Commuter, Perkeretapian

Stasiun Karet Resmi Berhenti Layani Penumpang Hari Ini, BNI City Jadi Pengganti: Mengapa Jakarta Harus Mengubah Cara Bertransportasi?

JAKARTA, 1 September 2026 — Sejarah panjang Stasiun Karet memasuki babak baru. Mulai Selasa, 1 September 2026, stasiun yang telah menjadi bagian dari perjalanan transportasi Jakarta selama lebih dari satu abad tersebut tidak lagi melayani naik dan turun penumpang Commuter Line.

Pengguna KRL yang selama ini mengandalkan Stasiun Karet kini dialihkan ke Stasiun Sudirman Baru atau BNI City. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan integrasi antara Stasiun Karet dan BNI City yang dijadwalkan berlangsung hingga 31 Desember 2026.

Meski secara operasional Karet tidak lagi menjadi tempat naik-turun penumpang, kawasan tersebut tidak sepenuhnya ditinggalkan. Akses dari sisi Karet tetap diarahkan menuju BNI City melalui selasar penghubung. Sejumlah fasilitas seperti gate elektronik, loket dan hall di sisi barat BNI City juga dipersiapkan untuk mendukung perpindahan penumpang.

Dengan demikian, istilah “Stasiun Karet ditutup” perlu dipahami secara lebih tepat. Yang dihentikan adalah layanan naik-turun penumpang KRL di stasiun tersebut, sementara kawasan Karet justru sedang diarahkan menjadi bagian dari sistem akses menuju BNI City.

Karet dan Sejarah 104 Tahun Transportasi Jakarta

Stasiun Karet bukan stasiun baru.

Stasiun ini dibuka pada 1 Agustus 1922, bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Tanah Abang–Manggarai pada masa Hindia Belanda.

Saat itu Jakarta masih bernama Batavia. Belum ada MRT, TransJakarta, jalan layang, maupun gedung-gedung pencakar langit yang kini memenuhi kawasan Sudirman dan Thamrin.

Namun jalur kereta telah menjadi bagian penting dalam membentuk pola pergerakan masyarakat kota.

Selama lebih dari 100 tahun, Stasiun Karet melewati berbagai perubahan zaman. Jaringan kereta mengalami elektrifikasi dan modernisasi, sementara kawasan di sekitarnya berkembang dari wilayah yang dahulu memiliki karakter perkebunan menjadi salah satu pusat bisnis dan perkantoran Jakarta.

Karena itu, penghentian layanan Karet bukan hanya persoalan operasional KRL.

Ini adalah perubahan sebuah bagian dari sejarah transportasi Jakarta yang telah berlangsung selama 104 tahun.

Mengapa Disebut Karet?

Nama Karet bahkan lebih tua daripada stasiunnya.

Kawasan ini memiliki hubungan dengan keberadaan tanaman dan perkebunan karet pada masa lalu. Nama Karet telah dikenal dalam peta Batavia sejak akhir abad ke-19.

Ada pula kawasan Karet Tengsin yang memiliki sejarah tersendiri dan dikaitkan dengan Tan Teng Sien, seorang keturunan Tionghoa yang memiliki perkebunan karet di kawasan tersebut.

Kini perkebunan dan tanaman karet hampir tidak lagi menjadi pemandangan utama. Kawasan tersebut telah berubah menjadi bagian dari metropolitan Jakarta.

Namun namanya tetap bertahan.

Karet menjadi contoh bagaimana nama sebuah kawasan dapat menyimpan sejarah yang jauh lebih panjang daripada bangunan yang berdiri di atasnya.

Stasiun Kecil, tetapi Sangat Strategis

Salah satu alasan Stasiun Karet terus digunakan masyarakat adalah lokasinya yang sangat strategis.

Karet berada di sekitar kawasan Karet Tengsin, Sudirman, Thamrin, KH Mas Mansyur, Dukuh Atas, perkantoran dan permukiman.

Ironisnya, justru karena lokasinya strategis, jumlah penumpangnya sangat besar dibandingkan kemampuan fisik stasiun.

Data KAI Commuter menunjukkan, sepanjang Januari hingga Juli 2026, Stasiun Karet mencatat 2.175.455 pengguna naik dan 2.127.155 pengguna turun.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa Karet masih menjadi salah satu titik penting perjalanan masyarakat.

Maka pertanyaannya muncul:

Mengapa tidak diperbesar saja?

Masalahnya, pembangunan di kawasan pusat Jakarta tidak sesederhana memperlebar bangunan. Ruang yang terbatas harus berbagi dengan jalan, kendaraan, pejalan kaki, akses keluar-masuk, jalur kereta, keselamatan, dan aktivitas kawasan.

Karena itu, solusi yang dipilih adalah mengintegrasikan Karet dengan BNI City.

BNI City Awalnya Bukan Stasiun KRL

Di sinilah sejarah kedua stasiun tersebut bertemu.

BNI City pada awalnya dibangun sebagai bagian dari layanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta.

Pada masa awalnya, layanan kereta bandara dikelola oleh PT Railink atau KAI Bandara. BNI City menjadi salah satu stasiun penting dalam sistem perjalanan menuju dan dari Bandara Soekarno-Hatta.

Dengan demikian, karakter awal BNI City berbeda dengan Karet.

Karet lahir dari kebutuhan transportasi perkotaan Jakarta sejak 1922.

BNI City lahir dari kebutuhan menghubungkan pusat kota dengan bandara internasional.

Namun perkembangan sistem transportasi membuat fungsi BNI City semakin luas.

Pada 30 Juli 2022, BNI City mulai melayani naik-turun penumpang KRL Commuter Line.

Saat itu KAI Commuter memperkirakan BNI City dapat melayani rata-rata 9.320 pengguna KRL per hari pada hari kerja dan 3.803 pengguna pada akhir pekan.

Bahkan terdapat proyeksi sekitar 40 persen pengguna Stasiun Sudirman dan 30 persen pengguna Stasiun Karet akan beralih ke BNI City.

Namun proyeksi di atas kertas ternyata tidak serta-merta menjadi kenyataan.

Mengapa BNI City Tidak Langsung Ramai?

Jawabannya sebenarnya sederhana: perilaku manusia tidak selalu mengikuti desain perencana transportasi.

Stasiun yang modern belum tentu menjadi pilihan utama apabila perjalanan menuju tujuan akhir menjadi lebih jauh atau kurang nyaman.

Bagi pekerja yang kantornya berada di sekitar Karet Tengsin, misalnya, turun langsung di Karet tentu lebih praktis dibandingkan turun di BNI City dan harus berjalan lebih jauh.

Dalam transportasi publik, pengguna tidak hanya menghitung jarak dalam meter.

Mereka menghitung waktu, tenaga, kenyamanan, keamanan dan kebiasaan.

Karena itu muncul satu pelajaran penting:

Jarak di peta tidak selalu sama dengan jarak yang dirasakan manusia.

Data Januari–Juli 2026 memperlihatkan perbedaan tersebut. Karet mencatat lebih dari 4,3 juta aktivitas naik-turun, sementara BNI City mencatat lebih dari 1,6 juta aktivitas naik-turun.

Jika digabungkan, keduanya mencapai 5.905.896 aktivitas naik dan turun penumpang KRL selama tujuh bulan pertama 2026.

Dari Railink ke KAI Commuter

Perjalanan BNI City juga mengalami perubahan pengelolaan.

Layanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang sebelumnya dikelola Railink kemudian beralih kepada KAI Commuter mulai 1 Januari 2023.

Perubahan tersebut semakin memperkuat posisi BNI City dalam ekosistem transportasi komuter.

Jika dahulu BNI City identik dengan kereta bandara, kini fungsinya semakin berkembang:

stasiun kereta bandara, stasiun KRL, dan kini simpul pengganti layanan penumpang Karet.

1 September 2026: Dua Stasiun Mulai Disatukan

Mulai hari ini, layanan naik dan turun penumpang KRL di Stasiun Karet dialihkan ke BNI City.

Sebanyak 264 perjalanan Commuter Line dari dan menuju lintas Kampung Bandan/Cikarang tetap berjalan. Artinya, bukan perjalanan keretanya yang dihentikan, tetapi lokasi naik-turun penumpangnya yang berubah.

Untuk pengguna dari kawasan Karet, tersedia akses selasar menuju BNI City. Sisi barat BNI City juga dipersiapkan dengan fasilitas gate elektronik, loket dan hall yang terhubung dengan akses dari arah Karet.

Pekerjaan integrasi ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026.

Karet Tidak Mati, tetapi Berganti Peran

Di sinilah perubahan tersebut menarik untuk dilihat.

Dulu:

Karet adalah stasiun.

Kini:

Karet menjadi pintu menuju stasiun.

Perubahan ini menunjukkan bahwa Jakarta mulai bergerak dari konsep stasiun yang berdiri sendiri menuju sistem transportasi yang lebih terintegrasi.

Namun integrasi tidak boleh hanya berarti menghubungkan dua bangunan.

Yang jauh lebih penting adalah menghubungkan perjalanan manusia.

Bagaimana lansia berjalan?

Bagaimana penyandang disabilitas berpindah?

Bagaimana ketika hujan?

Bagaimana ketika panas?

Bagaimana jika fasilitas mekanis mengalami gangguan?

Bagaimana kondisi trotoar dan penyeberangan di luar stasiun?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi bagian dari evaluasi pembangunan.

Sebab penumpang tidak hidup hanya di dalam stasiun.

Mereka berjalan dari rumah, menuju stasiun, naik kereta, turun, kemudian berjalan lagi menuju kantor atau tujuan berikutnya.

Jangan Sampai Hanya Memindahkan Masalah

Integrasi Karet dan BNI City memiliki peluang besar untuk menjadi model transportasi perkotaan yang lebih baik.

Tetapi ada risiko yang harus diperhatikan.

Jangan sampai:

Karet ditutup karena terlalu padat, lalu BNI City menjadi terlalu padat.

Jangan sampai peron menjadi lebih luas, tetapi akses masuk dan keluar justru menjadi titik kemacetan baru.

Jangan sampai stasiun modern dibangun, tetapi trotoar di luar kawasan tetap menyulitkan pejalan kaki.

Dan jangan sampai sejarah Karet hilang hanya karena fungsi stasiunnya berubah.

Justru perubahan ini harus menjadi kesempatan untuk mempertahankan identitas sejarah Karet sekaligus membangun transportasi Jakarta yang lebih modern.

Penutup: 104 Tahun Bukan Waktu yang Sebentar

Stasiun Karet telah melewati perjalanan panjang.

Dibuka pada 1922, ia menyaksikan Batavia berubah menjadi Jakarta, menyaksikan perkembangan kereta listrik, lahirnya KRL, hingga ledakan perjalanan komuter.

Kini, kereta tidak lagi berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di sana.

Tetapi sejarah Karet tidak seharusnya berhenti.

Sebab sebuah kota bukan hanya kumpulan gedung.

Kota adalah kumpulan ingatan.

Dan Karet adalah salah satu ingatan penting Jakarta.

Di sisi lain, BNI City sedang mendapatkan kesempatan baru.

Dari stasiun kereta bandara yang dahulu dikelola Railink, kemudian masuk ke dalam ekosistem KAI Commuter, kini ia dipercaya menampung arus penumpang yang sebelumnya menggunakan Karet.

Dua stasiun dari dua zaman akhirnya bertemu.

Karet membawa sejarah dan penumpang.

BNI City membawa kapasitas dan infrastruktur modern.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Karet akan tetap menjadi stasiun seperti dahulu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah integrasi Karet–BNI City benar-benar akan membuat perjalanan warga Jakarta menjadi lebih mudah?

Sebab pembangunan transportasi tidak seharusnya hanya diukur dari megahnya stasiun, panjangnya travelator, atau besarnya investasi.

Ukuran paling sederhana adalah:

apakah manusia menjadi lebih mudah bergerak?

Jika jawabannya iya, maka perubahan ini merupakan bagian dari evolusi Jakarta.

Namun jika tidak, Jakarta hanya memindahkan masalah dari satu stasiun ke stasiun lainnya.

Selamat jalan, Stasiun Karet.

104 tahun bukan waktu yang sebentar.

Kereta boleh berhenti melayanimu.

Tetapi sejarahmu tidak boleh berhenti di sini.

Sumber

  1. KAI Commuter, informasi pekerjaan integrasi Stasiun Karet–Stasiun Sudirman Baru/BNI City dan pengalihan layanan mulai 1 September 2026.
  2. KAI Commuter, informasi uji coba BNI City untuk layanan naik-turun pengguna KRL dan proyeksi jumlah pengguna.
  3. KAI Commuter, data pengguna Stasiun Karet dan BNI City Januari–Juli 2026.
  4. KAI Commuter, informasi peralihan pengelolaan layanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta kepada KAI Commuter.
  5. Referensi sejarah Stasiun Karet, termasuk pembukaan pada 1 Agustus 1922.

 

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan