Oleh: Mohamad Sobari – Darustation
“Tidak semua orang yang memusuhi kita melakukannya karena kita pernah berbuat salah. Ada yang memusuhi hanya karena kita sedang bertumbuh. Ada yang membenci hanya karena kita dipercaya. Bahkan ada yang ingin menjatuhkan bukan karena kita lebih buruk, tetapi karena mereka tidak siap melihat kita menjadi lebih baik.”
Kalimat di atas mungkin terasa keras. Namun realitas kehidupan sering kali menunjukkan demikian. Dalam kehidupan bermasyarakat, dunia kerja, organisasi, bahkan lingkungan tempat tinggal, tidak sedikit orang yang menjadi sasaran kebencian tanpa mengetahui apa kesalahannya.
Di beberapa daerah, masyarakat mengenal istilah “tobati”. Sebuah istilah lokal yang menggambarkan perilaku seseorang yang dipenuhi rasa iri, dengki, dan ketidaksenangan terhadap keberhasilan orang lain, sehingga muncul keinginan untuk menjatuhkan, menghalangi, atau merusak nama baiknya.
Istilah ini memang tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan bukan pula istilah dalam khazanah fikih Islam. Namun maknanya sangat dekat dengan apa yang dalam Islam disebut hasad, yaitu penyakit hati yang telah diperingatkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sejak lebih dari 14 abad yang lalu.
Hari ini, penyakit itu masih ada.
Hanya bentuknya yang berubah.
Tobati: Ketika Keberhasilan Orang Lain Menjadi Masalah
Pernahkah Anda melihat seseorang yang awalnya disukai, tetapi setelah memperoleh jabatan atau penghargaan justru mulai dijauhi?
Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang aktif membantu masyarakat, namun tiba-tiba menjadi sasaran gosip dan fitnah?
Atau mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya?
Tidak sedikit orang yang menjadi korban “tobati” bukan karena melakukan kesalahan, tetapi karena keberhasilannya dianggap mengganggu kenyamanan orang lain.
Mereka mulai dicari-cari kesalahannya.
Kebaikannya dianggap pencitraan.
Prestasinya dipandang sebagai ancaman.
Bahkan, setiap ucapannya dipelintir agar terlihat buruk.
Fenomena seperti ini tidak mengenal tempat.
Ia bisa muncul di kantor, sekolah, organisasi, komunitas, media sosial, bahkan di lingkungan RT, RW, atau desa.
Ketika penyakit hati mulai menguasai seseorang, maka fakta tidak lagi penting.
Yang penting adalah bagaimana menjatuhkan orang yang dianggap sebagai pesaing.
Islam Menyebutnya Hasad
Dalam Islam, perilaku seperti ini dikenal sebagai hasad.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang, baik nikmat itu berpindah kepada dirinya maupun tidak.
Artinya, seseorang yang hasad tidak selalu ingin memperoleh apa yang dimiliki orang lain.
Ia hanya ingin orang lain kehilangan nikmat tersebut.
Inilah yang membuat hasad menjadi salah satu penyakit hati yang paling berbahaya.
Hasad tidak melukai tubuh.
Tetapi menghancurkan akhlak.
Hasad tidak merusak bangunan.
Tetapi meruntuhkan persaudaraan.
Hasad tidak terdengar keras.
Namun dampaknya mampu memecah belah sebuah keluarga, organisasi, bahkan masyarakat.
Al-Qur’an Mengingatkan Bahaya Dengki
Allah SWT secara khusus mengajarkan umat Islam agar berlindung dari orang yang memiliki sifat dengki.
“…Dan aku berlindung dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
(QS. Al-Falaq: 5)
Mengapa dengki disebut secara khusus?
Karena hampir semua bentuk permusuhan berawal dari hati yang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain.
Allah SWT juga berfirman:
“Apakah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?”
(QS. An-Nisa’: 54)
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki, ilmu, jabatan, kemampuan, dan kehormatan adalah karunia Allah SWT.
Maka ketika seseorang iri terhadap nikmat yang diterima orang lain, sesungguhnya ia sedang mempertanyakan kebijaksanaan Allah dalam membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya.
Rasulullah SAW Mengingatkan Bahaya Hasad
Rasulullah SAW bersabda:
“Jauhilah sifat hasad, karena hasad memakan amal-amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud No. 4903)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan kebersihan hati sebagai fondasi kehidupan sosial.
Penyakit yang Sudah Ada Sejak Awal Sejarah
Hasad bukan penyakit baru.
Sejak awal sejarah manusia, penyakit ini telah menjadi penyebab berbagai tragedi.
Qabil membunuh Habil karena iri.
Saudara-saudara Nabi Yusuf AS membuang Yusuf ke dalam sumur karena dengki.
Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam AS karena kesombongan dan merasa dirinya lebih baik.
Artinya, banyak kerusakan besar berawal dari satu hal yang sama: hati yang tidak mampu menerima ketetapan Allah.
Tanda-Tanda Tobati Mulai Menguasai Hati
Seseorang mungkin perlu melakukan introspeksi apabila mulai memiliki kebiasaan seperti:
- Sulit mengucapkan selamat atas keberhasilan orang lain.
- Lebih senang membicarakan kekurangan daripada kelebihan seseorang.
- Mudah percaya gosip tanpa melakukan tabayun.
- Merasa tidak nyaman ketika orang lain memperoleh penghargaan.
- Senang ketika orang lain mengalami kegagalan.
- Sibuk membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain.
Jika gejala-gejala tersebut dibiarkan, lambat laun akan berkembang menjadi fitnah, permusuhan, bahkan kezaliman.
Dampak Tobati Tidak Hanya Menimpa Korban
Korban mungkin kehilangan nama baik.
Korban mungkin dijauhi.
Korban mungkin mengalami tekanan psikologis.
Namun kerugian terbesar justru dialami oleh pelaku.
Ia kehilangan ketenangan.
Sulit menikmati nikmat yang dimilikinya sendiri.
Selalu sibuk memikirkan kehidupan orang lain.
Sementara masyarakat juga ikut menjadi korban.
Budaya gotong royong berganti dengan budaya saling menjatuhkan.
Orang-orang baik enggan tampil.
Orang yang jujur takut berbicara.
Dan akhirnya, ruang publik dipenuhi prasangka.
Bagaimana Menghadapi Gangguan Tobati?
Islam mengajarkan agar setiap ujian dihadapi dengan akhlak.
Pertama, perkuat hubungan dengan Allah SWT melalui shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Kedua, bertawakal kepada Allah.
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)
Ketiga, biasakan membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW sebagai bentuk perlindungan dari berbagai keburukan.
Keempat, jangan membalas kebencian dengan kebencian.
Allah SWT berfirman:
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fussilat: 34)
Kelima, lakukan tabayun sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
“…Maka telitilah (tabayun).”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Dan yang tidak kalah penting, tetaplah berkarya.
Jangan biarkan iri hati orang lain menghentikan langkah kita untuk berbuat baik.
Karena karya yang bermanfaat akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Refleksi Darustation
Di era media sosial, “tobati” memiliki ruang yang jauh lebih luas.
Satu komentar dapat memicu kebencian.
Satu unggahan dapat membentuk opini.
Satu fitnah dapat menyebar ke ribuan orang dalam hitungan menit.
Karena itu, menjaga hati menjadi sama pentingnya dengan menjaga lisan dan jari.
Darustation percaya bahwa masyarakat yang maju bukan dibangun oleh orang-orang yang saling menjatuhkan, melainkan oleh mereka yang mampu menghargai keberhasilan sesamanya.
Keberhasilan orang lain bukan ancaman.
Ia adalah bukti bahwa Allah masih membuka pintu rezeki dan kesempatan bagi hamba-Nya.
Kalau hari ini orang lain berhasil, doakan.
Kalau hari ini tetangga lebih maju, ikutlah bersyukur.
Kalau hari ini teman dipercaya memimpin, berikan dukungan dan kritik yang membangun.
Sebab kita tidak pernah tahu, mungkin keberhasilan orang lain adalah doa yang suatu hari nanti akan Allah kabulkan juga untuk kita.

Penutup
Allah SWT memberikan arahan yang sangat sederhana, tetapi penuh makna:
“…Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Allah tidak memerintahkan kita berlomba mencari kesalahan orang lain.
Allah tidak memerintahkan kita berlomba menjatuhkan sesama.
Yang diperintahkan adalah berlomba memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Mari kita bersihkan hati dari hasad, iri, dan dengki. Sebab musuh terbesar bukanlah orang yang lebih sukses daripada kita, melainkan hati yang tidak mampu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
“Orang yang bersyukur akan menikmati hidupnya sendiri. Orang yang hasad akan terus sibuk menghitung nikmat orang lain.”
Mohamad Sobari
Founder & Editor Darustation
🌐 darustation.com
📘 Facebook & Instagram: @darustation
Darustation – Bersama Kita Bisa
