Setiap pagi dan sore, jutaan masyarakat Jabodetabek bergerak bersama menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL). Ada yang berdiri sambil memegang tas kerja, ada yang tertidur karena lelah, ada pula yang sibuk memandangi layar ponsel di tengah perjalanan.
Bagi masyarakat perkotaan, KRL bukan sekadar transportasi. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Namun di balik padatnya Commuter Line hari ini, ternyata ada sejarah panjang yang melibatkan banyak negara dan perjalanan teknologi lintas zaman:
- mulai dari Hindia Belanda,
- teknologi Jepang,
- kerja sama Korea dan Eropa,
- masuknya produk China,
- hingga lahirnya KRL buatan PT INKA Indonesia sendiri.
Ini bukan sekadar cerita kereta api. Ini adalah perjalanan Indonesia dalam belajar membangun kemandirian transportasi nasional.
🚉 1925: Ketika Batavia Sudah Mengenal Kereta Listrik
Banyak orang tidak menyangka bahwa Indonesia sudah mengenal kereta listrik sejak zaman kolonial.
Tanggal 6 April 1925 menjadi tonggak penting ketika KRL pertama mulai beroperasi di Batavia (Jakarta) pada masa Hindia Belanda.
Jalur awalnya melayani:
- Tanjung Priok,
- Kemayoran,
- hingga Jatinegara.
Kereta listrik tersebut diproduksi oleh perusahaan Werkspoor dari Belanda dan dikenal masyarakat dengan sebutan:
“Kereta Bon-Bon”
Konon karena bentuk depannya dianggap mirip cokelat bonbon.
Pada masa itu, Batavia termasuk salah satu kota modern di Asia yang telah menggunakan transportasi listrik.
Rel kereta menjadi bagian penting aktivitas pelabuhan, perdagangan, dan mobilitas masyarakat kota.
Era Jepang: KRL Menjadi Transportasi Rakyat
Setelah Indonesia merdeka, pengembangan KRL sempat berjalan lambat. Baru pada era 1970-an pemerintah mulai serius membangun transportasi massal perkotaan.
Indonesia kemudian mendatangkan berbagai KRL dari Jepang:
- Hitachi,
- Kawasaki,
- Nippon Sharyo,
- Tokyu,
- Tokyo Metro,
- JR East.
Bagi masyarakat Jabodetabek, KRL Jepang memiliki kenangan tersendiri.
Mulai dari:
- kipas angin tua di gerbong,
- bangku panjang warna biru,
- suara motor traksi khas,
- hingga suasana penuh penumpang saat jam pulang kerja.
Walaupun banyak armadanya merupakan kereta bekas Jepang, kualitasnya memang terkenal tangguh dan tahan lama.
Di sinilah KRL berubah menjadi transportasi rakyat.
Bukan lagi simbol modernitas kolonial, tetapi alat perjuangan masyarakat kota untuk mencari nafkah setiap hari.
1981: PT INKA dan Mimpi Membuat KRL Nasional
Di tengah dominasi kereta impor, Indonesia ternyata memiliki mimpi besar:
membuat kereta sendiri.
Tanggal 18 Mei 1981, pemerintah mendirikan:
PT INKA
Pada awalnya kemampuan INKA masih sederhana:
- membuat bodi kereta,
- perawatan,
- dan perakitan.
Namun perlahan kemampuan nasional mulai berkembang.
Tahun 1986–1987, INKA mulai belajar merakit KRL Rheostatik Jepang melalui sistem transfer teknologi.
Dari sinilah teknisi Indonesia mulai memahami:
- sistem kelistrikan,
- motor traksi,
- pengereman,
- hingga teknologi commuter modern.
Belajar dari Korea dan Eropa
Memasuki tahun 1990-an, INKA mulai meningkatkan kemampuan melalui kerja sama internasional.
Indonesia bekerja sama dengan:
- Hyundai Korea Selatan,
- BN-Holec Belanda-Jerman.
Dari kerja sama tersebut lahirlah:
KRL BN-Holec
KRL ini menjadi salah satu simbol awal bahwa Indonesia mulai berani membangun kereta listrik sendiri.
Walaupun belum sempurna, proyek ini sangat penting karena:
- meningkatkan kemampuan engineer lokal,
- memperkuat pengalaman manufaktur,
- dan membuka jalan menuju industri KRL nasional.
🚆 2011: Tantangan Besar KRL i9000
Tahun 2011, PT INKA meluncurkan:
KRL i9000 / EA202
Saat itu masyarakat menaruh harapan besar agar Indonesia benar-benar mampu membuat KRL modern sendiri.
Namun perjalanan industri tidak selalu mulus.
Berbagai tantangan muncul:
- sistem pintu,
- reliability,
- pengereman,
- hingga adaptasi terhadap kepadatan ekstrem Jabodetabek.
Sebagian masyarakat membandingkan kualitasnya dengan KRL Jepang yang sudah matang selama puluhan tahun.
Tetapi justru dari sinilah proses belajar nasional terjadi.
Tidak ada negara industri yang langsung sempurna dalam satu tahap.
Masuknya Teknologi Kereta China
Dalam beberapa tahun terakhir, China berkembang menjadi pemain besar industri perkeretaapian dunia.
Melalui perusahaan seperti:
CRRC (China Railway Rolling Stock Corporation)
China kini mampu memproduksi:
- kereta cepat,
- MRT,
- LRT,
- hingga commuter train modern.
Indonesia juga mulai membuka peluang kerja sama dengan perusahaan China seperti:
CRRC Qingdao Sifang
Produk China mulai dilirik karena:
- harga lebih kompetitif,
- kapasitas produksi besar,
- dan teknologi berkembang cepat.
Namun sebagian masyarakat masih mempertanyakan:
- daya tahan jangka panjang,
- kualitas material,
- dan kemampuan adaptasi di Jabodetabek.
🚆 2025: KRL PT INKA Memasuki Babak Baru
Kini Indonesia mulai memasuki era baru ketika KRL produksi terbaru PT INKA mulai digunakan di Jabodetabek.
Generasi terbaru tersebut dikenal dengan:
CLI-225 / iE-305
Ini menjadi simbol penting bahwa Indonesia mulai:
- mengurangi ketergantungan impor,
- memperkuat industri nasional,
- dan membangun teknologi transportasi sendiri.
Walaupun masih ada evaluasi teknis, langkah ini tetap menjadi sejarah besar bagi industri kereta Indonesia.
🌙 Pandangan dan Saran Darustation
Menurut Darustation, perkembangan KRL Indonesia tidak cukup hanya dilihat dari:
- jumlah gerbong,
- kecanggihan teknologi,
- atau kecepatan kereta.
Yang jauh lebih penting adalah:
bagaimana transportasi publik membentuk budaya masyarakat.
KRL seharusnya mampu:
- mengurangi ego kendaraan pribadi,
- membangun budaya antre,
- meningkatkan disiplin publik,
- dan menghadirkan kota yang lebih manusiawi.
Darustation juga menilai Indonesia harus terus memperkuat:
- transfer teknologi,
- pendidikan engineer lokal,
- riset perkeretaapian,
- dan keberanian menggunakan produk nasional.
Karena jika Indonesia hanya menjadi pasar produk luar negeri, maka ketergantungan akan terus terjadi.
Tetapi jika Indonesia mampu:
- belajar,
- memproduksi,
- mengembangkan,
- dan memperbaiki,
maka bukan tidak mungkin suatu hari nanti:
🚆 KRL buatan Indonesia justru akan melaju di berbagai negara dunia.
📚 Sumber Referensi
- PT INKA
- KAI Commuter
- IRPS (Indonesian Railway Preservation Society)
- Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub RI
- PT Kereta Api Indonesia (Persero)
- CRRC Corporation Limited
- Arsip sejarah perkeretaapian Hindia Belanda dan dokumentasi komunitas pecinta kereta api Indonesia.
- Dokumentasi sejarah KRL Jabodetabek dari berbagai sumber komunitas transportasi dan pengamat perkeretaapian Indonesia.

