Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Ada satu kebiasaan yang sering muncul ketika cuaca panas: melihat tanaman mulai layu, lalu buru-buru mengambil selang atau gayung.
Padahal, tanaman tidak selalu membutuhkan air sebanyak yang kita bayangkan.
Yang dibutuhkan tanaman adalah kondisi yang stabil—air cukup, media sehat, akar tidak terganggu, nutrisi tersedia, cahaya sesuai, serta bebas dari tekanan hama dan penyakit.
Pesan tersebut menjadi bagian menarik dari materi pelatihan “Tips Berkebun: Perawatan Tanaman Buah untuk Hasilkan Buah Premium di Musim Panas” yang diselenggarakan di Booth TRUBUS, Blok A3, dalam rangkaian FLONA 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta.
FLONA 2026 sendiri mengusung tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta” dan menghadirkan berbagai kegiatan edukasi, termasuk urban farming dan kegiatan komunitas hijau. (FLONA Jakarta)
Musim Panas Bukan Sekadar Persoalan Menambah Air
Ketika suhu meningkat, penguapan dari media tanam dan daun juga meningkat.
Akibatnya, media lebih cepat kering dan tanaman lebih mudah mengalami stres kekeringan.
Pada tanaman buah, kondisi tersebut bukan perkara sepele.
Tanaman yang mengalami tekanan dapat menunjukkan gejala seperti daun layu, pertumbuhan terganggu, bunga rontok, bahkan perkembangan buah yang tidak optimal.
Namun ada hal yang perlu diluruskan:
Musim panas bukan berarti tanaman harus terus-menerus disiram.
Justru yang harus dijaga adalah kestabilan ketersediaan air sesuai kebutuhan tanaman.
Ini menjadi prinsip sederhana tetapi penting dalam berkebun.
Lihat Media Tanam Sebelum Menyiram
Salah satu kebiasaan yang baik adalah memeriksa kondisi media sebelum memberikan air.
Jangan hanya melihat kalender atau menggunakan aturan:
“Kalau panas, berarti harus sering disiram.”
Kondisi setiap tanaman bisa berbeda.
Perhatikan:
- apakah media sudah terlalu kering;
- apakah masih cukup lembap;
- apakah air dapat mengalir dengan baik;
- apakah terjadi genangan;
- bagaimana kondisi daun dan pertumbuhan tanaman.
Jika media terlalu kering, berikan air sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, jika media terlalu basah, persoalannya bukan menambah air, tetapi memeriksa drainase dan mengurangi penyiraman.
Di sinilah berkebun membutuhkan pengamatan.
Bukan sekadar rutinitas.
Akar Sehat, Tanaman Lebih Kuat
Kita sering memperhatikan daun karena bagian tanaman tersebut terlihat.
Tetapi ada bagian yang tidak terlihat dan justru sangat menentukan:
akar.
Akar menjadi tempat penting bagi tanaman untuk menyerap air dan nutrisi.
Karena itu, kondisi media harus dijaga agar akar tidak mengalami kekeringan ekstrem sekaligus tidak terus-menerus berada dalam kondisi tergenang.
Alurnya sederhana:
Media terjaga → akar sehat → penyerapan air dan nutrisi baik → tanaman lebih kuat → mendukung pembentukan buah.
Bagi tanaman buah dalam pot atau tabulampot, perhatian terhadap akar semakin penting karena ruang tumbuhnya terbatas.
Nutrisi Bukan Berarti Pupuk Harus Ditambah Terus
Ada satu kesalahan lain yang juga sering terjadi.
Ketika tanaman terlihat kurang sehat, pupuk langsung ditambah.
Padahal, musim panas tidak otomatis berarti dosis pupuk harus dinaikkan.
Pemberian nutrisi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan fase pertumbuhannya.
Ikuti dosis serta petunjuk penggunaan produk.
Sebab tanaman juga bisa mengalami masalah ketika nutrisi diberikan secara berlebihan.
Dalam berkebun, prinsipnya bukan:
semakin banyak semakin baik.
Tetapi:
tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan tanaman.
Daun Jangan Dianggap Sekadar Penghias
Ketika mengejar buah, perhatian kita biasanya tertuju pada bunga dan buah.
Padahal daun memiliki peran penting.
Daun membantu menghasilkan energi bagi tanaman. Karena itu, daun yang sehat perlu dipertahankan.
Periksa secara rutin apakah terdapat:
- perubahan warna;
- kerusakan;
- serangan hama;
- tanda penyakit;
- daun layu atau terbakar akibat kondisi panas.
Tanaman buah yang sedang berproduksi membutuhkan sistem daun yang sehat untuk mendukung pertumbuhan buah.
Buah Banyak Belum Tentu Buah Berkualitas
Ini bagian yang menarik.
Kita sering menganggap tanaman yang menghasilkan banyak buah sebagai tanaman yang lebih baik.
Padahal belum tentu.
Tanaman memiliki kemampuan terbatas untuk menyediakan air, nutrisi dan energi bagi seluruh buah.
Jika buah terlalu banyak, tanaman dapat kesulitan memenuhi kebutuhan masing-masing buah.
Karena itu, dalam upaya menghasilkan buah premium, jumlah bukan satu-satunya ukuran.
Lebih baik memiliki buah yang sehat dan berkembang baik daripada mempertahankan terlalu banyak buah tetapi hasil akhirnya kecil, tidak seragam atau kualitasnya menurun.
Seperti Apa Buah yang Diinginkan?
Buah berkualitas tidak hanya dilihat dari ukurannya.
Beberapa ciri yang menjadi perhatian antara lain:
- Ukuran dan bentuk sesuai varietas
Buah memiliki karakter yang sesuai dengan varietasnya.
- Sehat dan tidak rusak
Tidak mengalami kerusakan yang mengganggu kualitas.
- Penampilan baik dan relatif seragam
Tampilan menjadi salah satu bagian dari kualitas.
- Rasa dan karakter sesuai varietas
Buah yang bagus bukan hanya menarik secara visual.
- Dipanen pada tingkat kematangan yang tepat
Waktu panen turut menentukan kualitas akhir buah.
Jadi, istilah “buah premium” seharusnya tidak diterjemahkan hanya sebagai buah besar.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Musim Panas
Materi pelatihan TRUBUS juga mengingatkan sejumlah kesalahan yang perlu dihindari.
Di antaranya:
- menunggu tanaman layu baru menyiram;
- membiarkan media terlalu kering;
- menyiram berlebihan sampai tergenang;
- memberikan pupuk secara berlebihan;
- membiarkan terlalu banyak buah;
- mengabaikan hama dan penyakit;
- membiarkan akar berada dalam kondisi terlalu panas.
Semua terlihat sederhana.
Namun justru kesalahan sederhana yang dilakukan berulang kali dapat memengaruhi kesehatan tanaman.
Dari FLONA 2026, Belajar Mengelola Tanaman
FLONA 2026 di Lapangan Banteng bukan hanya tempat melihat tanaman dan berbagai produk pertanian.
Pemerintah DKI Jakarta menempatkan FLONA sebagai ruang edukasi lingkungan, pengenalan biodiversitas, serta kepedulian terhadap ruang hijau perkotaan. Kegiatan berlangsung di Taman Lapangan Banteng dan menghadirkan berbagai flora, fauna, komunitas, UMKM, serta aktivitas edukasi. (Pusat Jakarta)
Bagi masyarakat perkotaan, pelatihan seperti yang dilakukan TRUBUS menjadi menarik karena berkebun tidak selalu membutuhkan lahan luas.
Satu pot pun bisa menjadi awal.
Satu tanaman buah di halaman rumah bisa menjadi media belajar.
Dari sana kita belajar tentang air.
Belajar tentang akar.
Belajar tentang nutrisi.
Belajar tentang cuaca.
Dan akhirnya belajar tentang kesabaran.
Berkebun Itu Bukan “Tanam, Siram, Tunggu Panen”
Bagi Darustation, ada satu pelajaran penting yang bisa ditarik dari materi ini:
menanam hanyalah awal.
Setelah tanaman ditanam, pekerjaan sebenarnya justru dimulai.
Kita harus mengamati.
Kapan media mulai kering?
Apakah akar sehat?
Apakah daun mengalami gangguan?
Apakah tanaman mendapatkan cahaya yang cukup?
Apakah jumlah buah sesuai kemampuan tanaman?
Apakah ada hama atau penyakit?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut membuat kegiatan berkebun berubah dari sekadar hobi menjadi proses belajar.
Dan mungkin inilah yang paling menarik.
Tanaman tidak bisa dipaksa mengikuti keinginan kita.
Kita ingin buah cepat besar.
Tanaman membutuhkan waktu.
Kita ingin buah sebanyak-banyaknya.
Tanaman memiliki kemampuan terbatas.
Kita ingin hasil premium.
Tanaman membutuhkan perawatan yang konsisten.

Dari Satu Pot, Kita Belajar Banyak Hal
Di tengah kota yang semakin padat, berkebun bisa menjadi bentuk kecil dari upaya menjaga hubungan manusia dengan alam.
Tidak harus langsung membuat kebun besar.
Tidak harus membeli banyak tanaman.
Mulailah dari satu pot.
Rawat.
Amati.
Belajar dari kesalahan.
Kemudian tambah perlahan.
Karena pada akhirnya, berkebun bukan sekadar menghasilkan buah.
Berkebun mengajarkan kita untuk memahami proses kehidupan.
Menanam adalah awal.
Merawat adalah proses.
Kualitas adalah hasil dari konsistensi.
Dan musim panas?
Bukan alasan untuk berhenti berkebun.
Justru menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang bagaimana tanaman bertahan, tumbuh, dan menghasilkan buah terbaiknya.
Sumber
- Materi pelatihan TRUBUS, “Tips Berkebun – Perawatan Tanaman Buah untuk Hasilkan Buah Premium di Musim Panas”, Booth TRUBUS Blok A3, FLONA 2026, 15 September 2026.
- FLONA Jakarta 2026, informasi kegiatan, urban farming, komunitas hijau dan lokasi Taman Lapangan Banteng. (FLONA Jakarta)
- Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat, FLONA 2026 Dorong Masyarakat Menjaga Keanekaragaman Hayati, 1 September 2026. (Pusat Jakarta)
- Pemprov DKI Jakarta, informasi penyelenggaraan FLONA 2026 dan tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta”. (Berita Jakarta)
- DaruStation, “Belajar Tabulampot di FLONA 2026: Bukan Sekadar Menanam, tetapi Mengelola”, 10 September 2026. (Darustation)
