Oleh: Mohamad Sobari | Darustation.com
Transportasi publik di Jabodetabek terus mengalami perubahan untuk menjawab meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat. Salah satu rencana yang kini menjadi perhatian adalah optimalisasi operasional Commuter Line lintas Citayam–Nambo, di mana seluruh perjalanan KRL dari Nambo direncanakan hanya sampai Stasiun Citayam.
Bagi sebagian masyarakat, kebijakan ini dianggap sebagai langkah maju untuk meningkatkan kapasitas layanan. Namun bagi pengguna setia lintas Nambo, muncul pertanyaan yang tidak sederhana.
Apakah kebijakan ini benar-benar akan mempercepat perjalanan, atau justru menambah beban karena penumpang harus transit setiap hari?
Inilah yang perlu dikaji lebih dalam.
Lintas Nambo: Jalur Kecil dengan Potensi Besar
Selama bertahun-tahun lintas Nambo sering disebut sebagai “jalur pinggiran” di jaringan Commuter Line Jabodetabek.
Padahal jika melihat perkembangan wilayahnya, lintas ini justru melayani kawasan dengan pertumbuhan tercepat di Kabupaten Bogor.
Mulai dari:
- Citayam
- Pondok Rajeg
- Cibinong
- Gunung Putri
- Nambo
seluruhnya berkembang menjadi kawasan permukiman, pusat pemerintahan, kawasan industri, hingga kawasan logistik.
Artinya, kebutuhan transportasi massal sebenarnya terus meningkat setiap tahun.
Ironisnya, kapasitas lintas Nambo belum berkembang secepat pertumbuhan wilayahnya.
Data Operasional Menunjukkan Layanan Mulai Berkembang
Berdasarkan data yang ditampilkan dalam infografik, saat ini lintas Nambo telah mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Beberapa indikator yang cukup penting antara lain:
- 32 perjalanan KRL per hari
- Kapasitas layanan sekitar 93–94 ribu penumpang per hari
- Sebelumnya hanya sekitar 20 perjalanan dengan kapasitas sekitar 57 ribu penumpang per hari
Artinya terdapat peningkatan cukup signifikan.
Ini menunjukkan bahwa PT KAI dan KAI Commuter mulai memberi perhatian lebih besar terhadap lintas Nambo.
Namun apabila dibandingkan dengan lintas Bogor atau Bekasi, kapasitas tersebut masih tergolong kecil.
Pondok Rajeg Menjadi Bukti Bahwa Permintaan Penumpang Sangat Tinggi
Salah satu data menarik dalam infografik adalah pertumbuhan pengguna Stasiun Pondok Rajeg.
Jumlah pengguna tercatat sekitar 42.000 orang per bulan, meningkat sekitar 50 persen dibanding periode awal operasional.
Angka tersebut memberikan pesan yang sangat jelas.
Masalah utama lintas Nambo bukan karena masyarakat tidak mau naik KRL.
Masalah utamanya adalah kapasitas layanan yang selama ini belum mampu mengikuti pertumbuhan kawasan permukiman.
Semakin baik pelayanannya, semakin besar pula masyarakat yang beralih dari kendaraan pribadi menuju transportasi umum.

Mengapa Citayam Dipilih?
Secara operasional keputusan menjadikan Citayam sebagai stasiun terminasi cukup masuk akal.
Citayam merupakan simpul utama yang terhubung langsung dengan lintas Bogor menuju:
- Depok
- Universitas Indonesia
- Lenteng Agung
- Pasar Minggu
- Manggarai
- Tanah Abang
- Sudirman
- Jakarta Kota
Dengan memusatkan terminasi di Citayam, operator berharap frekuensi KRL Nambo dapat ditingkatkan tanpa harus memasuki lintas utama yang sangat padat.
Dalam ilmu transportasi, konsep ini dikenal sebagai hub and spoke system, yaitu sistem pelayanan yang memusatkan perpindahan penumpang di satu simpul utama agar operasi menjadi lebih efisien.
Transit Bukan Persoalan, Asalkan Cepat
Banyak masyarakat langsung menolak konsep transit.
Padahal sebenarnya transit bukanlah masalah utama.
Yang menjadi masalah adalah lamanya waktu menunggu.
Sebagai contoh:
Jika KRL dari Nambo tiba pukul 07.10 WIB dan KRL Bogor berangkat pukul 07.12 WIB, maka proses transit hanya memerlukan waktu sekitar dua menit.
Namun apabila penumpang harus menunggu 15 hingga 20 menit, maka manfaat peningkatan frekuensi akan berkurang.
Karena itu, yang harus menjadi fokus utama bukan hanya perubahan rute, tetapi sinkronisasi jadwal perjalanan.
Peron 12 SF Menjadi Fondasi Peningkatan Kapasitas
Infografik juga menampilkan salah satu proyek penting, yaitu pembangunan peron 12 Stamformasi (12 SF).
Sebagian masyarakat menganggap proyek tersebut hanya memperpanjang peron.
Padahal manfaatnya jauh lebih besar.
Dengan rangkaian 12 kereta:
- kapasitas meningkat sekitar 20–25 persen;
- proses naik dan turun penumpang lebih cepat;
- waktu berhenti kereta lebih singkat;
- headway dapat dipersingkat;
- kapasitas lintas meningkat tanpa harus langsung membangun jalur baru.
Artinya, pembangunan peron merupakan bagian dari strategi besar peningkatan kapasitas Commuter Line.
Analisis Potensi Setiap Stasiun
Citayam
Merupakan simpul transit utama.
Apabila seluruh perjalanan Nambo berhenti di sini maka volume perpindahan penumpang dipastikan meningkat tajam.
Karena itu fasilitas peron, eskalator, akses keluar masuk serta informasi perjalanan harus ditingkatkan.
Pondok Rajeg
Menjadi stasiun dengan pertumbuhan tercepat.
Perkembangan kawasan perumahan menunjukkan bahwa okupansi penumpang masih akan terus meningkat dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang.
Cibinong
Berada di pusat pemerintahan Kabupaten Bogor.
Potensi penumpangnya relatif stabil karena berasal dari ASN, pegawai swasta, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat yang mengakses layanan publik.
Gunung Putri
Apabila layanan penumpang diaktifkan kembali secara penuh, stasiun ini diperkirakan menjadi salah satu penyumbang penumpang terbesar.
Gunung Putri merupakan kawasan industri terbesar di Kabupaten Bogor.
Nambo
Selain sebagai stasiun terminus, Nambo memiliki fungsi strategis untuk kawasan industri dan angkutan barang.
Ke depan perannya diperkirakan akan semakin penting apabila kawasan timur Kabupaten Bogor terus berkembang.
Proyeksi Tahun 2026–2030
Infografik juga menampilkan proyeksi pertumbuhan penumpang hingga tahun 2030.
Meskipun bersifat proyeksi, arah pertumbuhannya cukup logis.
Pertumbuhan diperkirakan terjadi karena:
- pembangunan kawasan perumahan;
- berkembangnya kawasan industri;
- meningkatnya integrasi transportasi;
- penambahan frekuensi perjalanan;
- penggunaan rangkaian 12 SF.
Namun proyeksi tersebut akan tercapai apabila seluruh program pengembangan berjalan sesuai rencana.
Tantangan Besar yang Masih Harus Diselesaikan
Darustation menilai terdapat beberapa tantangan penting.
- Kepadatan Citayam
Citayam akan menjadi titik transit baru.
Jika tidak dikelola dengan baik, kepadatan justru berpindah ke satu lokasi.
- Sinkronisasi Jadwal
Transit hanya efektif apabila jadwal antarkereta benar-benar terintegrasi.
- Integrasi Feeder
Banyak kawasan permukiman masih belum memiliki angkutan pengumpan menuju stasiun.
- Informasi Penumpang
Perubahan pola operasi harus disertai sosialisasi yang jelas agar masyarakat mudah beradaptasi.
- Jalur Tunggal
Optimalisasi operasional memang membantu.
Namun dalam jangka panjang, pembangunan jalur ganda (double track) tetap menjadi kebutuhan agar kapasitas layanan dapat terus meningkat.
Roadmap Pengembangan
Jika melihat tahapan yang disampaikan dalam infografik, arah pengembangan lintas Nambo dapat dibagi menjadi beberapa fase:
2024–2025
- Optimalisasi pola operasi.
- Penyesuaian grafik perjalanan.
- Persiapan penggunaan rangkaian 12 SF.
2026–2027
- Penambahan frekuensi perjalanan.
- Integrasi dengan layanan pengumpan (feeder).
- Pengembangan akses menuju stasiun.
2028–2029
- Pengembangan Stasiun Gunung Putri.
- Peningkatan kapasitas layanan.
- Penataan kawasan sekitar stasiun.
2030 dan seterusnya
- Kajian pembangunan jalur ganda.
- Pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD).
- Integrasi antarmoda yang lebih luas.
Analisis Darustation
Optimalisasi lintas Nambo merupakan langkah yang sudah lama dinantikan.
Namun ukuran keberhasilan kebijakan ini tidak boleh hanya dilihat dari bertambahnya jumlah perjalanan KRL.
Yang lebih penting adalah pengalaman pengguna.
Apakah perjalanan menjadi lebih cepat?
Apakah waktu tunggu benar-benar berkurang?
Apakah transit di Citayam berlangsung nyaman?
Apakah kepadatan penumpang tetap terkendali?
Jika seluruh pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik, maka kebijakan ini layak disebut sebagai peningkatan layanan.
Sebaliknya, apabila penumpang justru harus menunggu lebih lama, berpindah kereta dalam kondisi padat, dan tidak memperoleh informasi yang memadai, maka tujuan optimalisasi perlu dievaluasi kembali.

Kesimpulan
Lintas Nambo bukan lagi jalur pinggiran.
Perkembangan kawasan permukiman, pusat pemerintahan, kawasan industri, dan pertumbuhan jumlah penduduk menunjukkan bahwa koridor ini memiliki masa depan yang sangat besar.
Rencana menjadikan Citayam sebagai stasiun terminasi bukanlah sekadar perubahan pola operasi, melainkan bagian dari strategi meningkatkan kapasitas jaringan Commuter Line Jabodetabek.
Keberhasilan kebijakan ini akan ditentukan oleh empat faktor utama:
- Frekuensi perjalanan yang benar-benar meningkat.
- Transit di Citayam yang cepat dan nyaman.
- Kesiapan infrastruktur, termasuk peron 12 SF dan fasilitas stasiun.
- Komunikasi yang terbuka serta evaluasi berkelanjutan berdasarkan pengalaman pengguna.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan lebih banyak perjalanan KRL. Yang mereka harapkan adalah layanan yang lebih cepat, lebih nyaman, lebih terintegrasi, dan lebih dapat diandalkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Artikel ini diharapkan dapat menjadi bahan diskusi yang konstruktif bagi operator, pemerintah, dan para pengguna dalam mewujudkan transportasi publik yang semakin baik di Jabodetabek. (ds)
Referensi
- KAI Commuter – Berita Resmi
“KAI Commuter Siapkan Operasional Rangkaian Kereta SF 12 di Loop Line.” Menjelaskan persiapan operasional rangkaian 12 stamformasi (SF12), penyesuaian panjang peron, serta peningkatan kapasitas layanan. - Pemerintah Provinsi Jawa Barat – Biro Adpim
“KDM Dukung Optimalisasi Jalur Nambo–Citayam.” Berisi penjelasan mengenai rencana optimalisasi lintas Nambo–Citayam, peningkatan frekuensi menjadi sekitar 15 menit, penggunaan rangkaian 12 SF, dan target peningkatan kapasitas angkut hingga sekitar 200 ribu penumpang per hari setelah seluruh program pendukung selesai. - PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Informasi mengenai pengembangan sarana, prasarana, dan operasional perkeretaapian nasional. - Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA)
Dokumen dan kebijakan pengembangan jaringan perkeretaapian nasional. - Kementerian Perhubungan RI
Kebijakan transportasi nasional dan pengembangan angkutan massal perkotaan. - Laporan Kinerja BPTJ 2022 (Kementerian Perhubungan)
Menjelaskan proyek reaktivasi Stasiun Pondok Rajeg, termasuk pembangunan peron sepanjang 240 meter untuk mendukung operasional rangkaian 12 SF. - Jurnal PTDI-STTD – Reaktivasi Stasiun Gunung Putri
Kajian akademik mengenai kapasitas lintas Citayam–Nambo, reaktivasi Stasiun Gunung Putri, dan peluang peningkatan frekuensi perjalanan. - Jurnal PTDI-STTD – Peningkatan Jumlah Perjalanan KRL Lintas Nambo–Jakarta Kota
Membahas skenario short working seperti lintas Nambo–Citayam sebagai layanan feeder untuk meningkatkan efisiensi operasi dan frekuensi perjalanan.
Catatan Redaksi Darustation:
Artikel ini disusun berdasarkan informasi resmi dari PT KAI, KAI Commuter, Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dokumen BPTJ, kajian akademik PTDI-STTD, serta analisis editorial Darustation. Beberapa bagian yang membahas proyeksi pertumbuhan penumpang, roadmap pengembangan, dan evaluasi dampak operasional merupakan analisis redaksi, bukan pernyataan resmi dari PT KAI maupun KAI Commuter.
