Kalau mendengar kata “lele”, kebanyakan orang mungkin langsung teringat warung pecel lele di pinggir jalan. Harganya murah, mudah ditemukan, dan hampir selalu ramai pembeli pada malam hari. Namun di balik kesederhanaannya, ikan lele ternyata memiliki peran ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia.
Lele bukan hanya sekadar lauk makanan rakyat. Di banyak daerah, ikan ini telah menjadi penggerak ekonomi keluarga, usaha mikro, hingga industri budidaya bernilai miliaran bahkan triliunan rupiah. Salah satu daerah yang dikenal kuat dalam industri ini adalah Kediri yang sering disebut sebagai salah satu pusat “Republik Lele” Indonesia.
Budidaya lele berkembang pesat karena ikan ini mudah dipelihara, cepat panen, tahan terhadap berbagai kondisi air, dan memiliki pasar yang sangat luas. Tidak heran jika banyak masyarakat memilih usaha ternak lele sebagai sumber penghasilan tambahan maupun usaha utama. Dari kolam sederhana di pekarangan rumah hingga sistem bioflok modern, budidaya lele telah menjadi bagian penting dari ekonomi rakyat.
Lele dan Rantai Ekonomi Rakyat
Di balik satu ekor lele, ada rantai ekonomi panjang yang melibatkan banyak orang.
Mulai dari pembuat kolam, penjual benih, produsen pakan, peternak, pengepul, pedagang pasar, hingga warung makan kaki lima. Semuanya saling terhubung dalam ekosistem ekonomi rakyat yang terus bergerak setiap hari.
Tidak sedikit keluarga yang mampu menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, hingga membangun usaha lain dari hasil ternak lele. Karena itu, lele bukan sekadar ikan konsumsi biasa, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat kecil.
Yang menarik, ekonomi lele ternyata tidak berhenti pada penjualan ikan segar saja. Dari satu kolam lele, muncul banyak turunan usaha yang ikut hidup dan berkembang.
Turunan Produksi dari Ikan Lele
Selama ini banyak orang mengira lele hanya dijual sebagai ikan konsumsi biasa. Padahal produk turunan dari lele cukup banyak dan memiliki nilai ekonomi tersendiri.
Kuliner dan Produk Olahan Lele
Ini adalah bentuk usaha paling populer.
Warung pecel lele tersebar hampir di seluruh Indonesia. Namun sekarang olahan ikan lele berkembang jauh lebih kreatif dan modern. Banyak pelaku UMKM mulai mengolah lele menjadi berbagai produk makanan bernilai jual tinggi.
Beberapa kuliner dan produk turunan berbahan ikan lele antara lain:
- sate lele,
- nugget lele,
- kerupuk lele,
- abon lele,
- bakso lele,
- otak-otak lele,
- siomay lele,
- lele asap,
- lele crispy,
- dendeng lele,
- lele fillet,
- sambal lele kemasan,
- lele bakar madu,
- burger lele,
- pempek lele,
- pastel isi abon lele,
- dimsum lele,
- kaki naga lele,
- lele presto,
- hingga frozen food berbahan lele.
Bahkan di beberapa daerah mulai muncul inovasi:
- mie berbahan ikan lele,
- keripik kulit lele,
- peyek lele,
- dan camilan protein berbahan tepung ikan lele.
Inovasi ini menjadi penting karena membantu meningkatkan nilai jual hasil budidaya. Jika lele hanya dijual mentah, keuntungan peternak sering terbatas. Tetapi ketika diolah menjadi produk kuliner atau makanan kemasan, nilai ekonominya bisa meningkat berkali-kali lipat.
Selain itu, olahan modern membuat ikan lele lebih mudah diterima oleh anak-anak maupun masyarakat perkotaan yang sebelumnya kurang menyukai bentuk asli ikan lele.
Pembenihan dan Industri Pendukung
Sektor pembenihan lele memiliki nilai ekonomi sangat besar. Daerah seperti Kediri dikenal menghasilkan miliaran benih lele setiap tahun yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
Semakin besar budidaya lele, semakin besar pula kebutuhan:
- pakan,
- vitamin,
- probiotik,
- aerator,
- pompa air,
- hingga teknologi bioflok.
Artinya industri lele ikut menggerakkan banyak sektor usaha lainnya.

Masalah Besar: Ketergantungan Pakan Impor
Namun di balik besarnya industri lele, ada persoalan yang cukup serius.
Sebagian besar bahan baku pakan ikan lele masih bergantung pada impor, terutama tepung ikan dan bahan protein lainnya. Ketika harga dolar naik atau harga bahan baku impor meningkat, biaya produksi peternak langsung melonjak. Sementara harga jual lele di pasar tidak selalu ikut naik.
Akibatnya keuntungan peternak menjadi sangat tipis.
Inilah ironi industri lele Indonesia:
produksinya besar, omzetnya triliunan, tetapi fondasi pakan masih belum sepenuhnya mandiri.
Maggot, Alternatif Pakan Lokal Masa Depan
Padahal sebenarnya Indonesia memiliki alternatif pakan lokal yang sangat potensial, yaitu maggot.
Maggot merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang bisa dibudidayakan dari limbah sampah organik rumah tangga maupun pasar. Maggot memiliki kandungan protein tinggi dan mulai banyak digunakan sebagai alternatif pakan ikan maupun unggas.
Yang menarik, budidaya maggot bisa dilakukan masyarakat dengan teknologi sederhana. Sampah organik seperti sisa sayuran, buah, dan limbah dapur dapat diolah menjadi pakan maggot, lalu maggot digunakan untuk pakan ikan lele.
Artinya ada potensi ekonomi sirkular yang sangat besar:
- sampah organik berkurang,
- masyarakat mendapat peluang usaha baru,
- biaya pakan ikan bisa ditekan,
- dan ketergantungan impor tepung ikan dapat dikurangi.
Jika dikembangkan serius, maggot bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga bisa menjadi bagian penting dari kemandirian industri perikanan Indonesia.
Pengolahan Limbah dan Ekonomi Sirkular
Menariknya, limbah budidaya lele juga bisa dimanfaatkan.
Air kolam dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk pertanian. Sebagian masyarakat juga memanfaatkan limbah tertentu untuk campuran pakan ternak dan budidaya maggot.
Konsep ini menunjukkan bahwa industri lele sebenarnya bisa terhubung dengan pertanian, pengolahan sampah, dan ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Lele dan Ekonomi Digital
Saat ini banyak peternak lele yang aktif membuat konten edukasi di media sosial dan YouTube. Mereka berbagi pengalaman tentang:
- cara budidaya,
- strategi pakan hemat,
- teknik bioflok,
- hingga pemasaran hasil panen.
Tanpa disadari, lele juga telah menjadi bagian dari ekonomi digital Indonesia.
Lele vs Salmon, Mana Lebih Baik?
Belakangan ini banyak yang mulai menyebut lele sebagai “salmon versi ekonomis”.
Tentu saja keduanya berbeda.
Salmon memang unggul dari sisi kandungan omega-3 dan lemak sehat yang baik untuk kesehatan jantung dan otak. Kandungan EPA dan DHA pada salmon memang jauh lebih tinggi.
Namun dari sisi harga, salmon jauh lebih mahal dan sebagian besar masih impor.
Sementara lele memiliki keunggulan yang sangat penting bagi Indonesia:
- murah,
- mudah dibudidayakan,
- dan tinggi protein.
Dalam 100 gram ikan lele terdapat sekitar 16 gram protein, sedangkan salmon sekitar 20 gram protein. Selisihnya sebenarnya tidak terlalu jauh untuk kebutuhan protein harian masyarakat.
Karena itu, lele sangat potensial menjadi sumber protein rakyat Indonesia.
Potensi untuk Program Makan Bergizi Gratis
Lele juga dinilai sangat potensial mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mengapa?
Karena Indonesia membutuhkan sumber protein murah yang bisa diproduksi dalam jumlah besar dan cepat.
Lele memenuhi syarat tersebut.
Selain itu, budidayanya dapat membantu ekonomi masyarakat desa. Jika dikelola serius, industri lele tidak hanya menjadi sektor pangan, tetapi juga penggerak ekonomi lokal.
Namun tantangannya tetap sama:
bagaimana Indonesia bisa memperkuat industri pakan lokal agar tidak terlalu bergantung pada impor.
Saran dan Pendapat Darustation
Menurut pandangan Darustation, industri lele sebenarnya memiliki potensi besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi rakyat dan ketahanan pangan Indonesia. Namun pengembangannya tidak boleh hanya berorientasi pada produksi dan keuntungan semata, melainkan juga harus memperhatikan kemandirian pangan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Darustation melihat bahwa ketergantungan terhadap impor bahan baku pakan seperti tepung ikan menjadi persoalan serius yang perlu segera dicari solusinya. Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya alam melimpah, sehingga seharusnya mampu membangun sistem pakan mandiri berbasis potensi lokal.
Salah satu solusi yang dinilai sangat potensial adalah pengembangan budidaya maggot berbasis limbah organik masyarakat.
Konsep ini dianggap memiliki banyak manfaat sekaligus:
- mengurangi volume sampah organik,
- menciptakan peluang usaha baru,
- membantu peternak menekan biaya produksi,
- memperkuat ekonomi masyarakat kecil,
- dan mengurangi ketergantungan impor pakan.
Darustation juga menilai bahwa budidaya maggot dapat menjadi bagian dari gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Sampah rumah tangga yang selama ini menjadi masalah lingkungan justru bisa diubah menjadi sumber ekonomi produktif.
Selain itu, pengembangan industri lele sebaiknya tidak berhenti pada penjualan ikan mentah saja. Masyarakat perlu didorong mengembangkan produk turunan bernilai tambah seperti:
- nugget lele,
- abon lele,
- sate lele,
- kerupuk lele,
- frozen food,
- hingga produk UMKM modern berbasis ikan lele.
Dengan demikian keuntungan ekonomi tidak hanya dinikmati sektor besar, tetapi juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kecil dan pelaku UMKM.
Darustation juga memandang bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi momentum penting untuk memperkuat industri protein lokal Indonesia. Namun program tersebut perlu dibarengi:
- penguatan peternak lokal,
- pelatihan budidaya modern,
- riset pakan alternatif,
- dukungan UMKM pangan,
- serta distribusi hasil budidaya yang adil.

Lele dan Masa Depan Ekonomi Rakyat
Lele adalah contoh nyata bagaimana sektor sederhana bisa menjadi penggerak ekonomi nasional.
Lele bukan hanya ikan murah.
Lele adalah:
- sumber protein rakyat,
- penggerak UMKM,
- peluang usaha desa,
- bagian penting dari ketahanan pangan Indonesia,
- dan penggerak ekonomi masyarakat kecil.
Di balik satu porsi pecel lele, sebenarnya ada ribuan orang yang menggantungkan hidup dari sektor ini.
Lele akhirnya bukan hanya hidup di kolam.
Tetapi juga hidup di dapur UMKM, pasar tradisional, restoran modern, industri frozen food, pengolahan sampah organik, hingga ekonomi digital Indonesia.
Dan mungkin benar…
Indonesia bukan hanya negara maritim.
Tetapi juga negeri yang ekonominya ikut bergerak dari kolam-kolam lele rakyat. (ds)
Sumber
- Darustation
- Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
- Kementerian Pertanian RI
- Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
- Pemerintah Kabupaten Kediri
- Kompas UMKM
- Detik Health
- YouTube Bennix
