Lingkungan

Jalan yang Baru Datang, Tetangga yang Pergi

Jalan baru datang.
Tetapi beberapa tetangga justru pergi.

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation

Mereka tidak membawa rumahnya. Tidak membawa hartanya. Tidak membawa jabatan, kekuasaan, ataupun nama besar yang pernah mereka miliki.

Mereka pergi meninggalkan semuanya.

Jasad mereka kembali ke bumi.

Tanah yang setiap hari kita pijak, mungkin suatu hari menjadi tempat terakhir bagi tubuh kita. Rumah yang selama ini kita banggakan akan ditempati orang lain. Kendaraan akan berpindah tangan. Jabatan akan berganti. Kekuasaan akan berakhir.

Tetapi anehnya, ketika melihat semua itu, manusia masih sering merasa seolah-olah akan hidup selamanya.

Sebuah jalan baru mungkin dianggap sebagai tanda kemajuan. Kendaraan menjadi lebih mudah keluar masuk. Rumah-rumah semakin terhubung. Lingkungan terlihat semakin berkembang.

Namun pembangunan sebuah jalan seharusnya membuat kita bertanya lebih jauh:

Apakah yang berubah hanya jalannya, atau juga cara kita memperlakukan sesama?

Sebab jalan yang mulus tidak otomatis membuat kehidupan masyarakat menjadi mulus.

Aspal bisa diperbaiki. Saluran air bisa dibangun. Rumah bisa direnovasi.

Tetapi hati manusia jauh lebih sulit diperbaiki ketika sudah terbiasa dengan kebohongan, kepentingan dan kesewenang-wenangan.

Ketika Orang Berilmu Memilih Diam

Lebih menyedihkan ketika orang-orang yang sejak dahulu dikenal memiliki ilmu agama melihat berbagai persoalan di sekitarnya, tetapi akhirnya memilih diam.

Mungkin mereka punya alasan.

Mungkin ingin menjaga hubungan. Mungkin tidak ingin terlibat konflik. Mungkin merasa tidak memiliki kewenangan.

Kita tidak berhak menghakimi isi hati mereka.

Tetapi tetap ada pertanyaan yang layak direnungkan:

Jika orang yang mengetahui kebenaran terus diam ketika melihat ketidakadilan, siapa yang akan mengingatkan ketika kebenaran mulai kehilangan tempat?

Al-Qur’an justru memerintahkan orang beriman untuk berdiri teguh dalam keadilan dan menjadi saksi karena Allah, bahkan ketika kebenaran itu berhadapan dengan diri sendiri, keluarga, orang kaya ataupun orang miskin. QS. An-Nisa’ 4:135 menjadi pengingat bahwa keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi.

Agama bukan hanya tentang berbicara di mimbar.

Agama juga berbicara tentang amanah, kejujuran, keadilan dan keberanian menjaga kebenaran.

Jangan Mudah Menuduh Munafik

Kita juga perlu berhati-hati menggunakan kata munafik.

Al-Qur’an memang membahas karakter orang-orang munafik secara tegas. Dalam QS. Al-Munafiqun 63:1, kemunafikan dikaitkan dengan ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kebohongan.

Namun ayat tersebut bukan alasan bagi kita untuk dengan mudah menunjuk seseorang lalu berkata, “Dia munafik.”

Isi hati manusia adalah urusan Allah.

Yang dapat kita kritik adalah perilaku yang nyata: kebohongan, ketidakjujuran, pengkhianatan amanah, manipulasi, atau tindakan yang merugikan hak orang lain.

Dengan demikian, kritik tetap tajam, tetapi tidak berubah menjadi fitnah.

Begitu pula dengan istilah zalim.

Kezaliman sebaiknya dibicarakan berdasarkan tindakan yang dapat dilihat dan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar karena kita tidak menyukai seseorang.

Allah berfirman dalam QS. An-Nahl 16:90 bahwa Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan serta melarang perbuatan buruk dan al-baghy, yang mencakup tindakan melampaui batas dan penindasan.

Maka ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi dan hak masyarakat diabaikan, pertanyaan tentang keadilan memang layak diajukan.

Kekuasaan Bukan Bukti Kebenaran

Kekuasaan memang membuat seseorang memiliki kewenangan.

Tetapi kewenangan tidak otomatis membuat seseorang benar.

Jabatan dapat membuat orang lain menghormati kita.

Tetapi jabatan tidak otomatis membuat kita menjadi orang yang amanah.

Bahkan semakin besar kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Hari ini seseorang mungkin berada di atas.

Besok belum tentu.

Hari ini seseorang dapat menentukan keputusan.

Besok mungkin dirinya sendiri yang harus menerima keputusan orang lain.

Dan pada akhirnya, semua akan sampai pada tempat yang sama:

tanah.

Tetangga yang dulu kita lihat setiap hari mungkin sekarang hanya tinggal nama.

Rumahnya masih ada.

Pohonnya mungkin masih tumbuh.

Jalannya mungkin bahkan sudah berubah menjadi lebih bagus.

Tetapi orangnya sudah tidak ada.

Ini seharusnya menjadi pelajaran yang sangat dalam.

Untuk apa mengejar kekuasaan dengan mengorbankan persaudaraan?
Untuk apa mempertahankan kepentingan dengan mengabaikan hak orang lain?
Untuk apa menang dalam urusan dunia jika akhirnya meninggalkan luka kepada sesama?

Jalan Baru, Pelajaran Lama

Jalan baru akan terus datang.

Generasi baru akan tumbuh.

Tetangga baru akan berdatangan.

Sebagian dari kita akan pergi lebih dahulu.

Yang tersisa bukan sekadar bangunan dan jalan.

Yang tersisa adalah jejak perilaku kita di tengah masyarakat.

Mungkin suatu hari orang tidak lagi mengingat berapa luas rumah kita.

Tidak mengingat kendaraan apa yang kita gunakan.

Tidak mengingat jabatan apa yang pernah kita pegang.

Tetapi mereka akan mengingat:

Apakah kita pernah berlaku adil?
Apakah kita pernah membantu?
Apakah kita pernah membela orang yang haknya terabaikan?
Apakah kita pernah menggunakan kekuasaan dengan amanah?

Dan mungkin, ketika jasad kita akhirnya kembali ke bumi, tidak ada lagi jabatan yang bisa kita banggakan.

Tidak ada lagi kekuasaan yang dapat kita gunakan.

Yang ada hanyalah pertanggungjawaban atas apa yang pernah kita lakukan.

Jangan Sampai Jalan Berubah, Tetapi Hati Tidak

Jalan baru boleh dibangun.

Lingkungan boleh berubah.

Orang-orang boleh datang dan pergi.

Tetapi satu hal jangan sampai ikut hilang:

nurani.

Sebab ketika jalan semakin bagus tetapi kejujuran semakin buruk, kita sebenarnya belum mengalami kemajuan yang utuh.

Kita hanya sedang memperindah jalan di atas tanah, sementara jalan menuju kebenaran justru semakin kita tinggalkan.

Dan ketika orang-orang berilmu akhirnya memilih diam, sementara mereka yang memegang kekuasaan bertindak tanpa keadilan, masyarakat membutuhkan satu hal yang sederhana:

keberanian untuk tetap jujur, tetap adil, dan tetap menjaga hati.

Bukan keberanian untuk mencaci.

Bukan keberanian untuk memfitnah.

Bukan pula keberanian untuk membalas kezaliman dengan kezaliman.

Tetapi keberanian untuk berkata benar berdasarkan fakta.

Sebab Al-Qur’an tidak mengajarkan kita membalas keburukan dengan keburukan. Ia justru mengingatkan agar keadilan tetap ditegakkan.

Pada akhirnya, bukan jalan yang akan ditanya.

Bukan jabatan.

Bukan kekuasaan.

Bukan banyaknya harta.

Melainkan:

apa yang telah kita lakukan ketika diberi kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama.

Jalan itu mungkin baru datang.

Tetapi kematian sudah lebih dahulu mengingatkan:

Kita semua sedang dalam perjalanan pulang.

Sumber dan Rujukan

  1. Al-Qur’an, QS. An-Nisa’ 4:135 — perintah menegakkan keadilan dan menjadi saksi karena Allah.
  2. Al-Qur’an, QS. An-Nahl 16:90 — perintah berlaku adil dan berbuat baik serta larangan terhadap kemungkaran dan penindasan.
  3. Al-Qur’an, QS. Al-Munafiqun 63:1–4 — penjelasan Al-Qur’an mengenai karakter orang-orang munafik dan ketidaksesuaian antara ucapan dan kenyataan.

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan