Keselamatan di jalur kereta api kembali menjadi perhatian serius setelah Pemerintah Kabupaten Tangerang melakukan pemetaan terhadap 28 perlintasan sebidang di jalur KRL Green Line rute Tanah Abang–Rangkasbitung. Dari total tersebut, sebanyak 11 titik diketahui masih belum memiliki palang pintu maupun pos penjagaan resmi.
Kondisi ini tentu cukup mengkhawatirkan. Jalur Green Line merupakan salah satu lintasan commuter paling sibuk di wilayah Jabodetabek. Setiap hari ribuan penumpang KRL melintas bersamaan dengan padatnya kendaraan masyarakat yang beraktivitas di sekitar rel kereta.
Perlintasan sebidang sendiri merupakan titik pertemuan langsung antara jalur kereta api dan jalan raya dalam satu bidang yang sama. Jika tidak dilengkapi sistem pengamanan yang memadai, lokasi seperti ini sangat rawan menimbulkan kecelakaan.
28 Perlintasan Sebidang Dipetakan
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Dinas Perhubungan, terdapat 28 titik perlintasan sebidang di jalur Green Line wilayah Kabupaten Tangerang. Dari jumlah tersebut:
- 15 titik sudah memiliki penjagaan dan palang pintu,
- 11 titik belum memiliki palang pintu maupun pos penjagaan,
- 2 titik telah ditutup karena dinilai berisiko tinggi.
Langkah pemetaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan keselamatan transportasi di wilayah Kabupaten Tangerang, terutama setelah meningkatnya perhatian nasional terhadap kecelakaan di perlintasan kereta.
Pemerintah daerah mulai menaruh perhatian lebih serius terhadap titik-titik rawan yang selama ini menjadi jalur aktivitas warga.
11 Titik yang Dinilai Belum Aman
Hingga kini pemerintah memang belum merilis secara rinci seluruh nama dari 11 titik tanpa palang pintu tersebut. Namun beberapa kawasan yang masuk perhatian dan evaluasi keselamatan antara lain berada di:
- Kampung Parigi,
- Cibelut,
- Cisauk Sinyal,
- Kampung Kandang,
- Jatake,
- Terusan Stasiun Tigaraksa – Cikoya,
- Kampung Gabus,
- serta sejumlah lintasan warga lainnya di jalur Green Line Kabupaten Tangerang.
Beberapa titik tersebut bahkan sudah masuk dalam daftar usulan peningkatan keselamatan dan perbaikan PT KAI.
Bupati Moch Maesyal Rasyid menyampaikan bahwa sebagian lokasi memang sudah dijaga oleh petugas gabungan maupun swadaya masyarakat. Namun pengamanan berbasis sukarela dinilai belum cukup menjadi solusi permanen.
Di lapangan, banyak pengendara masih nekat menerobos rel meski kereta sudah mendekat. Tidak sedikit pula masyarakat yang kurang disiplin ketika melintasi rel kereta.
Kondisi inilah yang membuat keberadaan palang pintu, alarm peringatan, dan petugas penjaga menjadi sangat penting.

Perlintasan Tanpa Palang Sangat Berbahaya
Banyak kecelakaan di Indonesia terjadi akibat minimnya fasilitas keselamatan dan rendahnya disiplin pengguna jalan.
Di media sosial, masyarakat sering menyoroti masih banyaknya pengendara yang menerobos rel saat sinyal kereta sudah aktif. Bahkan beberapa kejadian viral memperlihatkan kendaraan tetap memaksa melintas ketika kereta hampir tiba.
Masalah ini menjadi semakin serius karena volume perjalanan KRL Green Line terus meningkat dari tahun ke tahun. Jalur Rangkasbitung kini menjadi salah satu jalur utama mobilitas pekerja dan pelajar menuju Jakarta.
Karena itu, pembangunan fasilitas keselamatan tidak bisa lagi ditunda.
Peran Serta Masyarakat Sangat Dibutuhkan
Darustation memandang bahwa peningkatan keselamatan di perlintasan kereta tidak bisa hanya bergantung kepada pemerintah maupun PT KAI semata. Peran aktif masyarakat juga sangat penting dalam mendorong percepatan pembangunan fasilitas keselamatan di titik-titik rawan.
Salah satu contoh nyata datang dari Daru Station Community atau DSC di wilayah Desa Daru, Kabupaten Tangerang.
Pada tahun 2020, DSC bersama masyarakat sekitar mulai aktif mengusulkan pembangunan palang pintu di perlintasan sebidang Desa Daru yang selama bertahun-tahun dinilai rawan dan padat aktivitas warga. Aspirasi tersebut disampaikan kepada berbagai pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, hingga PT KAI.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Desember 2021, perlintasan sebidang Desa Daru resmi mendapatkan fasilitas palang pintu. Peresmian tersebut bahkan ditandai langsung oleh Bupati Moch Maesyal Rasyid melalui penandatanganan prasasti peresmian.
Selanjutnya pada Januari 2022, Bupati Tangerang juga datang langsung ke lokasi pintu perlintasan sebidang Desa Daru untuk melihat kondisi lapangan sekaligus memastikan fungsi pengamanan berjalan dengan baik.
Kisah Desa Daru menunjukkan bahwa aspirasi masyarakat ternyata bisa menjadi kekuatan penting dalam mendorong perubahan nyata. Ketika warga aktif menyampaikan usulan, mengawal proses, dan membangun komunikasi dengan pemerintah, pembangunan keselamatan publik dapat lebih cepat terealisasi.
Darustation menilai langkah DSC tersebut dapat menjadi contoh positif bagi wilayah lain di Kabupaten Tangerang, khususnya di 11 titik yang saat ini masih belum aman.

Saran dan Pendapat Darustation
Darustation memandang bahwa persoalan perlintasan sebidang di Kabupaten Tangerang harus ditangani melalui pendekatan jangka pendek dan jangka panjang sekaligus.
Untuk jangka pendek, pemerintah daerah bersama PT KAI dan Dinas Perhubungan perlu segera:
- memasang rambu peringatan tambahan,
- menempatkan petugas jaga sementara,
- memperbaiki penerangan jalan di sekitar rel,
- serta memasang alarm otomatis sederhana di titik-titik rawan.
Sedangkan untuk jangka panjang, pemerintah perlu mulai memikirkan:
- pembangunan flyover atau underpass,
- integrasi CCTV dan sensor kereta,
- digital warning system,
- hingga penutupan perlintasan liar yang sangat berbahaya.
Darustation juga menilai edukasi keselamatan harus dilakukan secara konsisten melalui sekolah, komunitas warga, media sosial, hingga lingkungan RT/RW.
Selain itu, pembangunan palang pintu jangan hanya diprioritaskan berdasarkan viral atau tidaknya sebuah lokasi di media sosial. Wilayah padat penduduk dengan mobilitas tinggi harus menjadi perhatian utama.
Karena pada akhirnya, keselamatan warga adalah investasi kemanusiaan yang nilainya jauh lebih besar dibanding biaya pembangunan infrastruktur.
Transportasi yang baik bukan hanya soal cepat dan murah, tetapi juga mampu memberikan rasa aman bagi seluruh masyarakat. (ds)
Sumber:
