Bukan Sekadar Menambah Jam Operasional, tetapi Mengubah Wajah Mobilitas Ibu Kota
Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Pernahkah Anda pulang kerja saat tengah malam dan kesulitan mencari transportasi? Atau harus berangkat dini hari menuju bandara, rumah sakit, atau tempat kerja dengan pilihan kendaraan yang terbatas?
Kondisi seperti ini selama bertahun-tahun menjadi tantangan bagi sebagian warga Jakarta. Padahal, ibu kota adalah kota yang tidak pernah benar-benar berhenti beraktivitas. Ketika sebagian orang sedang beristirahat, ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit, petugas keamanan yang berpatroli, pengemudi logistik yang mengantar kebutuhan masyarakat, pekerja media yang meliput berbagai peristiwa, hingga pegawai bandara yang melayani penerbangan pertama di pagi hari.
Kota ini hidup selama 24 jam.
Karena itu, transportasi publik pun harus mampu mengikuti ritme kehidupan masyarakatnya.
Melalui informasi yang disampaikan Jakarta Smart City (JSC), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini menghadirkan layanan Transjakarta 24 jam. Seluruh 14 koridor Bus Rapid Transit (BRT) resmi beroperasi sepanjang hari, didukung oleh beberapa rute Mikrotrans yang juga melayani selama 24 jam.
Bagi Darustation, kebijakan ini bukan sekadar kabar baik bagi pengguna Transjakarta. Ini adalah sinyal bahwa Jakarta sedang bergerak menuju sistem transportasi publik yang lebih modern, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Kota Modern Membutuhkan Transportasi yang Tidak Pernah Berhenti
Salah satu ciri kota maju bukan hanya gedung-gedung tinggi atau jalan tol yang membentang panjang. Kota modern juga harus memiliki transportasi publik yang dapat diandalkan kapan saja.
Bayangkan jika seorang perawat selesai bertugas pukul dua dini hari. Atau seorang teknisi bandara harus mulai bekerja pukul tiga pagi. Tanpa transportasi umum yang memadai, mereka terpaksa mengandalkan kendaraan pribadi atau transportasi daring yang biayanya relatif lebih mahal.
Kini, pilihan itu bertambah.
Layanan Transjakarta yang beroperasi 24 jam memberikan kepastian bahwa masyarakat tetap dapat bepergian dengan moda transportasi publik pada malam hingga dini hari.
Meskipun interval kedatangan bus pada malam hari lebih panjang dibandingkan jam sibuk, keberadaan layanan ini menjadi solusi yang sangat berarti bagi banyak kalangan.
Empat Belas Koridor Kini Melayani Sepanjang Hari
Layanan 24 jam mencakup seluruh koridor utama Transjakarta, yaitu:
- Koridor 1 Blok M–Kota
- Koridor 2 Pulo Gadung–Monumen Nasional
- Koridor 3 Kalideres–Monumen Nasional via Veteran
- Koridor 4 Pulo Gadung–Galunggung
- Koridor 5 Kampung Melayu–Ancol
- Koridor 6 Ragunan–Galunggung
- Koridor 7 Kampung Melayu–Kampung Rambutan
- Koridor 8 Lebak Bulus–Pasar Baru
- Koridor 9 Pinang Ranti–Pluit
- Koridor 10 Tanjung Priok–PGC
- Koridor 11 Pulo Gebang–Kampung Melayu
- Koridor 12 Pluit–Tanjung Priok
- Koridor 13 Ciledug–Tegal Mampang
- Koridor 14 Jakarta International Stadium (JIS)–Senen
Selain itu, empat rute Mikrotrans juga melayani selama 24 jam, yaitu:
- JAK36 Cilangkap–Cililitan (PGC)
- JAK47 Pasar Minggu–Ciganjur via Kebun Binatang Ragunan
- JAK52 Kalideres–Muara Angke
- JAK75 Cililitan–Kampung Pulo
Kehadiran Mikrotrans menjadi pelengkap yang penting karena mampu menjangkau kawasan permukiman yang belum dilalui koridor BRT.
Lebih dari Sekadar Bus
Sering kali kita melihat Transjakarta hanya sebagai moda transportasi.
Padahal, di balik setiap armada yang beroperasi, terdapat fungsi yang jauh lebih besar.
Transportasi publik adalah penggerak aktivitas ekonomi. Ketika masyarakat dapat bepergian dengan mudah, roda ekonomi ikut bergerak. Pelaku usaha lebih mudah menjangkau pelanggan, pekerja tiba tepat waktu, dan akses menuju pusat pelayanan publik menjadi lebih terbuka.
Di sisi lain, semakin banyak masyarakat menggunakan transportasi umum, semakin sedikit kendaraan pribadi yang memenuhi jalan. Dampaknya bukan hanya berkurangnya kemacetan, tetapi juga menurunnya konsumsi bahan bakar fosil dan emisi karbon.
Dalam jangka panjang, kebijakan seperti ini menjadi bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Tantangan yang Masih Harus Dijawab
Meski patut diapresiasi, layanan 24 jam juga membawa tantangan baru.
Keamanan halte dan lingkungan sekitar pada malam hari harus terus ditingkatkan. Frekuensi kedatangan bus perlu dijaga agar waktu tunggu tetap wajar. Integrasi dengan MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, dan layanan pengumpan juga harus semakin baik sehingga perjalanan masyarakat berlangsung tanpa hambatan.
Selain itu, informasi jadwal secara real-time melalui aplikasi resmi Transjakarta menjadi kebutuhan penting agar penumpang dapat merencanakan perjalanan dengan lebih nyaman.
Saatnya Warga Berubah
Selama ini masyarakat sering menuntut transportasi publik yang lebih baik.
Kini, ketika layanan semakin lengkap, muncul pertanyaan lain: apakah masyarakat juga siap berubah?
Masih banyak warga yang menggunakan kendaraan pribadi untuk perjalanan yang sebenarnya dapat dilayani oleh transportasi umum. Alasannya beragam, mulai dari kebiasaan hingga anggapan bahwa kendaraan pribadi lebih praktis.
Padahal, setiap kali seseorang memilih naik Transjakarta daripada membawa mobil sendiri, ia telah ikut mengurangi kemacetan, polusi udara, dan konsumsi energi.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Darustation Menilai
Layanan Transjakarta 24 jam merupakan salah satu inovasi penting dalam pengembangan transportasi publik di Jakarta. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyesuaikan layanan dengan pola kehidupan masyarakat yang berlangsung tanpa mengenal waktu.
Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari banyaknya koridor yang beroperasi selama 24 jam. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menjadikan transportasi publik sebagai pilihan utama dalam beraktivitas.
Jakarta tidak akan menjadi kota global hanya karena memiliki gedung pencakar langit atau jalan layang yang megah. Jakarta akan menjadi kota yang benar-benar maju ketika warganya merasa bangga menggunakan transportasi publik yang aman, nyaman, tepat waktu, dan mudah diakses.
Transjakarta 24 jam bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perubahan budaya bermobilitas di ibu kota. Perjalanan menuju transportasi publik yang semakin berkualitas masih panjang, tetapi langkah pertama telah dimulai. Kini, keberhasilan langkah tersebut bergantung pada komitmen semua pihak—pemerintah sebagai penyedia layanan dan masyarakat sebagai pengguna—untuk bersama-sama membangun Jakarta yang lebih tertib, lebih ramah lingkungan, dan lebih layak huni.
Sumber
- Flyer resmi Jakarta Smart City (JSC).
- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
- PT Transjakarta.
