jatijajar
- Cilangkap
- Cimpaeun
Perubahan Tapos sangat terasa.
Wilayah yang dahulu identik dengan kampung dan ruang terbuka kini berkembang menjadi kawasan perkotaan dengan permukiman yang semakin luas.
Tetapi namanya tetap bertahan.
Tapos.
Satu kata yang mungkin menyimpan cerita tentang alam Depok pada masa lalu.
- Sawangan: Tempat untuk Memandang
Nama Sawangan mempunyai makna yang cukup unik.
Dalam salah satu penjelasan toponimi, Sawangan dikaitkan dengan kata yang menggambarkan tempat untuk melihat atau memandang, terutama karena kondisi geografisnya yang relatif memungkinkan seseorang melihat wilayah di sekitarnya.
Jika demikian, nama Sawangan sebenarnya seperti sebuah gambaran geografis.
Orang masa lalu memberi nama berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan dari lingkungan tempat tinggalnya.
Kecamatan Sawangan kini terdiri atas:
- Sawangan
- Kedaung
- Cinangka
- Sawangan Baru
- Bedahan
- Pengasinan
- Pasir Putih
Sawangan juga memiliki posisi penting dalam perkembangan Depok karena dari wilayah inilah kemudian lahir Kecamatan Bojongsari.
- Limo: Lima atau Limau?
Nama Limo menjadi salah satu nama yang menarik karena memiliki kemungkinan lebih dari satu penjelasan.
Secara sederhana, “limo” dapat dikaitkan dengan “lima”.
Namun dalam lingkungan budaya Betawi dan bahasa sehari-hari, ada kemungkinan pula berkaitan dengan pelafalan limau.
Di sinilah menariknya Depok.
Depok berada pada wilayah pertemuan berbagai pengaruh budaya, terutama Sunda dan Betawi.
Karena itu, sebuah nama bisa memiliki lapisan bahasa dan cerita yang berbeda.
Kecamatan Limo saat ini terdiri atas:
- Limo
- Meruyung
- Grogol
- Krukut
Pada masa lalu wilayah Limo lebih luas dan kemudian sebagian wilayahnya dimekarkan menjadi Kecamatan Cinere.
- Bojongsari: Antara Bojong dan Sari
Bojongsari merupakan gabungan dua unsur kata.
Dalam lingkungan bahasa Sunda, “bojong” dapat merujuk pada suatu bentuk atau posisi wilayah tertentu, misalnya tanah yang menjorok atau berada di antara wilayah lain.
Sementara “sari” dapat mempunyai makna inti, pokok, bibit atau sesuatu yang dianggap utama.
Dalam salah satu kajian toponimi Depok, Bojongsari dikaitkan dengan makna tersebut.
Bojongsari merupakan kecamatan hasil pemekaran dari Sawangan.
Wilayahnya terdiri atas:
- Bojongsari
- Bojongsari Baru
- Serua
- Pondok Petir
- Curug
- Duren Mekar
- Duren Seribu
Kini Bojongsari berkembang menjadi kawasan permukiman penting di bagian barat Kota Depok.
Dari kampung, kebun dan lahan terbuka menuju kawasan perkotaan—perubahannya berlangsung bersama perkembangan Depok.
- Cinere: Nama yang Masih Menyimpan Misteri
Dari sebelas kecamatan di Kota Depok, Cinere mungkin termasuk nama yang paling menarik sekaligus paling membutuhkan kehati-hatian ketika membahas asal-usulnya.
Ada beberapa versi mengenai asal nama Cinere.
Salah satu sumber mengaitkannya dengan pola penamaan geografis dalam lingkungan bahasa Sunda.
Ada pula cerita populer yang mencoba menjelaskan Cinere melalui gabungan kata tertentu.
Tetapi tidak semua versi tersebut memiliki bukti sejarah primer yang kuat.
Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa asal-usul nama Cinere masih memiliki beberapa versi.
Yang jelas secara administratif, Cinere dahulu merupakan bagian dari Kecamatan Limo.
Kemudian Cinere dimekarkan menjadi kecamatan tersendiri.
Kini Kecamatan Cinere terdiri atas:
- Cinere
- Gandul
- Pangkal Jati Lama
- Pangkal Jati Baru
Cinere berkembang menjadi kawasan perkotaan yang strategis karena berada di sisi selatan Depok dan berdekatan dengan wilayah Jakarta Selatan serta Tangerang Selatan.
Ketika Nama Daerah Menjadi Peta Sejarah
Kalau kita berhenti sebentar dan melihat sebelas nama kecamatan tersebut, ada sesuatu yang menarik.
Nama wilayah ternyata seperti sebuah peta sejarah yang ditulis menggunakan kata-kata.
Ada nama yang dikaitkan dengan tokoh.
Ada yang berhubungan dengan sungai dan air.
Ada yang mengingatkan kita kepada pohon dan tumbuhan.
Ada yang menggambarkan kondisi geografis.
Ada pula yang masih menyimpan misteri dan cerita masyarakat.
Beji, Pancoran Mas, Cipayung, Sukmajaya, Cilodong, Cimanggis, Tapos, Sawangan, Limo, Bojongsari dan Cinere akhirnya bukan sekadar nama kecamatan.
Di dalamnya terdapat perjalanan manusia.
Dari Kampung, Kebun dan Sungai Menjadi Kota
Depok hari ini tentu jauh berbeda dengan Depok puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu.
Jalan raya semakin ramai.
Perumahan semakin luas.
Pusat perdagangan tumbuh.
Kampus berdiri.
Stasiun dan jalur KRL menghubungkan Depok dengan Jakarta dan wilayah sekitarnya.
Tetapi di tengah perubahan itu, nama-nama lama tetap bertahan.
Nama sungai mungkin berubah menjadi nama kecamatan.
Nama pohon menjadi nama kawasan.
Nama tokoh menjadi nama wilayah.
Nama kampung kemudian menjadi bagian dari kota metropolitan.
Di sinilah pentingnya mempelajari toponimi.
Karena ketika sebuah nama tempat hilang, bukan hanya alamat yang berubah.
Sebagian ingatan masyarakat juga bisa ikut hilang.
Depok dan 11 Kecamatan Hari Ini
Secara administratif, Kota Depok kini memiliki 11 kecamatan:
- Sawangan
- Bojongsari
- Pancoran Mas
- Cipayung
- Sukmajaya
- Cilodong
- Cimanggis
- Tapos
- Beji
- Limo
- Cinere
Masing-masing memiliki karakter dan sejarah yang berbeda.
Namun semuanya berada dalam satu perjalanan yang sama:
perjalanan panjang Depok dari wilayah kampung dan pedesaan menuju sebuah kota modern.
Nama yang Jangan Sampai Sekadar Menjadi Alamat
Pada akhirnya, nama Beji, Pancoran Mas, Cipayung, Sukmajaya, Cilodong, Cimanggis, Tapos, Sawangan, Limo, Bojongsari dan Cinere bukan hanya kata yang kita tulis dalam alamat.
Di baliknya ada cerita.
Ada masyarakat yang pernah tinggal di sana.
Ada sungai yang mungkin dahulu lebih jernih.
Ada pohon yang pernah menjadi penanda tempat.
Ada jalan tanah yang kemudian berubah menjadi jalan beton.
Ada kampung yang perlahan menjadi perumahan.
Dan ada generasi demi generasi yang mewariskan nama tersebut sampai kepada kita.
Mungkin kita tidak pernah bertanya ketika melewati papan nama Beji atau Sawangan.
Tetapi setelah mengetahui sedikit ceritanya, kita mulai melihat Depok dengan cara yang berbeda.
Sebuah kota ternyata tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan.
Sebuah kota juga dibangun oleh ingatan, nama tempat, cerita masyarakat dan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, mengenal nama-nama wilayah Depok bukan sekadar mengetahui alamat.
Kita sedang membaca jejak sejarah kota tempat kita hidup.

Catatan: Uraian asal-usul nama dalam tulisan ini menggunakan berbagai kajian toponimi dan cerita sejarah lokal. Tidak semua etimologi memiliki tingkat kepastian sejarah yang sama. Beberapa nama masih memiliki lebih dari satu versi, sehingga digunakan istilah “dikaitkan dengan”, “salah satu versi”, atau “diperkirakan” untuk membedakan antara informasi administratif dan cerita asal-usul nama yang belum sepenuhnya terverifikasi melalui sumber primer.
