Sosial

Ketika Pemimpin Berada di Lingkungan Toxic: Bertahan, Mengikuti Arus, atau Tetap Memegang Prinsip?

Oleh Mohamad Sobari | Darustation.com

Menjadi pemimpin tidak selalu berarti berada di tempat yang nyaman.

Ada kalanya seseorang dipercaya menjadi pemimpin, tetapi justru merasa sendirian. Orang-orang yang seharusnya menjadi bagian dari tim mulai menjauh. Komunikasi menjadi kaku. Diskusi tidak lagi terbuka. Bahkan keputusan seorang pemimpin kadang lebih banyak dibicarakan di belakang daripada dibahas secara langsung.

Pada kondisi seperti itu, muncul pertanyaan sederhana tetapi berat:

Apa yang sebenarnya terjadi ketika seorang pemimpin berada di lingkungan yang toxic?

Apakah pemimpinnya yang bermasalah?

Apakah anak buahnya yang tidak loyal?

Atau jangan-jangan lingkungan tersebut memang sudah terbentuk menjadi sebuah budaya yang tidak sehat?

Pertanyaan ini menarik karena kepemimpinan tidak pernah berdiri sendiri.

Penelitian tentang destructive leadership memperkenalkan konsep “toxic triangle”, yaitu kondisi ketika perilaku pemimpin, pengikut, dan lingkungan saling berinteraksi sehingga memungkinkan munculnya kepemimpinan yang destruktif.

Artinya, jangan terlalu cepat menunjuk satu orang sebagai penyebab.

Kadang masalahnya jauh lebih kompleks.

Ketika Pemimpin Mulai Merasa Dijauhi

Tahap pertama biasanya sangat manusiawi.

Seorang pemimpin mulai merasa:

“Kenapa anak buah saya sekarang menjauh?”

Dulu mudah diajak bicara.

Dulu mudah berdiskusi.

Sekarang komunikasi terasa berbeda.

Pesan tidak segera dijawab. Rapat menjadi formal. Ide yang disampaikan tidak mendapatkan respons seperti sebelumnya. Bahkan muncul kelompok-kelompok kecil yang lebih nyaman berdiskusi tanpa melibatkan pemimpin.

Pada titik ini, pemimpin bisa mengalami kebingungan.

Sebab secara struktur ia masih pemimpin.

Tetapi secara psikologis ia mulai merasa kehilangan dukungan.

Di sinilah pemimpin seharusnya berhenti sejenak dan melakukan introspeksi.

Apakah saya yang berubah?

Apakah cara saya memimpin membuat orang menjauh?

Apakah anak buah merasa tidak didengar?

Atau memang sudah ada budaya kelompok yang tidak sehat?

Pemimpin yang dewasa tidak langsung menyalahkan orang lain.

Ia terlebih dahulu memeriksa dirinya sendiri.

Dari Mengeluh Menjadi Mencari Jawaban

Ketika masalah tidak kunjung selesai, biasanya muncul tahap kedua.

Pemimpin mulai berbicara dengan orang lain.

Ia berdiskusi dengan teman.

Berbicara dengan senior.

Meminta pendapat orang yang dipercaya.

Menceritakan kondisi yang sedang dihadapi.

Bagi sebagian orang, perilaku seperti ini mungkin dianggap sebagai mengeluh.

Tetapi sebenarnya tidak selalu demikian.

Ada perbedaan antara mengeluh untuk mencari pembenaran dan berdiskusi untuk mencari jalan keluar.

Pemimpin yang sehat membutuhkan orang lain untuk menguji cara berpikirnya.

Ia tidak cukup hanya mendengar:

“Anda benar.”

Justru yang lebih penting adalah menemukan seseorang yang berani berkata:

“Coba lihat juga dari sisi yang lain.”

Karena terkadang seorang pemimpin bukan membutuhkan orang yang membela dirinya, melainkan orang yang membantu dirinya melihat masalah secara lebih objektif.

Masalahnya Bisa Jadi Bukan Hanya Pemimpin

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Ketika anak buah menjauh, tidak otomatis berarti anak buah toxic.

Mereka mungkin kecewa.

Mereka mungkin merasa tidak dilibatkan.

Mereka mungkin pernah mengalami komunikasi yang buruk.

Mereka mungkin takut menyampaikan pendapat.

Atau mungkin memang sudah terbentuk kelompok yang tidak sehat.

Konsep toxic triangle justru mengingatkan bahwa perilaku destruktif dapat muncul dari kombinasi pemimpin, pengikut, dan lingkungan yang memungkinkan perilaku tersebut berkembang.

Dengan kata lain:

Lingkungan juga memiliki peran.

Seorang pemimpin yang sebenarnya ingin memperbaiki keadaan bisa saja kesulitan jika sistem di sekitarnya sudah terbiasa dengan pola lama.

Ketika Lingkungan Sudah Terbiasa dengan Toxic

Lingkungan toxic memiliki satu karakteristik yang berbahaya:

perilaku yang salah lama-lama dianggap biasa.

Awalnya orang merasa tidak nyaman melihat seseorang membicarakan orang lain.

Lama-lama dianggap normal.

Awalnya orang merasa aneh melihat kelompok tertentu selalu menentukan keputusan.

Lama-lama dianggap biasa.

Awalnya seseorang tidak mau ikut permainan kepentingan.

Lama-lama muncul kalimat:

“Memang di sini seperti itu.”

Kalimat tersebut sangat berbahaya.

Karena ketika sesuatu yang salah sudah dianggap normal, orang yang mencoba memperbaikinya justru bisa dianggap sebagai orang yang bermasalah.

Di Sinilah Pemimpin Mulai Menghadapi Dilema

Tahap berikutnya menjadi semakin sulit.

Pemimpin mulai menyadari:

“Kalau saya melawan keadaan, saya akan semakin sendirian.”

Tetapi di sisi lain:

“Kalau saya mengikuti keadaan, saya mungkin kehilangan prinsip.”

Inilah dilema terbesar seorang pemimpin.

Mempertahankan prinsip bisa membuatnya tidak populer.

Mengikuti arus bisa membuatnya tetap diterima.

Dan manusia pada dasarnya membutuhkan penerimaan.

Karena itu, seorang pemimpin pun dapat mengalami ketakutan:

“Kalau saya tidak ikut mereka, apakah saya masih akan dianggap sebagai pemimpin?”

Pertanyaan ini sebenarnya bukan lagi soal jabatan.

Ini sudah menyentuh soal identitas dan integritas.

Jabatan Tidak Sama dengan Kepemimpinan

Ini bagian yang sering terlupakan.

Jabatan adalah posisi.

Kepemimpinan adalah kepercayaan.

Seseorang bisa mendapatkan jabatan melalui keputusan organisasi.

Tetapi seseorang mendapatkan kepercayaan melalui perilakunya.

Karena itu, seorang pemimpin yang terlalu takut kehilangan jabatan bisa berada dalam situasi yang berbahaya.

Ia mungkin mulai melakukan kompromi.

Hari ini mengikuti satu hal.

Besok mengikuti hal lain.

Lusa mulai membenarkan sesuatu yang sebelumnya ia anggap salah.

Sampai akhirnya ia tidak lagi bertanya:

“Apakah ini benar?”

Tetapi hanya bertanya:

“Apakah ini membuat saya tetap diterima?”

Di titik inilah kepemimpinan mulai kehilangan arah.

Pemimpin Bisa Menjadi Korban Sekaligus Bagian dari Masalah

Ini adalah sisi lain yang menarik.

Seseorang bisa masuk ke lingkungan toxic sebagai korban.

Namun lama-kelamaan bisa berubah menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

Awalnya ia tidak suka orang bergosip.

Kemudian ia ikut membicarakan orang lain.

Awalnya ia tidak suka kelompok-kelompokan.

Kemudian ia membuat kelompok sendiri.

Awalnya ia tidak suka tekanan.

Kemudian ia mulai menekan bawahannya.

Awalnya ia ingin memperbaiki sistem.

Kemudian ia justru mempertahankan sistem yang sama karena sudah merasa nyaman dengan kekuasaan yang diperolehnya.

Inilah yang harus diwaspadai.

Lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh pemimpin. Pemimpin juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan.

Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

Menurut saya, seorang pemimpin yang menghadapi kondisi seperti ini perlu melakukan beberapa hal.

Pertama, jangan langsung menyalahkan.

Cari tahu terlebih dahulu mengapa orang menjauh.

Kedua, buka komunikasi.

Bukan komunikasi satu arah berupa instruksi, tetapi komunikasi dua arah yang memungkinkan kritik.

Ketiga, cari orang yang berani memberikan perspektif berbeda.

Jangan hanya mencari orang yang selalu mengatakan:

“Saya setuju.”

Keempat, pisahkan antara kritik dan serangan.

Tidak semua kritik adalah bentuk ketidakloyalan.

Kelima, jangan mengikuti semua arus.

Beradaptasi boleh.

Kehilangan prinsip jangan.

Keenam, evaluasi lingkungan.

Jika masalah terjadi berulang-ulang pada banyak orang, mungkin masalahnya bukan hanya individu.

Kapan Harus Bertahan?

Pemimpin sebaiknya bertahan ketika masih ada ruang untuk memperbaiki keadaan.

Masih ada komunikasi.

Masih ada orang yang mau berdiskusi.

Masih ada mekanisme untuk melakukan perubahan.

Masih ada kemungkinan membangun kembali kepercayaan.

Dalam situasi seperti itu, meninggalkan organisasi mungkin bukan satu-satunya solusi.

Kadang pemimpin justru diuji untuk memperbaiki keadaan.

Kapan Harus Berani Mengambil Jarak?

Namun jika lingkungan sudah terlalu rusak, tidak ada ruang dialog, kritik dianggap ancaman, aturan hanya berlaku untuk kelompok tertentu, dan semua upaya perbaikan selalu ditolak, maka pemimpin perlu mempertimbangkan kembali posisinya.

Tidak semua perjuangan harus dilakukan sampai menghancurkan diri sendiri.

Dan tidak semua pengunduran diri berarti kegagalan.

Ada kalanya seseorang meninggalkan sebuah lingkungan justru karena ingin menjaga nilai yang diyakininya.

Jangan Sampai Takut Kehilangan Jabatan Membuat Kehilangan Diri

Ini mungkin bagian terpenting dari semuanya.

Ketika seseorang berkata:

“Saya takut tidak menjadi pemimpin kalau tidak mengikuti mereka.”

Maka pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah:

“Pemimpin seperti apa yang ingin saya pertahankan?”

Apakah hanya statusnya?

Atau nilai kepemimpinannya?

Karena jika untuk mempertahankan jabatan seseorang harus meninggalkan integritas, maka yang dipertahankan sebenarnya bukan lagi kepemimpinan.

Yang dipertahankan adalah posisi.

Pemimpin Tidak Harus Selalu Disukai

Seorang pemimpin tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Pemimpin yang selalu ingin disukai berpotensi kehilangan keberanian untuk mengambil keputusan.

Ada saatnya seorang pemimpin harus berkata:

“Tidak.”

Ada saatnya harus mengatakan:

“Saya tidak setuju.”

Ada saatnya harus mengingatkan orang terdekatnya.

Dan ada saatnya harus berani berdiri sendirian.

Bukan karena pemimpin merasa paling benar.

Tetapi karena ia bersedia mempertanggungjawabkan apa yang diyakininya benar.

Pada Akhirnya, Lingkungan Akan Menguji Karakter Pemimpin

Lingkungan yang nyaman tidak selalu menguji kepemimpinan.

Justru lingkungan yang penuh tekanan, konflik, kelompok kepentingan, dan ketidakpercayaan akan memperlihatkan siapa sebenarnya seorang pemimpin.

Apakah ia akan ikut arus?

Apakah ia akan membalas dengan cara yang sama?

Apakah ia akan membangun kelompok tandingan?

Atau ia tetap mencoba membangun komunikasi yang sehat?

Di situlah karakter terlihat.

Pemimpin yang tidak kompeten juga perlu dibedakan dari pemimpin yang benar-benar destruktif. Tidak semua kegagalan kepemimpinan berarti seseorang sengaja menciptakan lingkungan yang toxic.

Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memberikan label.

Sebuah Catatan untuk Para Pemimpin

Mungkin suatu hari kita akan berada pada posisi sebagai pemimpin.

Mungkin kita akan merasa dijauhi.

Mungkin keputusan kita ditolak.

Mungkin ada orang yang tidak menyukai cara kita memimpin.

Dan mungkin kita akan tergoda untuk mencari kelompok yang lebih nyaman bagi kita.

Tetapi sebelum mengambil keputusan, ada baiknya kita bertanya:

Apakah saya sedang memperbaiki keadaan, atau hanya mencari tempat yang membenarkan saya?

Apakah saya sedang beradaptasi, atau mulai kehilangan prinsip?

Apakah saya sedang mempertahankan kepemimpinan, atau hanya mempertahankan jabatan?

Dan pertanyaan yang paling penting:

“Kalau suatu hari jabatan saya sudah tidak ada, apakah orang masih akan mengingat saya sebagai orang yang pernah memberikan manfaat?”

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang berapa lama seseorang memegang jabatan.

Kepemimpinan adalah tentang apa yang ditinggalkan setelah jabatan itu selesai.

Lingkungan boleh toxic.

Orang lain boleh berubah.

Kelompok boleh berganti.

Tetapi seorang pemimpin tetap mempunyai pilihan:

ikut menjadi bagian dari masalah, atau mencoba menjadi bagian dari solusi.

Dan mungkin, justru di situlah arti sebenarnya dari sebuah kepemimpinan.

Sumber Referensi

  1. Padilla, A., Hogan, R., & Kaiser, R. B. (2007). The Toxic Triangle: Destructive Leaders, Susceptible Followers, and Conducive Environments. The Leadership Quarterly.
  2. Schyns, B., & Schilling, J. (2013). How Bad Are the Effects of Bad Leaders? A Meta-Analysis of Destructive Leadership and Its Outcomes. The Leadership Quarterly.
  3. Mackey, J. D., et al. (2021). The Dark Side of Leadership: A Systematic Literature Review and Meta-Analysis of Destructive Leadership Research. Journal of Business Research.
  4. Li, P., Yin, K., Shi, J., Damen, T. G. E., & Taris, T. W., et al. (2024). Are Bad Leaders Indeed Bad for Employees? A Meta-Analysis of Longitudinal Studies Between Destructive Leadership and Employee Outcomes. Journal of Business Ethics.
  5. Ducheyne, D., & De Fruyt, F. (2026). Distinguishing Destructive/Toxic from Incompetent Leadership. Industrial and Organizational Psychology.

Catatan Darustation: Istilah toxic dalam tulisan ini digunakan untuk menggambarkan pola hubungan, perilaku, dan lingkungan yang tidak sehat. Artikel ini bukan untuk memberikan label kepada individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai bahan refleksi tentang bagaimana seseorang menjalankan amanah kepemimpinan.

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan