Perkeretapian

KRL Rangkasbitung Mau Naik Kelas? Saatnya Listrik dan Persinyalan Berlari Mengejar Pertumbuhan Penumpang

Bagi pengguna setia KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung, pemandangan kereta penuh sesak pada pagi dan sore hari mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Peron yang ramai, antrean panjang saat naik kereta, hingga perjuangan mencari ruang berdiri yang nyaman seolah menjadi rutinitas yang tak terpisahkan.

Namun di balik kondisi tersebut, ada satu pertanyaan besar yang mulai mengemuka:

Apakah kapasitas KRL Rangkasbitung masih mampu mengejar pertumbuhan penggunanya?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan setelah PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan mengungkap rencana penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.

Sekilas terdengar sangat teknis.

Tetapi sesungguhnya, dua hal inilah yang bisa menentukan apakah perjalanan jutaan pengguna KRL di masa depan akan menjadi lebih nyaman atau justru semakin padat.

Ketika Angka Penumpang Terus Menanjak

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pengguna Commuter Line Rangkasbitung menunjukkan tren yang sangat signifikan.

Pada tahun 2022 jumlah pelanggan tercatat sekitar 43 juta orang.

Setahun kemudian meningkat menjadi sekitar 62 juta pelanggan.

Tahun 2024 mendekati 70 juta pelanggan, dan sepanjang 2025 jumlahnya sudah melampaui 77 juta pelanggan.

Yang lebih menarik, hingga Mei 2026 saja jumlah pengguna sudah mencapai lebih dari 33 juta pelanggan.

Angka tersebut menunjukkan satu kenyataan sederhana:

Masyarakat semakin bergantung pada transportasi rel.

KRL bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan sudah menjadi tulang punggung mobilitas harian bagi pekerja, pelajar, mahasiswa, hingga pelaku usaha yang beraktivitas di Jakarta dan kawasan sekitarnya.

Pertumbuhan kawasan permukiman di sepanjang lintas Rangkasbitung juga ikut mempercepat peningkatan jumlah pengguna.

Semakin banyak warga yang memilih tinggal di wilayah penyangga ibu kota, semakin besar pula kebutuhan terhadap layanan transportasi massal yang andal.

Mengapa Kereta Terasa Semakin Padat?

Banyak pengguna mungkin tidak terlalu memperhatikan istilah okupansi.

Namun angka ini sebenarnya menggambarkan kondisi yang dirasakan setiap hari.

Saat ini tingkat okupansi puncak lintas Rangkasbitung mencapai sekitar 161 persen.

Artinya, jumlah pengguna pada jam sibuk sudah jauh melampaui kapasitas ideal yang dirancang.

Sebagai perbandingan:

  • Lintas Bogor sekitar 130 persen
  • Lintas Bekasi/Cikarang sekitar 140 persen
  • Lintas Rangkasbitung mencapai 161 persen

Tidak mengherankan jika banyak pengguna merasa perjalanan pagi dan sore hari semakin menantang.

Kondisi ini bukan semata karena jumlah kereta kurang.

Masalahnya lebih kompleks.

Pertumbuhan pengguna berlangsung jauh lebih cepat dibanding peningkatan kapasitas infrastruktur yang tersedia.

Penguatan Listrik yang Selama Ini Jarang Dibahas

Ketika mendengar proyek penguatan listrik, sebagian orang mungkin bertanya:

“Apa hubungannya gardu listrik dengan kereta yang penuh?”

Jawabannya sangat besar.

Saat ini sistem kelistrikan lintas Tanah Abang–Rangkasbitung masih memiliki kapasitas yang lebih rendah dibanding beberapa lintas utama lainnya di Jabodetabek.

Kondisi tersebut membuat operasional rangkaian dengan formasi lebih panjang belum dapat berjalan secara optimal.

Untuk mengatasinya, KAI menyiapkan pembangunan dan penambahan gardu traksi baru di sejumlah titik.

Jika penguatan daya berhasil dilakukan, manfaatnya bisa langsung dirasakan pengguna.

Rangkaian kereta yang lebih panjang dapat beroperasi lebih optimal.

Jumlah penumpang yang dapat diangkut meningkat.

Ruang di dalam kereta menjadi lebih lega.

Dan yang paling penting, kepadatan perlahan dapat ditekan.

Dengan kata lain, proyek listrik ini bukan sekadar urusan kabel dan gardu.

Ini adalah fondasi yang menentukan kemampuan lintas Rangkasbitung berkembang di masa depan.

Persinyalan Lama, Frekuensi Kereta Sulit Bertambah

Selain listrik, tantangan berikutnya berada pada sistem persinyalan.

Sebagian sistem operasi di lintas ini masih menggunakan pola yang membuat jarak aman antar kereta relatif lebih panjang.

Akibatnya, jumlah perjalanan yang dapat dijalankan dalam satu jam menjadi terbatas.

Dampaknya terasa langsung pada headway atau jarak waktu antar kereta.

Saat ini pengguna masih terbiasa menunggu sekitar 10 menit untuk kereta berikutnya.

Bandingkan dengan lintas Bogor atau Bekasi yang pada jam tertentu mampu melayani perjalanan dengan jarak sekitar 3–4 menit.

Perbedaannya sangat terasa.

Bagi pengguna, selisih beberapa menit mungkin terlihat kecil.

Tetapi dalam sistem transportasi massal, frekuensi yang lebih rapat dapat mengurangi penumpukan penumpang secara signifikan.

Modernisasi persinyalan menjadi kunci agar jumlah perjalanan dapat ditambah tanpa mengorbankan keselamatan operasional.

Semakin banyak kereta yang dapat dijalankan, semakin merata pula distribusi penumpang di sepanjang lintas.

Rangkasbitung Sedang Tumbuh, Transportasi Harus Mengikutinya

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membahas KRL.

Masalah sebenarnya bukan hanya tentang kereta.

Wilayah barat Jabodetabek sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Perumahan baru terus bermunculan.

Kawasan komersial berkembang.

Pusat aktivitas ekonomi bertambah.

Dan semua itu menciptakan kebutuhan mobilitas yang semakin besar.

Jika kapasitas transportasi tidak ikut bertumbuh, maka kepadatan akan menjadi persoalan yang terus berulang.

Karena itu, investasi pada listrik, persinyalan, jalur, dan kapasitas operasional bukan lagi pilihan tambahan.

Melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Catatan DaruStation: Jangan Sampai Pengguna Hanya Mendengar Rencana

Dari sudut pandang DaruStation, langkah penguatan listrik dan modernisasi persinyalan merupakan kabar baik yang memang sudah lama ditunggu.

Namun ada beberapa catatan yang patut menjadi perhatian.

Pertama, masyarakat membutuhkan kepastian waktu.

Pengguna harian ingin mengetahui kapan perubahan benar-benar mulai dirasakan.

Karena bagi mereka, manfaat proyek diukur dari pengalaman perjalanan sehari-hari, bukan dari presentasi rencana pembangunan.

Kedua, peningkatan kapasitas tidak boleh berhenti di atas rel.

Kenyamanan stasiun, akses pejalan kaki, integrasi angkutan umum, area parkir, hingga kapasitas peron juga perlu ditingkatkan secara bersamaan.

Percuma kereta bertambah jika akses menuju stasiun masih menjadi hambatan.

Ketiga, komunikasi publik harus lebih terbuka.

Perubahan operasional pasti berdampak pada ribuan pengguna setiap hari.

Informasi yang jelas akan membantu masyarakat memahami proses yang sedang berjalan.

Pada akhirnya, pengguna KRL Rangkasbitung bukan hanya menunggu proyek selesai.

Mereka menunggu perjalanan yang lebih nyaman.

Mereka menunggu waktu tunggu yang lebih singkat.

Mereka menunggu layanan yang mampu mengikuti laju pertumbuhan kawasan yang terus berkembang.

Karena transportasi massal yang baik bukan hanya soal memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain.

Tetapi tentang bagaimana membuat perjalanan harian menjadi lebih manusiawi, lebih efisien, dan lebih layak dinikmati.

Dan mungkin, perubahan besar itu memang harus dimulai dari sesuatu yang selama ini jarang terlihat: listrik dan persinyalan.

Sumber Utama

Situs Resmi

https://www.instagram.com/p/DZR_1hZOH2K/

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan