Kajian Islam

Meraih Rida Allah SWT, Menjauhi Kezaliman, dan Memohon Ampunan-Nya

Qiyamul Lail bukan sekadar bangun pada malam hari untuk beribadah. Lebih dari itu, ia menjadi momentum untuk meluruskan niat, mengoreksi diri, menjauhi kezaliman, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Sebab, kedekatan kepada Allah semestinya mendorong kita menjadi manusia yang lebih jujur, amanah, dan menghormati hak sesama.

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation.com

Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri setelah melaksanakan Qiyamul Lail: apakah ibadah yang kita lakukan sudah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?

Kita mungkin sanggup bangun pada malam hari, berdiri dalam salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan meneteskan air mata ketika berdoa. Namun, bagaimana ketika pagi tiba? Apakah kita masih mudah merendahkan orang lain? Apakah kita masih mengabaikan amanah? Apakah kita berani mengakui kesalahan, atau justru sibuk mencari pembenaran?

Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Justru sebaliknya, ini adalah undangan untuk bercermin.

Dalam kajian Qiyamul Lail, H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc., MA., Ketua Bidang Sosial & Pemberdayaan Umat, menyampaikan pesan penting tentang keikhlasan, rida Allah SWT, larangan berbuat zalim, dan luasnya ampunan Allah bagi hamba-Nya yang bertobat.

Pesan tersebut relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Sebab, ibadah bukan hanya urusan hubungan manusia dengan Allah, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.

  1. Kehadiran Kita di Masjid Adalah Nikmat Allah

Kehadiran dalam kegiatan ibadah bukan semata-mata karena kemampuan kita sendiri. Kesehatan, kesempatan, kekuatan, dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Ada yang ingin beribadah tetapi sedang sakit. Ada yang memiliki waktu terbatas karena tanggung jawab keluarga. Ada pula yang masih berjuang menemukan ketenangan dan kekuatan untuk kembali mendekat kepada Allah.

Karena itu, ketika Allah memberikan kesempatan untuk melaksanakan Qiyamul Lail, sepatutnya kita bersyukur, bukan merasa lebih baik daripada orang lain.

Namun, ada satu hal yang lebih penting untuk direnungkan: untuk apa kita hadir dan apa yang sebenarnya kita cari?

Apakah kita datang karena ingin mendapatkan pujian? Apakah karena ingin dihormati? Ataukah karena benar-benar ingin beribadah dan mengharapkan rida Allah SWT?

Jawaban atas pertanyaan tersebut harus kita temukan melalui muhasabah diri.

Allah mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi. Kita mungkin dapat membangun citra baik di hadapan manusia, tetapi tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Oleh karena itu, jangan menjadikan kehadiran di masjid sebagai ukuran tunggal kesalehan seseorang. Jadikanlah kesempatan tersebut sebagai jalan untuk memperbaiki diri.

  1. Meluruskan Niat dan Mengikuti Tuntunan Rasulullah

Dalam beribadah, ada dua hal mendasar yang harus diperhatikan: niat yang ikhlas dan cara pelaksanaan yang benar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Keikhlasan berarti menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam beribadah, bukan mencari pujian, popularitas, atau penghormatan manusia.

Akan tetapi, niat yang baik juga perlu disertai cara yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.

Artinya, kita tidak cukup hanya berkata bahwa semua yang dilakukan bertujuan baik. Kita juga perlu memastikan bahwa tindakan tersebut benar dan tidak melanggar ketentuan agama maupun hak orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan dengan sederhana.

Ketika membantu orang lain, lakukanlah dengan niat yang tulus. Ketika memegang amanah, tunaikanlah dengan jujur. Ketika diberi tanggung jawab, jalankanlah dengan sebaik-baiknya. Ketika melakukan kesalahan, jangan berlindung di balik alasan bahwa niat kita sebenarnya baik.

Niat yang ikhlas harus berjalan bersama tanggung jawab.

Sebab, kebaikan tidak hanya diukur dari apa yang kita maksudkan, tetapi juga dari kesungguhan kita menjalankan kewajiban dan menghindari kerugian bagi orang lain.

  1. Kezaliman: Ketika Hak Orang Lain Diabaikan

Salah satu pesan terpenting dalam kajian ini adalah larangan berbuat zalim.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Allah SWT menyampaikan bahwa Dia mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan melarang manusia saling menzalimi.

Pesannya tegas: janganlah kita menzalimi sesama.

Kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan fisik atau perampasan harta. Dalam kehidupan sehari-hari, kezaliman juga dapat muncul ketika seseorang mengabaikan hak orang lain, mengingkari janji, menyalahgunakan kepercayaan, menyebarkan tuduhan tanpa dasar, atau menggunakan kedudukan untuk kepentingan pribadi dengan merugikan pihak lain.

Dalam hubungan keluarga, kezaliman dapat terjadi ketika seseorang mengabaikan tanggung jawabnya.

Dalam lingkungan kerja, kezaliman dapat muncul ketika amanah tidak ditunaikan atau hak seseorang tidak dihormati.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kezaliman bisa terjadi ketika keputusan diambil tanpa mempertimbangkan hak dan kepentingan pihak yang terdampak.

Bahkan dalam perkara yang tampak sederhana, seperti membuang sampah sembarangan, seseorang dapat merugikan orang lain dan lingkungan karena tidak memedulikan hak bersama.

Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 13 bahwa mempersekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kezaliman merupakan persoalan serius, baik dalam hubungan manusia dengan Allah maupun dalam kehidupan sosial.

Maka, jangan sampai kita rajin beribadah pada malam hari, tetapi pada siang hari mengabaikan hak sesama.

Jangan sampai kita rajin berzikir, tetapi tidak jujur dalam perkataan.

Jangan sampai kita sering memohon ampun, tetapi enggan memperbaiki kesalahan yang merugikan orang lain.

Kesalehan tidak semestinya membuat seseorang merasa lebih tinggi. Sebaliknya, kesalehan seharusnya mendorongnya semakin rendah hati, adil, dan bertanggung jawab.

  1. Semua yang Kita Miliki Adalah Amanah

Manusia sering merasa bangga ketika memiliki harta, jabatan, pengalaman, pengetahuan, atau pengaruh di tengah masyarakat.

Semua itu dapat menjadi nikmat. Namun, nikmat juga merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Kita tidak membawa harta ketika lahir. Kita juga tidak dapat memastikan bahwa kesehatan, jabatan, dan kesempatan yang dimiliki hari ini akan terus bertahan.

Apa yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan. Karena itu, tidak ada alasan untuk menyombongkan diri atau memperlakukan orang lain seolah-olah mereka tidak memiliki nilai.

Dalam hadis qudsi riwayat Muslim, Allah SWT mengingatkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk, rezeki, pakaian, dan ampunan dari-Nya.

Pesan ini mengajarkan kita untuk menyadari keterbatasan diri.

Ketika mendapatkan rezeki, bersyukurlah. Ketika memperoleh kedudukan, gunakanlah untuk kebaikan. Ketika dipercaya memegang amanah, tunaikanlah dengan benar.

Jangan sampai kelebihan yang diberikan Allah justru menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Terlebih lagi, jangan menggunakan alasan membela kepentingan bersama untuk membenarkan tindakan yang mengabaikan hak seseorang. Kepentingan bersama memang penting, tetapi harus diperjuangkan melalui cara yang adil, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kita perlu mengingat bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.

  1. Jangan Berputus Asa dari Ampunan Allah

Manusia tidak luput dari kesalahan. Ada kesalahan yang kita sadari, ada pula yang baru kita pahami setelah mendapatkan nasihat atau melihat dampaknya terhadap orang lain.

Karena itu, jangan pernah merasa bahwa diri kita sudah sempurna.

Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Ayat ini memberikan harapan bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya.

Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, seseorang tidak boleh menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Selama masih hidup, kesempatan untuk bertobat harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.

Namun, jangan pula salah memahami luasnya ampunan Allah sebagai izin untuk terus melakukan dosa.

Tobat yang sungguh-sungguh menuntut penyesalan, berhenti dari perbuatan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, kita perlu berusaha mengembalikan hak tersebut, memperbaiki kerugian, atau meminta maaf kepada pihak yang dirugikan sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita.

Memohon ampun kepada Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban memperbaiki kerusakan yang telah kita timbulkan.

Dalam perkara syirik, QS. An-Nisa ayat 48 memberikan peringatan tegas mengenai dosa mempersekutukan Allah bagi orang yang meninggal tanpa bertobat darinya. Adapun orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh sebelum meninggal dunia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Pesannya jelas: jangan menunda pertobatan.

Kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan.

  1. Qiyamul Lail Adalah Momentum Muhasabah

Mengapa kita membutuhkan waktu khusus untuk beribadah pada malam hari?

Salah satu hikmahnya adalah kesempatan untuk menenangkan diri, memperbanyak doa, dan melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup.

Dalam keheningan malam, kita dapat bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah salat kita sudah terjaga dengan baik?
  • Apakah kita sudah menunaikan amanah?
  • Apakah ada hak orang lain yang belum kita penuhi?
  • Apakah perkataan kita pernah melukai hati seseorang?
  • Apakah kita sudah meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan?
  • Apakah kita menggunakan rezeki dan kemampuan untuk memberikan manfaat?
  • Apakah kita lebih sibuk memperbaiki diri atau mencari kesalahan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab di hadapan banyak orang. Cukup kita jawab dengan jujur di hadapan Allah dan diri sendiri.

Muhasabah bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri. Muhasabah adalah keberanian untuk mengakui kekurangan, mengambil pelajaran, dan memperbaiki langkah.

Rasulullah SAW dikenal memperbanyak istigfar dan bertobat kepada Allah. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, beliau menyampaikan bahwa beliau bertobat kepada Allah seratus kali dalam sehari.

Jika Rasulullah SAW saja memperbanyak istigfar, kita yang penuh kekurangan tentu memiliki alasan kuat untuk terus memohon ampun dan memperbaiki diri.

Jangan hanya menghitung kesalahan orang lain. Hitung pula kesalahan sendiri.

Jangan hanya menuntut orang lain berlaku adil. Periksa apakah kita sendiri sudah berlaku adil.

Jangan hanya meminta orang lain menepati janji. Pastikan kita juga berusaha menepati janji.

Inilah salah satu pelajaran penting dari muhasabah: perubahan dimulai dari kesediaan melihat diri sendiri secara jujur.

  1. Ukuran Ibadah Bukan Sekadar Kehadiran

Menghadiri kajian, membaca Al-Qur’an, mengikuti Qiyamul Lail, dan memperbanyak zikir merupakan kegiatan yang bernilai dalam kehidupan seorang muslim.

Namun, jangan berhenti pada jumlah kegiatan yang kita ikuti.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Apakah kita semakin amanah?

Apakah kita lebih berhati-hati dalam berbicara?

Apakah kita semakin menghormati hak sesama?

Apakah kita lebih bersedia menerima nasihat?

Apakah kita mampu mengakui kesalahan tanpa selalu menyalahkan keadaan atau orang lain?

Tentu, manusia tidak langsung menjadi sempurna setelah mengikuti satu kajian. Perubahan membutuhkan proses, kesungguhan, dan pertolongan Allah.

Namun, setiap ibadah semestinya menjadi kesempatan untuk melangkah menuju kebaikan.

Kita tidak berhak memastikan bagaimana Allah menilai ibadah seseorang. Penilaian akhir adalah milik-Nya. Tugas kita adalah terus memperbaiki niat, menjaga ibadah, dan membangun akhlak yang baik.

Jangan sampai kegiatan keagamaan hanya menjadi rutinitas, sementara perilaku kita tidak mengalami perbaikan.

Ibadah bukan sekadar sesuatu yang kita lakukan di hadapan Allah, tetapi juga harus mendorong kita memperlakukan ciptaan-Nya dengan lebih baik.

Penutup: Setelah Malam Berlalu, Apa yang Berubah?

Kajian Qiyamul Lail yang disampaikan H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc., MA., mengingatkan kita tentang tiga hal mendasar dalam kehidupan seorang muslim.

Pertama, meraih rida Allah SWT dengan meluruskan niat dan mengikuti tuntunan-Nya. Beribadah bukan untuk membangun citra di hadapan manusia, melainkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Kedua, menjauhi kezaliman dengan menjaga amanah dan menghormati hak sesama. Kesalehan tidak cukup ditampilkan melalui aktivitas ibadah, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku yang adil dan bertanggung jawab.

Ketiga, memohon ampun kepada Allah dan membuktikan kesungguhan tobat melalui perubahan nyata. Jangan berputus asa dari rahmat-Nya, tetapi jangan pula meremehkan kesalahan yang harus diperbaiki.

Pada akhirnya, kita tidak perlu sibuk membuktikan bahwa diri kita paling saleh. Lebih baik kita terus belajar menjadi pribadi yang lebih jujur, amanah, rendah hati, dan bermanfaat.

Ketika malam berakhir dan kita kembali menjalani aktivitas sehari-hari, di situlah pelajaran Qiyamul Lail diuji.

Apakah kita mampu menjaga lisan? Apakah kita menunaikan amanah? Apakah kita menghormati hak orang lain? Apakah kita bersedia meminta maaf ketika bersalah?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu layak terus kita bawa dalam kehidupan.

Sebab, meraih rida Allah bukan hanya tentang seberapa khusyuk kita berdoa pada malam hari, tetapi juga tentang kesungguhan kita menjalani kehidupan dengan iman, kejujuran, keadilan, dan kepedulian.

Semoga Allah SWT menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, menjauhkan kita dari segala bentuk kezaliman, dan membimbing kita menjadi hamba yang membawa manfaat bagi sesama.

Sudahkah ibadah kita membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tindakan kita? Mari jadikan pertanyaan ini sebagai bahan muhasabah, bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk memperbaiki diri sendiri.

Penulis: Mohamad Sobari
Media: Darustation.com
Tagline: Bersama Kita Bisa

Referensi

  1. Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabut ayat 45 — Salat dan pencegahan perbuatan keji serta mungkar.
  2. Al-Qur’an, QS. Luqman ayat 13 — Syirik sebagai kezaliman yang besar.
  3. Al-Qur’an, QS. Az-Zumar ayat 53 — Larangan berputus asa dari rahmat Allah.
  4. Al-Qur’an, QS. An-Nisa ayat 48 — Peringatan tentang dosa syirik.
  5. Hadis tentang niat, riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
  6. Hadis qudsi tentang larangan berbuat zalim dan kebutuhan manusia kepada Allah, HR. Muslim No. 2577.

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan