Oleh: Mohamad Sobari | Darustation
Ada kalanya kita berada dalam posisi yang tidak nyaman.
Bukan karena kita melakukan kesalahan, tetapi karena kita memilih untuk tidak mengikuti apa yang dilakukan banyak orang.
Ketika mayoritas mengatakan “iya”, sementara hati dan pikiran kita mengatakan, “tunggu dulu”, di situlah keberanian diuji.
Berdiri bersama banyak orang memang terasa lebih mudah. Ada teman, ada dukungan, ada rasa aman.
Sebaliknya, berdiri sendirian sering membuat seseorang bertanya:
Apakah saya benar?
Apakah saya terlalu berbeda?
Apakah saya akan dianggap salah?
Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi.
Namun, dalam kehidupan, kita perlu memahami bahwa banyaknya orang yang berada di satu sisi tidak otomatis menentukan kebenaran.
Dan Islam memberikan prinsip yang sangat kuat tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menyikapi persoalan seperti ini.
Jangan Mengikuti Sesuatu yang Tidak Kita Ketahui
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui…”
Ayat tersebut juga mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. (Quran.com)
Bagi Darustation, ayat ini memiliki pesan yang sangat relevan dengan kehidupan sekarang.
Jangan hanya karena banyak orang mengatakan sesuatu, kemudian kita langsung mempercayainya.
Jangan hanya karena sebuah informasi berulang kali muncul di media sosial, kemudian kita menganggapnya sebagai fakta.
Dan jangan hanya karena orang-orang di sekitar kita mengambil keputusan tertentu, kita merasa harus melakukan hal yang sama.
Cari tahu. Periksa. Pahami. Baru mengambil sikap.
Sebab mengikuti keramaian tanpa mengetahui kebenarannya bukanlah sikap yang bijaksana.
Kebenaran Tidak Ditentukan Oleh Jumlah
Dalam kehidupan sosial, suara mayoritas memang penting.
Tetapi jumlah bukanlah satu-satunya ukuran kebenaran.
Al-Qur’an justru mengajarkan agar manusia tetap berlaku adil, bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang tidak disukai.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8:
“Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (Quran)
Ini adalah prinsip yang sangat dalam.
Artinya, ketika kita menilai sebuah persoalan, jangan sampai hubungan, kelompok, rasa suka, atau rasa tidak suka membuat kita kehilangan keadilan.
Kalau orang yang kita sukai salah, jangan dibela hanya karena dia bagian dari kelompok kita.
Kalau orang yang tidak kita sukai ternyata benar, jangan ditolak hanya karena kita tidak menyukainya.
Adil tetap harus adil.
Di sinilah terkadang kita diuji.
Berdiri Sendiri Tidak Berarti Pasti Benar
Tetapi ada sisi lain yang juga penting.
Jangan sampai tulisan tentang keberanian berdiri sendiri kemudian membuat kita merasa:
“Kalau saya sendirian berarti saya pasti benar.”
Tidak demikian.
Sendirian bukan bukti kebenaran.
Mayoritas juga bukan bukti kesalahan.
Seorang manusia tetap bisa keliru, meskipun ia merasa sangat yakin.
Karena itu, keberanian mempertahankan prinsip harus berjalan bersama kerendahan hati untuk menerima koreksi.
Al-Qur’an bahkan memuji orang-orang yang mau mendengarkan berbagai perkataan kemudian mengikuti yang terbaik darinya.
Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 18:
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya…” (Quran)
Maka menjadi kuat bukan berarti keras kepala.
Menjadi teguh bukan berarti menutup telinga.
Dan mempertahankan pendapat bukan berarti menolak semua nasihat.
Nabi Mengajarkan Pentingnya Nasihat
Rasulullah ﷺ juga memberikan prinsip yang sangat indah:
“Agama itu nasihat.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim 55a, ketika para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa nasihat itu berkaitan dengan Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan masyarakat umum. (Sunnah)
Artinya, kehidupan seorang Muslim bukan hanya tentang mempertahankan pendapat sendiri.
Ada ruang untuk saling mengingatkan.
Ada ruang untuk menerima nasihat.
Ada ruang untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan, tetapi dilakukan dengan niat yang baik.
Karena itu, ketika seseorang mengingatkan kita, tidak seharusnya reaksi pertama kita langsung:
“Dia pasti salah.”
Bisa jadi nasihat itu justru menjadi jalan Allah untuk menunjukkan sesuatu yang belum kita lihat.
Belajar Dari Imam Asy-Syafi’i: Mencari Kebenaran, Bukan Memenangkan Perdebatan
Ada pesan yang sangat indah dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tentang perdebatan.
Dalam riwayat yang dinukil Abu Nu’aim, beliau menyampaikan bahwa ketika berdiskusi, beliau tidak mempermasalahkan apakah kebenaran itu tampak melalui lisannya atau melalui lisan lawannya. (Abuamina Elias)
Pesan ini sangat dalam.
Bayangkan jika setiap orang memiliki sikap seperti itu.
Ketika berdiskusi, tujuannya bukan:
“Saya harus menang.”
Tetapi:
“Saya ingin menemukan kebenaran.”
Maka kita tidak akan terlalu sibuk mencari kelemahan orang lain.
Kita juga tidak akan malu mengakui jika ternyata pendapat orang lain lebih kuat.
Karena yang dicari bukan kemenangan ego.
Yang dicari adalah kebenaran.
Jangan Ikut Berkelompok Hanya Karena Takut Sendirian
Ada orang yang sebenarnya mengetahui bahwa sesuatu tidak tepat, tetapi tetap mengikutinya.
Bukan karena yakin.
Melainkan karena takut sendirian.
Takut tidak diterima.
Takut dianggap berbeda.
Takut kehilangan teman.
Takut menjadi bahan pembicaraan.
Akhirnya seseorang memilih mengikuti kelompok meskipun hati kecilnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Padahal, keberanian bukan selalu tentang melawan orang lain.
Kadang keberanian hanya berupa kemampuan mengatakan:
“Saya belum yakin. Saya ingin memeriksanya terlebih dahulu.”
Kalimat sederhana itu justru bisa menyelamatkan kita dari keputusan yang terburu-buru.
Tetapi Jangan Menjadikan Perbedaan Sebagai Alasan Untuk Merendahkan
Berbeda pendapat tidak harus bermusuhan.
Berbeda pandangan tidak harus saling mencaci.
Berbeda pilihan tidak harus membuat kita merasa lebih tinggi.
Kalau kita benar, tetaplah rendah hati.
Kalau orang lain berbeda, tetaplah menghormati.
Dan kalau ternyata kita yang salah, jangan malu untuk mengatakan:
“Saya keliru.”
Mengakui kesalahan bukan kehinaan.
Justru itu tanda bahwa kita masih mau belajar.
Kebenaran Harus Ditemani Kejujuran
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita berdiri sendirian atau bersama banyak orang.
Persoalannya adalah:
Apa yang menjadi dasar kita berdiri?
Apakah fakta?
Apakah ilmu?
Apakah kejujuran?
Apakah keadilan?
Ataukah hanya karena emosi, kepentingan, tekanan kelompok, atau keinginan untuk diterima?
Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. (Quran.com)
Al-Qur’an juga mengajarkan keadilan sekalipun terhadap pihak yang tidak kita sukai. (Quran)
Dan Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya nasihat. (Sunnah)
Sementara pesan Imam Asy-Syafi’i mengingatkan kita agar dalam perbedaan, yang dicari adalah kebenaran, bukan kemenangan pribadi. (Abuamina Elias)
Maka, jika suatu hari kita harus berdiri sendirian, jangan langsung takut.
Periksa kembali alasan kita.
Pastikan kita tidak sedang mempertahankan ego.
Pastikan kita tidak sedang menyebarkan sesuatu yang tidak kita ketahui.
Pastikan kita bersedia menerima koreksi.
Dan setelah semua itu, jika kita tetap yakin bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang benar, berjalanlah dengan tenang.
Tidak perlu berteriak.
Tidak perlu merendahkan orang lain.
Tidak perlu merasa paling suci.
Cukup lakukan apa yang diyakini benar dengan cara yang baik.

Penutup: Tidak Semua yang Ramai Itu Benar
DaruStation melihat pesan ini bukan sebagai ajakan untuk selalu melawan kelompok atau menjadi berbeda.
Bukan pula pesan bahwa orang yang sendirian pasti benar.
Lebih dari itu, ini adalah ajakan untuk tidak kehilangan akal sehat dan hati nurani hanya karena berada di tengah keramaian.
Jika bersama banyak orang, tetaplah berpikir.
Jika sendirian, tetaplah rendah hati.
Jika dikritik, dengarkan.
Jika salah, perbaiki.
Jika benar, jangan sombong.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya akan berhadapan dengan penilaian manusia.
Ada pertanggungjawaban yang jauh lebih besar di hadapan Allah.
Jangan takut berdiri sendirian.
Tetapi jangan pula merasa paling benar hanya karena berdiri sendirian.
Cari kebenaran.
Pegang keadilan.
Terima nasihat.
Periksa fakta.
Dan tetap rendah hati.
Itulah barangkali sikap yang lebih selamat dalam menjalani kehidupan.
Sumber & Landasan
- Al-Qur’an, QS. Al-Isra’ 17:36 — larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan dan pengingat tentang pertanggungjawaban pendengaran, penglihatan, dan hati. (Quran.com)
- Al-Qur’an, QS. Al-Ma’idah 5:8 — perintah untuk berlaku adil dan tidak meninggalkan keadilan karena rasa suka atau tidak suka. (Quran)
- Al-Qur’an, QS. Az-Zumar 39:18 — pujian bagi orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik darinya. (Quran)
- Sahih Muslim 55a — hadis “Ad-dinu an-nashihah” tentang prinsip nasihat dalam agama. (Sunnah)
- Pesan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tentang perdebatan dan keinginan agar kebenaran menjadi jelas, baik melalui lisannya maupun lisan orang lain; dinukil Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Awliya’. (Abuamina Elias)
