Strategi Menjaga Penglihatan Melalui Gaya Hidup Sehat dan Perawatan Mata Alami sebagai Pendamping Terapi Medis
Oleh: Mohamad Sobari
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Mata merupakan salah satu nikmat terbesar yang sering kali baru kita syukuri ketika mulai kehilangan fungsinya. Selama penglihatan masih jelas, kita menganggap membaca, bekerja, mengemudi, beribadah, hingga menikmati pemandangan sebagai sesuatu yang biasa. Namun ketika pandangan mulai kabur, aktivitas sederhana pun berubah menjadi tantangan.
Di Indonesia, persoalan kesehatan mata belum memperoleh perhatian sebesar penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi. Padahal, gangguan penglihatan dapat menurunkan produktivitas, mengurangi kemandirian, bahkan meningkatkan risiko kecelakaan dan depresi pada usia lanjut.
Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan, dan sedikitnya satu miliar kasus sebenarnya dapat dicegah atau belum mendapatkan penanganan yang tepat. Di Indonesia sendiri, katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan, sementara glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan permanen yang paling berbahaya karena sering berkembang tanpa gejala.
Data tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mata bukan sekadar urusan individu, tetapi juga bagian dari investasi kualitas sumber daya manusia.
Mengapa Katarak dan Glaukoma Perlu Dipahami Masyarakat?
Masih banyak masyarakat yang menganggap semua gangguan penglihatan sebagai “mata minus” atau sekadar akibat bertambahnya usia. Padahal, tidak semua mata kabur dapat diselesaikan dengan mengganti kacamata.
Katarak dan glaukoma memiliki penyebab, mekanisme penyakit, hingga penanganan yang sangat berbeda.
Kurangnya literasi kesehatan menyebabkan banyak pasien datang terlambat. Tidak sedikit yang baru mencari pertolongan setelah penglihatan menurun drastis. Padahal, semakin cepat penyakit dikenali, semakin besar peluang mempertahankan fungsi penglihatan.
Inilah mengapa edukasi menjadi kunci utama pencegahan.
Apa Itu Katarak?
Katarak adalah kondisi ketika lensa mata yang normalnya jernih berubah menjadi keruh. Cahaya yang masuk ke mata tidak lagi diteruskan secara optimal ke retina sehingga penglihatan menjadi kabur.
Penyakit ini umumnya berkembang perlahan seiring proses penuaan, meskipun dapat pula dipicu oleh diabetes, cedera mata, paparan sinar ultraviolet, penggunaan obat steroid dalam jangka panjang, maupun faktor bawaan sejak lahir.
Gejala Katarak
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
- Penglihatan berkabut.
- Mata mudah silau.
- Warna terlihat memudar.
- Sulit melihat pada malam hari.
- Sering mengganti ukuran kacamata.
- Melihat cahaya seperti berbayang.
Kabar baiknya, katarak dapat ditangani secara efektif melalui operasi penggantian lensa ketika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
Apa Itu Glaukoma?
Berbeda dengan katarak, glaukoma merupakan penyakit yang merusak saraf optik akibat peningkatan tekanan bola mata atau gangguan aliran darah ke saraf mata.
Kerusakan tersebut bersifat permanen.
Karena perkembangan penyakit sering berlangsung tanpa keluhan berarti, glaukoma dikenal sebagai “The Silent Thief of Sight” atau pencuri penglihatan yang datang secara diam-diam.
Gejala Glaukoma
Pada tahap awal sering tidak ada gejala.
Namun seiring perkembangan penyakit dapat muncul:
- Lapang pandang menyempit.
- Mata terasa nyeri.
- Sakit kepala.
- Mual.
- Muncul lingkaran cahaya di sekitar lampu.
- Penurunan penglihatan secara perlahan.
Inilah sebabnya pemeriksaan tekanan bola mata secara berkala menjadi sangat penting, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun.
Faktor Risiko yang Sering Diabaikan
Penyakit mata tidak muncul begitu saja. Banyak faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami katarak maupun glaukoma, seperti:
- Usia lanjut.
- Riwayat keluarga.
- Diabetes melitus.
- Hipertensi.
- Kolesterol tinggi.
- Kebiasaan merokok.
- Obesitas.
- Paparan sinar ultraviolet.
- Penggunaan steroid jangka panjang.
Sebagian besar faktor tersebut sebenarnya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup.
Gaya Hidup Modern dan Ancaman bagi Mata
Era digital membuat mata bekerja jauh lebih keras dibanding dua dekade lalu.
Bekerja di depan komputer, belajar melalui gawai, hingga menghabiskan waktu di media sosial menyebabkan mata terpapar layar selama berjam-jam setiap hari.
Walaupun layar digital tidak secara langsung menyebabkan katarak maupun glaukoma, kondisi ini meningkatkan risiko digital eye strain, mata kering, serta kelelahan mata.
Karena itu, para ahli menyarankan menerapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit melihat layar, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki (±6 meter) selama 20 detik.
Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi ketegangan otot mata.
Nutrisi Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Mata
Kesehatan mata sangat dipengaruhi oleh pola makan.
Beberapa nutrisi yang terbukti penting bagi mata meliputi:
- Vitamin A.
- Vitamin C.
- Vitamin E.
- Zinc.
- Lutein.
- Zeaxanthin.
- Omega-3.
Sumber makanan terbaik meliputi:
- Bayam.
- Kangkung.
- Brokoli.
- Wortel.
- Jagung.
- Telur.
- Alpukat.
- Jeruk.
- Ikan salmon.
- Tuna.
- Sarden.
- Kacang-kacangan.
Mengonsumsi makanan bergizi secara konsisten jauh lebih bermanfaat dibanding mengandalkan suplemen tanpa indikasi yang jelas.
Perawatan Mata Secara Alami: Antara Harapan dan Fakta Ilmiah
Media sosial dipenuhi berbagai promosi obat herbal yang diklaim mampu menyembuhkan katarak maupun glaukoma.
Sebagai masyarakat yang kritis, kita perlu membedakan antara testimoni dan bukti ilmiah.
Hingga saat ini belum ada penelitian berkualitas tinggi yang membuktikan bahwa ramuan herbal dapat menghilangkan katarak atau memperbaiki kerusakan saraf akibat glaukoma.
Namun demikian, berbagai kebiasaan sehat terbukti membantu menjaga kesehatan mata, seperti:
- Mengonsumsi makanan kaya antioksidan.
- Tidur yang cukup.
- Mengendalikan gula darah.
- Menjaga tekanan darah tetap normal.
- Berolahraga rutin.
- Menghindari rokok.
- Menggunakan kacamata pelindung saat beraktivitas di bawah sinar matahari.
Dengan demikian, perawatan alami berfungsi sebagai pendamping terapi medis, bukan pengganti pemeriksaan atau pengobatan oleh dokter.
Pentingnya Pemeriksaan Mata Rutin
Banyak penyakit mata tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Karena itu, pemeriksaan mata sebaiknya menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Pemeriksaan secara berkala sangat dianjurkan bagi:
- Usia di atas 40 tahun.
- Penderita diabetes.
- Penderita hipertensi.
- Orang dengan riwayat keluarga glaukoma.
- Pengguna steroid jangka panjang.
Deteksi dini dapat menyelamatkan penglihatan sebelum terjadi kerusakan permanen.
Perspektif Islam: Menjaga Amanah Penglihatan
Islam memandang kesehatan sebagai amanah yang harus dijaga.
Allah SWT berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl: 78)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Berobatlah kalian, karena Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Ayat dan hadis tersebut mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar menjaga kesehatan, memanfaatkan ilmu pengetahuan, dan bertawakal kepada Allah SWT.

Catatan Darustation
Persoalan terbesar bangsa ini bukan hanya keterbatasan fasilitas kesehatan, tetapi juga rendahnya budaya pencegahan. Kita lebih sering datang ke rumah sakit ketika penyakit sudah berat daripada menjaga kesehatan sejak dini.
Begitu pula dengan kesehatan mata.
Masih banyak orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar tanpa istirahat, enggan memeriksa mata, atau mudah percaya pada klaim pengobatan instan yang belum terbukti secara ilmiah.
Darustation memandang bahwa literasi kesehatan harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, komunitas, organisasi kemasyarakatan, dan media memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya hidup sehat berbasis ilmu pengetahuan.
Mata bukan hanya alat untuk melihat dunia. Mata adalah sarana belajar, bekerja, beribadah, membaca Al-Qur’an, mengenali keluarga, dan menyaksikan keindahan ciptaan Allah SWT.
Karena itu, menjaga kesehatan mata sesungguhnya adalah bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan.
Jangan menunggu dunia terlihat kabur untuk mulai peduli. Jadikan pemeriksaan mata sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Terapkan pola makan bergizi, olahraga teratur, istirahat yang cukup, dan konsultasikan setiap keluhan kepada tenaga medis.
Sebab penglihatan yang terjaga bukan hanya membuat kita dapat melihat lebih jauh, tetapi juga membantu kita menjalani hidup dengan lebih bermakna. (ds)
Referensi
- World Health Organization (WHO). World Report on Vision (2019).
- World Health Organization. Blindness and Vision Impairment.
- International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB). Vision Atlas.
- American Academy of Ophthalmology (AAO). Preferred Practice Pattern Guidelines.
- National Eye Institute (NIH). Facts About Cataracts dan Facts About Glaucoma.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan.
- Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Materi edukasi kesehatan mata.
