Lingkungan

Nguras Galon Lele Setiap 2 Hari, Bau Amisnya ke Mana? Ada Eco Enzyme

Oleh: Mohamad Sobari | Darustation

Memelihara lele di dalam galon ternyata bukan hanya soal memberi makan dan menunggu ikan tumbuh besar.

Ada pekerjaan rutin yang harus dilakukan.

Menguras airnya.

Kalau lele dipelihara dalam wadah yang relatif kecil, air akan lebih cepat kotor karena bercampur dengan kotoran ikan dan sisa pakan. Karena itu, air perlu diganti secara berkala sesuai kondisi pemeliharaan.

Dalam praktik yang saya lakukan, galon lele dikuras sekitar dua hari sekali.

Air lama dikeluarkan, bagian wadah dibersihkan, kemudian diisi kembali dengan air yang baru.

Kelihatannya sederhana.

Tetapi ada satu persoalan yang muncul setiap kali kegiatan itu dilakukan.

Air bekas lele ternyata bau amis.

Dan persoalannya bukan lagi ikan.

Persoalannya adalah limbah airnya.

Air Bekas Lele Jangan Dianggap Sekadar Air Buangan

Setiap kali galon dikuras, ada air yang harus dibuang.

Air tersebut membawa berbagai bahan organik dari aktivitas pemeliharaan ikan, termasuk sisa kotoran dan kemungkinan sisa pakan.

Kalau langsung dibuang begitu saja, terutama di sekitar rumah, bau amis bisa tertinggal.

Hari ini dikuras.

Besok dikuras lagi.

Dua hari kemudian dikuras lagi.

Kalau tidak dikelola, lama-lama bukan hanya galonnya yang menjadi perhatian, tetapi lingkungan di sekitar tempat pembuangan limbahnya.

Di sinilah kegiatan kecil memelihara lele bertemu dengan persoalan yang lebih besar:

bagaimana kita mengelola limbah dari aktivitas kita sendiri?

Bau Amis yang Mengganggu

Bau amis sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam kegiatan pemeliharaan ikan.

Tetapi kalau air limbahnya dibuang berulang kali di lokasi yang sama, aromanya bisa cukup mengganggu.

Apalagi kalau pembuangan dilakukan di tempat yang tidak memiliki aliran atau drainase yang baik.

Air menggenang.

Bahan organik tertinggal.

Bau kemudian muncul kembali.

Solusinya tentu bukan sekadar menyemprotkan pewangi.

Sebab kita bukan sedang mencari cara untuk menutupi bau, tetapi berusaha mengurangi persoalan dari limbah yang dihasilkan.

Dan di sinilah muncul sebuah alternatif yang menarik:

eco enzyme.

Eco Enzyme untuk Membantu Mengatasi Bau Limbah

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik, yang umumnya dibuat dengan memanfaatkan bahan seperti sisa kulit buah, sumber gula, dan air.

Bagi pegiat lingkungan, eco enzyme menarik karena bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali melalui proses fermentasi.

Dalam konteks cerita ini, eco enzyme bukan untuk dituangkan ke dalam galon tempat lele hidup.

Ini yang perlu ditegaskan.

Eco enzyme yang dimaksud digunakan untuk membantu menangani air limbah bekas pengurasan galon lele, terutama persoalan bau amis yang ditimbulkannya.

Jadi ada dua air yang harus dibedakan.

Air pertama: air yang menjadi tempat hidup lele.

Air kedua: air yang sudah dibuang setelah proses pengurasan.

Yang menjadi perhatian dalam artikel ini adalah air kedua.

Dari Bau Amis Menjadi Urusan Lingkungan

Kalau dipikir-pikir, persoalan ini sebenarnya sederhana.

Lele menghasilkan kotoran.

Air menjadi kotor.

Air kemudian diganti.

Air lama menjadi limbah.

Limbah menimbulkan bau.

Lalu kita mencari cara untuk mengelolanya.

Di sinilah eco enzyme bisa ditempatkan sebagai salah satu bagian dari solusi.

Bukan solusi tunggal.

Bukan cairan ajaib.

Tetapi salah satu upaya untuk membantu mengurangi bau tidak sedap pada limbah organik.

Penggunaannya pun harus dilakukan secara tepat, termasuk memperhatikan pengenceran dan kondisi tempat limbah tersebut berada.

Jangan sampai niat mengatasi bau justru membuat persoalan lingkungan baru.

Kenapa Tidak Langsung Dibuang Saja?

Pertanyaan ini mungkin muncul.

“Toh cuma air bekas lele. Kenapa harus repot?”

Karena sesuatu yang sedikit, kalau dilakukan berulang-ulang, bisa menjadi banyak.

Satu kali menguras mungkin hanya menghasilkan sejumlah kecil air limbah.

Tetapi kalau dilakukan setiap dua hari, dalam satu bulan bisa terjadi sekitar 15 kali pengurasan.

Bayangkan kalau bukan hanya satu galon.

Ada lima galon.

Sepuluh galon.

Atau lebih.

Jumlah limbahnya tentu semakin besar.

Di sinilah kebiasaan kecil perlu mulai dipikirkan.

Apa yang kita buang hari ini, ke mana akhirnya?

Jangan Hanya Menghilangkan Bau

Ada perbedaan antara menghilangkan bau dan mengelola limbah.

Kalau hanya ingin bau hilang, mungkin berbagai pewangi bisa digunakan.

Tetapi persoalan sebenarnya tetap ada.

Limbah masih ada.

Bahan organik masih ada.

Air bekas masih harus dibuang.

Karena itu, pendekatan yang lebih baik adalah mengelola prosesnya sejak awal.

Pertama, jangan memberikan pakan secara berlebihan.

Kedua, lakukan penggantian air sesuai kondisi pemeliharaan.

Ketiga, jangan membuang air limbah sembarangan.

Keempat, perhatikan tempat pembuangannya.

Dan kelima, jika menggunakan eco enzyme sebagai bagian dari pengendalian bau, gunakan dengan cara yang tepat.

Bukan sekadar menghilangkan bau, tetapi mengurangi gangguannya terhadap lingkungan sekitar.

Eco Enzyme dan Semangat Memanfaatkan Limbah

Ada sesuatu yang menarik dari eco enzyme.

Bahan dasarnya dapat berasal dari sisa organik rumah tangga, terutama limbah buah dan sayuran tertentu yang memang dapat difermentasi.

Artinya, ada semangat yang sama dengan pemeliharaan lele dalam galon.

Keduanya berangkat dari upaya memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar kita.

Galon yang tidak lagi digunakan dapat dimanfaatkan sebagai wadah.

Sisa organik rumah tangga dapat diolah menjadi eco enzyme.

Air bekas pemeliharaan tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.

Semua diarahkan menuju satu kebiasaan:

mengurangi limbah dan mengelolanya dengan lebih bertanggung jawab.

Tetapi Jangan Berlebihan Mengklaim

Di sinilah pentingnya bersikap realistis.

Kalau setelah menggunakan eco enzyme bau amis berkurang, tentu itu menjadi pengalaman yang menarik untuk dicatat.

Tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis berarti eco enzyme pasti efektif untuk semua jenis limbah air lele, semua konsentrasi, dan semua kondisi.

Hasil bisa dipengaruhi oleh banyak hal.

Jenis limbah.

Jumlah limbah.

Lama penyimpanan.

Kondisi lingkungan.

Konsentrasi eco enzyme.

Dan cara penggunaannya.

Karena itu, lebih tepat mengatakan:

eco enzyme dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengurangi bau pada limbah air bekas lele.

Bukan mengatakan bahwa eco enzyme pasti menghilangkan semua bau.

Perbedaan kalimat tersebut terlihat kecil.

Tetapi penting.

Lele Mengajarkan Kita tentang Tanggung Jawab

Awalnya hanya ingin memelihara lele.

Kemudian harus belajar mengurus air.

Setelah itu muncul persoalan air limbah.

Kemudian muncul bau amis.

Dan akhirnya kita belajar mencari cara mengelolanya.

Ternyata satu galon lele bisa membawa kita pada pembicaraan tentang lingkungan.

Itulah menariknya kegiatan sederhana di rumah.

Kita tidak perlu menunggu menjadi perusahaan besar untuk belajar mengelola limbah.

Tidak perlu menunggu memiliki kolam ikan yang luas.

Dari satu galon pun bisa dimulai.

Setiap Dua Hari Ada Limbah yang Harus Dipikirkan

Rutinitas menguras galon setiap dua hari akhirnya bukan sekadar rutinitas membersihkan air.

Ada konsekuensi di baliknya.

Setiap kali air diganti, ada air bekas yang harus ditangani.

Kalau dibuang sembarangan, bisa menimbulkan bau dan mengganggu lingkungan.

Kalau dikelola dengan baik, setidaknya kita sudah berusaha mengurangi dampaknya.

Eco enzyme kemudian menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dicoba dalam pengelolaan bau tersebut.

Tentu dengan catatan:

jangan mencampurkannya ke air tempat lele hidup hanya karena ingin menghilangkan bau.

Yang kita bicarakan adalah limbahnya, bukan habitat ikannya.

Dari Galon Lele, Dimulai dari Hal Kecil

Ada pelajaran sederhana dari cerita ini.

Menjaga lingkungan ternyata tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Kadang dimulai dari pertanyaan sederhana:

“Air bekas lele ini mau dibuang ke mana?”

Pertanyaan itu kemudian berkembang:

“Kenapa bau?”

Lalu:

“Bagaimana menguranginya?”

Dan akhirnya:

“Apa yang bisa kita manfaatkan dari bahan yang ada di rumah?”

Di situlah eco enzyme masuk sebagai salah satu alternatif.

Bukan sebagai “cairan sakti”.

Bukan pula sebagai pengganti pengelolaan limbah.

Tetapi sebagai bagian kecil dari usaha untuk membuat aktivitas rumah tangga menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Karena pada akhirnya, memelihara lele bukan hanya urusan bagaimana ikan tumbuh besar.

Ada air yang harus dijaga.

Ada pakan yang harus diatur.

Ada kotoran yang harus dikelola.

Dan ada air limbah yang jangan sampai menjadi sumber masalah baru.

Bau amisnya ke mana?

Kalau sumber limbahnya dikelola dengan baik, bau bisa dikurangi.

Dan dari pengalaman sederhana menguras galon lele setiap dua hari, kita belajar satu hal:

limbah yang kita hasilkan bukan urusan orang lain. Kita sendirilah yang harus bertanggung jawab mengelolanya.

Mungkin hanya satu galon.

Mungkin hanya sedikit air.

Mungkin hanya bau amis yang dianggap sepele.

Tetapi perubahan lingkungan selalu bisa dimulai dari sesuatu yang kecil.

Satu galon lele. Satu ember air limbah. Dan satu kebiasaan untuk tidak membuang begitu saja apa yang kita hasilkan.

Itulah catatan kecil Darustation hari ini.

Dari lele, belajar mengelola air. Dari air limbah, belajar menjaga lingkungan. Dan dari eco enzyme, belajar bahwa sesuatu yang dianggap limbah pun masih mungkin dimanfaatkan.

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan