Oleh Mohamad Sobari | Darustation.com
Ada sebuah nama yang mungkin terdengar biasa bagi warga Depok: Beji.
Hari ini Beji identik dengan kawasan perkotaan, kampus, perumahan, pusat perdagangan, kemacetan, dan aktivitas masyarakat yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Namun, sebelum gedung-gedung berdiri dan jalan-jalan dipenuhi kendaraan, Beji adalah sebuah kawasan yang memiliki cerita panjang.
Di balik nama Beji, terdapat kisah seorang tokoh yang masih dikenang masyarakat hingga sekarang: Mbah Raden Wujud Beji, atau yang oleh sebagian masyarakat disebut Mbah Ujud Beji.
Kisahnya tidak hanya berbicara tentang seorang tokoh agama, tetapi juga tentang air, pertanian, dakwah Islam, kampung, dan bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatan terhadap masa lalunya.
Siapa Mbah Raden Wujud Beji?
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Raden Wujud Beji dikenal sebagai seorang tokoh agama yang datang ke wilayah Beji dan menyebarkan ajaran Islam.
Sejumlah sumber lokal menyebut Mbah Raden Wujud dikaitkan dengan seorang tokoh dari Cirebon. Dalam tradisi masyarakat, ia kemudian menetap dan membantu kehidupan masyarakat yang pada masa itu masih sangat bergantung kepada pertanian dan sumber daya alam.
Ada sebuah kisah yang terus diwariskan.
Pada suatu masa, wilayah tersebut mengalami kekeringan. Pertanian masyarakat terganggu karena kebutuhan air semakin sulit diperoleh.
Masyarakat kemudian meminta bantuan kepada Mbah Raden Wujud.
Dalam cerita yang dituturkan turun-temurun, Mbah Raden Wujud kemudian berdoa kepada Allah. Setelah itu muncul sumber-sumber air yang kemudian dikenal sebagai Tujuh Sumur Mbah Raden Wujud Beji.
Kisah tersebut menjadi salah satu cerita penting dalam ingatan masyarakat Beji.
Tetapi di sinilah kita perlu membedakan antara sejarah dan legenda.
Kisah mengenai doa, kemunculan tujuh sumber air, serta hubungan Mbah Raden Wujud dengan asal-usul nama Beji merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat. Sementara keberadaan situs sumur dan sejarah wilayah Beji dapat ditelusuri melalui sumber-sumber lain.
Dengan kata lain, cerita Mbah Beji sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai seluruh fakta sejarah, tetapi juga tidak harus diabaikan.
Sebab legenda pun merupakan bagian dari sejarah sosial masyarakat.
Tujuh Sumur Mbah Beji
Salah satu jejak yang paling terkenal adalah Tujuh Sumur Mbah Raden Wujud Beji.
Menurut cerita masyarakat, tujuh sumur tersebut memiliki lokasi yang berbeda tetapi masih berada di kawasan sekitar Kampung Keramat Beji.
Keberadaan sumur-sumur tersebut menjadi bagian dari cerita mengenai Mbah Raden Wujud dan perkembangan masyarakat Beji pada masa lalu.
Yang menarik, situs tersebut tidak hanya menjadi cerita yang diwariskan secara lisan.
Pada 2012–2013, masyarakat setempat mulai melakukan upaya lebih serius untuk mengenalkan dan merawat situs tersebut. Sumur-sumur yang ada kemudian diberi papan nama dan dilakukan pemugaran secara bertahap. Pengelolaannya juga dilakukan secara swadaya masyarakat.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting:
Sejarah lokal tidak selalu menunggu pemerintah untuk menyelamatkannya.
Kadang justru warga sendiri yang pertama kali menyadari bahwa sebuah tempat memiliki nilai sejarah.

Benarkah Nama Beji Berasal dari Mbah Beji?
Pertanyaan ini menarik.
Selama ini berkembang cerita bahwa nama Beji mempunyai hubungan erat dengan Mbah Raden Wujud Beji dan keberadaan sumber air.
Sejumlah pemberitaan populer memang menghubungkan asal-usul nama Beji dengan tokoh tersebut dan kisah sumur.
Tetapi jika kita melihat catatan sejarah tertulis, ceritanya menjadi lebih kompleks.
Nama Bedji ternyata telah muncul dalam sumber tertulis sejak 1816.
Dalam Java Government Gazette tanggal 25 Mei 1816, nama Bedji disebut dalam iklan mengenai lahan yang berada di sekitar Pondok Tjina dan Pondok Kemirie.
Nama tersebut kembali muncul dalam Bataviasche Courant pada 14 Desember 1816 dengan penulisan Beedjie. Wilayah tersebut digambarkan sebagai kawasan yang terdiri dari padang ilalang dan hutan.
Artinya, secara historis kita tidak bisa begitu saja menyimpulkan:
“Nama Beji pasti berasal dari Mbah Raden Wujud Beji.”
Kesimpulan tersebut membutuhkan bukti sejarah yang lebih kuat.
Yang dapat dikatakan dengan lebih hati-hati adalah bahwa tradisi masyarakat menghubungkan nama Beji dengan Mbah Raden Wujud, sementara dokumen tertulis menunjukkan bahwa nama Bedji sudah digunakan pada awal abad ke-19.
Dua informasi tersebut justru membuat sejarah Beji semakin menarik untuk diteliti.
Dari Kampung Pertanian Menjadi Kota Pendidikan
Bayangkan Beji pada dua abad lalu.
Belum ada Universitas Indonesia.
Belum ada jalan raya seperti sekarang.
Belum ada deretan apartemen, pusat perbelanjaan, kafe, maupun permukiman padat.
Yang ada adalah kampung, hutan, lahan pertanian, sungai, dan masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung kepada alam.
Catatan tahun 1816 menyebut Bedji bersama kawasan Pondok Tjina dan Pondok Kemirie. Bahkan wilayah tersebut digambarkan memiliki padang ilalang dan hutan.
Hari ini, wajahnya sudah berubah total.
Beji menjadi salah satu kawasan penting di Depok. Keberadaan Universitas Indonesia dan Politeknik Negeri Jakarta turut mempercepat perkembangan sosial dan ekonomi kawasan tersebut.
Kampung yang dahulu bertumpu pada pertanian berubah menjadi kawasan perkotaan.
Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh ikut berubah:
ingatan sejarahnya.
Mbah Beji dan Dakwah Islam
Ada satu hal menarik dari cerita Mbah Raden Wujud.
Ia tidak hanya dikenang karena sumur.
Dalam tradisi masyarakat, ia juga dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan Islam.
Salah satu kisah yang berkembang menyebut bahwa penyebaran Islam dilakukan melalui kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk kegiatan bercocok tanam.
Jika kisah tersebut dilihat dari perspektif sosial, kita bisa memahami bahwa dakwah pada masa lalu tidak selalu berlangsung melalui bangunan besar atau lembaga formal.
Dakwah dapat berlangsung melalui keteladanan, hubungan sosial, membantu masyarakat, dan kehidupan bersama.
Mungkin karena itulah nama Mbah Raden Wujud tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Bukan hanya sebagai tokoh yang memiliki cerita tentang tujuh sumur, tetapi sebagai bagian dari perjalanan masyarakat Beji.
Sejarah, Legenda, dan Kepercayaan
Di sinilah kita perlu belajar menjadi masyarakat yang menghargai sejarah sekaligus berpikir kritis.
Ada cerita bahwa Mbah Raden Wujud adalah seorang wali atau tokoh yang memiliki karomah.
Ada cerita tentang tujuh sumur.
Ada cerita tentang kekeringan dan munculnya sumber air.
Semua itu merupakan bagian dari cerita yang hidup di masyarakat.
Namun, tidak semua cerita tersebut memiliki bukti dokumenter yang sama kuat.
Karena itu, menyebutnya sebagai tradisi lisan atau legenda masyarakat bukan berarti merendahkan cerita tersebut.
Justru dengan cara itu kita menghormati sejarah.
Fakta sejarah harus ditempatkan sebagai fakta. Legenda harus ditempatkan sebagai legenda. Tradisi masyarakat harus dihargai sebagai tradisi.
Ketiganya dapat berjalan bersama tanpa harus saling menghilangkan.
Jangan Biarkan Kota Menghapus Ingatan
Depok berkembang luar biasa cepat.
Tanah yang dahulu merupakan sawah berubah menjadi rumah.
Kebun berubah menjadi jalan.
Kampung berkembang menjadi kawasan perkotaan.
Tetapi pembangunan tidak seharusnya membuat masyarakat lupa dari mana sebuah wilayah berasal.
Tujuh sumur Mbah Raden Wujud Beji merupakan salah satu pengingat bahwa kawasan yang sekarang terlihat modern ternyata mempunyai lapisan sejarah yang panjang.
Jika situs tersebut hilang, bukan hanya sebuah sumur yang hilang.
Sebagian ingatan masyarakat juga ikut hilang.
Karena itu, keberadaan situs sejarah lokal perlu dirawat, didokumentasikan, diteliti, dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Bukan untuk menghidupkan mistik.
Bukan pula untuk membesar-besarkan legenda.
Tetapi untuk menjawab satu pertanyaan sederhana:
“Dari mana sebenarnya tempat yang kita tinggali hari ini berasal?”
Mbah Beji Bukan Sekadar Nama
Bagi sebagian orang, Mbah Beji mungkin hanya sebuah cerita dari masa lalu.
Namun bagi masyarakat yang tumbuh di kawasan tersebut, nama Mbah Raden Wujud Beji merupakan bagian dari identitas lokal.
Dari kisah tujuh sumur, kita belajar tentang pentingnya air.
Dari kisah pertanian, kita belajar tentang kehidupan masyarakat masa lalu.
Dari kisah dakwah, kita belajar tentang perjalanan Islam di tengah masyarakat.
Dari keberadaan situsnya, kita belajar tentang pentingnya menjaga warisan budaya.
Dan dari perdebatan mengenai asal-usul nama Beji, kita belajar bahwa sejarah tidak selalu sederhana.
Kadang sejarah membutuhkan arsip.
Kadang membutuhkan penelitian.
Kadang membutuhkan kesaksian para sesepuh.
Dan kadang, sejarah tersimpan di tempat yang sangat sederhana:
sebuah sumur tua di tengah kawasan kota.

Penutup: Merawat Jejak, Bukan Sekadar Mengenang
Beji hari ini mungkin sudah jauh berbeda dengan Beji pada masa Mbah Raden Wujud.
Namun, perubahan zaman tidak harus menghapus masa lalu.
Justru semakin modern sebuah kota, semakin penting masyarakatnya menjaga sejarah lokal.
Sebab kota bukan hanya kumpulan gedung.
Kota adalah ingatan.
Ada nama kampung.
Ada makam.
Ada masjid.
Ada sungai.
Ada sumur.
Ada tokoh masyarakat.
Ada cerita para orang tua.
Semuanya merupakan kepingan yang membentuk identitas sebuah wilayah.
Mbah Raden Wujud Beji dan Tujuh Sumurnya adalah salah satu kepingan tersebut.
Mungkin kita tidak dapat memastikan seluruh kisahnya secara historis.
Tetapi kita masih dapat melakukan sesuatu yang jauh lebih penting:
menjaga ceritanya, meneliti sumbernya, merawat situsnya, dan mewariskan pengetahuannya kepada generasi berikutnya.
Karena ketika sebuah masyarakat kehilangan sejarahnya, mereka bukan hanya kehilangan masa lalu.
Mereka juga kehilangan sebagian dari jati dirinya.
Sumber dan Referensi
- detikNews, Asal Usul Nama Beji dan Kisah 7 Sumur Keramat di Depok, 18 Januari 2017.
- detikNews, Cagar Budaya Sumur 7 Beji Dikelola Swadaya oleh Warga, 18 Januari 2017.
- Radar Depok, Mengenal Tujuh Sumur Beji di Depok: Sebar Islam dengan Berkebun, Berbagai Khasiat dari Tujuh Air Sumur.
- Okezone News, Sejarah dan Asal Usul Beji Depok, Berawal dari Kedatangan Mbah Raden Wujud Beji, 1 Desember 2023.
- Poestaha Depok, Sejarah Kota Depok (48): Sejarah Beji di Depok; Nama Kampong Tempo Doeloe, Kini Nama Kecamatan Dimana UI Berada.
- Rublik Depok/Pikiran Rakyat, Sejarah Beji Depok: Dari Kampung Tempo Dulu, Jejak Irigasi, hingga Menjadi Kecamatan Tempat Kampus UI, 7 Agustus 2026.
- Radar Depok, Mengulas Sumur 7 Raden Wujud di Beji Depok.
Catatan Darustation: Kisah Mbah Raden Wujud Beji dan Tujuh Sumur sebagian besar bersumber dari tradisi lisan masyarakat dan pemberitaan mengenai sejarah lokal. Karena itu, bagian yang belum memiliki bukti dokumenter kuat disajikan sebagai cerita, legenda, atau tradisi masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi sepenuhnya.
