Oleh : Mohamad Sobari | Darustation
“Kalau naik KRL dan tidak kebagian tempat duduk, Anda biasanya berdiri di mana?”
Pertanyaan sederhana ini ternyata memiliki jawaban yang hampir sama dari banyak pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek. Bagi para komuter yang setiap hari menggunakan KRL, ada satu lokasi yang hampir selalu menjadi incaran, yaitu di sisi kiri atau kanan dekat pintu kereta.
Menariknya, posisi tersebut bukan dipilih secara kebetulan. Ada alasan logis, psikologis, bahkan dapat dijelaskan dari sisi perilaku manusia dalam menggunakan transportasi publik.
Jika diperhatikan saat jam sibuk pagi maupun sore, setelah penumpang masuk ke dalam kereta, mereka yang sudah terbiasa naik KRL akan segera mengisi area di samping pintu. Sebaliknya, penumpang yang baru atau jarang menggunakan KRL sering kali berhenti tepat di depan pintu atau memenuhi lorong tengah.
Fenomena kecil ini ternyata menyimpan banyak pelajaran.
Berdiri Dekat Pintu, Tetapi Tidak Tepat di Depannya
Banyak orang mengira posisi terbaik adalah tepat di depan pintu agar mudah turun. Padahal, bagi komuter berpengalaman, justru posisi itu sebisa mungkin dihindari.
Mengapa?
Karena setiap kali kereta berhenti, bagian depan pintu menjadi jalur utama keluar dan masuk penumpang. Berdiri di sana berarti harus berulang kali bergeser, terdorong arus manusia, bahkan terkadang harus turun sementara untuk memberi jalan kepada penumpang lain.
Sebaliknya, berdiri di sisi kiri atau kanan pintu memberikan banyak keuntungan.
Posisi ini memungkinkan tubuh sedikit bersandar pada dinding atau sekat kereta sehingga lebih stabil ketika kereta berakselerasi, mengerem, atau melewati tikungan. Pegangan tangan maupun tiang vertikal juga lebih mudah dijangkau. Saat tiba di stasiun tujuan, penumpang tinggal bergeser satu atau dua langkah menuju pintu tanpa harus menerobos kerumunan dari tengah gerbong.
Inilah alasan mengapa posisi tersebut menjadi favorit banyak komuter.
Menghindari Arus Manusia
Pada stasiun-stasiun besar seperti Tanah Abang, Manggarai, Duri, Sudirman, atau Bogor, arus penumpang yang keluar dan masuk dapat mencapai ratusan orang hanya dalam hitungan detik.
Orang yang berdiri tepat di depan pintu hampir pasti akan terkena “gelombang manusia”. Sebaliknya, mereka yang berada di sisi kiri dan kanan pintu relatif lebih aman dari dorongan tersebut.
Mereka tetap dekat dengan pintu, tetapi tidak menjadi bagian dari jalur utama lalu lintas penumpang.
Ini adalah strategi sederhana yang lahir dari pengalaman, bukan dari aturan tertulis.
Area Tengah Tidak Selalu Nyaman
Fenomena lain yang sering terlihat adalah penumpang berhenti begitu saja setelah masuk ke gerbong. Akibatnya, area dekat pintu menjadi penuh, sementara bagian dalam kereta masih memiliki ruang kosong.
Komuter yang sudah terbiasa biasanya akan bergerak sedikit ke samping atau masuk lebih dalam agar sirkulasi penumpang tetap lancar.
Perilaku seperti ini menunjukkan bahwa menggunakan transportasi publik bukan hanya soal naik dan turun, tetapi juga tentang memahami ritme bersama serta menghargai ruang orang lain.
Ada Faktor Psikologis
Mengapa banyak orang merasa lebih nyaman di sisi pintu?
Jawabannya bukan hanya soal kemudahan turun.
Dari sisi psikologi, posisi tersebut memberikan rasa aman. Penumpang dapat melihat kondisi peron, mengetahui kapan harus bersiap turun, serta tidak merasa “terjebak” di tengah kerumunan.
Bagi sebagian orang, berada di dekat pintu juga memberikan kesan ruang yang lebih terbuka dibanding berdiri di tengah gerbong yang dipenuhi penumpang dari segala arah.
Hal-hal kecil seperti ini sering kali tidak disadari, tetapi sangat memengaruhi kenyamanan perjalanan, terutama bagi mereka yang menempuh perjalanan satu hingga dua jam setiap hari.
Ternyata Bukan Hanya di Indonesia
Fenomena ini bukan hanya terjadi di KRL Jabodetabek.
Jika kita mengamati sistem metro di Tokyo, Osaka, Seoul, Singapura, Hong Kong, London, Paris, hingga New York, pola yang hampir sama juga dapat ditemukan.
Para komuter berpengalaman cenderung memilih posisi di samping pintu, bukan tepat di depannya.
Di berbagai negara, posisi ini bahkan sering dianggap sebagai sweet spot, yaitu titik yang paling nyaman untuk berdiri selama perjalanan.
Alasannya hampir sama di mana pun.
- Mudah turun saat tiba di stasiun tujuan.
- Tidak menghalangi arus keluar-masuk penumpang.
- Dekat dengan tiang atau dinding untuk menjaga keseimbangan.
- Memiliki ruang gerak yang relatif lebih lega dibanding berdiri di tengah lorong.
Yang membedakan hanyalah budaya disiplin. Di banyak negara, penumpang secara otomatis memberi ruang kosong di depan pintu agar orang dapat keluar terlebih dahulu sebelum penumpang lain masuk.
Kebiasaan sederhana tersebut membuat proses naik dan turun berlangsung jauh lebih cepat.
Apa Istilahnya dalam Bahasa Inggris?
Hingga saat ini belum ada istilah resmi yang secara khusus menyebut posisi berdiri favorit di sisi pintu kereta.
Namun, dalam bahasa Inggris, beberapa istilah berikut sering digunakan:
- Door-side standing position
- Standing beside the door
- Door-adjacent standing area
- Preferred standing spot
- Sweet spot near the door
Sementara untuk menggambarkan kebiasaan para komuter, kalimat berikut cukup umum digunakan:
Experienced commuters usually stand beside the train doors instead of directly in front of them.
Artinya, komuter yang sudah berpengalaman biasanya memilih berdiri di samping pintu kereta daripada tepat di depannya.
Kearifan yang Tidak Pernah Tertulis
Tidak ada buku panduan yang mengajarkan di mana posisi terbaik untuk berdiri di dalam KRL. Tidak ada pula pengumuman yang menyebutkan bahwa sisi kiri dan kanan pintu adalah tempat paling ideal.
Namun, jutaan perjalanan setiap hari telah membentuk sebuah kebiasaan kolektif.
Para komuter belajar dari pengalaman. Mereka menemukan posisi yang paling efisien, paling nyaman, dan paling minim mengganggu orang lain.
Dalam bahasa Inggris, kebiasaan semacam ini sering disebut sebagai commuter wisdom, yakni “kearifan para komuter”. Sebuah pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang menggunakan transportasi publik, bukan dari aturan resmi.

Penutup
Naik KRL ternyata bukan sekadar berpindah dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Ada banyak pelajaran kecil yang dapat dipetik dari setiap perjalanan.
Memilih berdiri di sisi kiri atau kanan dekat pintu mungkin tampak sepele. Namun, di balik kebiasaan itu tersimpan pemahaman tentang efisiensi, keselamatan, kenyamanan, dan penghormatan terhadap ruang bersama.
Barangkali inilah makna sesungguhnya dari transportasi publik. Bukan hanya mengangkut manusia menuju tujuan, tetapi juga mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dengan ribuan orang setiap hari.
Karena pada akhirnya, perjalanan yang nyaman bukan hanya ditentukan oleh keretanya, melainkan juga oleh budaya para penumpangnya. (ds)
