Oleh: Mohamad Sobari | Darustation.com
Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup dalam:
Setelah peringatan Maulid Nabi selesai, apa yang berubah?
Masjid mungkin kembali sepi.
Kursi-kursi dikembalikan ke tempatnya.
Spanduk diturunkan.
Sisa konsumsi dibersihkan.
Pengeras suara dimatikan.
Para jamaah pulang ke rumah masing-masing.
Lalu kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Di sinilah pertanyaan itu menjadi penting.
Apakah Maulid hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan, foto bersama, lantunan shalawat dan ceramah yang kemudian berlalu begitu saja?
Ataukah ada sesuatu yang ikut pulang bersama kita—akhlak yang lebih baik, hati yang lebih lembut, dan hubungan sosial yang lebih sehat?
Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan makna peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Justru sebaliknya. Peringatan Maulid akan memiliki makna yang lebih dalam apabila keteladanan Rasulullah tidak berhenti di ruang acara, tetapi ikut hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kementerian Agama dalam sejumlah kegiatan Maulid pada 2026 juga menekankan bahwa peringatan Maulid seharusnya menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, bukan berhenti pada kegiatan seremonial.
Maulid Bukan Sekadar Acara Tahunan
Peringatan Maulid Nabi memiliki wajah yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Ada pengajian.
Ada pembacaan shalawat.
Ada tausiyah.
Ada konsumsi.
Ada gotong royong.
Ada pertemuan warga.
Semua itu dapat menjadi bagian dari silaturahmi dan syiar.
Namun, jangan sampai kita terjebak pada satu hal: mengukur keberhasilan Maulid hanya dari kemeriahan acaranya.
Acara yang ramai tentu menyenangkan.
Tetapi ukuran yang lebih penting mungkin justru terlihat setelah acara selesai.
Apakah setelah mendengar kisah Rasulullah ﷺ kita menjadi lebih sabar?
Apakah kita lebih mampu menjaga lisan?
Apakah kita lebih menghargai tetangga?
Apakah kita lebih mudah meminta maaf?
Apakah kita mampu berbeda pendapat tanpa bermusuhan?
Atau semua kembali seperti sebelumnya?
Di sinilah Maulid seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar panggung.
Rasulullah Dikenang Karena Akhlaknya
Al-Qur’an menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai uswatun hasanah—teladan yang baik—bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.
Artinya, keteladanan Rasulullah bukan hanya untuk diceritakan, tetapi untuk dipelajari dan diikuti.
Hadis juga menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai orang yang memiliki akhlak dan perilaku terbaik. Dalam Sahih Muslim 2310b, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan orang yang terbaik akhlaknya.
Riwayat lain dalam Sahih Muslim juga menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak berkata kasar atau mencela orang lain dan menekankan keutamaan akhlak yang baik.
Maka ketika kita memperingati Maulid, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan pertanyaan yang sangat sederhana:
Apakah akhlak Rasulullah semakin terlihat dalam diri kita?
Sebab kalau yang berubah hanya suasana acara, sementara perilaku kita tetap sama, mungkin masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Ketika Lingkungan Menjadi “Toxic”
Istilah toxic sekarang sangat mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari.
Lingkungan toxic biasanya digunakan untuk menggambarkan lingkungan yang membuat seseorang merasa tertekan, tidak nyaman, tidak dihargai, atau terus-menerus berhadapan dengan pola interaksi yang tidak sehat.
Namun, kita perlu hati-hati menggunakan istilah ini.
Jangan sampai kata toxic justru menjadi label untuk setiap orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Tidak semua konflik adalah toxic.
Tidak semua kritik adalah serangan.
Tidak semua perbedaan adalah permusuhan.
Justru masyarakat yang sehat membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika pola hubungan sosial mulai dipenuhi kebiasaan yang merusak: saling menjatuhkan, mempermalukan, menyebarkan prasangka, memelihara konflik, atau membuat orang lain menjadi sasaran pembicaraan ketika tidak berada di tempat.
Di lingkungan seperti inilah nilai Maulid menjadi semakin relevan.
Sebab tantangan akhlak bukan ketika semua orang bersikap baik kepada kita.
Tantangan akhlak justru muncul ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Apakah Kita Ikut Menjadi Bagian dari Masalah?
Ini mungkin pertanyaan yang paling tidak nyaman.
Ketika kita mengatakan lingkungan kita toxic, pernahkah kita bertanya:
Jangan-jangan saya juga ikut menyumbang suasana tersebut?
Bukan berarti semua masalah adalah kesalahan kita.
Bukan pula berarti orang yang menjadi korban perlakuan buruk harus menyalahkan dirinya sendiri.
Tetapi introspeksi tetap penting.
Apakah kita pernah menyebarkan cerita yang belum jelas?
Apakah kita pernah membicarakan seseorang tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan?
Apakah kita pernah menghakimi hanya berdasarkan satu sisi cerita?
Apakah kita pernah membawa persoalan pribadi menjadi konflik kelompok?
Apakah kita pernah menggunakan media sosial untuk menyindir orang lain?
Dan yang paling sederhana:
Apakah kehadiran kita membuat lingkungan menjadi lebih tenang atau justru lebih panas?
Pertanyaan semacam ini mungkin lebih penting daripada sibuk menghitung kesalahan orang lain.
Shalawat Ramai, tetapi Jangan Sampai Lisan Tetap Tajam
Ada ironi yang kadang muncul dalam kehidupan sosial.
Kita bisa begitu khusyuk membaca shalawat.
Tetapi setelah itu, lisan kita masih mudah menyakiti.
Kita bisa begitu terharu mendengar kisah kelembutan Rasulullah ﷺ.
Tetapi dalam percakapan sehari-hari kita masih mudah merendahkan orang.
Kita berbicara tentang ukhuwah.
Tetapi berbeda pilihan atau pendapat sedikit saja, hubungan langsung renggang.
Kita berbicara tentang kasih sayang.
Tetapi masih sulit memaafkan kesalahan orang lain.
Tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna.
Karena itu tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa yang paling buruk.
Justru sebaliknya.
Kita semua sedang belajar.
Maulid adalah kesempatan untuk belajar kembali.
Kritik Boleh, Akhlak Jangan Hilang
Masyarakat tidak akan berkembang kalau tidak ada kritik.
Kritik diperlukan untuk memperbaiki kesalahan.
Pertanyaan diperlukan untuk memastikan sesuatu berjalan dengan benar.
Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari kehidupan bersama.
Tetapi kritik dan akhlak tidak perlu dipertentangkan.
Kita dapat menyampaikan kritik tanpa menghina.
Kita dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa membenci.
Kita dapat mempertanyakan keputusan tanpa menyerang pribadi.
Kita dapat tegas tanpa kasar.
Dan kita dapat mempertahankan prinsip tanpa kehilangan rasa hormat.
Berbeda bukan berarti bermusuhan.
Kalimat ini sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah.
Maulid Seharusnya Menjadi Tes Akhlak
Kalau mau jujur, mungkin Maulid bukan hanya perayaan.
Maulid bisa menjadi semacam tes akhlak.
Bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda dengan kita?
Bagaimana kita menghadapi orang yang pernah mengecewakan kita?
Bagaimana kita bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan?
Bagaimana kita merespons ketika nama kita dibicarakan?
Bagaimana kita menjaga lisan ketika sedang marah?
Bagaimana kita menggunakan media sosial ketika memiliki kesempatan untuk menyindir?
Di situlah nilai-nilai yang kita dengarkan dalam ceramah diuji.
Sebab akhlak tidak terlalu sulit ketika kita sedang duduk tenang mendengarkan tausiyah.
Akhlak diuji ketika emosi muncul.
Ketika ego tersentuh.
Ketika kepentingan berbeda.
Ketika kita merasa diperlakukan tidak adil.
Di situlah Maulid seharusnya hidup.
Jangan Menunggu Orang Lain Berubah
Ada satu jebakan dalam kehidupan sosial: kita sering menunggu orang lain berubah terlebih dahulu.
Kita berkata:
“Kalau dia berubah, saya juga akan berubah.”
“Kalau dia minta maaf, saya akan memaafkan.”
“Kalau mereka menghargai saya, saya akan menghargai mereka.”
Akhirnya semua menunggu.
Tidak ada yang memulai.
Padahal perubahan tidak selalu harus dimulai dari orang lain.
Kita bisa memulainya dari diri sendiri.
Mulai dari menjaga ucapan.
Mulai dari berhenti menyebarkan prasangka.
Mulai dari berani meminta maaf.
Mulai dari memberi kesempatan orang lain menjelaskan.
Mulai dari tidak ikut menyebarkan keburukan.
Mulai dari memilih diam ketika sebuah ucapan hanya akan memperbesar konflik.
Kecil?
Mungkin.
Tetapi perubahan sosial memang sering dimulai dari tindakan-tindakan kecil.
Setelah Acara Selesai, Di Situlah Cerita Sebenarnya Dimulai
Maulid selesai bukan berarti pelajaran tentang Rasulullah ﷺ juga selesai.
Justru mungkin cerita sebenarnya baru dimulai ketika kita meninggalkan tempat acara.
Ketika bertemu tetangga.
Ketika masuk grup WhatsApp.
Ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Ketika berhadapan dengan orang yang pernah mengecewakan kita.
Ketika ada persoalan di lingkungan.
Ketika kita memiliki kesempatan untuk membicarakan keburukan seseorang.
Di situlah pertanyaan Maulid kembali muncul:
Apa yang akan kita lakukan?
Memilih memperpanjang masalah?
Atau memilih menjadi bagian dari penyelesaian?
Memilih membalas?
Atau memilih menjaga akhlak?
Memilih menyebarkan cerita?
Atau memilih tabayun dan mencari kejelasan?
Pilihan-pilihan kecil itulah yang akhirnya membentuk karakter sebuah lingkungan.
Jangan Sampai Masjid Ramai, tetapi Hubungan Sosial Sepi
Ini bukan berarti aktivitas keagamaan tidak penting.
Justru aktivitas keagamaan sangat penting.
Tetapi kegiatan keagamaan idealnya juga memberi dampak kepada kehidupan sosial.
Masjid yang ramai semestinya menjadi tempat tumbuhnya kepedulian.
Pengajian semestinya memperkuat persaudaraan.
Maulid semestinya mengingatkan kita pada akhlak Rasulullah.
Dan silaturahmi semestinya membuat manusia semakin mampu hidup berdampingan.
Kementerian Agama Aceh Tamiang pada September 2026, misalnya, menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sosial dan menjaga lingkungan kehidupan sosial serta alam.
Pesannya sederhana: akhlak bukan hanya urusan pribadi. Akhlak juga memiliki dampak sosial.
Ketika seseorang menjaga lisannya, lingkungan menjadi lebih tenang.
Ketika seseorang berhenti menyebarkan prasangka, konflik dapat berkurang.
Ketika seseorang mau mendengarkan, komunikasi menjadi lebih sehat.
Ketika seseorang mau memaafkan, hubungan memiliki kesempatan untuk pulih.
Lalu, Apa yang Berubah Setelah Maulid?
Mungkin inilah pertanyaan yang paling layak kita bawa pulang.
Bukan berapa banyak orang yang hadir.
Bukan seberapa meriah acara.
Bukan seberapa bagus dokumentasi.
Tetapi:
Apa yang berubah dalam diri kita?
Apakah kita menjadi sedikit lebih sabar?
Sedikit lebih lembut?
Sedikit lebih jujur?
Sedikit lebih mampu menahan diri?
Sedikit lebih peduli?
Sedikit lebih menghargai orang lain?
Kalau iya, maka Maulid tidak berhenti sebagai seremoni.
Ada sesuatu yang hidup.
Dan sesuatu itu bernama akhlak.
Namun jika belum banyak berubah, tidak perlu berkecil hati.
Mungkin justru itulah fungsi Maulid: mengingatkan kita bahwa perjalanan memperbaiki diri memang tidak selesai dalam satu malam.

Penutup: Shalawat Jangan Hanya Menggema di Acara
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan perlombaan siapa yang paling religius.
Bukan pula kesempatan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Maulid adalah kesempatan untuk kembali bercermin.
Kita melihat keteladanan Rasulullah ﷺ, kemudian melihat diri sendiri.
Sudah sejauh mana kita meneladaninya?
Sudah sejauh mana kita menjaga lisan?
Sudah sejauh mana kita merawat ukhuwah?
Sudah sejauh mana kita mampu menghadapi perbedaan?
Dan sudah sejauh mana kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain?
Lingkungan mungkin belum sempurna.
Orang lain mungkin belum berubah.
Konflik mungkin masih ada.
Tetapi kita tidak harus ikut menjadi bagian dari masalah.
Kita bisa memilih untuk menjaga akhlak.
Kita bisa memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Kita bisa memilih untuk mengkritik tanpa menghina.
Kita bisa memilih untuk berbeda tanpa bermusuhan.
Dan kita bisa memilih untuk tetap berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan perlakuan yang baik.
Karena mungkin ukuran paling sederhana dari keberhasilan Maulid bukanlah seberapa meriah acara ketika dimulai, tetapi seberapa baik akhlak kita setelah acara selesai.
Shalawat jangan hanya menggema di masjid.
Akhlak juga harus terdengar dalam ucapan dan terlihat dalam perbuatan.
Dan kalau lingkungan di sekitar kita belum menjadi baik, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Mengapa mereka tidak berubah?”
Melainkan:
“Kebaikan apa yang bisa saya mulai hari ini?”
Mohamad Sobari | Darustation.com
Bersama Kita Bisa
Sumber:
- Kementerian Agama Kota Depok — Maulid Nabi sebagai momentum menanamkan keteladanan
- Kementerian Agama Kota Depok — Maulid Nabi 1448 H dan keteladanan Rasulullah
- Kementerian Agama Kota Bandar Lampung — Maulid Nabi dan penguatan akhlak
- Kementerian Agama Aceh Tamiang — Akhlak Rasulullah dalam kehidupan sosial dan lingkungan
- Sahih Muslim 2310b — Akhlak Rasulullah ﷺ
- Sahih Muslim 2321a — Keutamaan akhlak yang baik
