Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Dunia kesehatan terus berkembang dengan menghadirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Salah satu metode terapi yang semakin banyak diperbincangkan adalah Terapi Hiperbarik atau Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT). Di Indonesia, terapi ini mulai dikenal luas, tidak hanya untuk penyelam yang mengalami penyakit dekompresi, tetapi juga sebagai terapi pendukung bagi pasien diabetes, luka kronis, hingga penyintas stroke.
Namun, di balik berbagai testimoni yang beredar di media sosial, muncul pertanyaan penting: benarkah terapi hiperbarik mampu menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk stroke? Ataukah manfaatnya masih sebatas terapi pendamping?
Artikel ini mencoba mengulasnya secara lebih objektif berdasarkan prinsip kedokteran berbasis bukti.
Mengenal Terapi Hiperbarik
Terapi hiperbarik adalah metode pengobatan yang dilakukan di dalam ruang bertekanan tinggi (hyperbaric chamber). Di dalam ruang tersebut, pasien menghirup oksigen murni (100 persen) dengan tekanan udara sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan tekanan udara normal.
Kondisi ini memungkinkan paru-paru menyerap oksigen dalam jumlah jauh lebih besar daripada saat bernapas biasa. Oksigen kemudian larut ke dalam plasma darah sehingga mampu menjangkau jaringan tubuh yang mengalami kekurangan oksigen akibat cedera, infeksi, atau gangguan sirkulasi.
Sederhananya, jika tubuh diibaratkan sebuah kota, maka oksigen adalah “bahan bakar” yang dibutuhkan setiap rumah. Terapi hiperbarik membuat distribusi bahan bakar tersebut menjadi lebih banyak dan menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya sulit mendapat pasokan.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Meningkatnya kadar oksigen di dalam tubuh memberikan berbagai efek biologis yang bermanfaat, antara lain:
- meningkatkan suplai oksigen ke jaringan yang rusak;
- mengurangi pembengkakan dan peradangan;
- membantu pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis);
- mempercepat pembentukan kolagen dan penyembuhan luka;
- meningkatkan kemampuan sel darah putih melawan infeksi;
- mendukung proses regenerasi jaringan.
Karena mekanisme tersebut, terapi hiperbarik lebih tepat disebut sebagai terapi pendukung yang bekerja bersama pengobatan utama, bukan menggantikannya.
Penyakit Apa Saja yang Dapat Dibantu dengan Terapi Hiperbarik?
Berdasarkan berbagai pedoman medis internasional, terapi hiperbarik telah digunakan untuk beberapa kondisi yang manfaatnya telah terbukti, di antaranya:
- Penyakit Dekompresi pada Penyelam
Ini merupakan penggunaan terapi hiperbarik yang paling dikenal. Perubahan tekanan saat menyelam dapat membentuk gelembung nitrogen di dalam tubuh. Terapi hiperbarik membantu mengurangi gelembung tersebut sekaligus memperbaiki suplai oksigen ke jaringan.
- Keracunan Karbon Monoksida
Karbon monoksida dapat menghambat pengangkutan oksigen dalam darah. Dengan terapi hiperbarik, karbon monoksida lebih cepat dilepaskan sehingga tubuh kembali memperoleh pasokan oksigen yang optimal.
- Luka Diabetes yang Sulit Sembuh
Pada penderita diabetes, sirkulasi darah sering terganggu sehingga luka menjadi sulit sembuh. Terapi hiperbarik dapat membantu meningkatkan oksigenasi jaringan dan mempercepat proses penyembuhan pada pasien yang memenuhi indikasi medis.
- Luka Akibat Terapi Radiasi
Sebagian pasien kanker mengalami kerusakan jaringan setelah menjalani radioterapi. Terapi hiperbarik dapat membantu memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan tersebut.
- Infeksi Jaringan Berat
Beberapa infeksi serius, seperti gangren gas, juga dapat memperoleh manfaat karena kadar oksigen tinggi mampu menghambat pertumbuhan bakteri tertentu sekaligus membantu kerja antibiotik.
Terapi Hiperbarik untuk Stroke: Harapan Baru atau Masih Sebatas Penelitian?
Inilah bagian yang paling banyak menarik perhatian masyarakat.
Stroke merupakan penyebab utama kecacatan di dunia. Penyakit ini terjadi ketika aliran darah menuju otak terganggu sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi.
Semakin lama otak tidak mendapatkan oksigen, semakin besar kerusakan yang terjadi. Karena itu muncul gagasan bahwa meningkatkan pasokan oksigen melalui terapi hiperbarik mungkin dapat membantu proses pemulihan.
Secara teori, konsep tersebut memang masuk akal.
Dengan meningkatkan kadar oksigen dalam darah, jaringan otak yang masih hidup tetapi mengalami gangguan fungsi (penumbra) diharapkan dapat bekerja lebih baik dan mendukung proses penyembuhan.
Apa Potensi Manfaatnya?
Beberapa penelitian melaporkan bahwa terapi hiperbarik dapat membantu sebagian pasien stroke, terutama pada fase rehabilitasi.
Manfaat yang sedang diteliti antara lain:
- meningkatkan suplai oksigen ke jaringan otak;
- mengurangi proses peradangan;
- merangsang pembentukan pembuluh darah baru;
- membantu proses neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk hubungan baru antar sel saraf;
- memperbaiki fungsi gerak, keseimbangan, kemampuan berbicara, hingga fungsi kognitif pada sebagian pasien.
Meski demikian, hasil tersebut tidak selalu sama pada setiap penelitian.
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia pasien, jenis stroke, luas kerusakan otak, waktu dimulainya terapi, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Mengapa Belum Menjadi Terapi Standar?
Inilah yang perlu dipahami masyarakat.
Walaupun beberapa penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, hingga saat ini bukti ilmiahnya masih belum cukup kuat untuk menjadikan terapi hiperbarik sebagai terapi standar bagi semua pasien stroke.
Sebagian penelitian menunjukkan adanya perbaikan fungsi, sementara penelitian lain menemukan manfaat yang terbatas. Oleh karena itu, pedoman penanganan stroke masih menempatkan terapi hiperbarik sebagai terapi pelengkap, bukan terapi utama.
Dengan kata lain, terapi hiperbarik tidak dapat menggantikan penanganan stroke akut, seperti pemberian obat penghancur bekuan darah, tindakan kateterisasi pembuluh darah, maupun rehabilitasi medis yang telah terbukti efektif.
Rehabilitasi Tetap Menjadi Kunci
Kesembuhan penyintas stroke sangat bergantung pada proses rehabilitasi yang dilakukan secara konsisten.
Program rehabilitasi biasanya meliputi:
- fisioterapi untuk melatih kekuatan otot dan keseimbangan;
- terapi okupasi agar pasien kembali mandiri menjalankan aktivitas sehari-hari;
- terapi wicara bila mengalami gangguan bicara atau menelan;
- pengendalian tekanan darah, diabetes, kolesterol, dan penyakit jantung;
- pola makan sehat, olahraga sesuai kemampuan, serta berhenti merokok.
Apabila dokter menilai terapi hiperbarik sesuai dengan kondisi pasien, terapi tersebut dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi yang terintegrasi.
Apakah Aman?
Secara umum, terapi hiperbarik tergolong aman apabila dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang memiliki peralatan lengkap dan diawasi tenaga medis yang terlatih.
Efek samping yang mungkin muncul antara lain:
- telinga terasa penuh seperti saat berada di dalam pesawat;
- nyeri sinus;
- penglihatan menjadi sedikit kabur sementara;
- rasa lelah setelah terapi.
Komplikasi berat relatif jarang terjadi, tetapi tetap mungkin muncul apabila terapi dilakukan tanpa indikasi yang tepat.
Jangan Mudah Percaya Klaim Berlebihan
Di era media sosial, berbagai testimoni sering menyebut terapi hiperbarik mampu menyembuhkan hampir semua penyakit, mulai dari stroke, autisme, Alzheimer, Parkinson, hingga penuaan.
Sebagai masyarakat yang semakin melek informasi, kita perlu menyikapinya secara bijak.
Tidak semua testimoni merupakan bukti ilmiah. Dalam dunia kedokteran, suatu terapi harus melalui penelitian yang ketat sebelum dapat direkomendasikan sebagai terapi standar.
Harapan tentu boleh, tetapi keputusan medis tetap harus didasarkan pada konsultasi dengan dokter dan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan
Terapi hiperbarik merupakan salah satu inovasi medis yang telah terbukti bermanfaat untuk beberapa kondisi, seperti penyakit dekompresi, keracunan karbon monoksida, luka diabetes yang sulit sembuh, infeksi jaringan tertentu, serta kerusakan jaringan akibat terapi radiasi.
Dalam penanganan stroke, terapi hiperbarik menawarkan harapan baru sebagai bagian dari rehabilitasi karena berpotensi meningkatkan suplai oksigen ke jaringan otak dan mendukung proses pemulihan. Namun, hingga kini terapi tersebut belum menjadi terapi standar karena bukti ilmiahnya masih terus berkembang.
Bagi penyintas stroke, langkah terbaik tetaplah mendapatkan penanganan secepat mungkin ketika gejala muncul, menjalani rehabilitasi secara konsisten, mengendalikan faktor risiko, dan mengikuti anjuran dokter. Terapi hiperbarik dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping bila memang direkomendasikan oleh tenaga medis.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi kesehatan patut diapresiasi, tetapi masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak ada satu terapi yang mampu menjadi solusi bagi semua penyakit. Literasi kesehatan yang baik akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijak, aman, dan berdasarkan bukti ilmiah.
Sumber Referensi:
- Undersea & Hyperbaric Medical Society (UHMS)
- World Health Organization (WHO)
- American Heart Association (AHA)
- American Stroke Association (ASA)
- Mayo Clinic – Hyperbaric Oxygen Therapy
- National Institutes of Health (NIH)
