Pertanian

Integrated Farming: Ketika Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Saling Menghidupi

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation.com

Pertanian sering kali dibayangkan membutuhkan lahan luas.

Ada sawah, kebun, kolam ikan, kandang ternak, lalu masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

Padahal, ada pendekatan yang mencoba menghubungkan semuanya dalam satu sistem: integrated farming atau pertanian terpadu.

Konsepnya sederhana, tetapi cara berpikirnya menarik.

Apa yang tersisa dari satu kegiatan tidak selalu harus menjadi limbah. Bisa jadi, sisa tersebut masih dapat menjadi sumber daya bagi kegiatan lainnya.

Tanaman dapat menghasilkan bahan pangan sekaligus sisa organik. Sisa tanaman dapat diolah menjadi kompos atau, dalam kondisi tertentu, dimanfaatkan sebagai pakan. Kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk organik. Sementara dalam sistem tertentu, budidaya ikan dapat dihubungkan dengan tanaman.

FAO menjelaskan bahwa sistem pertanian terpadu dapat menggabungkan berbagai komponen produksi untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya, diversifikasi produksi, serta efisiensi sistem pertanian.

Jadi, integrated farming bukan sekadar “menanam sebanyak-banyaknya”.

Ini tentang membangun hubungan antarkomponen.

Dari Limbah Menjadi Manfaat

Bayangkan sebuah rumah memiliki tanaman sayuran, kolam ikan kecil, dan komposter.

Sayuran menghasilkan sisa daun.

Sisa tersebut dapat masuk ke pengolahan kompos.

Kompos kemudian digunakan untuk tanaman.

Kolam ikan menghasilkan air yang mengandung nutrien dari sisa pakan dan metabolisme ikan. Dalam sistem budidaya tertentu, air tersebut dapat melalui proses pengolahan atau filtrasi sebelum dimanfaatkan untuk tanaman.

Inilah salah satu prinsip yang dikenal dalam aquaponik, yaitu menggabungkan budidaya ikan dengan budidaya tanaman dalam sistem yang saling terhubung.

Dalam aquaponik, bakteri berperan dalam proses nitrifikasi sehingga nutrien dari limbah ikan dapat diubah menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan tanaman. Air kemudian dapat dikembalikan ke sistem ikan setelah melalui proses penyaringan.

Gambaran sederhananya:

Ikan → nutrien → tanaman → penyaringan → kembali ke ikan.

Tetapi perlu digarisbawahi: air kolam tidak otomatis aman digunakan begitu saja untuk semua tanaman. Sistem harus dirancang dan dikelola dengan benar, terutama terkait kualitas air, kepadatan ikan, pakan, filtrasi, dan kesehatan tanaman.

Ketika Tanaman Bertemu Ternak

Integrated farming tidak hanya berbicara tentang ikan dan sayuran.

Hubungan tanaman dan ternak juga merupakan bagian penting dari sistem pertanian terpadu.

Contohnya:

Tanaman → pakan ternak → ternak → kotoran → pupuk → tanaman.

Kotoran ternak dapat menjadi sumber bahan organik setelah melalui proses pengolahan yang tepat.

Sementara sisa tanaman tertentu dapat dimanfaatkan sebagai pakan, tergantung jenis tanaman, jenis ternak, serta pengelolaan dan keamanan pakannya.

FAO mencatat bahwa integrasi tanaman dan ternak dapat meningkatkan diversifikasi produksi serta membuka peluang penggunaan sumber daya secara lebih efisien.

Dalam skala tradisional maupun kecil, hubungan semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Sistem pertanian terpadu telah lama dikenal di berbagai wilayah Asia. Literatur FAO bahkan mendokumentasikan berbagai bentuk integrasi tanaman, ternak, kolam, dan ikan yang berkembang sebagai cara memanfaatkan sumber daya yang terbatas secara lebih efisien.

Mengapa Integrated Farming Menarik?

  1. Memaksimalkan lahan

Lahan yang terbatas tidak selalu berarti produktivitas harus rendah.

Dengan perencanaan yang baik, satu halaman dapat memiliki beberapa fungsi.

Misalnya:

  • bagian bawah untuk kolam ikan;
  • sisi halaman untuk tanaman sayuran;
  • rak vertikal untuk tanaman;
  • sudut halaman untuk komposter;
  • dan ruang tertentu untuk pembibitan.

Bahkan halaman kecil pun dapat menjadi tempat belajar memproduksi pangan.

Tetapi jangan terjebak pada pemikiran bahwa semakin banyak komponen berarti semakin baik.

Sistem yang terlalu rumit justru bisa sulit dirawat.

  1. Diversifikasi hasil

Jika hanya mengandalkan satu jenis produksi, risiko juga terkonsentrasi pada satu komoditas.

Integrated farming menawarkan pendekatan yang berbeda.

Dalam satu sistem bisa terdapat:

ikan + sayuran + buah + tanaman herbal + kompos + ternak kecil.

Tidak semuanya harus dilakukan sekaligus.

Justru lebih masuk akal jika dimulai dari satu atau dua komponen terlebih dahulu.

FAO menyebut diversifikasi sebagai salah satu manfaat penting dari sistem tanaman-ternak terpadu, karena dapat meningkatkan keragaman produksi dan memberikan peluang ekonomi yang lebih beragam.

  1. Mengurangi Limbah, Bukan Sekadar Memindahkannya

Ada prinsip sederhana yang menarik dari pertanian terpadu:

Jangan buru-buru menyebut sesuatu sebagai limbah sebelum melihat apakah masih mempunyai fungsi.

Daun kering bisa menjadi bahan kompos.

Sisa tanaman dapat menjadi bahan organik.

Kotoran ternak dapat diproses menjadi pupuk.

Dalam sistem tertentu, hasil samping budidaya ikan dapat menjadi bagian dari aliran nutrien untuk tanaman.

Namun ada batas yang tidak boleh dilupakan.

Limbah bukan berarti otomatis menjadi pakan atau pupuk.

Bahan harus dipilah, diolah, dan digunakan dengan metode yang tepat.

Jika tidak, upaya mengurangi limbah justru dapat menghasilkan persoalan baru: bau, penyakit, pencemaran air, atau gangguan kesehatan.

Bisa Dimulai dari Ember 19 Liter

Di sinilah integrated farming menjadi menarik bagi masyarakat perkotaan.

Tidak harus menunggu memiliki sawah atau tanah berhektare-hektare.

Bisa dimulai dari ember 19 liter.

Misalnya:

Ember → ikan → tanaman kangkung → pemanfaatan air secara tepat → tanaman.

Sistem sederhana seperti budidaya lele dan kangkung dapat menjadi sarana belajar tentang hubungan antara ikan, air, tanaman, nutrisi, dan pengelolaan lingkungan.

Setelah memahami dasarnya, sistem dapat berkembang:

1 ember → beberapa ember → kolam kecil → kebun halaman → sistem pertanian terpadu rumah tangga.

Bukan ukuran sistem yang paling penting pada tahap awal.

Yang penting adalah memahami siklusnya.

Dari Ember Menuju Halaman Rumah

Bayangkan sebuah halaman rumah berukuran sekitar 10–20 meter persegi.

Tidak harus dibuat seperti lahan pertanian komersial.

Satu sisi dapat digunakan untuk kolam terpal kecil.

Di sekitarnya terdapat tanaman kangkung, cabai, tomat, terong atau tanaman herbal.

Sudut lain digunakan untuk komposter.

Jika memungkinkan, dapat ditambahkan unit maggot untuk membantu mengolah sebagian bahan organik yang sesuai.

Siklus sederhananya dapat digambarkan:

Sisa organik → maggot/kompos → pakan atau pupuk → ikan/tanaman → pangan → sisa organik.

Tetapi sekali lagi, tidak semua sisa dapur cocok untuk semua organisme.

Pengelolaan menjadi kunci.

Integrated Farming Bukan Sekadar “Banyak-Banyakan Budidaya”

Ini bagian yang sering dilupakan.

Ada kecenderungan ketika mendengar istilah pertanian terpadu, orang langsung membayangkan:

ikan + ayam + kambing + sayuran + buah + maggot + kompos + biogas.

Semua ingin dimasukkan.

Padahal, semakin banyak komponen, semakin kompleks pula pengelolaannya.

Pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Berapa banyak yang bisa saya pelihara?”

Tetapi:

“Apakah setiap komponen benar-benar memiliki hubungan yang bermanfaat dengan komponen lainnya?”

Kalau jawabannya belum jelas, lebih baik jangan dipaksakan.

Mulai dari:

kecil → sederhana → terukur → dievaluasi → dikembangkan.

Ada Manfaat, Ada Tantangan

Integrated farming memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan diversifikasi produksi. Namun, sistem ini bukan solusi ajaib.

Ada sejumlah tantangan yang harus diperhitungkan.

Mulai dari:

  • kualitas air;
  • kualitas tanah;
  • penyakit ikan dan tanaman;
  • pengelolaan limbah;
  • kebutuhan pakan;
  • biaya peralatan;
  • kebutuhan tenaga;
  • ketersediaan air;
  • listrik untuk pompa atau aerator;
  • hingga pemasaran jika hasilnya sudah masuk skala usaha.

FAO juga mengingatkan bahwa sistem seperti aquaponik membutuhkan pengetahuan teknis dan, terutama pada skala lebih besar, modal serta pengelolaan yang cukup serius.

Artinya, pertanian terpadu bukan sekadar membeli peralatan lalu menunggu panen.

Ada ilmu yang harus dipelajari.

Ada kesalahan yang mungkin terjadi.

Dan ada proses evaluasi yang harus dilakukan.

Dari Rumah Menuju Ketahanan Pangan

Satu ember ikan mungkin tidak akan mengubah kondisi pangan sebuah keluarga.

Satu pot kangkung juga tidak akan menyelesaikan persoalan ketahanan pangan.

Tetapi pertanyaannya bukan hanya tentang seberapa besar hasil dari satu rumah.

Bagaimana jika konsep yang sama dilakukan oleh banyak rumah?

Satu keluarga mempunyai sayuran.

Keluarga lain memelihara ikan.

Yang lain membuat kompos.

Sekolah membuat kebun pangan.

Komunitas mengembangkan kolam bersama.

Lalu pengetahuan dan hasilnya saling dibagikan.

Di situlah pertanian terpadu bisa berkembang dari sekadar aktivitas rumah tangga menjadi gerakan komunitas.

FAO telah lama mendokumentasikan integrated agriculture-aquaculture sebagai pendekatan yang menghubungkan produksi pertanian dan perikanan serta pemanfaatan sumber daya secara lebih terpadu.

Pertanian yang Tidak Berjalan Linear

Pada akhirnya, integrated farming mengajak kita melihat pertanian dengan cara berbeda.

Pertanian konvensional sering terlihat seperti garis lurus:

sumber daya → produksi → konsumsi → limbah.

Pertanian terpadu mencoba membuatnya menjadi siklus:

produksi → konsumsi → sisa → pengolahan → pemanfaatan kembali → produksi.

Tidak semua bagian siklus dapat dibuat sempurna.

Tidak semua limbah dapat digunakan kembali.

Tidak semua sistem cocok diterapkan di setiap rumah.

Tetapi semakin baik kita memahami hubungan antarkomponen, semakin besar peluang sumber daya yang ada dimanfaatkan secara efisien.

Dan mungkin, inilah salah satu gagasan penting dari integrated farming:

kita tidak harus memiliki lahan luas untuk mulai bertani.

Kita hanya perlu mulai melihat kembali apa yang ada di sekitar kita.

Satu ember.

Satu rak tanaman.

Satu komposter.

Satu halaman kecil.

Dari sesuatu yang sederhana itu, kita bisa belajar bagaimana ikan, tanaman, tanah, air, manusia, dan lingkungan sebenarnya saling terhubung.

Pertanian terpadu bukan tentang membuat semuanya menjadi besar.

Tetapi tentang membuat sesuatu yang kecil menjadi lebih terhubung, lebih bermanfaat, dan lebih berkelanjutan.

Catatan DaruStation

Bagi lingkungan permukiman, konsep integrated farming menarik untuk dikembangkan bukan hanya sebagai kegiatan bercocok tanam, tetapi juga sebagai edukasi lingkungan, pemanfaatan lahan terbatas, pengurangan sampah organik, dan upaya mengenalkan kembali proses produksi pangan kepada keluarga.

Karena ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas.

Kadang-kadang, ia bisa dimulai dari halaman rumah sendiri.

Mohamad Sobari | Darustation.com

Sumber:

  1. FAO – Integrated Crop-Livestock Systems, Food and Agriculture Organization of the United Nations.
  2. FAO – Integrated Agriculture-Aquaculture: A Primer, FAO Fisheries Technical Paper No. 407.
  3. FAO – Small-scale Aquaponic Food Production: Integrated Fish and Plant Farming, Christopher Somerville dkk., FAO, 2014.
  4. FAO – Aquaponics: Integrated Aquaculture and Hydroponics Systems, Climate-Smart Agriculture Sourcebook.
  5. FAO – Integrated Livestock-Fish Farming Systems, FAO.

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan