Perkeretapian

Prayudi dan Pekerjaan yang Jarang Terlihat: Merawat Kereta Agar Tetap Siap Berjalan

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation

Jakarta, 3 September 2026 — Kalau sedang berada di stasiun, perhatian kita biasanya sederhana.

Menunggu kereta.

Dari kejauhan lampu kereta mulai terlihat. Suara roda dan mesin semakin mendekat. Kereta perlahan masuk peron.

Pintu terbuka.

Penumpang naik dan turun.

Beberapa menit kemudian, kereta kembali berangkat.

Selesai.

Bagi kita sebagai penumpang, memang sesederhana itu.

Tetapi pernahkah kita bertanya:

Siapa yang memastikan kereta tersebut tetap siap berjalan?

Bukan hanya bisa berjalan, tetapi juga harus dirawat, diperiksa, dipelihara dan dijaga kondisinya agar dapat digunakan sesuai ketentuan teknis dan keselamatan perkeretaapian.

Dari pertanyaan sederhana itulah kita bisa melihat sisi lain dunia kereta api.

Ada pekerjaan yang tidak banyak terlihat.

Ada orang-orang yang bekerja di balik layar.

Dan salah satu bagian dari mata rantai tersebut adalah Balai Perawatan Perkeretaapian.

Di lingkungan inilah ada sosok Dr. Ir. Prayudi, S.T., M.T., IPM., APEC Eng., ASEAN Eng., Kepala Balai Perawatan Perkeretaapian.

Setelah penyebutan pertama ini, kita cukup menyebutnya Prayudi.

Kereta Baru Bukan Berarti Pekerjaan Selesai

Kita sering berpikir bahwa ketika kereta baru selesai dibuat atau didatangkan, berarti tugas sudah selesai.

Padahal justru setelah itu pekerjaan berikutnya dimulai.

Kereta harus digunakan.

Dan karena digunakan, kereta harus dirawat.

Bayangkan kendaraan pribadi.

Mobil baru tetap harus diservis.

Motor baru tetap perlu diperiksa.

Apalagi kereta api yang bekerja jauh lebih berat.

Berulang kali berjalan.

Menempuh jarak jauh.

Membawa penumpang dalam jumlah besar.

Menghadapi berbagai kondisi cuaca.

Komponen mekanis terus bekerja.

Roda terus berputar.

Sistem kelistrikan terus digunakan.

Artinya, sarana perkeretaapian membutuhkan perhatian yang terus-menerus.

Perawatan bukan pekerjaan tambahan. Perawatan adalah bagian dari kehidupan sebuah sarana kereta api.

Perawatan Itu Bukan Menunggu Rusak

Ini bagian yang sering salah dipahami.

Ketika mendengar kata perawatan, kita kadang membayangkan kereta yang rusak kemudian masuk bengkel.

Padahal perawatan yang baik justru tidak menunggu kerusakan menjadi besar.

Ada pemeriksaan.

Ada pemeliharaan.

Ada pemantauan kondisi komponen.

Ada penanganan terhadap masalah yang ditemukan.

Ada fasilitas.

Dan tentu saja ada orang-orang yang mempunyai kompetensi untuk mengerjakannya.

Jadi, kalau suatu hari kita melihat kereta berjalan normal, jangan langsung berpikir bahwa kereta tersebut tidak dirawat.

Justru sebaliknya.

Kereta yang berjalan normal bisa menjadi salah satu hasil dari pekerjaan perawatan yang berjalan dengan baik.

Pekerjaan yang berhasil sering kali memang tidak terlihat.

Utamakan Keselamatan

Ada satu pesan yang menurut saya sangat tepat menggambarkan pekerjaan di balik perawatan kereta api:

UTAMAKAN KESELAMATAN

Kalimat ini sederhana.

Tetapi maknanya besar.

Keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama.

Dalam dunia perkeretaapian, keselamatan tidak cukup hanya menjadi tulisan di dinding, slogan dalam kampanye, atau aturan dalam buku prosedur.

Keselamatan harus hadir dalam pekerjaan sehari-hari.

Dalam pemeriksaan.

Dalam pemeliharaan.

Dalam pengujian.

Dalam pengawasan.

Dalam pengambilan keputusan.

Dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di lingkungan perkeretaapian.

Sebab satu kesalahan kecil dalam sistem transportasi yang membawa begitu banyak orang dapat mempunyai konsekuensi yang besar.

Karena itu, keselamatan bukan hanya aturan.

Keselamatan adalah komitmen setiap hari.

Komitmen teknisi.

Komitmen petugas perawatan.

Komitmen penguji.

Komitmen operator.

Komitmen pengawas.

Dan komitmen seluruh pihak yang terlibat dalam perjalanan sebuah kereta.

Di sinilah saya melihat pesan:

“Dedicated for Safety, Moving Indonesia Forward”

memiliki makna yang kuat.

Dalam bahasa Indonesia:

“Dedikasi untuk Keselamatan, Memajukan Indonesia.”

Transportasi yang aman bukan hanya membuat penumpang merasa nyaman.

Transportasi yang aman memungkinkan masyarakat bergerak.

Pergi bekerja.

Pergi sekolah.

Bertemu keluarga.

Menjalankan usaha.

Menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Karena itu, menjaga keselamatan kereta api pada akhirnya juga merupakan bagian dari menjaga pergerakan Indonesia.

Bersama, kita wujudkan transportasi yang aman, andal, dan membanggakan.

Balai Perawatan, Bagian dari Ekosistem Besar

Dunia perkeretaapian sebenarnya jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat dari jendela kereta.

Ada yang menangani prasarana.

Ada yang menangani sarana.

Ada yang melakukan pengujian.

Ada yang melakukan pengawasan.

Ada yang menangani operasi.

Dan ada yang bertugas dalam perawatan.

Balai Perawatan Perkeretaapian merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan. Dalam struktur organisasi, Kepala Balai Perawatan Perkeretaapian juga merupakan jabatan tersendiri dan berbeda dari Kepala Balai Teknik maupun Kepala Balai Pengujian Perkeretaapian.

Artinya, ketika kita berbicara tentang kereta api, sebenarnya kita sedang berbicara tentang sebuah sistem besar.

Banyak pekerjaan.

Banyak keahlian.

Banyak orang.

Dan banyak tanggung jawab.

Lalu, Siapa Prayudi?

Penulis mengenal Prayudi melalui komunikasi langsung melalui WhatsApp.

Dari komunikasi tersebut, penulis memperoleh informasi mengenai posisi dan pekerjaan yang berkaitan dengan Balai Perawatan Perkeretaapian.

Tetapi tulisan ini tidak ingin menjadikan jabatan sebagai sesuatu yang terlalu besar.

Justru sebaliknya.

Darustation ingin melihat pekerjaan di balik jabatan tersebut.

Sebab menjadi kepala sebuah balai bukan berarti seseorang secara pribadi hadir dalam setiap kegiatan yang dilakukan organisasi.

Ada struktur.

Ada personel.

Ada pembagian pekerjaan.

Ada prosedur.

Ada tanggung jawab masing-masing.

Karena itu, menurut saya, penting membedakan antara jabatan seseorang dan kehadirannya dalam sebuah kegiatan.

Jabatan seseorang adalah satu fakta, sementara kehadirannya dalam suatu kegiatan adalah fakta yang berbeda.

Batas seperti ini penting agar tulisan tentang seseorang tetap memberikan ruang bagi fakta dan tidak membuat kesimpulan lebih jauh daripada informasi yang tersedia.

Yang Kita Lihat Hanya Keretanya

Coba sekali lagi bayangkan kereta yang sedang melintas.

Kita melihat lokomotif.

Kita melihat gerbong.

Kita melihat penumpang.

Kita melihat kereta bergerak.

Tetapi kita tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya.

Kita tidak melihat seluruh proses pemeriksaan.

Kita tidak melihat teknisi yang bekerja.

Kita tidak melihat fasilitas perawatan.

Kita tidak melihat orang-orang yang memastikan sarana berada dalam kondisi yang sesuai.

Padahal semuanya merupakan bagian dari perjalanan kereta.

Ada paradoks yang menarik:

Kalau pekerjaan perawatan dilakukan dengan baik, justru pekerjaan itu sering tidak terlihat.

Kereta berjalan.

Penumpang sampai tujuan.

Semua terasa biasa.

Dan justru “biasa” itulah salah satu ukuran keberhasilan pekerjaan yang dilakukan di balik layar.

Di Balik Satu Kereta, Ada Banyak Orang

Foto kereta dari dalam kabin memberikan perspektif yang menarik.

Di depan kita ada rel.

Jalur terbentang.

Perjalanan berlangsung.

Tetapi dari sisi lain, ada manusia yang bekerja untuk memastikan perjalanan dapat berlangsung dalam sebuah sistem yang teratur.

Ada masinis.

Ada teknisi.

Ada petugas perawatan.

Ada penguji.

Ada operator.

Ada pengawas.

Ada regulator.

Mereka tidak semuanya terlihat oleh penumpang.

Bahkan sebagian besar mungkin tidak pernah kita kenal namanya.

Namun pekerjaan mereka saling berhubungan.

Itulah mengapa sebuah perjalanan kereta api tidak pernah benar-benar hanya tentang kereta.

Di belakang satu perjalanan, ada sistem manusia yang panjang.

Ketika CC 300 Melintas di Bogor–Sukabumi

Belakangan ini, dunia perkeretaapian juga menarik perhatian melalui berbagai kegiatan pengujian.

Dalam catatan Darustation, pada 31 Agustus–1 September 2026 terdapat kegiatan pengujian jalur ganda Paledang–Cicurug pada lintas Bogor–Sukabumi dengan penggunaan lokomotif CC 300.

Bagi masyarakat yang melihatnya dari pinggir jalur, mungkin yang terlihat hanya lokomotif melintas.

Tetapi kegiatan pengujian mempunyai konteks yang lebih luas.

Ada jalur yang diuji.

Ada sarana yang digunakan.

Ada aspek teknis.

Ada personel.

Ada koordinasi.

Dan ada tahapan yang harus dilakukan sebelum sebuah fasilitas digunakan sesuai peruntukannya.

Karena itu, kita juga perlu berhati-hati menggunakan istilah.

Pengujian bukan perawatan.

Perawatan bukan operasi.

Dan perjalanan pengujian bukan otomatis perjalanan komersial.

Masing-masing mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda.

Perawatan Juga Berkaitan dengan Aset Negara

Ada sisi lain yang menarik dari pekerjaan Balai Perawatan Perkeretaapian.

Perawatan tidak hanya soal teknis.

Ada pula persoalan pengelolaan aset negara.

Pada 2024, KPKNL Semarang memberikan penghargaan kepada Balai Perawatan Perkeretaapian atas kinerja terbaik dalam utilisasi Barang Milik Negara (BMN). Dalam kegiatan tersebut, Prayudi juga menjelaskan roadmap pengembangan Balai Perawatan Perkeretaapian menuju fasilitas perawatan perkeretaapian berstandar kelas dunia, termasuk rencana pengembangan test track.

Artinya, pekerjaan perawatan mempunyai dimensi yang lebih luas.

Ada sarana yang harus dijaga.

Ada fasilitas yang harus dimanfaatkan.

Ada aset negara yang harus dikelola.

Dan ada visi bagaimana fasilitas tersebut dapat terus berkembang.

Bukan Hanya Memperbaiki, Tetapi Menyiapkan Masa Depan

Hal menarik lainnya terlihat dari kerja sama pemanfaatan fasilitas perawatan.

Pada 2024, Balai Perawatan Perkeretaapian dan KAI Commuter melakukan kerja sama pemanfaatan aset Depo KRL Solo Jebres untuk mendukung perawatan sarana KRL. Kerja sama tersebut diarahkan agar sarana tetap laik operasional sekaligus mendukung keselamatan. Hal serupa juga terlihat pada fasilitas Depo KRL Depok.

Dari sini terlihat bahwa pekerjaan perawatan bukan pekerjaan yang berhenti di bengkel.

Ada pengelolaan.

Ada pengembangan.

Ada kerja sama.

Ada pemanfaatan aset.

Dan ada upaya membangun kapasitas untuk kebutuhan perkeretaapian di masa depan.

Prayudi dan Cerita di Balik Layar

Pada akhirnya, menarik mengenal Prayudi bukan semata karena ia seorang kepala balai.

Yang lebih menarik adalah apa yang bisa kita pelajari dari pekerjaan yang berada di balik jabatannya.

Bahwa dunia kereta api ternyata memiliki begitu banyak pekerjaan yang tidak terlihat.

Bahwa sebuah perjalanan yang kita anggap biasa sebenarnya merupakan hasil dari sistem yang panjang.

Dan bahwa perawatan mempunyai peranan penting agar sarana tetap dapat digunakan.

Prayudi menjadi salah satu pintu untuk mengenal dunia tersebut.

Bukan sebagai satu-satunya orang di balik perjalanan kereta.

Tetapi sebagai bagian dari sebuah sistem besar yang di dalamnya terdapat banyak orang dengan pekerjaan masing-masing.

Pekerjaan yang Baru Dicari Ketika Ada Masalah

Mungkin inilah bagian yang paling menarik.

Pekerjaan perawatan sering baru menjadi perhatian ketika terjadi gangguan.

Saat semuanya berjalan normal, kita jarang bertanya:

Siapa yang memeriksa?

Siapa yang merawat?

Siapa yang memastikan fasilitas tersedia?

Tetapi ketika sesuatu bermasalah, pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

Padahal pekerjaan perawatan yang baik justru berusaha menjaga agar berbagai potensi masalah dapat ditangani atau diminimalkan.

Karena itu, keberhasilan pekerjaan perawatan tidak selalu ditandai oleh berita besar.

Kadang justru sangat sederhana:

Kereta siap digunakan.

Kereta berjalan.

Penumpang sampai tujuan.

Dan semuanya berlangsung normal.

Catatan Darustation

Mungkin setelah membaca tulisan ini, cara kita melihat kereta api sedikit berubah.

Selama ini kita melihat kereta dari sisi penumpang.

Kereta datang.

Kita naik.

Kereta berangkat.

Kita turun.

Selesai.

Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu.

Sebelum kereta berjalan ada persiapan.

Selama perjalanan ada operasi dan pengawasan.

Setelah digunakan ada pemeriksaan.

Kemudian ada perawatan.

Dan siklus itu terus berulang.

Kereta api tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

Di belakangnya ada manusia.

Ada keahlian.

Ada sistem.

Ada fasilitas.

Ada pengawasan.

Ada tanggung jawab.

Dan ada pekerjaan yang sebagian besar tidak pernah kita lihat.

Maka, lain kali ketika melihat kereta api melintas, mungkin kita bisa berhenti sebentar dan melihat lebih jauh.

Jangan hanya melihat keretanya.

Lihat juga orang-orang yang membuat kereta itu siap berjalan.

Sebab pada akhirnya:

Kereta bisa berjalan bukan hanya karena ada rel.
Kereta bisa terus berjalan karena ada yang merawat.

Dan mungkin, itulah salah satu pekerjaan paling penting yang justru sering terlupakan karena hasilnya terlihat sederhana:

Perjalanan yang berjalan normal.

Di balik perjalanan yang normal itu ada dedikasi.

Dedikasi untuk keselamatan.

Dedikasi untuk menjaga kereta tetap siap berjalan.

Dan dedikasi untuk terus menggerakkan Indonesia ke depan.

UTAMAKAN KESELAMATAN.

KESELAMATAN ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA.

Dedicated for Safety, Moving Indonesia Forward.

Dedikasi untuk Keselamatan, Memajukan Indonesia.

— Darustation

Sumber

  1. Direktorat Jenderal Perkeretaapian / Kementerian Perhubungan — informasi mengenai struktur dan kedudukan Balai Perawatan Perkeretaapian.
  2. KPKNL Semarang – DJKN Kementerian Keuangan, Berikan Apresiasi Kinerja BMN Terbaik, KPKNL Semarang Serahkan Piagam Penghargaan pada Balai Perawatan Perkeretaapian, 7 November 2024.
  3. KAI Commuter — informasi kerja sama pemanfaatan Depo KRL Solo Jebres.
  4. KAI Commuter — informasi kerja sama pemanfaatan Depo KRL Depok.
  5. Komunikasi langsung penulis dengan Prayudi melalui WhatsApp sebagai sumber informasi mengenai posisi dan konteks pekerjaan narasumber.
  6. Dokumentasi/foto penulis sebagai ilustrasi artikel.

 

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan