Menampilkan 5 Hasil
Sejarah

Dari Pos Daru Menjadi Stasiun Daru: Rel Sejarah, Perkebunan, dan Gagasan Daru Green Station

Di tengah perkembangan jalur KRL Jabodetabek saat ini, Stasiun Daru menyimpan kisah panjang tentang perubahan sebuah wilayah desa menjadi simpul transportasi penting di Kabupaten Tangerang. Dahulu tempat ini dikenal sebagai “Pos Daru”, sebuah pemberhentian kecil kereta api di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung pada masa kolonial Belanda. Menurut tulisan Mohamad Sobari (msob) di Kompasiana, Pos Daru menjadi …

Infrastruktur

Waspada Perlintasan Sebidang: 11 Titik KRL di Kabupaten Tangerang Belum Aman

Keselamatan di jalur kereta api kembali menjadi perhatian serius setelah Pemerintah Kabupaten Tangerang melakukan pemetaan terhadap 28 perlintasan sebidang di jalur KRL Green Line rute Tanah Abang–Rangkasbitung. Dari total tersebut, sebanyak 11 titik diketahui masih belum memiliki palang pintu maupun pos penjagaan resmi. Kondisi ini tentu cukup mengkhawatirkan. Jalur Green Line merupakan salah satu lintasan …

Perkeretapian

Stasiun Tigaraksa yang Tak di Tigaraksa: Antara Sejarah, Peta, dan Usulan Perbaikan

Kalau kita naik KRL menuju Rangkasbitung dan berhenti di Stasiun Tigaraksa, ada satu pertanyaan klasik yang terus berulang: “Ini sudah sampai Tigaraksa, atau masih jauh?” Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sebab secara administratif, stasiun ini berada di wilayah Cikasungka, bukan di pusat Tigaraksa yang menjadi ibu kota Kabupaten Tangerang. Bahkan, jika tujuan kita adalah pusat …

Cuaca

Iklim Pancaroba di Jabodetabek Masih Terasa: Hujan Lebat, Genangan, dan Banjir Masih Mengintai

Meski kalender sudah masuk bulan April dan sebagian orang mulai merasa “harusnya ini sudah mulai kemarau”, kenyataannya iklim pancaroba di wilayah Jabodetabek masih sangat terasa. Dalam beberapa hari terakhir, hujan masih turun dengan intensitas yang cukup tinggi, bahkan di sejumlah wilayah disertai petir, angin kencang, genangan, hingga banjir di beberapa titik. BMKG juga masih mengingatkan …

Info

Dari Wiwitan ke Beton: Ketika Tangerang Melupakan Alam dan Akar Budayanya

Dulu, ketika pagi hari di tanah Tangerang masih disambut oleh semilir angin sawah dan suara burung-burung liar, masyarakatnya punya cara sederhana untuk bersyukur. Saat padi mulai menguning, para petani berkumpul di pematang. Mereka membawa tumpeng, hasil bumi, dan doa yang tulus: inilah wiwitan, tradisi sakral yang diwariskan leluhur sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta dan …