Sosial

Zalim Berjamaah: Ketika Kezaliman Menjadi Budaya, Bukan Lagi Kesalahan Satu Orang

Mengapa Sebuah Lingkungan Bisa Kehilangan Nurani?

Oleh DaruStation

Sebuah lingkungan tidak runtuh karena satu orang yang berbuat zalim.

Ia runtuh ketika kezaliman mulai dianggap sebagai hal yang biasa.

Ia runtuh ketika pemimpin tidak lagi mau mendengar.

Ia runtuh ketika orang-orang yang mengetahui kebenaran memilih diam.

Dan ia benar-benar runtuh ketika masyarakat lebih takut kepada jabatan daripada kepada nilai keadilan.

Inilah yang disebut sebagai zalim berjamaah.

Bukan karena semua orang melakukan kezaliman secara langsung, tetapi karena kezaliman dilakukan, didukung, dibenarkan, atau dibiarkan oleh banyak orang hingga menjadi budaya.

Ketika Jabatan Melahirkan Kesombongan

Jabatan Ketua RT adalah amanah sosial.

Ia bukan penguasa.

Ia bukan pemilik lingkungan.

Ia bukan hakim yang menentukan siapa warga yang pantas dihormati dan siapa yang layak diabaikan.

Ketika jabatan dipakai untuk membangun kelompok, menutup akses informasi, mengucilkan warga yang berbeda pendapat, atau mengabaikan hak-hak warga, maka amanah telah berubah menjadi alat kekuasaan.

Kekuasaan memang bisa membuat seseorang merasa kuat.

Namun sejarah mengajarkan bahwa tidak ada kekuasaan yang lebih kuat daripada kepercayaan masyarakat.

Dan kepercayaan hanya lahir dari keadilan.

Kezaliman Selalu Dimulai dari Hal-Hal Kecil

Tidak ada lingkungan yang tiba-tiba menjadi tidak sehat.

Semuanya berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.

Satu kritik yang tidak didengar.

Satu warga yang sengaja tidak diajak bermusyawarah.

Satu informasi yang tidak disampaikan.

Satu aspirasi yang diabaikan.

Satu fitnah yang dibiarkan.

Satu pengucilan yang dianggap wajar.

Lalu semuanya berulang.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

Hingga akhirnya masyarakat terbiasa melihat ketidakadilan.

Ketika itulah kezaliman telah berubah menjadi budaya.

Orang Baik yang Memilih Diam

Ada kalimat yang patut direnungkan:

“Kezaliman tidak menjadi besar hanya karena pelakunya berani, tetapi karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.”

Diam memang nyaman.

Tidak menimbulkan konflik.

Tidak membuat hubungan terganggu.

Tetapi diam juga bisa menjadi bentuk pembiaran.

Ketika seseorang diperlakukan tidak adil dan tidak ada seorang pun yang berani berkata, “Ini tidak benar,” maka sesungguhnya masyarakat sedang kehilangan nuraninya.

RT Adalah Rumah Bersama

RT bukan milik pengurus.

RT bukan milik kelompok tertentu.

RT adalah rumah bersama.

Di dalam rumah, tidak boleh ada anak yang diperlakukan sebagai tamu.

Tidak boleh ada anggota keluarga yang sengaja diabaikan.

Tidak boleh ada orang yang kehilangan haknya hanya karena berbeda pendapat.

Jika itu terjadi, yang rusak bukan hanya hubungan antarwarga, tetapi makna kebersamaan itu sendiri.

Kritik Adalah Vitamin Demokrasi

Pemimpin yang bijaksana tidak takut dikritik.

Karena kritik adalah tanda bahwa masih ada warga yang peduli.

Yang perlu ditolak bukan kritiknya, tetapi cara penyampaiannya jika tidak santun.

Sebaliknya, jika semua kritik dianggap ancaman, maka lambat laun lingkungan hanya akan dipenuhi suara-suara yang menyenangkan telinga pemimpin, bukan suara yang membawa perbaikan.

Warisan Seorang Ketua RT

Tidak ada Ketua RT yang menjabat selamanya.

Masa jabatan akan berakhir.

Surat keputusan akan habis.

Nama pengurus akan berganti.

Tetapi masyarakat akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan.

Apakah mereka dihargai?

Apakah mereka didengar?

Apakah mereka diperlakukan sama?

Ataukah mereka hanya dianggap penting ketika diminta membayar iuran atau hadir dalam kegiatan?

Warisan seorang pemimpin bukanlah bangunan yang berdiri, melainkan kepercayaan yang ia tinggalkan.

Menjadi Berani Membela Keadilan

DaruStation percaya bahwa membangun lingkungan bukan sekadar membangun jalan, pos ronda, atau taman.

Yang lebih penting adalah membangun karakter masyarakat yang berani berkata benar, meskipun tidak populer.

Karena masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang selalu sepakat.

Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang tetap menjaga keadilan ketika muncul perbedaan.

Jika hari ini kita membiarkan satu warga diperlakukan tidak adil, esok hari hal yang sama bisa menimpa siapa saja.

Keadilan tidak boleh bergantung pada kedekatan.

Pelayanan tidak boleh bergantung pada loyalitas.

Dan penghormatan tidak boleh bergantung pada keberpihakan.

Sebab ketika kezaliman dilakukan secara berjamaah, yang sesungguhnya sedang dikalahkan bukan hanya satu orang, melainkan hati nurani seluruh masyarakat. (ds)

“Ukuran sebuah lingkungan bukanlah seberapa kompak warganya mengikuti pemimpin, tetapi seberapa berani mereka menjaga keadilan ketika pemimpinnya keliru.”

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan