Gerakan Warga RW 11 Beji Depok dari Memilah, Mengolah hingga Memanfaatkan
Ditulis oleh Mohamad Sobari | darustation.com
Ada satu kebiasaan sederhana yang sebenarnya bisa mengubah wajah lingkungan: memilah sampah dari rumah.
Kedengarannya sepele.
Hanya memisahkan botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca dan berbagai limbah anorganik lainnya sebelum semuanya masuk ke tempat sampah.
Tetapi persoalannya, kebiasaan sederhana itu belum tentu mudah dilakukan jika tidak ada sistem, tidak ada pendampingan, dan tidak ada alasan kuat bagi warga untuk ikut bergerak.
Karena itu, menarik melihat gagasan POM — Pilah, Olah, Manfaatkan yang digagas oleh Agung Prakoso dan diterjemahkan dalam bentuk kegiatan Lomba Pilah Limbah Anorganik di RW 11 Beji, Depok.
Bukan sekadar lomba mengumpulkan sampah.
Ada pesan yang lebih besar di baliknya:
Bagaimana mengubah cara pandang warga terhadap sampah—dari sesuatu yang harus dibuang menjadi sesuatu yang masih memiliki nilai dan manfaat.
Dari “Buang Sampah” Menjadi “Pilah Sampah”
Selama ini edukasi tentang sampah sering berhenti pada satu kalimat:
“Buanglah sampah pada tempatnya.”
Kalimat itu tentu penting.
Tetapi di tengah persoalan sampah yang semakin kompleks, mungkin kita perlu melangkah satu tahap lebih jauh.
Bukan hanya membuang pada tempatnya, tetapi memilah sebelum membuang.
Sebab ketika sampah sudah tercampur, persoalannya menjadi lebih rumit.
Plastik bercampur dengan sisa makanan.
Kertas menjadi basah.
Botol bercampur dengan limbah lainnya.
Material yang sebenarnya masih memiliki nilai akhirnya kehilangan kesempatan untuk dimanfaatkan kembali.
Di sinilah gagasan POM menjadi relevan.
Pilah. Olah. Manfaatkan.
Tiga kata sederhana, tetapi jika menjadi kebiasaan, dampaknya bisa panjang.
POM Digagas Agung Prakoso
Gagasan POM (Pilah, Olah, Manfaatkan) ini digagas oleh Agung Prakoso sebagai sebuah pendekatan untuk mendorong pengelolaan limbah rumah tangga secara lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan warga.
Konsepnya tidak dibuat rumit.
Warga diajak mulai dari sumbernya: rumah masing-masing.
Apa yang selama ini dianggap sampah dipilah berdasarkan jenisnya.
Yang masih dapat diolah atau dimanfaatkan dipisahkan.
Yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari tempat pembuangan akhir.
Ia bisa dimulai dari dapur dan halaman rumah kita sendiri.
Dan ketika satu rumah mulai memilah, kemudian diikuti rumah lainnya, terbentuklah kebiasaan kolektif.
Dari rumah bergerak ke RT.
Dari RT bergerak ke RW.
Lomba Menjadi Cara untuk Menggerakkan Warga
Salah satu tantangan dalam program lingkungan adalah bagaimana membuat masyarakat mau terlibat secara konsisten.
Banyak orang sebenarnya memahami bahwa sampah adalah masalah.
Tetapi memahami masalah belum tentu membuat seseorang mau bertindak.
Karena itu, pendekatan lomba bisa menjadi salah satu cara untuk membangun partisipasi.
Dalam Lomba Pilah Limbah Anorganik RW 11 Beji Depok, warga dari RT 01 hingga RT 05 dapat berpartisipasi.
Tidak dibatasi usia maupun gender.
Artinya, kegiatan ini dirancang sebagai gerakan bersama.
Bukan program milik satu kelompok.
Bukan hanya untuk anak-anak.
Bukan hanya untuk ibu-ibu.
Dan bukan hanya untuk pengurus lingkungan.
Semua warga bisa ikut mengambil bagian.
Sampah Ditimbang, Partisipasi Dihitung
Yang menarik, sistem lomba tidak hanya melihat siapa yang membawa sampah paling banyak.
Ada beberapa aspek penilaian.
Pertama, berat limbah anorganik.
Jenis limbah diberikan bobot poin yang berbeda. Dalam SOP, misalnya, limbah logam memiliki bobot 20 poin, kertas 15 poin, sedangkan plastik, cair dan kaca masing-masing 10 poin.
Kedua, partisipasi rumah atau warga.
Setiap rumah yang menyerahkan limbah secara rutin memperoleh poin partisipasi.
Ketiga, konten edukasi POM.
Warga juga diberi ruang untuk membuat konten edukasi mengenai Pilah, Olah, Manfaatkan limbah rumah tangga.
Jadi, yang dinilai bukan hanya:
“Berapa banyak sampah yang kamu kumpulkan?”
Tetapi juga:
“Apakah kamu ikut berpartisipasi?”
dan
“Apakah kamu ikut mengajak orang lain peduli?”
Menurut saya, di sinilah nilai edukasinya menjadi lebih kuat.
Sampah Bisa Menjadi Media Edukasi
Ada hal lain yang patut diapresiasi.
Dalam konsep POM, sampah tidak berhenti pada aktivitas fisik mengumpulkan barang bekas.
Ada unsur edukasi dan komunikasi publik.
Warga dapat membuat video atau flyer mengenai pengelolaan limbah rumah tangga.
Di era media sosial seperti sekarang, pendekatan ini sangat relevan.
Satu video pendek tentang cara memilah sampah bisa lebih mudah diterima masyarakat daripada ceramah panjang tentang lingkungan.
Satu foto sebelum dan sesudah memilah sampah bisa menjadi inspirasi.
Satu cerita tentang bagaimana botol bekas dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali bisa memunculkan ide baru di rumah lain.
Sampah kemudian tidak hanya menjadi objek yang dikumpulkan, tetapi juga menjadi bahan untuk bercerita dan mengedukasi.
Ada PIC, Ada Jadwal, Ada Rekapitulasi
Sebuah program lingkungan tidak cukup hanya dengan slogan.
Harus ada sistem.
Dalam SOP lomba, setiap RT memiliki PIC untuk menerima limbah dari peserta.
Limbah diserahkan sesuai jadwal, kemudian ditimbang dan dicatat.
Data tersebut selanjutnya direkap secara berkala.
Ini penting.
Sebab ketika kegiatan melibatkan lima wilayah RT, jumlah peserta, berat limbah dan poin yang berbeda-beda, pencatatan menjadi bagian penting dari transparansi.
Dengan sistem seperti ini, warga bisa mengetahui bahwa penilaian tidak sekadar berdasarkan perkiraan.
Ada proses:
diterima → ditimbang → dicatat → direkap → dinilai.
Sederhana, tetapi terukur.
Empat Kali Pengumpulan, Empat Kali Mengingatkan
Periode kegiatan dalam SOP berlangsung mulai 19 Juli hingga 9 Agustus 2026, dengan jadwal penerimaan limbah setiap minggu:
19 Juli 2026
26 Juli 2026
2 Agustus 2026
9 Agustus 2026 — Akumulasi Final
Jadwal mingguan seperti ini sebenarnya bukan hanya soal mengumpulkan sampah.
Ia juga menjadi pengingat rutin bagi warga.
Setiap minggu ada momen untuk membuka kembali tempat penyimpanan limbah anorganik di rumah.
Setiap minggu ada kesempatan untuk memilah.
Dan setiap minggu ada kesempatan untuk belajar.
Karena perubahan perilaku memang jarang terjadi hanya karena satu kali kegiatan.
Ia membutuhkan pengulangan.
Dari Lomba Jangan Berhenti di Lomba
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Apa yang terjadi setelah lomba selesai?
Apakah botol plastik kembali bercampur dengan sampah rumah tangga?
Apakah kardus kembali dibuang begitu saja?
Apakah kebiasaan memilah berhenti karena tidak ada lagi poin?
Kalau jawabannya iya, maka lomba hanya menjadi kegiatan sesaat.
Tetapi jika setelah lomba warga tetap memilah sampah, maka lomba tersebut telah berhasil menciptakan sesuatu yang jauh lebih penting daripada piala.
Kebiasaan.
Dan kebiasaan itulah yang seharusnya menjadi tujuan jangka panjang.
POM Bisa Dikembangkan Menjadi Bank Sampah
Konsep POM juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sistem yang lebih berkelanjutan.
Misalnya, setelah warga terbiasa memilah, kegiatan dapat dilanjutkan melalui bank sampah berbasis RT atau RW.
Limbah anorganik yang terkumpul dapat ditimbang dan memiliki nilai ekonomi.
Warga bisa mendapatkan manfaat dari hasil pengumpulan tersebut.
Dengan demikian, konsep:
Pilah → Olah → Manfaatkan
dapat berkembang menjadi:
Pilah → Kumpulkan → Timbang → Bernilai → Dimanfaatkan Kembali.
Di sinilah pengelolaan sampah mulai bergerak dari sekadar kegiatan kebersihan menuju ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Yang Dibutuhkan Bukan Hanya Tempat Sampah
Selama ini ketika berbicara tentang sampah, solusi yang muncul sering kali berupa penambahan tempat sampah.
Padahal tempat sampah hanyalah salah satu bagian.
Yang lebih penting adalah:
perilaku manusianya.
Tempat sampah bisa ditambah.
Armada pengangkut bisa ditambah.
Tempat pengolahan bisa dibangun.
Tetapi kalau dari rumah semua sampah masih dicampur, persoalan dasarnya belum selesai.
Karena itu, edukasi pemilahan menjadi penting.
Dan POM menawarkan bahasa yang sederhana:
Pilah. Olah. Manfaatkan.
Mudah diingat.
Mudah dijelaskan.
Dan yang paling penting, bisa dipraktikkan.
Piala Hanya Simbol, Lingkungan yang Menang
Dalam sebuah lomba tentu ada juara.
Ada Juara 1, Juara 2, Juara 3, Harapan 1 dan Harapan 2.
Ada piagam.
Ada penghargaan.
Ada rasa bangga bagi wilayah yang memperoleh poin tertinggi.
Semua itu wajar.
Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, sebenarnya ada satu pemenang yang jauh lebih penting:
lingkungan.
Sebab setiap botol yang dipilah adalah satu botol yang tidak langsung tercampur.
Setiap kilogram limbah yang dikumpulkan adalah material yang memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan kembali.
Dan setiap warga yang mulai memilah adalah satu perubahan kecil yang bisa menular kepada keluarga dan tetangganya.
Dari Beji, Sebuah Pesan Sederhana
Apa yang dilakukan di RW 11 Beji mungkin terlihat sederhana.
Hanya lomba.
Hanya mengumpulkan sampah.
Hanya menimbang.
Hanya menghitung poin.
Tetapi sering kali perubahan memang dimulai dari sesuatu yang terlihat sederhana.
Tidak semua gerakan harus dimulai dengan gedung besar.
Tidak semua perubahan membutuhkan anggaran besar.
Tidak semua edukasi harus menggunakan bahasa yang rumit.
Kadang cukup dengan mengajak warga berkata:
“Jangan campur sampahnya. Pilah dulu.”
Kemudian:
“Kalau masih bisa diolah, olah.”
Dan:
“Kalau masih bisa dimanfaatkan, jangan buru-buru dibuang.”
Itulah semangat POM yang digagas Agung Prakoso.
Sebuah gagasan sederhana yang mencoba mengubah cara kita memandang limbah.
Pertanyaan Berikutnya: Setelah 9 Agustus, Apa?
Lomba boleh selesai.
Poin boleh berhenti dihitung.
Juara boleh diumumkan.
Tetapi persoalan sampah tidak pernah selesai pada tanggal 9 Agustus.
Hari berikutnya akan ada botol baru.
Kardus baru.
Kaleng baru.
Kemasan baru.
Dan sampah rumah tangga baru.
Karena itu, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah lomba berakhir.
Apakah semangat POM akan tetap hidup?
Apakah warga akan terus memilah?
Apakah RT dan RW dapat membangun sistem pengumpulan yang berkelanjutan?
Apakah kegiatan ini bisa berkembang menjadi bank sampah?
Apakah POM bisa menjadi budaya lingkungan RW 11?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menarik untuk ditunggu.
Sebab lomba hanyalah pemantik.
Yang diharapkan tumbuh adalah kebiasaan.

Penutup: Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita
Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan pemerintah, petugas kebersihan, pengurus RT atau pengurus RW.
Sampah adalah konsekuensi dari kehidupan kita sehari-hari.
Karena itu, tanggung jawabnya juga dimulai dari kita.
Dari rumah.
Dari tangan kita.
Dari keputusan sederhana ketika hendak membuang sesuatu.
Apakah langsung dibuang?
Atau…
dipilah?
Karena mungkin perubahan lingkungan yang kita tunggu-tunggu selama ini sebenarnya tidak perlu dimulai dari sesuatu yang besar.
Cukup dari satu rumah.
Satu keluarga.
Satu RT.
Kemudian satu RW.
Dan akhirnya menjadi gerakan bersama.
Pilah. Olah. Manfaatkan.
Bukan sekadar slogan.
Tetapi kebiasaan yang mudah-mudahan terus tumbuh.
POM — gagasan Agung Prakoso, gerakan yang mengajak kita melihat kembali: bahwa tidak semua yang kita sebut sampah benar-benar kehilangan nilai.
DaruStation | Catatan Warga, Lingkungan dan Perubahan
Ditulis oleh Mohamad Sobari | darustation.com
